
Mendengar pekikan Naya diiringi suara tangisan, membuat Akio tak tega. Pria itu mengusap wajah berkali-kali juga menghirup udara sedalam-dalamnya.
Dia benci melihat Naya menangis. Akhirnya setelah menurunkan ego, Akio mendekati Naya dan mencoba menenangkan. Akan tetapi Naya memilih menjauh.
"Belum apa-apa tapi aku sudah lelah." Naya mengeluh lirih.
"Ssttth ... maafkan aku. Membaca pesan Kyu, aku jadi emosi. Ku pikir kamu sengaja bertemu pria lain."
"Perempuan hamil di luar nikah selalu dihakimi dengan kejam. Rasanya aku nggak sanggup. Ini salahmu! Harusnya kamu nggak perlu tanggung jawab. Semua nggak akan serumit ini. Beban yang ku tanggung terlalu berat. Aku juga nggak sanggup terus menerus menanggung rasa bersalah."
Akio memeluk Naya yang terisak. Kali ini Naya diam "Nggak ada yang menghakimi mu. Aku akan buat perhitungan dengan Rio."
"Untuk Kyu, aku juga akan jelaskan padanya."
"Jika kamu merasa ini beban, aku akan memberitahukan status dan kesalahan kita pada semua orang, agar bukan kamu saja yang dihakimi, tapi aku juga."
"Jangan menambah rumit. Kamu ingin aku semakin di kecam buruk? Mereka tidak akan pernah menilai kesalahanmu, tapi akan tetap menyalahkanku. Semua orang tahu kamu bersama Zee, mereka tetap menyalahkanku sebagai perempuan perusak. Biar saja semua tersembunyi, sampai nanti kamu kembali pada Zee."
Deg!
"Apa maksudmu?!"
"Setelah dia lahir, ceraikan aku dan kembalilah pada Zee. Aku akan minta pada Zee untuk merawat anak ini."
"Jangan gila, Nay. Dari mana kamu punya pemikiran seperti itu." Akio yang terkejut menatap Naya tidak percaya. Bagaimana Naya berpikir sejauh itu.
"Iya, aku sudah gila. Aku berusaha waras, tapi tekanan ini membuatku gila. Aku mohon, setelah ini tolong bebaskan aku."
Hening. Bibir Akio tertutup rapat, namun dekapannya semakin erat. Seberat inikah diposisi istrinya. Selama pernikahan mereka, dia menganggap semua baik-baik saja. Menganggap Naya juga baik-baik saja. Ternyata tidak. Naya menyembunyikan tekanan berat. Beban yang ternyata selalu ditutupi dengan berpura-pura baik-baik saja.
"Aku tidak tahu kamu sesulit ini. Tapi sampai kapanpun aku tidak mungkin kembali dengan Zee. Jangan memikirkan hal yang tidak mungkin. Sekarang tenangkan dirimu, kasihan dia, kalau kamu menangis anak kita juga sedih. Tidak perlu merasa bersalah, ini bukan kesalahanmu saja, tapi juga kesalahanku. Dan lebih besar kesalahanku."
Meski Akio berkata panjang, namun semua belum berhasil membuatnya lega. Namun isak tangis mulai mereda, dia menjauhkan diri dari pelukan Akio.
"Jangan membuka pernikahan kita. Aku akan semakin tertekan kalau semua tahu tentang kita. Percayalah, semua akan semakin buruk."
"Tapi ...."
"Ku mohon ... kalau kau tetap memberitahu, jangan cari aku kalau aku pergi darimu."
"Baiklah, tapi aku juga mohon, tenangkan dirimu. Ini tidak baik untuk kesehatanmu dan bayimu. Jangan terlalu berpikir. Ingat kata dokter, ibu hamil tidak boleh stres."
Naya mengangguk dan mulai tenang.
Namun Akio bertekad akan tetap memberi pelajaran pada Rio, karena pria itu telah menghina dan menyebabkan Naya menangis. Bukan itu saja, dia juga harus menjelaskan semuanya pada Kyu, supaya adiknya tak lagi salah paham dan memberi peringatan agar Kyu bersikap baik.
*
"Bagaimana, Din?"
__ADS_1
'Maaf, Nay, aku gagal. Dia tidak mau memberitahu,' ujar Dina lemas dari ujung telepon.
"Aku harus bagaimana, Din?" Naya mendesah berat. Dina yang sangat diharapkan, ternyata gagal untuk memulai rencananya.
'Sudahlah, Nay. Fokus dulu dengan kehamilanmu. Mungkin saja memang kamu jodohnya si tampan Akio.'
"Jangan becanda, Din," sahut Naya sedikit kesal.
"Siapa yang becanda. Buktinya kamu yang sah jadi istri Akio, bukan Zee."
Naya mendengus. "Kamu bukannya memberiku solusi atau bantuin, malah kek gitu. Kamu nggak ngerasain bagaimana hidup dalam rasa bersalah. Semua membuatku tertekan."
'Tenang bumil, kalem. Hidup jangan terlalu dibuat pusing. Kalau aku, bakal aku nikmati sepuasnya jadi istri pangeran Akio. Tampan, kaya, sempurna,' seloroh Dina dengan kekehan.
"Sadis, aku nggak bisa sekejam itu, Din."
"Nay, kamu bicara dengan siapa?" tanya Akio yang baru masuk ke kamar.
"Oh, aku bicara dengan Dina."
"Dina cewek kan?"
Naya mengerut, "ceweklah. Emang ada nama Dina perempuan?"
"Siapa tahu Dina jadi Dino."
"Astaga ... sini bicara dengannya kalau nggak percaya."
"Oke-oke aku percaya. Nanti kalau sudah selesai, buatin teh. Aku ke ruang kerja dulu," kata Akio. Dan Naya mengangguk.
"Halo, Din?"
'Ya ampun, Nay ... si dingin itu bisa sweet juga ya? Uwu-uwu ....'
"Apaan, sih, Din."
'Apa jangan-jangan Akio memang suka sama kamu makanya lebih milih tanggung jawab daripada lanjut menikah dengan Zee?'
"Enggak. Dia sama sekali nggak suka aku."
'Hanya aku yang suka dia, tapi dia enggak,' Naya membatin.
Selama ini dia menganggap Akio baik hanya karena dia sedang mengandung anaknya. Naya pun ragu kalau Akio menyukainya, karena selama ini tak pernah mengatakan apapun. Dia tak tahu seperti apa perasaan Akio.
*
Seorang perempuan tengah terlelap dalam mimpi, tapi tiba-tiba harus terganggu dengan suara ketukan pintu.
"Siapa, sih?" Zee bangun dan meraih ikat rambut di atas meja, setelah itu berjalan cepat untuk membuka pintu.
__ADS_1
Tok ... tok ....
"Iya, tunggu sebentar!" teriak Zee. "Nggak sabaran banget, sih?" gerutunya.
Krieet.
Zee membelalakkan mata. "Faskieh?"
Pemuda itu menyengir.
"Ngapain kamu? Dari mana kamu tahu aku di sini?!" tanya Zee. "Oh, pasti kamu suruhan mama!" tebaknya.
Faskieh Rhamadan, teman dari Alvaro, adiknya. Umur Faskieh memang lebih tua dari Alvaro, tetapi pria itu cukup dekat dengan adiknya.
"Perkenalkan, saya bodyguard yang akan menjaga kakak selama di sini."
"What?! Apa-apaan?! Enggak-enggak! Ada-ada aja." Zee langsung menolak dengan raut kesal.
"Saya disuruh Om Lee dan Tante Dewi."
"Mereka nggak bilang sama aku."
"Coba saja kakak telepon mereka."
Zee masuk untuk mengambil ponsel dan menghubungi mamanya.
'Ada apa, sayang?' Telepon Zee langsung tersambung dengan Dewi.
"Ma, ini apa-apaan ada temen Al ke sini ngaku mau jadi bodyguard Zee?"
'Oh, Faskieh udah sampai sana?' Dewi justru balik bertanya.
"Oh ya Tuhan ... Mama ...." Zee memutar bola mata ke atas. Gemas dan kesal.
'Setelah Mama dan Papa pikir, kami nggak tenang kalau kamu di sana tanpa ada yang mengawal.'
"Ma, selama Zee di sini nggak terjadi apapun. Zee baik-baik saja. Kota ini paling aman, tingkat kejahatannya paling rendah. Mama nggak usah khawatir. Udah, Faskieh suruh pulang aja."
'Tidak bisa, sayang. Itu juga usulan dari Paman Tuan Ken.'
"Ma ...." Zee merengek.
'Telepon saja papamu,' ujar Dewi.
Tok ... tok ....
"Kak, di luar panas banget," ucap Faskieh yang masih berdiri di depan pintu tanpa di suruh masuk.
"Bodo! Aku nggak terima kamu. Balik aja sana ke Indonesia!"
__ADS_1
Brak !!!