Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Sadar.


__ADS_3

Tuan Ken menatap sekretaris Lee dengan intens, mencari kebenaran, apakah kalimat yang dikatakannya barusan benar?


Lee tau tuan mudanya belum mempercayai perkataannya, ia akan meyakinkan.


"Benar tuan muda. Sebelum kesini saya sudah dari rumah sakit, dokter menjelaskan kondisi jantung Nona Kei sudah kembali normal. Kita hanya menunggu Nona Kei tersadar."


"Be-benarkah? kau tidak membohongiku, Lee?" tanya tuan Ken. Baru kali ini tuan muda itu berbicara terbata, penjelasan dari sekretarisnya itu belum membuat hatinya lega. Belum sepenuhnya percaya dengan penjelasan barusan. Pasalnya dengan mata kepalanya sendiri, ia melihat monitor detak jantung Kei nyaris tidak terdeteksi. Tuan Ken sudah sangat berpasrah, badannya terasa tidak memiliki nyawa, untuk itu ia tadi memutuskan untuk pulang dan akhirnya tertidur. Berharap saat bangun tidur mimpi buruknya itu segera berlalu.


"Iya tuan muda. Jika anda tidak percaya, tunggu sebentar, saya akan menghubungi tuan Ray." Lee menghubungi nomor Ray, tak berapa lama panggilannya sudah terjawab. Lee bertanya tentang kondisi Kei, Ray menjawab seperti yang tadi diucapkan oleh dokter.


Ketika panggilan itu sudah terputus, kedua mata tuan Ken memancarkan binar kebahagiaan, tak lama senyumnya mengembang. "Lee, apakah itu artinya Kei tidak akan pergi jauh?" tuan Ken masih mengumpulkan kepercayaannya. Meyakinkan diri sendiri bahwa itu semua benar, bukan kebohongan mereka.


"Benar tuan muda. Bukankah sekarang anda harus membersihkan diri dan segera kerumah sakit." Lee memberi saran. "Kau benar Lee, ayo kita kerumah sakit." tuan Ken bersemangat, dirinya sudah akan turun dari ranjang.


"Tuan muda, bukankah saya sudah katakan, lebih baik anda membersihkan diri dulu sebelum kerumah sakit. Ruangan Nona Kei harus steril." Lee mengingatkan.


"Disaat seperti ini aku tidak bisa berpikir, Lee. Baiklah, aku akan membersihkan diri dulu." seperti sebelumnya, tuan Ken begitu semangat menuju kekamar mandi. Beberapa saat kesedihan yang melanda tadi sudah berangsur hilang. Lee ikut senang melihatnya.


Setelah tuan Ken masuk kedalam kamar mandi, Lee segera bangkit menuju keruang ganti untuk mengambilkan pakaian yang akan dipakai tuan mudanya.


Dulu sebelum tuan Ken menikah dengan Kei dia lah yang menyiapkan pakaian untuk tuan Ken, maka itu dia sudah tidak canggung memilihkan pakaian, ia pun sudah tau selera tuan Ken.


Tuan Ken sudah selesai membersihkan diri, dia berjalan menuju keranjang untuk mengambil baju yang disiapkan sekretarisnya tadi. Ketika sudah bersiap, mereka berdua segera membuka pintu dan turun melalui pintu lift.

__ADS_1


Dilorong rumah sakit tuan muda itu tergesa-gesa melangkahkan kedua kakinya, lorong rumah sakit yang dilalui terasa sangat panjang. Tidak memperdulikan orang-orang yang duduk dikursi tunggu, sedang memperhatikannya. Baginya itu sudah biasa, ketika berada dikhalayak umum maka banyak pasang mata yang menatapnya.


"Bagaimana Kei?" tuan Ken yang baru saja sampai didepan kamar Kei, bertanya tentang kondisi istrinya kepada mami atau adiknya yang tengah duduk berdampingan. Meski lewat sambungan telpon tadi sudah dijelaskan tapi tuan Ken ingin memastikan.


"Ken, tenanglah Nak. Kondisi Kei, kini sudah kembali normal. Tapi istrimu itu masih belum sadar, kita harus bersabar menunggu Kei sampai terbangun." jawab mami Lyra. Kini tuan muda itu benar-benar bernafas lega, ternyata Kei masih bertahan.


Tidak berbicara lagi, tuan Ken berbalik badan dan berjalan menuju ruang dokter. Ia ingin menemui dokter secara langsung. Sekretaris Lee akan setia mengikuti kemanapun langkah tuan mudanya, seperti saat ini, tanpa diminta Lee sudah berjalan dibelakang tuan Ken.


Sampai diruangan dokter yang menangani Kei, sekretaris Lee membukakan pintu. Tuan Ken segera masuk.


Beberapa dokter sedang berkumpul dan berdiskusi, mereka terperanjat saat tiba-tiba tuan Ken masuk keruangan mereka.


"Tuan..." beberapa menundukkan kepala. Rasa segan dan hormat dengan orang yang berkuasa itu. Tuan Ken masih berdiri menatap para dokter, membuat mereka bergidik ngeri. "Silahkan duduk, tuan." dokter itu mempersilahkan tuan Ken untuk duduk dikursi sofa. Tuan Ken duduk dengan angkuh, jiwa arogannya sudah kembali. Padahal beberapa waktu lalu tuan muda itu benar-benar sangat terpuruk hingga tidak bisa mengamuk seperti biasanya.


"Tuan Ken, ada apa tuan kemari?"


"Apa aku tidak boleh datang kemari?"


'Kan... apa yang dipikirkan mereka benar, bahwa tuan Ken sudah kembali seperti biasanya.


"Tentu saja boleh tuan, bahkan suatu kebanggan jika anda datang kemari. Hanya saja, ada perlu apa hingga tuan sampai menemui kami? apakah anda akan bertanya tentang kondisi nona Kei?"


"Ya, benar." jawab tuan Ken singkat. Tuan Ken yang tau Kei belum sadar memutuskan untuk menemui dokter dan meminta pendapat bagaimana agar istrinya bisa segera sadar.

__ADS_1


"Kondisi nona dan calon anda bisa bertahan, tuan. Detak jantung Nona Kei sudah bisa terdeteksi lagi."


"Katakan, bagaimana caranya agar istriku segera sadar. Aku tidak bisa menunggunya lebih lama lagi."


"Kita sudah mengupayakan tindakan yang terbaik untuk nona Kei, tuan. Jika kondisi nona Kei membaik pasti akan segera sadar."


Duk...Duk.. terdengar suara hentakan sepatu yang beradu dengan lantai, suara sepatu itu semakin mendekat. Tak lama Ray muncul didepan pintu dengan nafas yang ngos-ngosan.


"Kak Ken, kakak ipar... hah..hah..." Ray kesulitan mengatur nafas. "Ada apa? cepat katakan!" Ken bangkit dari duduknya, setengah memarahi adiknya yang berbelit-belit.


Semua pasang mata melihat kearah Ray, termasuk para dokter. Merasa was-was.


"Kakak ipar sudah sadar." akhirnya kata itu lolos, membuat semuanya terkejut terlebih tuan Ken. Dia sudah berdiri dan segera keluar untuk menuju ke ruang rawat Kei.


Tuan Ken membuka pintu dan segera menghampiri ranjang itu.


"Ke...i?" panggil tuan Ken pelan. Sudah berdiri disamping ranjang dan mengamati wajah istrinya yang masih mengerjapkan mata, bahkan ia belum menjawab panggilan dari tuan Ken tadi. Melihat wajah tuan Ken, Kei masih sangat lemas.


Tuan Ken menggenggam tangan Kei yang terasa dingin dan menciumnya berkali-kali. "Honey, jika kau masih lemah, istirahatlah aku menunggumu disini." tuan Ken menarik kursi dibelakangnya dan duduk disamping Kei. Tangan mereka masih bertautan. Kei mengangguk lemah, dirinya merasa sangat lemas. Pelan memejamkan matanya kembali.


Meski Kei memejamkan mata lagi tapi kini hari tuan Ken tidak khawatir seperti sebelumnya, dia memahami Kei yang masih lemah dan membiarkannya untuk beristirahat kembali. Dia akan menunggu disamping istrinya.


Tangan sebelah terangkat untuk mengelus perut Kei dengan lembut, kini tangannya bisa merasakan perut yang bergelombang pelan, ia tahu itu gerakan dari calon anaknya. Tuan Ken semakin lega dan bahagia, ternyata Kei dan anaknya bisa bertahan.

__ADS_1


__ADS_2