
Kei diam saja tanpa menjawab dia sendiri belum pernah memeriksakan keadaan dirinya, hanya mengambil kesimpulan dari waktu pernikahannya dulu bersama Izham karna sudah 1tahun lebih belum memiliki anak sedangkan pernikahan Izham dengan Mira yang beberapa bulan sudah membuat Mira hamil. Kei teringat ucapan dari mantan mertuanya dulu yang begitu tiada perasaan mengklaim dirinya mandul dari sanalah pemikiran itu bermula.
"Kita sama-sama sakit jangan banyak berpikir, kita lihat saja sampai kita sembuh." ujar Ken. Kei mengernyitkan dahi, 'Lihat sampai sembuh? apakah setelah aku dan kamu sembuh kau akan menceraikanku, tuan?' Kei sibuk dengan pemikirannya sendiri.
"Jangan berpikir kabur lagi! diluar ada 10penjaga yang akan mencegahmu!" meski lirih terdengar dingin. Kei mencebikan mulutnya, melihat itu Ken merindukan candunya. Jika tidak sama-sama terluka sudah pasti akan memakannya sekarang juga.
"Ken, nanti kalau Lee kemari mami izin pulang dulu ya...Nak." ucapan mami Lyra mengalihkan pandangan Ken.
"Mami istirahat dirumah saja, ada aku yang akan menjaga Kei." ucap tuan Ken.
"Kamu saja berbaring lemah, bagaimana kamu akan menjaga Kei?" mami Lyra mengejek anaknya. Kei tersenyum, sedangkan Ken berdehem.
"Mami keluar sebentar ya," mami Lyra meninggalkan keduanya agar lebih leluasa berduaan.
Setelah mami Lyra keluar, Kei tertawa sendiri.
"Hei, kau kenapa?" Ken bertanya.
"Tuan sudah bercermin?" Ken terlihat bingung dan menggelengkan kepala pelan.
"Baru kali ini aku melihat wajah tuan yang... yang apa ya? haha..." Kei tertawa cukup kencang, sedetik kemudian memegangi perutnya.
"Hei kau mau aku kenakan pasal juga! walaupun wajahku terluka, seorang Kendra Kenichi tetaplah tampan!" Ken mendengus sebal, dia baru tau jika Kei mengejek wajahnya.
"Oh...ya?" Kei masih meledek. "Kau...! tidak takut dengan pasalku, hah!" tuan Ken semakin kesal tetapi itu membuat Kei senang.
"Tunggu! aku teringat sesuatu, sepertinya tadi ada yang mengatakan isi hatinya?" Ken berganti meledek Kei. Kei membuka mulut, sedetik raut wajahnya berubah. "Tuan saja yang salah dengar, aku tidak mendengarnya?" Kei menyangkal.
"Jika kau memberikan cintamu untukku, kenapa kau berselingkuh dengan Tristan si breng*k itu hah!!" kali ini Ken terlihat serius dan menatap tajam kearah Kei. Kei memutar bola mata malas.
__ADS_1
"Aku harus mengatakan berapa kali tuan, aku tidak berselingkuh dengan tuan Tristan!"
"Jangan panggil dia seperti itu! dia tidak pantas kau sebut itu!" jiwa posesif Ken sudah mulai kembali. "Baiklah, Tristan." kata Kei mengulang panggilannya untuk Tristan.
"Kurang cocok jika hanya itu saja!" Ken masih belum puas mendengarnya. "Lalu apa? Tristan jelek!" ucap Kei. Ken segera menganggukkan kepalanya. "Semua laki-laki harus ditambah jelek, tuan juga laki-laki'kan berati tuan Ken jelek?" Kei ingin menggoda suaminya, dia tau tuan Ken sedang sakit tidak akan mungkin menghukum atau berbuat aneh-aneh.
"Hiya... kau Keihana Kazumi!!" setelah mengatakan itu Ken merajuk dan dengan sangat pelan merubah posisi menjadi membelakangi Kei.
"Tuan..." Kei memanggil tetapi bibirnya tersenyum. "Oh,,, mungkin tuan Ken sedang tidur berarti ada kesempatan untuk kabur." Kei lagi-lagi menjahili Ken, dalam hati ingin tertawa puas.
"Coba saja jika kau berani!" tersenyum tipis tetapi mengerikan. "Tidak, aku hanya bercanda. Aku akan pergi jika tuan sendiri yang mengusirku." kata Kei serius.
"Aku juga tidak tega harus mengusirmu sekarang, setidaknya akan aku tunggu sampai kau pulih." Ken sengaja mengatakan itu. Kei terdiam, entah mengapa mendengar itu hatinya terasa tercubit benarkah tuan Ken akan menceraikannya saat ia sembuh nanti? apakah waktunya bersama tuan Ken hanya tinggal beberapa hari saja?. Ken memperhatikan wajah istrinya yang terlihat sedih tetapi bibirnya tersenyum, dia memang sengaja mengatakan itu. Entah apa yang ada difikiran tuan Ken.
Tok...tok...! Lee mengetuk pintu dan masuk, tetapi tidak sendirian dibelakangnya ada seorang perempuan yaitu Dewi. Lee berjalan mendekati tuan mudanya, sedangkan Dewi mendekat keranjang Kei.
"Kei... kau kenapa? kemarin kamu baik-baik saja." Dewi bertanya, sedikit terkejut melihat temannya yang terlihat pucat, padahal kemarin waktu menginap dirumahnya Kei terlihat baik-baik saja. Dijalan tuan sekretaris tidak bercerita apapun, tadinya waktu Lee pergi ke Kantor untuk mengambil laptop, Dewi memberanikan diri menemui sekretaris Lee karna penasaran dan khawatir dengan keadaan Kei dia takut tuan Ken akan memberinya hukuman. Tetapi sekretaris Lee malah mengajaknya ke Rumah Sakit.
"Astaga? kau ditusuk tuan Ken?" Dewi memekik kaget, dia berpikiran seperti itu. Tidak lama menutup mulut, saat 2pasang bola mata menatapnya tajam. Tuan Ken dan sekretaris Lee bersamaan memberikan tatapan horor, membuat Dewi bergidik ngeri.
"He'em.." Ken berdehem. "Tidak tuan maaf, tadi mulutku yang konyol ini salah berbicara." menunduk dan meminta maaf.
"Kau lupa nasib pekerjaanmu ditanganku!" suara tuan Ken terdengar mengerikan.
"Tidak tuan, saya tidak lupa. Tadi saya sudah meminta maaf. Maafkan saya.." Dewi membungkukkan badannya. Lee melirik kearah Dewi.
"Mbak tidak masuk kerja?" Kei bertanya untuk mengalihkan obrolan tadi agar tidak tegang.
"Aku izin, aku khawatir denganmu Kei." Dewi mengelus punggung tangan Kei.
__ADS_1
"Terima kasih ya mbak, sudah mengkhawatirkan aku." Kei merasa senang, Dewi benar-benar tulus berteman dengannya. Semuanya asik berbincang-bincang sendiri, hingga tak terasa sudah 2jam Dewi menemani di Rumah Sakit.
"Kei, sepertinya aku harus pulang. Kamu cepat sembuh ya, kapan-kapan kita bertemu kembali." Dewi berpamit pulang kepada Kei.
"Yah mbak, kita masih asik ngobrol." Kei terlihat sedih harus ditinggal Dewi.
"Aku harus mengantar pesanan kue, mumpung lagi tidak kerja."
"Eum, baiklah. Mbak hati-hati dijalan ya.. Terimakasih sudah menjengukku." Dewi mengangguk dengan tersenyum.
"Tuan, saya permisi." Dewi membungkukkan badannya didepan Ken, setelah itu berjalan keluar.
"Tuan muda, saya lupa tidak mengunci pintu Apartemen. Saya mohon undur diri sebentar." setelah Dewi berpamitan Lee ikut menyusul berpamitan. "Hem..." Ken berdehem, melirik kearah Lee. Setelah mendapat izin dari tuan Ken, Lee berjalan cepat menuju keparkiran. "Sepertinya ada yang aneh?" Ken bergumam lirih.
Menyusuri lorong rumah sakit ternyata Dewi masih terlihat berjalan keluar, Lee sudah menyusul dibelakangnya.
"Ehem..." Lee berdehem agar Dewi mengetahui keberadaannya dan benar saja Dewi langsung menoleh.
"Tuan sekretaris..." Lee hanya melirik sekilas, ketika sampai diparkiran depan Dewi mengambil langkah berlawanan dengan sekretaris Lee.
"He'em.. kau mau kemana?" Lee bertanya kepada Dewi, Dewi yang belum jauh membalikkan badan. "Mau cari angkot tuan."
"Ikutlah denganku."
"Hah..."
"Tidak mau! kalau begitu aku akan mencabut izin jam kerjamu." Dewi semakin bingung.
"Kau itu lambat! cepat masuk, aku antar pulang."
__ADS_1
"Ouh... baiklah," masih dengan wajah kebingungan, Dewi berjalan mendekat dan masuk kedalam mobil.