Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Penampilan Yang Seperti Anabel.


__ADS_3

"Aku serius!" sekali lagi sekretaris Lee menjawab dengan tegas, membuat Dewi terhenyak. "Tuan sekretaris..." Dewi bingung harus bagaimana, apakah yang dikatakan pria didepannya itu benar-benar serius?.


"Nanti malam aku akan datang kerumah mu." Lee sudah membuang pandangan, beralih menatap layar laptop didepannya. Dewi sendiri menundukkan kepalanya, menatap lantai yang tidak ada debu. Seakan mulutnya terkunci, hanya kebingungan yang menguasai.


"Jika anda ingin datang kerumah, silahkan tuan. Saya tidak ada alasan untuk melarang anda." kata Dewi. Lee mengangguk, "Kembalilah bekerja." setelah tidak ada lagi yang akan dikatakan, Lee menyuruh Dewi untuk kembali ke ruangannya. Dewi menundukkan kepala sebentar, " Baik, permisi tuan." lalu keluar dari ruangan sekretaris itu.


Dewi melangkahkan kaki dengan pelan, pikirannya dipenuhi pertanyaan tentang perbincangan singkat bersama sekretaris Lee. Apakah lelaki itu serius, bisa dipercaya ucapannya? menikah adalah hubungan yang sangat serius, bukan lagi tentang berpacaran. Ketika memutuskan untuk menikah harus siap menerima konsekuensi baik, buruk dalam sebuah hubungan sakral. Tidak bisa memikirkan diri sendiri, harus saling memahami pasangan kita.


Sampai dentingan Lift menyadarkan lamunannya, segera keluar menuju keruang khusus OB. Meski banyak pemikiran, tetapi dia harus tetap fokus bekerja.


Setalah Dewi keluar, Lee menyandarkan kepalanya disandaran kursi kerjanya. Mengatur nafas, dia sudah memantapkan hati dengan ucapannya tadi.




Jam didinding menunjukan pukul 19.20wib. Dewi berjalan kesana kemari, terlihat sekali jika sedang gelisah. Ibu Maryam, menghampiri putrinya. "Kamu kenapa gelisah begitu?"



"Eh...tidak pa-pa, Bu." Dewi tersenyum menutupi kegelisahannya. Tetapi Ibu Maryam menangkap kegelisahan pada putrinya, meski Dewi sudah tidak berjalan kesana kemari tetapi lirikan matanya terus menuju kepintu. Ibu Maryam hanya menebak, pasti anaknya sedang menunggu seseorang. Ibu Maryam menyadari jika putrinya sudah beranjak tumbuh dewasa pasti sudah mengenal seorang pria, berpikir yang membuat Dewi gelisah karna sedang menunggu lelaki pujaannya.



'Sudah semakin malam tetapi tuan sekretaris belum juga datang, apakah perkataanya tadi hanya sebuah lelucon? harusnya aku tidak menanggapi dan tidak menaruh harapan, sudah pasti kamu akan kecewa dan terluka Dewi. Ingat, dirimu itu hanya gadis biasa, tidak mungkin tuan sekretaris yang tampan dan mapan itu menyukaimu.' dalam hati Dewi menerutuki kebodohannya yang sudah berharap penuh dengan kehadiran tuan sekretaris. Dia menghela nafas, membendung kekecewaannya.



"Bu, Dewi kekamar dulu ya..." Dewi meminta izin untuk lebih dulu masuk kekamar, Ibu Maryam mengangguk. Setelah menutup pintu kamar, Dewi bersandar dibelakang pintu, entah airmata itu lolos begitu saja. Dia sudah sangat berharap tuan sekretaris datang dan membuktikan ucapannya, tetapi jam dinding yang terus berputar menunjukkan waktu yang semakin larut, nyatanya tuan sekretaris tidak datang. Membuatnya sedih dan kecewa, jika lelaki yang dia sukai itu tidak mengatakan pernyataan tadi mungkin hatinya tidak sesedih ini.



Ibu Maryam baru saja menutup pintu rumahnya, tetapi sebelum menjauh dari pintu ia mendengar suara mesin motor yang baru saja dimatikan, karna penasaran Ibu Maryam mengintip dibalik kain penutup kaca. Sedikit remang, melihat seorang pemuda yang baru turun dari motornya. Tidak lama terdengar ketukan pintu, Ibu Maryam yang belum beranjak segera membuka pintu kembali.


__ADS_1


"Selamat malam, Ibu." sekretaris Lee menyapa dengan ramah, Ibu Maryam mengerutkan dahi karna merasa tidak asing dengan wajah pria yang ada dihadapannya saat ini. "Malam, siapa ya?" Ibu Maryam membalas sapaan dari sekretaris Lee dan menanyakan siapa tamu yang datang itu.



"Tunggu Nak, sepertinya ibu pernah melihatmu?" Ibu Maryam belum mempersilahkan tamunya itu untuk masuk, mereka masih berdiri didepan pintu. "Waktu itu saya pernah kesini untuk mencari istri atasan saya yang menginap disini." Lee mengatakan itu agar Ibunya Dewi itu bisa mengingatnya dan benar saja Ibu Maryam langsung tersenyum.



"Ough iya nak, Ibu baru ingat. Berati kamu atasan Dewi di Kantor ya? ada perlu dengan Dewi?"



Lee menggeser kakinya sedikit, pertanda bahwa kakinya lelah berdiri terus. Kenapa calon Ibu mertuanya itu tidak mempersilahkannya masuk dan mengobrol didalam.



"Iya, Bu. Tapi ada perlu sama Ibu juga."




"Ah... maaf nak Ibu sampai lupa tidak mempersilahkan kamu masuk, mari nak masuk." kata Ibu Maryam menyuruh tamunya itu masuk. ' Kenapa tidak dari tadi menyuruh masuk Bu, padahal kaki saya sudah kram.' kata sekretaris Lee dalam hati.



Setelah tamunya duduk dengan nyaman dikursi sofa yang sudah usang, Ibu Maryam berjalan menuju kekamar Dewi dan mengetuk pintunya.



Ceklek...



"Ada apa, Bu?" Dewi bertanya, dia tadi sudah berbaring diatas tempat tidurnya.

__ADS_1



"Didepan ada seorang pria yang mencarimu." Ibu Maryam memberitahu. "Pria?" Dewi terkejut dan dengan cepat keluar dari kamarnya langsung menuju keruang depan.



Ketika melihat sekretaris Lee duduk disofa, Dewi terdiam. Tetapi sekretaris Lee malah tertawa melihat penampilan gadis didepannya, bukannya berhias dengan rapi agar terlihat cantik justru berpenampilan seperti seorang yang sedang frustasi. Rambut acak-acakan, maskara hitam untuk memperindah penampilan bulu mata itu melebar kemana-mana. Jadilah disekitar mata Dewi menjadi hitam, karna maskara yang luntur terkena airmatanya tadi.



Gadis yang masih berdiam diri itu belum menyadari penampilannya yang kacau, Lee harus bisa menahan suara tawanya. Lee membatin, gadis didepannya itu benar candunya atau penampakan Anabel.



Ibu Maryam baru keluar dan mendekati putrinya yang masih berdiri, dia tadi belum sempat memberitahu penampilan Dewi yang berantakan karna anaknya itu sudah terburu-buru keluar. "Dewi, kamu benerin dulu riasan kamu. Lihatlah penampilanmu." Ibu Maryam berbisik pelan. Dewi melihat kearah ibunya, "Memang riasanku kenapa, Bu?" Dewi bertanya.



"Sudah, kamu lihat sendiri penampilan wajahmu dicermin!" Ibu Maryam berbisik lagi, tetapi memberikan senyuman kepada Lee. Lee membalas tersenyum.



Dewi segera kembali kedalam kamarnya, segera melaksanan yang diperintahkan ibunya tadi. Melihat dirinya didalam cermin, " Tidak...!!" setengah berteriak karna kaget dengan tampilan wajahnya. Sedangkan diruang tamu, sekretaris Lee dan Ibu Maryam tersenyum lebar mereka tau apa yang membuat Dewi setengah berteriak.



"Maklumi ya nak, tadi Dewi sudah berhias cantik sekali tetapi sepertinya orang yang ditunggu tidak datang-datang jadi anak itu tertidur. Mungkin Dewi tidak sadar dengan riasanya yang rusak." Ibu Maryam menjelaskan.



"Tidak pa-pa Bu, ini salah saya yang terlambat datang. Dijalan sedikit macet membuat perjalanan terhambat dan telat datang kesini."



"Iya nak, sebentar ibu mau buatkan minuman dulu." Ibu Maryam berpamit kedapur. Tinggal sekretaris Lee yang duduk sendirian disofa usang itu, dengan tersenyum-senyum teringat Dewi yang penampilan konyol seperti tadi. Meski melihat penampilan Dewi yang kacau tidak membuat Lee ilfil, dia justru senang dengan gadis apa adanya itu.

__ADS_1


__ADS_2