
Satu minggu sudah berlalu.
Selama satu minggu itu dilewati dengan aneh. Merasa aneh dengan sikap Kei, mulai dari perubahan sikap, permintaan, mood yang berubah-ubah.
Mungkin jika mendalami atau dipahami, harusnya orang sekitar paham dengan perubahan itu. Namun, lagi-lagi tak ada yang berpikir jika keanehan itu terjadi karna suatu anugerah besar.
Sore menjelang malam satu keluarga itu disibukan dengan acara merias diri.
Ya, malam ini adalah acara resepsi pernikahan Tristan dan Dokter Sofia. Acara akad nikah telah dilakukan kemarin. Dan malam ini hanya tinggal acara resepsi yang digelar begitu megah.
Keluarga Bramantyo termasuk familiar dikalangan bisnis. Pemilik perusahaan yang cukup besar pada saat dipimpin oleh Bramantyo sendiri. Tapi setelah perusahan itu diberikan pada putra tunggalnya, tak berselang lama perusahaan itu mengalami penurunan. Bahkan dikabarkan sudah akan gulung tikar. Desas desus itu cepat merambat dengan gosip yang beredar bahwa perusahaan Bramantyo hampir bangkrut karna mengibarkan bendera perang dengan Perusahaan Taisei Comperation. Perusahaan raksasa yang dipimpin oleh Kendra Kenichi.
Kalangan pembisnis sudah cukup ngeri mendengar nama itu disebut, sedikit banyak humor kekejaman tuan Ken tetap terdengar sampai pada staf-staf kantor lainnya.
Didalam kamar tuan Kendra Kenichi.
"Sayang, aku pakai gaun yang mana?" Kei menunjukan 2gaun dihadapan Ken. Lelaki itu tengah duduk diatas sofa. Gerak mata melihat gaun yang ditunjukan secara bergantian.
"Aku lebih suka kau memakai gaun berwarna silver, kau akan terlihat cantik dan elegan." Ken memberi pendapat, karna itu yang diminta Kei.
"Tapi aku suka yang biru tua, warna ini terlihat glamour." Kei menempelkan gaun kerlap-kerlip itu didepan tubuhnya.
"Ya sudah, kalau begitu pakai itu saja. Terserah mu, pakailah yang kau mau." Ken tidak memaksa Kei. Ia hanya berpendapat, jika tidak berkenan tidak apa-apa.
"Kau ini yang serius. Aku meminta pendapatmu tapi jawabanmu malah begitu. Kau tidak suka aku meminta pendapatmu? keterlaluan, menyebalkan!" setelah mengomel, Kei melempar dua gaun keatas sofa lain.
Dengan wajah marah berselimut kesal ia berlalu menjauh dari suaminya.
Padahal Ken masih terbengong ditempatnya duduk. Apa-apaan ini?
Sikap Kei berlebihan, padahal tadi ia sudah memberi pendapat tapi masih salah. Apa mau dia?
"Honey..." setelah tersadar Ken memanggil tanpa beranjak dari duduknya.
"Apa! jangan panggil-panggil, aku tidak suka menjawab panggilan mu." Kei berbicara dengan ketus. Ia sudah duduk didepan meja rias dan memoles wajahnya dengan alat-alat make up yang Ia koleksi.
Ken menghembuskan nafas pelan-pelan, dalam hati mengatakan kata sabar untuk dirinya sendiri.
__ADS_1
Selang beberapa menit, tak terdengar apapun. Keduanya saling diam. Sampai dimenit kelima, Kei bersuara lagi.
"Suamiku, lihatlah kemari, menurutmu aku terlihat cantik dengan lipstik berwarna nude atau merah?" Kei meminta pendapat yang kedua.
Ken menggaruk kulit kepala yang tidak gatal. 'Apa-apaan ini? apa dia lupa, pendapat yang pertama tadi menimbulkan perdebatan. Sekarang meminta pendapat lagi? bisa-bisa pendapat yang kedua ini menjadi peperangan. Lebih baik aku dimintai pendapat Lee daripada pendapat semacam ini!' batin Ken malas.
"Ter...."
"Jangan jawab terserah. Kau harus beri aku masukan saran mu."
Lagi-lagi keluar helaan nafas. "Baiklah, warna nude itu lebih cocok. Kau akan terlihat cantik natural. Kalau untuk warna merah, berkesan mencolok." Ken melirik kearah Kei. Was-was jika istrinya akan mengomel lagi.
"Oke. Akan aku coba pakai warna nude." ucap Kei.
Ken memutar otak, jika dirinya masih duduk disofa, maka Kei akan meminta pendapatnya lagi. Untuk itu, ia harus mencari ide agar bisa kabur dari hadapan Kei untuk sementara waktu.
"Honey, aku keluar sebentar ingin melihat Kio dikamar Mami." akhirnya Ken menemukan ide brilian untuk kabur.
Mendapat anggukan kepala, Ken segera berlalu dari kamarnya.
Setelah menutup pintu, tuan muda itu bisa bernafas lega. Baru ini ia tidak betah berada didekat Kei. Istri tercintanya.
"Dad," panggil Kio yang setengah berlari menghampirinya. Bossy kecil yang sudah rapi dengan pakaian formal seperti yang dikenakan Ken. Mereka berdua memakai jas couple ayah dan anak.
Keduanya sangat tampan dengan kemiripan itu.
"Anak Dad sudah tampan." Ken meraih Kio untuk digendong, mencium pipinya.
Bocah itu menyengir kuda, merasa geli dengan bulu-bulu disekitar dagu yang belum sempat dirapikan oleh Ken.
"Dad, geli.." Kio menghentikan gerakan Ken yang ingin menciumnya lagi.
"Mana Mom?" Kio celingukan mencari keberadaan Mommy nya.
"Mom masih bersiap." jawab Ken.
"Kenapa lama sekali Ken, satu jam lagi acaranya dimulai." sahut Mami Lyra.
__ADS_1
"Entahlah Mi, wanita kalau berhias memang begitu." Ken menjawab acuh.
"Tapi istrimu beda Ken, biasanya dia tidak suka dandan berlebihan. Jadi waktu yang dibutuhkan tidak terlalu lama. Ini sudah hampir satu jam kita menunggu."
"Iya Mi, Ken juga lelah menunggu. Tapi Mami tidak tau, sikap Kei akhir-akhir ini berubah. Aku pusing," Ken duduk dengan lesu.
"Berubah bagaimana?" tanya Mami Lyra.
"Sikapnya suka berubah-ubah dan kadang seperti anak kecil."
Mami Lyra mengerutkan dahi, kedua matanya bergerak sedangkan otaknya memikirkan ucapan Ken.
"Jangan-jangan...!" ucapnya cepat.
"Jangan-jangan apa, Mi?" tanya Ken penasaran.
"Janga-jangan istrimu hamil," sambung Mami Lyra.
"Apa...!" Ken yang tadi melemas, seketika seperti mendapat kejut listrik. Tubuhnya tegak kedepan. Kedua bola matanya melebar, karna tak percaya.
"Dari perubahan yang kau sebutkan tadi, bisa saja 'kan istrimu hamil. Kamu tidak ingat waktu Kei ngidam Kio? waktu itu sikapnya juga berubah-ubah." Mami Lyra antusias.
Ken masih belum percaya, ia terdiam sejenak.
"Hamil itu seperti mamanya Ze ya, Dad?" tanya Kio.
"Iya, Sayang." jawab Ken singkat. Pemikirannya masih sibuk memikirkan tentang dugaan mami Lyra.
"Berarti Io mau punya adik?" tanyanya lagi.
Ken mengangguk. "Iya. Itu yang Kio mau 'kan? kemarin Io minta adik? kita do'akan saja, semoga Mom beneran hamil, ya."
"No...! Io tidak mau punya adik...!" dengan suara lantang anak itu tidak mau, tidak suka jika Mommy nya hamil lagi.
Jawaban dari Kio membuat Ken dan Mami Lyra langsung menuju kearahnya. Jawaban yang cukup mengejutkan.
Padahal, beberapa pekan lalu bocah balita itu sangat antusias meminta adik. Ia menyuruh Mommy nya untuk hamil seperti mamanya Alzena.
__ADS_1
Tapi kali ini, Kio malah menolak.