
Tuan Ken dan Kei sudah berada didalam ruangan. Biasanya tuan Ken yang lebih dulu menggenggam tangannya, kini berganti Kei menyentuh tangan sang suami.
"Tuhan Maha Adil, menunjukan kebenaran meski waktu itu sudah berlalu lama." menggenggam erat tangan tuan Ken, tapi kedua bola mata itu menerawang jauh. Terbayang kejadian masa lampau yang masih membekas.
Belum menanggapi, tapi tangan kekar itu merapikan anak rambut yang menutupi padangan sang istri. Ditatap dengan lekat-lekat, mengagumi keindahan yang tercipta didepannya. Ia semakin bersyukur, takdir menyatukan hati keduanya.
"Tuhan memang Maha Adil, memberi keadilan juga padaku. Mengambil belahan jiwa dan menggantikan dengan yang sepadan." jawab tuan Ken. Mengangkat genggaman itu untuk mencium punggung tangan Kei.
"Berbeda denganku. Aku bukan lagi mendapat yang sepadan, tapi lebih jauh diatasnya."
Jika tuan Ken berpisah dengan belahan jiwa karna maut yang memisahkan, berbeda dengan Kei yang terpisah karna sebuah pengkhianatan.
Terdengar ketukan pintu dari luar, tak berapa lama dokter dan perawat masuk. Mengecek perkembangan kondisi Kei saat ini.
"Bagaimana kondisi istri dan calon anakku?" tanya tuan Ken.
"Kondisi Nona Kei semakin membaik, tuan. Sebenarnya berada dirumah sakit lebih aman dan terjaga, kami bisa memantau beberapa jam sekali. Tapi jika anda ingin membawa pulang Nona juga tidak pa-pa, kami sudah memberi izin." dokter itu memberi penjelasan, menyerahkan keputusan ditangan tuan Ken.
"Aku ingin pulang." secepatnya Kei menjawab, ini kesempatan untuk bisa keluar dari ruangan yang bau akan obat-obat menyengat.
"Hei, keputusan ada ditanganku." perkataan tuan Ken mengingatkan jika tuan muda itu yang berkuasa mengambil keputusan.
Kei menghirup udara dan menghembuskan lewat mulut. Raut wajah terlihat kesal.
Tuan Ken masih menimbang-nimbang perkataan dokter yang mengizinkan istrinya pulang, tapi ia juga tengah memikirkan keadaan Kei yang akan lebih aman berada dirumah sakit. Bisa saja ia menggiring dokter kerumahnya, hanya saja jika digedung rumah sakit akan lebih lengkap dengan peralatan medis.
"Honey, kau tetap disini saja sampai waktunya melahirkan." kata tuan Ken.
"Apa...?" Kei terkejut dan setengah berteriak dihadapan tuan Ken. Bagaimana bisa tuan Ken memutuskan seperti itu? membiarkannya terkurung dalam ruangan terkutuk.
__ADS_1
"Sweety, reaksimu berlebihan! kau tidak memikirkan calon anak kita?" tuan Ken memarahi tindakan istrinya yang sedikit ceroboh, gerakan reflek dari Kei bisa saja membahayakan si janin.
"Ah iya, maaf. Keputusanmu mengejutkanku. Bagaimana mungkin aku tinggal disini sampai waktunya melahirkan, yang benar saja. Sudah seperti dipenjara." Kei cemberut, tangan sebelah mengelus perut. Dalam hati meminta maaf pada calon anaknya yang mungkin ikut terkejut dengan gerakan refleknya bangun dari pembaringan.
"Nak, kau baik-baik saja? Mommymu suka bertindak ceroboh. Untuk itu, Daddy harus extra menjaga kalian." tuan Ken memindahkan tangan Kei. Berganti dirinya yang mengelus perut itu dan berbicara tepat didepan perut yang membuncit.
Kei bersyukur memiliki suami seperti tuan Ken, tapi disaat seperti ini ia juga kesal dengan keputusan yang diambil. Menurutnya itu tidak adil. Padahal tuan Ken tau ia sangat menginginkan kebebasan, tapi kenapa malah mengambil keputusan itu? 'itu menyebalkan, bukan?'
Pikiran lelaki itu lebih panjang dari perempuan. Tidak hanya memikirkan kemauan, tetapi kebutuhan. Belajar dari kejadian sebelumnya, ketika Kei tiba-tiba pingsan dan kritis. Ia tak sanggup membayangkan itu terulang lagi. Jika dirumah sakit akan selalu ada dokter dan perawat yang menjaga, didukung dengan peralatan medis. Tapi untuk dirumah, tak ada alat yang dibutuhkan. Apakah ia harus membeli beberapa alat medis? merubah rumah istana menjadi rumah medis demi anak dan calon istri?
Tuan Ken masih berpikir-pikir, sebenarnya tak tega mengungkung Kei didalam ruangan itu. Tapi berbalik lagi, itu demi kebaikan bersama.
Dokter dan perawat bergantian melihat keduanya. Tuan Ken tampak larut dalam pemikiran. Kei juga larut dalam lamunan, namun dengan raut wajah kekesalan.
"Anda bisa memikirkan keputusannya. Mungkin harus dirundingkan. Kalau begitu, kami permisi." dokter itu menunduk sebentar sebelum pergi. Tuan Ken membiarkannya begitu saja.
"Sayang..."
Mami Lyra dan Ray sudah berdiri didepan pintu dan masuk. Ray membawa tas ransel yang digendong diatas punggungnya. Penampilannya sangat rapi.
"Tumben kalian diem-dieman gini?" mami Lyra dan Ray sudah mendekat keranjang. Keduanya bisa membaca situasi diantara tuan Ken dan Kei sedang terjadi sesuatu.
"Keputusan suamiku tidak adil!"
"Itu sudah sangat adil!"
keduanya saling pandang, berlomba siapa yang lebih kuat menatap. Keadaan itu membuat mami Lyra dan Ray semakin bingung. Sebelumnya baik-baik saja.
"Ini ada apa sih? keputusan tentang apa?" tanya mami Lyra menelisik wajah Kei dan Ken bergantian.
__ADS_1
"Mi, kata dokter aku sudah boleh pulang. Tapi dia, tidak mengizinkan Kei pulang dan tinggal disini sampai melahirkan. Apa itu adil?" Kei mengadu, berharap mertuanya, kali ini saja bisa membantu.
"Mami tau sendiri, kondisi istriku bisa saja kapanpun menurun? Aku hanya ingin menjaga keadaan Kei dari marabahaya. Disaat aku pergi kekantor, perasaanku tidak akan tenang meninggalkan istri dan calon anakku dirumah. Jika Kei dirumah sakit ada dokter dan perawat yang memantau keadaanya." panjang lebar tuan Ken menjelaskan isi pemikirannya.
Belum menanggapi, mami Lyra justru bingung akan berpihak pada siapa.
"Apa kondisi Kei sudah membaik?"
"Sudah, Mi. Dokter sudah memeriksa dan mengatakan kondisiku sudah pulih dan baik-baik saja." jawab Kei.
"Ya sudah kalau begitu biar istrimu istirahat dirumah Ken. Kasihan juga istrimu terus-menerus tidur diranjang rumah sakit." akhirnya mami Lyra memihak pada Kei.
'Yes-yes,' dalam hati Kei kegirangan. Dia sudah mendapat pembelaan.
"Diskusinya dilanjut nanti saja. Ray mau pamit." Ray menyela obrolan itu, dirinya tak ingin ketinggalan pesawat. Hari ini ia harus kembali ke Tokyo, satu minggu lagi dirinya sangat sibuk membuat tugas akhir kuliah.
"Kau akan kembali sekarang?" tanya tuan Ken.
"Iya kak, sebentar lagi pesawat akan lepas landas, aku takut ketinggalan pesawat." jawabnya, sesekali melihat jam kulit yang dipakainya.
"Kau tidak mengatur jadwal dengan pilot kita?"
"Enggak, kak. Sekali-kali aku ingin naik pesawat umum."
Tuan Ken sudah tidak bertanya, tidak mencegah Ray menggunakan pesawat biasa. Padahal tuan Ken memiliki pesawat pribadi yang bisa mengantarkan kemana saja. Tapi Ray memilih menggunakan pesawat umum, ia bisa berbaur dengan orang-orang baru.
"Kaka ipar, cepat sembuh ya, aku pamit."
"Iya Ray, makasih do'anya. Kamu hati-hati ya, semoga selamat sampai tujuan." pesan Kei dengan senyuman.
__ADS_1
Sebelum pergi Ray memeluk mami Lyra. Berkali berpisah dengan putranya yang menempuh pendidikan, tapi tetap saja bisa meloloskan airmata. Seorang ibu akan sedih tinggal jauh dengan anaknya.