Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Pulang Kerumah


__ADS_3

Bayi mungil nan cantik tengah terlelap didalam box bayi. Tidak terganggu dengan suasana bising dari sekitarnya.


Kio, bocah lima tahun itu sangat antusias bercerita panjang lebar tentang apapun yang diingat. Tapi cerita lucunya harus terhenti saat melihat adik bayi yang ada didalam box tengah meliukkan badan dengan lucu.


Kei yang masih setengah duduk di atas ranjang tak henti mengawasi putra pertamanya yang aktif dan lincah kesana kemari.


Ken dan papa Herlambang tengah mengobrol kan sesuatu yang serius, hingga tidak perduli dengan sekitar.


Mami Lyra tentu saja mengawasi kedua cucunya. Bahkan enggan untuk menjauh dari box bayi.


"Yang ini bener-bener mirip Ken. Matanya, hidung, garis bibir, semua sama persis dengan Daddy nya." ucap mami Lyra.


Kei tersenyum dan mengangguk. "Iya, Mi. Memang mirip benget sama Daddy nya, asal jangan sifatnya juga yang nurun, kita bisa kewalahan." Kei tersenyum lucu.


Semua asik berbicang-bincang, tapi terdengar ketukan pintu dari luar dan tak lama Lee sudah masuk kedalam dan menundukkan kepalanya dengan hormat.


"Semua sudah siap Tuan Muda, Nona Kei bisa pulang sekarang." Lee yang sudah selesai mengurus segala sesuatu tentang prosedur rumah sakit kini melaporkan jika keluarga tuan Ken sudah boleh pulang.


"Bagus," jawaban singkat dari Ken, ia akan beranjak mendekat ke ranjang Kei.


"Tuan Muda, termasuk tugas yang anda perintahkan Saya juga sudah selesai merobohkannya." imbuh Lee.


Ken langsung berbalik menatap Lee dengan kening mengerut. Dia yang memberi perintah, tapi melupakan perintah itu.


"Apa yang kau robohkan Lee?" tanya Ken.


"Bangunan toilet yang ada di Taman. Bangunan yang anda sebut dengan toilet laknat itu sekarang sudah rata dengan tanah. Jadi, kalau anda dan Nona Kei kesana, tidak perlu khawatir." Lee terlihat bangga dengan hasil kerasnya. Pasti tuan muda akan memuji pekerjaannya.


Setelah mendengar penjelasan dari Lee, Ken terlihat biasa saja. Ia kembali melangkahkan kaki mendekati Kei yang tengah mematung melihatnya.


"Kau menyuruh sekretaris Lee untuk merobohkan toilet tempat aku kemarin terjatuh?!" Kei terkejut dan begitu tidak percaya. Alasannya apa menyuruh sekretaris Lee untuk meluluh lantakkan bangunan toilet di taman umum?


Ken menghendikan bahu, ia duduk disamping Kei.


"Iya, kinerja Lee memang bagus. Cekatan dan memuaskan." jawab Ken santai.

__ADS_1


Kei melirik sinis. Pasti ada alasan tidak masuk akal dibalik itu.


"Bagaimana bisa toilet itu dirobohkan?! itu kan milik pemerintah." pandangan Kei masih menyelidik.


"Kenapa bahas tentang toilet si al an itu? biarkan saja, yang terpenting disaat kita mau kesana, bangunan toilet itu sudah tidak ada. Apapun jenisnya, entah itu manusia, barang, atau bangunan dari semua itu ada yang mencelakai istri atau anak-anakku maka wajib untuk dimusnahkan." jawab Ken dengan serius.


Tapi Kei malah menepuk kening, 'Apa-apaan pemikiran suaminya?!' Kei menggelengkan kepala lalu melirik dengan ujung mata.


"Dasar manusia aneh," Kei menggerutu pelan.


"Hei, aku telingaku mendengar gerutuan mu, Honey." Ken membalas melirik kearah Kei.


Kei hanya menangapi dengan hembusan napas kasar.


"Ayo kita siap-siap, sebentar lagi kita pulang." Ken memberitahu.


Kei mengangguk menyetujui.


Meski Ken yang mengajak bersiap-siap namun untuk urusan berkemas tentu saja dipasrahkan kepada Lee.


Beberapa lama berkemas, rombongan keluarga tuan Ken sudah akan meninggalkan rumah sakit. Dengan baby Kyura yang ada digendongan sang Oma. Papa Herlambang juga mendampingi disamping istrinya.


Bahkan sampai disamping mobil dengan sigap tuan Ken menggendong tubuh Kei untuk dipindahkan masuk ke dalam mobil.


"Malu tau," Kei berbisik ditelinga Ken.


"Kenapa harus malu? kau malu pada siapa? tidak akan ada yang berani mengejek kita. Meski kau tidak sakit, aku tetap akan menggendong mu."


"Ish...!" Kei memberengut kesal. Yang malah dibalas dengan senyum simpul.


Semua sudah masuk kedalam mobil. Kio dan baby Kyura ikut menaiki mobil yang satu lagi, bersama Opa dan Oma nya.


Sedangkan mobil yang ditumpangi Ken begitu longgar karna hanya diisi tiga orang saja.


"Sayang, kapan kita akan mengadakan syukuran atas kelahiran putri kita?" tanya Kei disela-sela pelukannya bersama Ken.

__ADS_1


Padahal baru sembuh dari operasi cecar tapi Ken sudah tidak ingin berjauhan dengan istri tercinta.


"Terserah, kapanpun pasti semua beres. Biar Lee yang menyiapkan keperluan nya." jawab Ken.


'Eh...eh, kenapa saya lagi, Tuan! apa-apa selalu dipasrahkan padaku. Siapa ayahnya, malah siapa yang harus mengurus. Kalau begini, seperti Dewi saja yang melahirkan karna sama-sama sibuknya. Nasibmu, Lee... Lee.' Lee hanya berani menggerutu dalam hati. Dengan mulut yang bergerak-gerak seolah sedang mencibir sesuatu. Wajahnya juga terlihat masam.


Dikursi belakang Ken tengah memperhatikan lewat kaca spion. "Lee, aku melihatmu. Apa yang kau lakukan dengan menggerakkan mulutmu seperti mulut ikan piranha?!" sentak tuan Ken dengan sinis.


"Oh... Tidak Tuan Muda, saya sedang senam bibir agar tidak kaku." Lee terlihat gugup.


Ken tidak lagi menjawab tapi masih memperhatikan lewat kaca spion. Lee pura-pura tidak tau dan mencoba fokus melihat jalanan.


Ketiga mobil yang beriringan telah sampai didepan gerbang. Salah satu satpam penjaga dengan sigap membuka pintu gerbang.


Saat mobil majikannya tengah lewat, satpam itu menundukkan kepala sebentar untuk menghormati.


Begitu sampai Lee sigap membukakan pintu untuk tuan Ken.


Ken yang lebih dulu keluar kini tengah berusaha menggendong tubuh Kei untuk membawanya masuk kedalam rumah.


"Kenapa nggak diturunin diatas kursi roda sih?!" kesal Kei. Lagi-lagi menahan malu karna Ken menggendong tubuhnya melewati jajaran pelayan yang tengah menyambut mereka.


Kei hanya tersenyum saat para pelayan mengucapkan selamat atas kelahiran putri kecilnya. "Terima kasih," sesekali mengucap terima kasih.


Ken? tentu saja tidak perduli. Sama sekali tidak membalas ucapan mereka.


Saat sudah sampai didalam kamar, Ken menurun kan tubuh Kei ke atas ranjang. Ia beralih menata bantal yang pas agar posisi Kei bisa nyaman.


Sedangkan Lee yang membawakan tas milik Kei dan Ken telah meletakkannya diatas sofa.


"Lee, tunggu aku di ruang kerja. Di bawah." pinta Ken saat melihat sekretarisnya akan beranjak pergi.


"Baik Tuan Muda, saya tunggu dibawah." ucap Lee dan segera berbalik untuk keluar.


"Honey, tidak pa-pa 'kan aku tinggal sebentar. Ada urusan kantor yang harus aku bahas dengan Lee." Ken meminta izin pada Kei.

__ADS_1


"Iya tidak pa-pa, nanti Mami pasti nemenin aku." jawab Kei.


Sebelum keluar, Ken menyempatkan untuk mencium kening Kei.


__ADS_2