Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Maaf


__ADS_3

"Aku ... aku masih berusaha membuka hatiku untukmu."


Akio menghela napas berat. Entah apa yang membuat Naya seolah berat menerima pernikahan mereka. Mungkinkah Naya memang tidak memiliki perasaan untuknya.


Dia mengambil sesuatu dari balik saku, memberikan bungkusan kecil kepada Naya. "Hadiah ulang tahun dariku. Aku merasa buruk sebagai suami karena tidak tahu barang apa yang kamu sukai. Tapi, semoga saja kamu suka," ucapnya.


Naya mencoba tersenyum. "Apapun pemberianmu, aku pasti suka. Dan, terima kasih untuk semua ini. Pertama kali aku memiliki momen indah bersama orang lain. Setiap tahun aku selalu merayakan hari ulang tahun bersama ibu. Dan, ini pertama kalinya juga aku merayakan ulang tahun tanpa Beliau." Dia menunduk dan mengusap sudut mata yang kembali berair. "Semoga ibu sudah tenang," ucapnya lirih.


"Bukan hanya tahun ini saja, tahun-tahun berikutnya kita akan merayakannya bersama. Sudah cukup dari tadi kamu menangis, ini hari bahagia mu, aku ingin melihat banyak kamu tersenyum."


'Tidak ada tahun berikutnya, Akio. Hanya tahun ini kita bersama.'


"Sekarang coba kamu buka kotak kado itu, kalau kamu tidak suka. Aku akan memberikan kado lain," perintahnya.


Dengan hati-hati Naya membuka bungkus kado. Kotak itu tidak terlalu besar, bila dilihat sekilas, bisa di tebak apa isi di dalamnya. Dan benar saja, sebuah liontin dengan berlian kecil berwarna biru laut. Indah, berbentuk sangat indah. Seumur hidupnya, dia tak pernah melihat perhiasan seindah itu.


"Ini terlalu berlebihan," ucapnya.


"Tidak ada yang berlebihan. Aku pilihkan yang sesuai untukmu."


"Ini pasti sangat mahal."


Memang benar, untuk memesan desain yang diinginkan, Akio harus mengocek puluhan milyar. Sampai daddy Ken menanyakan untuk apa uang sebanyak itu keluar dari akun bank miliknya. Setelah dijelaskan, Ken hanya mengangguk. Karena bagaimanapun Akio memakai uang pribadi, bukan uang perusahaan ataupun uang milik orang tuanya.


"Aku nggak pantes pakai ini."


"Justru liontin itu sangat cantik saat kamu pakai. Sini aku pakaikan." Akio mengambil liontin itu dan berdiri di belakang Naya. Jemari halusnya menyapu helaian rambut Naya yang menjuntai ke punggung. Ketika leher jenjang terpampang di depan mata, sesuatu dalam dirinya seolah mulai bangkit. Dia menelan ludah susah payah. Suasana syahdu dan lampu temaram membuat pikirannya mulai goyah. Dia seorang pria, punya naf** yang tinggi. Apalagi sudah pernah merasai sebuah kenikmatan, tak ayal rasanya ingin mengulang dan mengulang. Karena mereka pun sudah sah sebagai pasangan.


Menunggu sekian detik, namun Akio tak lekas memasangkan kalung itu di lehernya. Naya mendongak. "Kenapa?"

__ADS_1


"Hah? Tidak-tidak!" Akio tersadar dan segera memasang benda itu di leher sang istri. Dia kembali duduk di samping Naya.


"Aku nggak tahu lagi harus berkata apa. Aku hanya bisa mengucap terima kasih dan terima kasih. Ini kejutan teristimewa ku."


'Dan, besok aku pun punya kejutan istimewa untukmu. Maafkan, aku.'


Waktu menunjukan semakin larut, Naya mengajak Akio untuk pulang. Selain itu, dia tak enak hati dengan para pegawai yang masih harus lembur sampai hampir pukul 1 dini hari. Padahal Akio sudah memberi tips bagi pegawai yang mengambil lembur akan mendapat 3x dari gaji mereka.


Di perjalanan pulang, suasana tampak hening. Sesekali Naya menoleh ke arah Akio dan memamerkan sebuah senyum. Berakting seolah semua baik-baik saja. Dia bahagia, padahal hatinya menjerit dan mencicit keadaan.


Sampai di rumah, Naya langsung berganti pakaian. Akio memilih duduk di sofa. Entah sedang memikirkan apa.


Naya yang sudah selesai berganti pakaian tidur, melewati Akio yang tampak melamun. "Ayo tidur," ucap Naya.


"Nay ...." Akio justru memanggil dengan suara lirih. Seolah ada sesuatu yang ingin di sampaikan.


Naya mengurungkan niat untuk pergi ke tempat tidur, dia mendekati Akio dan duduk di sampingnya.


Jantung Naya mulai berdebar, melihat sorot mata Akio yang berkabut, dia menebak apa yang diinginkan pria itu.


Perlahan Akio mulai mengikis jarak. Naya mematung dengan pikiran berkecamuk.


Skip!!!


*


Pagi hari, Akio membuka mata terlebih dahulu. Mendapati Naya masih terlelap damai dalam dekapannya. Pria itu tersenyum mengingat perjuangannya semalam untuk menaklukan kegigihan Naya. Sampai pada akhirnya mereka menyatu yang kedua kalinya.


Setelah semalam, dia akan memulai awal baru bersama Naya. Memiliki harapan besar bahwa cinta mereka akan semakin terpupuk kuat, dan menjalani rumah tangga bahagia.

__ADS_1


Naya yang sudah terbangun karena sebuah gesekan kulitnya dengan Akio, perlahan dia menjauh, berbalik memunggungi Akio. Tetapi dikejutkan dengan kehangatan badan Akio yang kembali menempeli tubuhnya.


Naya bernapas tak beraturan. Menerutuki semalam yang sudah terjadi. Dia telah ingkar terhadap janjinya sendiri. Sebuah rasa bersalah kembali menghampiri.


"Aku tahu kamu sudah bangun," bisik Akio di telinga Naya. Halus, lembut dan merdu. Namun dia masih berpura-pura tertidur.


"Kalau kita tidak bangun, aku ingin mengulangi yang semalam."


"Ah, tidak! Tidak! Iya, aku bangun!" Naya membuka mata lebar-lebar. Hal itu membuat Akio terbahak.


Naya berubah telentang dan menarik selimut untuk membentang jarak agar kulitnya tidak lagi bersentuhan dengan kulit Akio.


"Ketawa yang keras. Memang ada yang lucu?" Naya menoleh.


"Segitu takutnya sampai kamu seperti itu?" kata Akio.


"Ck ... apaan sih! Enggak. Aku cuma takut kamu terlambat ke kantor," kilah Naya.


"Aku bisa izin cuti."


"Baru berangkat satu hari dan mau izin cuti lagi? Aku rasa daddy tidak akan memberimu izin."


"Daddy tetap memberiku izin, tapi sialnya aku udah ada janji temu dengan pemimpin Perusahaan Wiratama. Perusahaan yang sempat tranding di jagat maya terkait skandal karena pemimpinya berselingkuh dengan sekretarisnya sendiri, dan sekarang ingin mengajukan kerjasama dengan Taisei Comporation. Aku nggak tahu kenapa daddy mau memberi kesempatan pada mereka untuk presentasi, padahal citra perusahaan mereka sudah buruk." Akio justru bercerita panjang lebar tentang hal lain.


"Dari ceritamu, sepertinya aku harus waspada juga kalau saja kamu berselingkuh dengan sekretarismu," ujar Naya menanggapi, namun tidak serius.


"Haha ... aku bakal senang kalau kamu mau seperhatian itu. Bagaimana aku berselingkuh, sekretaris ku sama-sama pria. Daddy yang punya sekretaris perempuan, tapi dia tidak pernah macam-macam. Mungkin karena ada paman Lee yang selalu menjadi bayangan, jadi daddy tidak sempat berselingkuh."


"Memang kamu mau daddy mu berselingkuh?"

__ADS_1


"Itu nggak akan pernah terjadi, kamu nggak tahu sebucin apa daddy dengan mommy. Dan sepertinya aku bakal sama dengan daddy, bakal bucin maksimal dengan istriku ini," seloroh Akio dengan kekehan.


Naya tersenyum dengan menggelengkan kepala. Andai waktu yang dimiliki masih tersisa banyak, mungkin saja semua akan seindah angan.


__ADS_2