
Mentari pagi mulai meninggi, memancarkan sinar kehangatan. Begitu juga dua orang dewasa yang saling berpelukan dan memberi kehangatan pada pasangan masing-masing.
2dokter dan 2perawat sedang berjalan menuju ruang Ken, namun belum sampai membuka pintu sekretaris Lee terlihat muncul dan berdiri disana bergabung dengan mereka.
"Selamat pagi sekretaris Lee," dokter menyapa ramah.
"Selamat pagi." jawab Lee.
Perawat mulai membuka pintu dan semua beranjak masuk. Tapi apa, mereka disuguhi pemandangan romantis. Rasanya bukan romantis lagi, mungkin sedikit melebihi kata itu.
Lee menghembuskan nafas berat, "Kalian keluar saja, nanti saja kembali kesini." kata Lee, ia mengusir dokter dan perawat agar tidak mengganggu tuan mudanya. Ada hal yang dihindari dan tak pantas dilihat.
"Baik, kami permisi." mereka kembali keluar.
Dengan deru langkah pelan, mereka berbisik-bisik. "Sultan mah bebas, meski bukan dikamar sendiri masih bisanya berpose seperti itu,"
"Iya. Bisa-bisanya dikamar rawat rumah sakit tidur disatu ranjang, berpelukan seperti itu. Ah.. mata polos ku harus ternoda." satu dokter lainnya menyahut.
"Merasa tidur di Hotel mungkin,"
"Mungkin tuan Ken lupa jika sedang tidur dirumah sakit, dikira sedang menginap dihotel miliknya."
"Ya sudah biarkan saja, apapun itu, dia sultanya yang terpenting gaji kita oke."
Mereka berjalan bersama masih terus membicarakan pemilik rumah sakit, sebelum mereka terpisah untuk mengecek kondisi pasien lain.
Didalam kamar rawat Ken tadi, Lee sudah duduk disofa ujung ruangan. Dirinya menunggu tuan muda itu terbangun, terlalu malas jika mondar mandir keruang Ken dan balik lagi keruangan istrinya.
Ia akan menunggu dua manusia yang mengarungi mimpi sampai terbangun, mungkin sebentar lagi keduanya akan terbangun.
Menggunakan waktu senggang untuk meneliti layar ponsel dan mengecek pekerjaan dikantor. Meski dikantor sudah ada orang-orang kepercayaan tapi Lee tidak bisa untuk bersantai, ia juga harus mengecek cara kerja mereka dengan teliti sebelum diserahkan pada tuan Ken.
Ia sangat paham tuan muda itu meminta hasil yang perfect untuk semua pekerjaan, Ken bisa mendeteksi sedikitpun kesalahan yang diperbuat. Ia tak suka dengan orang kurang teliti dan teledor. Dan itulah pekerjaan Lee untuk lebih dulu menyaring segala sesuatu pekerjaan sebelum disampaikan pada tuan Ken.
Melihat jam dipergelangan tangan, sudah 20menit ia duduk disofa itu. 'Cih, enak sekali mereka tertidur, bahkan sampai hampir setengah delapan belum bangun juga. Berpelukan seperti itu. Yang benar saja, tuan muda semakin hari semakin payah. Aku dari jam 6 sudah mandi dan berpakaian rapi, sedangkan tuan mudaku masih enaknya tidur. Huh, apa yang bisa kau perbuat Lee. Dia memang sultanya.' batin Lee menggerutu.
Baby Kio juga masih tertidur, bayi kecil itu baru terlelap ketika jam 5pagi tadi. Tentu saja masih sangat pulas.
Kei lebih dulu bergerak, tapi tangan Ken erat berada di pinggangnya hingga kesusahan untuk terbangun.
"Sayang, ayo bangun. Sudah pagi." Kei membangunkan Ken.
"Belum Honey, ini masih jam 4, langitnya masih gelap." kata Ken, kedua matanya belum terbuka. Ia masih setengah sadar. Ia semakin menarik Kei dalam dekapan, wajah mereka berhadapan bahkan Kei bisa merasakan hangatnya hembusan nafas Ken.
__ADS_1
"Ehem..." Lee berdehem, ingin menyadarkan dua manusia itu bahwa dia juga ada diruangan yang sama.
Kei terkejut kedua mata menangkap sosok pria yang tengah duduk disofa ujung ruangan.
"Sayang, bangun... Ada sekretaris Lee." Kei berusaha melepas pelukan itu.
"Biarkan saja," dengan entengnya Ken berkata begitu.
"Astaga... cepat bangun, malu dilihat sekretaris Lee."
"Biarkan saja," lagi-lagi menjawab sama.
"Bangun...!" karna kesal Kei mengeraskan suara, membuat Ken terlonjak kaget.
"Ada apa Honey?" tanyanya.
"Ada apa ada apa, lihatlah, ada sekretaris Lee." Kei menunjuk lewat sorot mata.
Ken langsung melihat ke ujung ruangan. "Ah, kau mengganggu Lee. Ada apa pagi-pagi sudah menjadi satpam." ucap Ken dengan malas.
Kei sudah mulai turun dari ranjang, menyapa sekretaris Lee dengan ramah. "Selamat pagi, sekretaris Lee." yang ia takutkan memang seperti ini, kepergok dengan orang lain. Wajah Kei terlihat malu. Orang lain melihat dia sedang tidur disatu ranjang dan berpelukan. Baginya itu memalukan.
"Hei, tidak perlu menyapa Lee. Tidak usah senyum-senyum seperti itu." sentak Ken.
"Aku bilang tidak perlu, dan jangan tersenyum begitu padanya."
'Oh tuan muda, kau ini apa-apaan. Pagi-pagi sudah heboh. Meski senyum nona Kei manis, tapi bagiku punya Dewi lebih manis.' batin Lee.
Kei berjalan kearah jendela dan menyingkap gorden yang menjulang tinggi. Sebuah kain yang menjadi penghalang masuknya sinar matahari hingga meski sudah siang tetap seperti malam.
"Baiklah, jika tidak boleh tersenyum. Aku akan menyapanya dengan pelukan." ucap Kei dengan cekikikan.
"Apa...?" Ken terkejut.
Padahal Kei hanya mengerjai.
'Nona, jangan macam-macam. Bisa pagi ini tamat riwayatku jika anda berani melakukan itu.' Lee sudah waspada.
"Berani melakukan itu, akan aku robohkan rumah sakit ini!" ancamnya.
'Robohkan saja, bukankah ini rumah sakitmu. Tidak ada ruginya bagiku. Dasar tuan posesif.' batin Kei cekikikan.
"Tidak-tidak, aku cuma bercanda. Sudah, aku mau membersikan diri dulu." Kei mengambil baju ganti dan berlalu masuk kekamar mandi.
__ADS_1
"Lee, ada apa, pagi buta kau sudah disini," tanya Ken.
Lee berjalan mendekat. "Ini bukan lagi pagi buta tuan muda, bahkan jam kantor saja sudah dimulai." jawabnya.
Ken langsung melihat jam dinding. "Sudah jam 8, tidurku nyenyak sekali." ucapnya.
"Bukan nyenyak lagi tuan muda, bahkan rombongan dokter yang masuk keruangan, tidur anda juga tidak terganggu."
"Badanku lelah, Lee. Kemarin malam sama sekali tidak tidur, membuat rencana dengan Tony."
"Dimana anak itu, kenapa tidak kemari." imbuhnya.
Baru saja mulut tuan Ken tertutup, sosok pria yang dikatakan tadi muncul dari balik pintu. Seorang pria misterius yang tidak terlalu mengenal dunia luar. Ia lebih suka mendekam dirumahnya sendiri dan tidak suka muncul dipublik.
Pria menggunakan jaket hitam dengan topi hitam bahkan yang dikenakan serba hitam, ia melangkah menghampiri ranjang.
"Tuan Ken," sapanya dengan menunduk sebentar.
"Kau seperti penjahat Ton." kata Ken.
"Bagaimana tugasmu?" tanya Ken lagi.
"Sudah beres, wanita itu sudah lenyap."
"Bagus. Pekerjaanmu ini menghasilkan bonus besar."
"Lee, transfer uang ke rekening si misterius ini." Ken memberi perintah.
"Baik tuan muda."
"Tuan Ken, terima kasih." Tony mengucapkan terimakasih. Ia sudah lama menjadi tangan kanan yang tersembunyi, salah satu pengaman semua data private. Ken sangat percaya padanya.
Tak berapa lama Kei sudah selesai dan mulai melangkah keluar.
"Kalian harus tahan nafas." perintah Ken.
"Memang kenapa tuan muda?" tanya Lee.
"Istriku baru selesai mandi. Tidak boleh menghirup wanginya. Hanya aku yang boleh."
'Terserah kau saja tuan muda. Jiwa posesif mu sudah mendarah daging, tidak bisa dihilangkan.'
Yang mendengar pun hanya menghela nafas, memutar bola mata malas. Hanya bernafas dan menghirup wangi sabun rumah sakit saja tidak boleh. Bukankah itu keterlaluan.
__ADS_1
Tony penasaran dengan sosok istri tuan Ken, ia memberanikan diri melirik kearah Kei.