
Jadwal keberangkatan yang sudah disusun harus diundur, mencari waktu yang tepat untuk sampai di Tokyo.
Pukul 21.10wib semuanya sudah bersiap menuju ke Bandara.
Tepat pukul 22.00 pesawat mulai lepas landas, menempuh perjalanan sekitar 7jam 25menit mereka baru sampai di Bandara kota Tokyo.
Kei yang jarang naik pesawat merasa pusing. Didalam pesawat meski tidak terlelap tapi matanya terpejam, menyandarkan kepala pada lengan Ken.
"Kau kenapa Baby?" tanya Ken.
"Kepalaku pusing." jawab Kei pelan. Padahal pesawat baru 2jam terbang di udara, yang berarti belum ada setengah perjalanan.
"Pusing?" ulang Ken.
"Heum... aku mabuk udara."
"Kau kemari," Ken memanggil Pramugari.
Pramugari cantik itu segera mendekat. "Ada apa tuan?"
"Ambilkan obat pusing untuk istriku." perintahnya.
"Baik tuan."
Pramugari itu segera berlalu untuk mengambilkan obat pusing untuk Kei.
Kei sudah meminum obat itu, tapi matanya masih terpejam, dirasa isi perut akan keluar.
Dan, tidak lama isi perutnya benar keluar. Beberapa kali Kei muntah sampai isi perut terasa kosong.
Ken yang duduk disamping Kei tidak merasa jijik, ia membantu memijat tengkuknya dengan pelan.
"Kei, kamu tidak pa-pa Nak?" Mami Lyra yang duduk didepannya ikut khawatir.
"Tidak pa-pa, Mi. Setelah muntah, perut Kei terasa lebih enakan." jawabnya dengan membersihkan area mulut dengan selembar tissu.
"Honey, kau muntah-muntah sampai beberapa kali, kau yakin hanya mabuk perjalanan udara?" tanya Ken dengan serius.
"Iya, aku tidak pernah naik pesawat dengan waktu yang lama." jawab Kei.
__ADS_1
"Bukan itu, jangan-jangan..." mata Ken melihat keatas, nampak berpikir dan menebak-nebak.
"Jangan-jangan apa?" Kei penasaran dengan yang dipikirkan suaminya.
"Jangan-jangan, baby Kio mau punya adik." jawab Ken.
"Enggaklah, ada-ada aja. Aku 'kan udah konsultasi KB, masak iya hamil. Dan lagi baby Kio masih 4bulan kasihan jika harus punya adik." Kei menyangkal pemikiran Ken.
"Aku kira kau hamil lagi," ucap Ken.
"Kamu ini Ken, kamu nggak kasihan sama Kei kalau dia hamil lagi. 2bulan dia harus mendapat perawatan dari rumah sakit. Biarkan istrimu merasa bebas dan nyaman, lagian benar kata Kei, kasihan baby Kio kalau masih bayi harus punya adik. Nanti kasih sayang kalian akan terbagi." Mami Lyra menyahut.
"Tidak lah Mi, kasih sayangku tidak akan terbagi. Meskipun aku punya banyak anak semua akan aku perlakukan sama." jawab Ken dengan mantap.
"Ya sekarang kamu bisa bilang begitu. Tapi nanti jika semua sudah terjadi, kau akan tau dan rasakan apa yang Mami ucapkan tadi. Meskipun kau ingin memperlakukan mereka dengan adil, tapi terkadang waktumu dan perhatian kalian akan lebih banyak pada si bungsu." sebagai seorang ibu dengan 2orang anak, ia pernah berada diposisi itu. Saat Ray lahir, perhatiannya lebih banyak untuk Ray.
Mengingat sekelebat masa kecil, Ken memang masih ingat saat Maminya begitu sibuk dengan Ray. Pada saat itu ia sering merajuk karna tak mendapat perhatian.
Kei masih merasa pusing, ia kembali bersandar di lengan Ken. Ken memperhatikan wajah Kei, tangannya mengelus rambut dan sesekali memberi pijatan agar rasa pusing itu sedikit berkurang.
Disela itu, ia melanjutkan mengobrol dengan mami Lyra bercerita panjang lebar. Tak terasa sampai pukul 2dini hari mereka berdua baru terlelap.
Seluruh badannya terasa remuk redam setelah perjalanan jauh dari Bali dan kini harus ikut tuan Ken ke Tokyo.
Tanggung jawabnya terlalu besar dengan keamanan dan keselamatan tuan Ken, untuk itu dimanapun tuan Ken berada, maka ia juga selalu ada dibelakang tuan mudanya.
Pesawat sudah mendarat dengan lancar, tepat pukul 06.45 pagi mereka sudah sampai di Bandara Tokyo. Di pintu keluar sudah ada Ray dan satu sopir lain yang menjemput.
"Mami, Ray kangen.." Ray langsung memeluk.
"Mami juga kangen sama kamu, Ray." Mami Lyra menyambut dengan pelukan hangat.
Puas berpelukan dengan mami, Ray beralih pada kakak satu-satunya. Saling menepuk bahu satu sama lain.
"Kakak, terima kasih sudah mau datang. Aku pikir kakak sibuk dan tidak ikut menghadiri acara wisudaku." Ray tersenyum senang.
"Adik nakal. Bagaimana kau berpikir seperti itu! sesibuk apapun aku pasti datang dihari spesial keberhasilan mu." ucap Ken.
"Kakak ipar juga ikut, aku senang sekali. Terima kasih ya kak." ucap Ray pada Kei.
__ADS_1
"Iya Ray, kakak ingin tau Negara lain dan sekalian bisa jalan-jalan." jawab Kei dengan senyuman.
"Hay... ini baby Kio? keponakan ku? dia semakin tampan seperti ku." Ray beralih menggendong baby Kio. Balita itu tak berkedip dan terus memperhatikan wajah Ray yang sedikit kemiripan dengan Daddy Ken.
"Hei sekretaris lurus, kau juga ikut." Ray menyapa Lee.
Belum menjawab Ray sudah bersuara lagi, "Ah... aku lupa, dimana ada kakak, disitu ada kau." Ray cengengesan.
Lee tidak menjawab dan hanya menatap lurus, ia memang tidak terlalu perduli dengan Ray yang sering mengejeknya. Meskipun ejekan itu hanya untuk bercanda tapi Lee malas meladeni. Untuk itu Ray memanggilnya dengan manusia lurus.
Puas dengan saling menyapa mereka pergi meninggalkan halaman Bandara.
3mobil berurutan menuju Hotel yang sudah lebih dulu di boking oleh sekretaris Lee. Jika menginap di Apartemen Ray tidak akan muat, Apartemen itu termasuk kecil. Ray sengaja memilih tempat kecil karna ia hanya tinggal sendiri.
Mobil sudah sampai didepan Hotel, mereka semua turun dan langsung masuk kedalam.
Tak ada waktu untuk beristirahat, 2jam lagi mereka harus menghadiri acara wisuda.
Ray sendiri menyempatkan waktu untuk menjemput keluarganya, karna ia merasa senang anggota keluarga mau jauh-jauh datang ke Tokyo untuk menghadiri acaranya.
Ia sangat tau kesibukan kakaknya, jarang bisa mempunyai waktu.
Sampai didalam kamar Kei langsung merebahkan tubuh. Bernafas lega bisa menghirup udara bebas tidak seperti didalam pesawat yang mengaduk-aduk isi perut.
"Sayang, badanku sakit semua." Kei mengadu.
"Mau aku pijat?" Ken menawari.
Kei melirik sinis, "Tidak!" jawabnya cepat.
Ken tersenyum miring, "Kenapa tidak! pijatan ku 'kan enak, sama seperti tukang pijat handal."
"Enak sih enak, tapi mirip tukang pijat plus-plus." Kei juga tersenyum miring.
"Kau tau, pijat plus-plus mahal, tapi kalau pijat plus-plus denganku nanti gratis."
"Apa kau bilang! Mahal! bagaimana kau tau kalau pijat plus-plus mahal, hah! jangan-jangan kau sering boking pijat plus-plus saat berada diluar rumah. Keterlaluan!" Kei yang marah menjewer telinga Ken dengan kuat, sampai Ken mengaduh kesakitan.
'Sial! padahal aku hanya mendengar cerita dari rekan bisnis yang suka boking pijat plus-plus, tapi aku malah kena apes!' Ken menggerutu.
__ADS_1