
Mendengar Kei berteriak, Mami Lyra menghentikan langkah dan menoleh. "Gawat kenapa, Kei?" tanyanya.
"Eum itu Mi, didalam kamar mandi Kei sedang gawat darurat." Kei kebingungan untuk mencari alasan.
Mami Lyra hampir sampai didepan pintu kamar mandi. "Gawat darurat gimana, maksut kamu?" Mami Lyra tidak mengerti.
Dipojok belakang pintu kamar mandi, Ken masih mematung, harap-harap cemas menunggu kejadian selanjutnya. Apakah Mami Lyra akan masuk kedalam atau tidak? memasang pendengar lebih tajam.
"Iya Mi, tadi didalam ada kecoa iya kecoa, sebaiknya Mami jangan masuk kekamar mandi Kei, nanti geli Mi." Ah, entah itu alasan masuk akal atau tidak. Ia reflek menemukan ide kecoa.
"Benarkah? tapi kamu tadi mandi hampir satu jam? kamu nggak geli sama kecoa itu?" Mami Lyra melihat gelagat Kei yang sedikit gugup dan salah tingkah. Ia curiga. Bukan hanya curiga, tapi juga penasaran.
Kei tersenyum dengan menunjukan deretan gigi, ia tersenyum lebar kearah Mami Lyra. "Tadi waktu Kei mandi kecoa itu belum datang Mi, pas Kei mau keluar ternyata kecoa bersembunyi dibelakang pintu." apakah alasannya masuk akal? mudah-mudahan saja ibu mertuanya percaya dan mengurungkan niat.
Mami Lyra nampak berpikir, bukan Ken saja yang harap-harap cemas didalam kamar mandi. Jantung Kei lebih berdetak kencang, jika sampai mami Lyra tau, ia benar-benar akan menanggung malu.
Dan.... dan... ceklek...
"Au'.... Ken kejepit...!" Ken berteriak dibalik pintu. Berada dalam posisi terjepit antara pintu dengan dinding kamar mandi.
Mami Lyra membuka pintu sampai terpentok hingga Ken reflek berteriak.
"Ken... kau kah itu?" tanya Mami Lyra yang langsung melihat kebelakang pintu.
"Au Mi... sakit. Kenapa Mami mendorong pintu dengan keras!" Ken meringis kesakitan. Ia masih menggunakan handuk putih yang menutupi bagian bawah. Sedangkan tubuh atas terekspos. Rambut yang masih lepek karna basah.
Diluar Kei mematung, tak bisa berbuat apa-apa rasanya ingin nyumput dibawah kolong bed.
Apa yang ditakutkan kini benar terjadi. Ia menahan malu setengah mati, ini semua gara-gara ulah suaminya. Kei juga merasa kesal dengan Ken.
"Kamu ngapain dibelakang pintu?" selidik Mami Lyra.
"Eum, itu... Ken itu mau mengusir kecoa." jawabnya gugup.
Pikiran Mami Lyra langsung tertuju, kini ia tertawa lebar. Ken menunduk, bukan hanya Kei saja yang malu, ia lebih malu karna ketahuan berbohong.
__ADS_1
"Oh... jadi ini yang dibilang Kei ada kecoa? Kalau kecoa nya sebesar ini sih Mami nggak bakal takut, malah semangat buat memukuli kecoa sampai pingsan." kata Mami Lyra masih dengan tertawa.
Ken ikut tertawa menutupi rasa malu. Kei menunduk memandang wajah baby Kio, bayi itu juga menatap wajah Mommy nya. Setelah melepas sumber makanannya, bayi itu tertawa.
"Eh, kau tertawa. Kau menertawai Mommy dengan Daddy, hah?" kata Kei. Baby Kio masih tertawa.
"Huh, ini juga gara-gara kamu, sayang. Mommy malu sama Oma karna ketahuan. Tersangka utama itu Daddy mu, dia yang membuat rencana. Padahal Mommy hanya korban, tapi harus menanggung malu juga." Kei mengoceh pelan dengan baby Kio, diakhir dia mendengus.
"Kamu ini Ken Ken, astaga... ada-ada aja. Ternyata ini kerjaan yang kamu bilang sangat penting? sampai melupakan keberadaan putramu? dia sampai menangis mencari kalian."
"Mami, semalam baby Kio mengganggu aku sama Kei. Tadi pagi-pagi dia juga sudah bangun, Ken nggak pernah ada waktu." Ken berterus terang, tidak ada guna menutupi. Semua sudah ketahuan.
Kei menepuk dahi, astaga... suaminya benar-benar membuat kesal. Dia malah mengatakan kejujuran yang semakin membuat malu.
Mami Lyra menggeleng-gelengkan kepala. Tidak habis pikir dengan Ken.
"Kalau sudah punya anak ya memang begitu, susah mau berdu'aan."
"Itu Mami tau, harusnya Mami bantuin Ken."
"Dasar ini anak! sudah tua, bukannya dewasa malah tambah seperti anak kecil." Mami Lyra mengejek dengan menjewer telinga Ken. Setelah itu berjalan keluar.
"Mami nggak jadi cuci muka?" tanya Ken, ia mengikuti keluar dari kamar mandi yang menjadi tempat persembunyiannya.
"Enggak! takut ada kecoa jadi-jadian." jawabnya dengan tertawa. Kini Mami Lyra tertawa dengan melihat kearah Kei.
Menantunya sedang menunduk malu.
Terdengar ketukan pintu, ternyata Lee sudah datang untuk menjemput tuan mudanya.
"Selamat pagi tuan muda, Nyonya besar dan Nona Kei." ia menyapa ramah kepada tiga orang dewasa itu. Ia tidak tau yang terjadi.
"Pagi Lee, kamu rajin sekali jam tujuh sudah sampai disini?" kata Mami Lyra.
"Iya Nyonya Besar, ini sudah tugas saya." jawab Lee menunduk hormat. Ia beralih duduk disofa.
__ADS_1
Mami Lyra masih menyisakan senyum lebar, "Cepat ganti pakaian Ken, awas nanti kecoa besar bisa terbang." kata Mami Lyra dengan tertawa lucu.
"Mami...!" Ken kesal bercampur malu, ia menggaruk rambut basahnya.
Mami Lyra masih tertawa, mengejek putranya. "O..o kamu ketahuan...." mami Lyra mengejek dengan bernyanyi.
Ken berjalan menuju ruang ganti, Kei sibuk dengan baby Kio.
Akhirnya Mami Lyra berjalan keluar kamar.
Ken yang sudah selesai memakai baju segera keluar dan mendekati Kei yang duduk diatas ranjang dengan memangku baby Kio.
Saat suaminya mendekat, Kei melayangkan pukulan beberapa kali.
"Au... tadi Mami yang menjewer telingaku, sekarang kau memukul ku! pagi ini kalian menyiksaku. Padahal tadi malam aku baru mendapat kejutan." ucapnya. Ken meringis kesakitan.
"Pagi ini aku juga mendapat kejutan malu, itu semua gara-gara kamu!" kesal Kei menatap sinis.
"Maafkan aku, aku juga tidak tau kalau bakal ketahuan." jawab Ken.
Sekretaris Lee yang duduk dengan santai hanya menyaksikan mereka berdua, tentu tidak tau masalah apa yang membuat mereka sedikit cekcok.
Dia memang manusia minim ekspresi, jadi hanya diam saja dengan kejadian sekitar. Tidak ingin ikut campur jika bukan menyangkut istri dan atasannya. Karna keduanya sama-sama penting.
"Huh... ini benar-benar memalukan! kamu juga bukannya menutupi malah berterus terang. Dan lagi, kedepannya meminta bantuan Mami Lyra untuk menjaga baby Kio saat kita berduaan. Astaga... mau ditaruh dimana mukaku ini, sayang!" Kei kesal, ia menekankan kata sayang.
"Sudah terlanjur ketahuan, ya sudah kita ambil hikmahnya saja. Lagian Mami Lyra pasti memaklumi." jawab Ken santai. Seolah rasa malu tadi sudah hilang.
"Terserah kau saja!" jawab Kei singkat masih terlihat kesal.
"Hei...baby boy pintar sekali, setelah membuat kacau sekarang tidur dengan nyenyak." kata Ken dengan mengelus pipi putranya yang sedang memejamkan mata.
"Padahal sudah waktunya mandi." kata Kei.
'Apa dia sengaja mengganggu? semalam tidak tidur, tadi pagi bangun dipagi buta. Setelah semua ketahuan, dia tidur dengan nyenyak? seperti sengaja mengerjai kedua orang tuanya?' batin Ken.
__ADS_1