
"Mom, Dad, Io berangkat sekarang, ya." Pria dengan kaos putih dibalut jaket kulit hitam itu berpamitan.
"Loh, kok nggak sarapan dulu?" sahut oma Lyra.
"Iya, sarapan dulu, Sayang," timpal Kei.
"Io ada kuliah jam 10 sih, tapi mau ke toko buku dulu buat cari bahan tugas. Kemarin nggak sempet," dalihnya. Sambil berdiri, pria tampan itu mengambil roti panggang milik Kyu.
"Kakak, ih!" Kyu menjadi kesal dan cemberut. "Dad, Mom, Kak Io rese'," adunya.
"Sayang, kamu nih jahil. Kalau mau, bisa Mom bikinin buat kamu," kata Kei. Sedangkan Ken tidak menanggapi, hanya melihat sebentar dan sibuk dengan sarapannya.
"Lama, Mom. Kalau ini kan tinggal makan." Akio beralih pada Kyu. "Hari ini aja Kakak jahil. Kakak harus buru-buru."
"Ck. Kyu juga buru-buru, Kak."
"Waktu yang digunakan untuk berdebat aturan sudah selesai buat kalian sarapan. Jangan suka korupsi waktu, kalau memang harus berangkat pagi, bangunnya bisa lebih pagi lagi." Ken buka suara untuk menasehati putra putrinya.
"Baik, Dad," jawab Akio.
"Kyu udah bangun pagi, Dad, tapi anak gadis memang lebih lama berdandan," jawab Kyu.
"Kyu, kalau orang tua bernasihat, dengarkan dan jangan katakan alasan! Mengerti?"
"Mengerti, Mom. Maaf."
Akio menghabiskan suapan terakhir roti panggangnya, sesudah itu berpamitan lagi dengan Ken, Kei dan oma Lyra. Mencium tangan mereka dengan takzim, dan tak lama itu disusul oleh Kyu. Melakukan seperti yang dilakukan kakaknya.
Ken sendiri tinggal menunggu Lee menjemputnya dan pria dewasa itu juga akan meninggalkan rumah.
Terdengar sepatu pantofel menggema di ruang depan, semua dapat menebak jika itu adalah Lee. "Selamat pagi, Tuan Muda, Nona Kei dan Nyonya Besar."
"Pagi, Lee," balas oma Lyra.
"Sekretaris Lee, mari sarapan," ujar Kei menawari.
"Terima kasih, Nona. Saya sudah sarapan di rumah."
"Sayang, aku berangkat sekarang." Ken membersihkan sekitaran mulut dan beranjak berdiri. Kei ikut berdiri. Ken lebih dulu berpamitan pada maminya, baru beralih pada Kei untuk mencium kening istrinya.
"Hati-hati Sayang. Jangan lupa pulang tepat waktu," kata-kata dari Kei untuk mengantar kepergian Ken ke kantor.
"Hem. Hari ini aku pulang tepat waktu. Kamu di rumah jangan melakukan suatu apapun. Ingat! Aku bisa memantaumu dari CCTV," pesan Ken dan diangguki oleh Kei.
•
__ADS_1
Akio berhenti di depan toko buku dengan lokasi tak begitu jauh dari kampus. Dia akan mencari buku untuk tugas kuliah yang diberikan pak dosen kemarin.
Baru satu langkah memasuki toko, dia sudah berhasil menjadi pusat perhatian perempuan-perempuan yang ada di sana. Banyak dari mereka terang-terangan mencuri pandang dan cari perhatian di depan Akio. Namun pemuda yang seolah tidak memiliki ekspresi itu hanya cuek saja.
Akio berjalan dari rak satu ke rak lain, lalu tertuju pada rak di bagian sudut. Dia segera kesana untuk mengambil buku yang dicari.
Tangannya terjulur untuk mengambil buku di rak, namun apa yang dipegang bukanlah buku, melainkan sesuatu kulit yang halus. Akio menolehi perempuan yang berebut buku dengannya.
Perempuan itu juga sedang menatap Akio. Keduanya diam, namun juga sedang saling mengingat.
'Dia anak baru kemarin.'
'Dia kan pria super cuek.'
Keduanya saling membatin.
"Ambil aja," kata Akio setelah tadi diam.
"Enggak. Buat kamu, aja." Nayya menolak.
"Tinggal dua jam lagi tugas harus dikumpul, kamu bisa cari buku seperti ini di tempat lain?"
Naya terlihat berpikir. Memang benar apa yang dikatakan pemuda di depannya bahwa dia belum tentu menemukan buku seperti itu di tempat lain. Namun bukan hanya itu saja yang menjadi pertimbangan Naya, melainkan sesuatu ongkos yang harus di keluarkan. Padahal dia harus berhemat sebelum mendapat pekerjaan paruh waktu.
"Kalau ini buat aku, terus kamu gimana? Kamu yang duduk di depan aku, bukan? Kita sama-sama punya waktu tinggal 2 jam lagi," ujar Naya tak enak hati.
Naya mengerutkan kening, kedua matanya pun menyipit. 'Sombong sekali dia?'
"Zee, kamu udah dapet buku untuk salinan tugas?" Ternyata Akio sedang terhubung dengan Zee lewat sambungan telepon.
"Sudah, Kak. Kakak tenang saja, aku sudah punya dobel," kata Zee dengan riang gembiranya .
"Baiklah. Terima kasih," ucap Akio.
"Kakak, ih, pakai ucapan makasih segala," balas Zee dengan ucapan centilnya.
"Ya udah, sampai ketemu di kampus."
"Eh, tunggu-tunggu!" Zee seolah tahu bila sambungan telepon akan diakhiri. Dia segera mencegah. "Kakak di mana? Belum berangkat ke kampus kan?"
"Belum," jawab Akio singkat.
"Oh, kalau begitu Zee nanti saja ke kampusnya. Biar kita seolah barengan."
Terdengar helaan napas, setelah itu telepon benar-benar di akhiri.
__ADS_1
Meski Naya tidak punya niat untuk mendengar percakapan Akio ditelepon, namun karena jarak mereka yang dekat, Naya pun bisa mendengarkan. Naya hanya membatin heran.
"Kamu mau ambil, nggak? Kalau nggak, bisa saja buku itu cepat diambil orang." Akio berkata tanpa memandang Naya. Pria itu beranjak pergi dengan langkah pelan, tetapi ucapan Naya membuat Akio berhenti beberapa detik.
"Aku ambil. Makasih, ya," ucap Naya yang diangguki Akio. Tak ada lagi percakapan karena Akio telah benar-benar pergi.
Di kampus.
"Kak Io, tunggu!" Zee berteriak di parkiran, Akio yang baru turun dari mobil langsung menoleh. Ternyata Zee sudah berlari kecil menghampirinya.
"Kak, nanti malam keluarga kita akan makan bersama," kata Zee.
Akio berhenti sebentar menatap Zee. "Mom dan Dad gak bilang."
Zee menghendikan bahu. "Aku dikasih tahu mamaku. Nanti malam di undang makan malam di rumah Kakak."
"Oh, ya nggak apa."
"Kak, dari dulu gini amat sih. Sok cool! Kita dah dari orok bareng terus, sekali-kali pandang Zee. Jangan cuek terus."
"Aku tadi udah mandang kamu, bukan?"
"Ish, bukan seperti itu. Mandang dari hati ke hati gitu lho."
Akio menanggapi dengan senyum simpul dan melanjutkan langkah.
"Kak!"
"Hem."
"Mungkinkah nanti malam mau bicarakan hal serius? Di umur Kakak sekarang, Kakak sudah siap belum untuk merid?"
"Zee, jauh banget kamu kasih pertanyaan. Kenapa bahas nikah? Masa depan kita aja belum ada hilalnya, bahkan kamu udah kebelet merid."
'Kak Io kenapa nggak peka banget sih! Siapa tahu undangan makan malam nanti ada sangkutannya dengan perjodohan kita.'
"Kak ...! Menurut Kakak, aku cantik, modis, nggak sih?"
"Kenapa? Kamu udah sering tanya ini."
"Aku tahu, tapi Kakak kayak nggak pernah peka."
Akio berhenti. Menatap Zee dengan helaan napas diatur sedemikian. "Kamu cantik, kamu modis juga ...."
"Juga apa?" sahut Zee cepat, dia tidak sabar mendengar pujian selanjutnya.
__ADS_1
"Juga bawel. Ha ha ...."
"Kak Io ...!!!"