
Naya termenung seorang diri di ruang tamu. Perut yang mulai terlihat menonjol tak henti diusap. Meski dia belum merasakan gerakan dari si jabang bayi, namun ikatan seorang ibu dapat merasakan kehadirannya.
Angan melambung jauh ke situasi masa depan, di ketika dia melahirkan anaknya nanti. Siapkah hatinya harus kehilangan semuanya.
Hanya tinggal beberapa bulan lagi semua harus diakhiri, dia harus mulai menyusun strategi untuk rencananya.
Ketika malam hari.
Dentingan sendok beradu dengan piring mengambil alih suasana di antara mereka. Akio maupun Naya makan malam tanpa perbincangan.
Entah ada apa dengan Akio, wajah dan auranya tidak secerah biasanya. Naya enggan untuk mengulik lebih jauh, merasa belum pantas ikut campur urusan pria itu. Nyatanya ikatan mereka masih sebatas kebersamaan, tanpa adanya perasaan terbuka antara satu sama lain.
Akio termenung disela mengunyah makanan karena teringat perkataan daddy-nya.
'Dad sudah katakan! Lanjutkan saja kehidupanmu, biar Zee juga melanjutkan hidupnya. Harusnya sadar, kesalahanmu terlalu fatal untuk mendapat maaf di waktu singkat, biar Zee sembuh dari sakit hatinya, maka dia akan ikhlas memaafkanmu.'
'Jangan paksa dia untuk bertemu dan memaafkanmu, itu sama saja kau menginginkan Zee lebih hancur lagi.'
Apa yang diduga selama ini benar, daddy-nya ikut andil dalam kepergian Zee. Jika cuma paman Lee, tidak mungkin Zee bisa pergi dengan data sesembunyi ini.
Berapa kali Naya melirik Akio, namun pria itu masih tetap sama, seolah menekuni makanan yang ada di piringnya, akan tetapi Naya tahu bahwa Akio tengah terpikirkan hal lain. Mungkin saja di kantor ada banyak pekerjaan dan terbawa sampai ke rumah.
"Ekhem ...." Naya berdehem, berharap Akio memperhatikannya karena dia ingin mengutarakan sesuatu. Tetapi ... pria itu tetap diam. Entah seberat apa masalahnya sampai Akio begitu cuek.
"Besok aku ingin ke rumah ibu, boleh?" tanya Naya, dia tak sabar untuk tetap menunggu Akio bersuara.
"Apa? Kamu tanya apa?" Akio gelagapan, pertanyaan Naya kurang jelas didengar. Naya mengulangi pertanyaan yang sama, meminta izin untuk mengunjungi ibunya.
"Boleh. Ada Pak Jepri yang bisa antar kamu kemana aja," jawabnya.
Sesudah menyelesaikan makan malam, dia dan Akio memilih masuk kamar. Akio duduk di sofa dengan memainkan ponsel, sedangkan Naya ke kamar mandi.
__ADS_1
Keluar dari kamar mandi, ternyata Akio sudah berpindah ke ranjang. Mata terpejam dengan ditumpangi sebelah tangannya. Aneh, baru kali ini Akio seperti itu.
Benda pipih yang tergeletak di atas nakas mengalihkan perhatian Naya. Jantung yang semula berdetak normal kini berubah alunan lebih cepat. Apa karena itu Akio terlihat banyak pikiran?
Ponsel yang belum sempat dimatikan menampilkan foto seorang perempuan yang tengah tersenyum ke arah kamera. Sebelumnya Akio memang sedang melihat galeri foto yang menampilkan Zee, ada perasaan rindu, namun bukan rindu seperti layaknya seorang kekasih. Akio merindukan Zee sebagai adik dan sahabatnya.
Namun, hal itu menjadi asumsi lain bagi Naya. Menjadikan kesalahpahaman terpendam.
'Bagaimana aku berteriak pada kalian?! Tunggu dan bersabarlah! Aku akan mengembalikan hatimu untuk Zee. Hanya beberapa bulan lagi, setelah anak ini lahir, aku janji kamu akan bersama dia lagi.'
Naya menghela napas panjang, dia menengadahkan wajah untuk menghalau air mata. Dia mengurungkan niat untuk merebahkan diri di atas ranjang, memilih keluar dan memasuki kamar lain.
Di sana, dia bebas menumpahkan tangis. Dia bebas memukuli dada yang kian menyesak. Mencintai dalam diam memang menyakitkan, apalagi terhadap pria yang notabene sah sebagai suaminya.
Namun, posisinya yang sekarang ternyata lebih menyakitkan. Pergi tidak bisa, tetapi juga sangat sulit bertahan dalam sandiwara.
Tengah malam Akio terbangun, matanya masih terpejam tetapi dapat merasakan ranjang sebelahnya kosong. Tangan meraba-raba sisi sebelah dan ternyata memang kosong. Dia langsung terbangun dengan terkejut.
Lalu yang dipikirkan adalah dapur, mungkin saja Naya sedang ingin makan sesuatu seperti malam sebelumnya. Dan lamanya menuju kesana, namun ruangan itu terlihat gelap tak ada siapapun.
Akio langsung panik, dia menelpon security yang berjaga untuk bertanya apakah Naya keluar rumah. Security menjawab tidak.
Akio kembali ke kamar, tapi tak sengaja melihat kamar sebelah dengan pintu tak tertutup rapat. Kamar yang rencananya disiapkan untuk calon anak mereka nanti. Apakah Naya berada di sana?
Ketika dia berbelok kesana, akhirnya bernapas lega mendapati Naya tertidur di atas sofa tunggal.
"Kamu membuatku khawatir, Nay," ucapnya lirih. Dia mendekat dan ingin memindah tubuh Naya ke kamar mereka. Namun, Naya justru tiba-tiba terbangun.
"Kenapa bisa ketiduran di sini?" tanya Akio.
"Hem? Nggak tahu."
__ADS_1
"Aku bingung cariin kamu, sampai penjaga keamanan aku telpon, aku kira kamu pergi kemana. Bikin khawatir," ujar Akio.
Naya tersenyum. 'Apa kamu punya felling? Aku memang akan pergi, tapi nggak sekarang.'
"Aku tadi pengen liat kamar calon anakku, tapi nggak sadar ketiduran di sini."
"Ya udah, ayo, kembali ke kamar," ajak Naya. Akio mengikuti di belakang.
"Aku tadi juga nyari ke dapur, ku kira kamu lagi pengen makan apa gitu. Tapi nggak ada," celoteh Akio. "Eh, tiba-tiba kok pengen makan barbeque," tambahnya.
Naya menghentikan langkah dan menoleh. "Ya udah, ayo ke dapur, biar aku buatin."
"Nggak usah, biar aku bangunin pelayan aja. Kamu belum tidur dengan nyaman. Nanti badanmu capek," sergah Akio.
"Cuma bakar barbeque nggak akan bikin aku capek. Kamu lupa, aku paling suka memasak. Udah, aku bikinin aja." Naya berbelok ke pintu lift untuk turun ke lantai bawah bersama Akio.
Naya sibuk menyiapkan olahan, dia menyuruh Akio menunggu di kursi depan meja pantry. Pria itu tersenyum-senyum. Saat Naya berbalik, dia heran melihat Akio seperti itu. Naya bertanya dengan sebuah kode anggukan kepala? Yang mengisyaratkan 'Ada apa?'
"Nggak pa-pa, seneng aja ada yang masakin setiap hari."
"Aku juga senang, ada yang aku masakin setiap hari," balas Naya.
"Waktu kuliah, aku sempat melamar kerja di cafe, berharap jadi chef tapi malah ketrima jadi pekerja cuci piring," ceritanya dengan tawa.
Deg ...! Akio sampai lupa kalau Naya pernah bekerja di cafe miliknya. Bahkan sampai mereka menikah, Naya juga belum mengetahui. Astaga ....
"Atasanku masih sering kirim pesan, suruh aku kerja lagi. Padahal aku sudah bilang nggak bisa."
'Kurang ajar si Deni, ternyata dia sering wa Naya,' batin Akio mengumpati orang kepercayaannya untuk mengurus cafe.
Semenjak dia bekerja di kantor, dia juga jarang datang ke cafe. Sepenuhnya urusan cafe di serahkan pada tangan kanannya itu.
__ADS_1