Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Kemarahan 2


__ADS_3

Ken masih tetap memukuli Izham dengan membabi buta. Suatu hal yang telah membuat puncak kemarahannya sangat sulit untuk diredam.


Kei yang menangis hanya mampu menyaksikan perkelahian itu dengan perasaan campur aduk. Takut, khawatir sekaligus kasihan melihat Izham sudah tidak berdaya dengan darah yang mengotori lantai.


"Sayang, berhenti. Aku mohon jangan teruskan, Mas Izham bisa mati! lihatlah, dia sudah tidak berdaya." Kei berteriak agar Ken bisa menghentikan kegilaannya.


Dukk...


Ken menaruh kaki kanannya diatas dada Izham sampai kesulitan untuk bernapas.


"Kau membela dia?!" tanya Ken masih dengan tatapan tajam kearah Kei. Biasanya sorot mata itu selalu teduh dan penuh kelembutan saat memandangi wajah istrinya tercinta.


Tapi kali ini Ken benar-benar marah, mampu menatap Kei dengan tajam.


"Ti tidak. A ku tidak membela dia." jawab Kei dengan terbata. Takut, ia pun sangat takut melihat sorot mata itu penuh kemarahan.


Kei menundukkan pandangan karna tidak sanggup melihat Ken yang menakutkan.


"Kau membuatku marah!!" dari ucapan Ken ada kekecewaan besar terhadap Kei.


"Ma maafkan, Aku." masih dengan menunduk Kei meminta maaf.


"Ka mu tidak ber salah, Kei." dengan tersengal-sengal Izham ikut berbicara.


"Diam kau bang sat!!" mendengar perkataan Izham yang seolah perduli dengan istrinya membuat Ken kembali emosi dan melayangkan beberapa tendangan pada Izham.


"Sayang, sayang, berhentilah..." Kei benar-benar tidak sanggup berada disituasi seperti ini. Dia yang memiliki hati lembut tidak tega melihat kekerasan itu berlanjut.


Kei memberanikan diri untuk maju dan memeluk lengan tangan Ken supaya Ken bisa menghentikan aksinya.


Tapi Kendra Kenichi tidak akan berhenti sebelum musuhnya terkapar dan sekarat.


Kei sudah terisak, meski badannya terhuyung ia tetap memeluk lengan Ken dengan erat.


"Tuan Muda...!" dari kejauhan Lee setengah berlari untuk menghampiri Ken bersama lima pengawal lainnya yang ia bawa.


Ken tidak perduli dan tidak menoleh sekali pun.


"Nona, menyingkirkan." perintah Lee pada Kei. Kei mengangguk dan mulai melepas tangannya.


Hati Kei sedikit lega melihat kedatangan Lee dan lima orang lainnya. Hanya Lee yang berani menghentikan kebrutalan Ken. Meski tak jarang mendapat bogem mentah tapi Lee selalu sigap dan ikut andil di sekiling Ken.


"Tuan Muda, berhenti." Lee mencoba menghentikan.

__ADS_1


"Kau juga berani menghentikan ku, Lee?!" ucap Ken.


"Tidak Tuan Muda, saya sungguh tidak berani. Tapi jangan kotori tangan anda untuk menghajar Izham, biar saya saja yang mengurusnya." kata Lee.


Gerakan kaki Ken yang menendang Izham telah berhenti. Ia lalu menoleh kearah tangan kanannya itu. "Lenyapkan manusia menjijikan itu! aku muak melihatnya!" perintah Ken.


"Aku tidak suka dengan orang yang tidak tau diri! si breng sek itu tidak menghargai kebaikanku." sambung Ken. Kali ini pandangan matanya tertuju pada Izham yang setengah sadar. Babak belur disana sini karna pukulannya yang membabi buta.


"Saya akan mengurusnya. Sebaiknya anda kembali ke Aula, acaranya belum selesai banyak kolega yang mencari anda." Lee berharap Ken mau mendengarkan sarannya agar Ken kembali menikmati pesta dan urusannya tidak akan panjang.


Ken tidak menjawab, ia berbalik dan melangkah meninggalkan Izham.


"Sekretaris Lee, aku takut." kata Kei.


"Tidak pa-pa Nona, ikuti saja semua kemauan Tuan Muda. Walau Tuan Muda marah, tapi tidak akan menyakiti anda."


"Jangan membantah ucapannya, cukup diam dan menurut." pesan Lee.


Kei mengangguk dan mulai berjalan cepat menyusul suaminya yang sudah menjauh.


"Sayang ... Sayang," Kei berlari kecil mengejar Ken, tapi lelaki itu sudah menjauh.


Sebenarnya Ken mendengar teriakan Kei, tapi ia sengaja pura-pura tidak mendengar dan terus saja melangkah lebar menyusuri lorong.


"Sayang," Kei telah berhasil mengejar Ken dan memeluk tubuh Ken dari belakang.


"Maafkan aku," Kei lebih mengeratkan pelukannya. Tidak perduli dengan keberadaan dua pengawal yang tidak jauh darinya. Saat ini harus bisa meluluhkan kemarahan suaminya.


"Harusnya kata maaf itu tidak kau ucap jika saja kau tidak menemui laki-laki itu!" kata Ken dengan dingin.


Kei mengangguk dibelakang punggung Ken. "Tapi aku tidak sengaja menemuinya. Aku pergi ketoilet tapi dia mencegah langkahku."


"Kenapa tadi kau mencegahku untuk melenyapkannya?!" sinis Ken, tetap pada posisi yang sama yaitu memunggungi Kei.


Ken menurunkan tangan Kei yang melingkar di pinggangnya. Kekecewaannya masih besar terhadap Kei hingga meninggalkannya begitu saja.


Tubuh Kei melemas memandangi Ken yang kembali berjalan menjauh, harus membutuhkan tenaga ekstra untuk membujuk Ken.


Tersadar ia telah lama meninggalkan Kio dan Kyura, pasti kedua anaknya sudah menunggu.


Kei kembali melangkah menuju Aula.


Saat sudah berada disamping mami Lyra, ia mengambil alih Kyura.

__ADS_1


"Kei, kenapa lama sekali?" tanya mami Lyra.


"Iya Mi, sedikit antri." jawab Kei.


"Kok suara kamu serak seperti orang habis menangis?" karna penasaran mami Lyra mengamati wajah Kei.


"Itu, mata kamu juga sembab gitu?!" pandangan mami Lyra menyelidik.


"Tidak pa-pa Mi, nanti aku jelaskan dirumah. Suamiku mana Mi?" tanya Kei.


"Loh... Ken tadi menyusul mu ke toilet. Memang nggak ketemu?" bingung mami Lyra.


"Ketemu sih, Mi. Tapi dia lebih dulu kembali kesini."


"Ken belum kembali kesini."jawab mami Lyra.


Kening Kei mengerut, kalau Ken tidak kembali kesini lalu kemana?


Papa Herlambang tengah berbincang ditelpon dan setelah menutup panggilan segera mendekati istrinya dan Kei.


"Ayo kita pulang." Herlambang mengajak mereka pulang.


"Memang acaranya sudah selesai? Ken juga belum kembali." kata mami Lyra.


"Acaranya sudah selesai, hanya tinggal santap makan. Tadi Ken menghubungiku, kita disuruh pulang." kata Herlambang.


"Memang Ken dimana? kenapa tidak pulang bersama?" mami Lyra terus bertanya. Ia merasakan ada kejanggalan antara Kei dan Ken. Ken yang tiba-tiba menghilang dan juga mata Kei yang sembab seperti orang menangis. Pasti ada sesuatu yang terjadi. Jangan-jangan mereka bertengkar?


"Ken sudah pergi, katanya ada urusan."


"Nyonya Besar, Tuan Besar dan Nona." Lee sudah kembali. Menyapa mami Lyra dan yang lain.


"Loh Lee, kamu kok disini? lalu Ken pergi dengan siapa?" tanya mami Lyra. Sedangkan Kei hanya terdiam dan kalut dengan pemikirannya sendiri.


"Pergi?" Lee malah terlihat kebingungan. Ia tadi menyuruh Ken untuk kembali ke aula. Lalu kenapa Ken pergi?


"Baru ini kamu tidak tau urusan Ken?" ucap mami Lyra.


"Maaf Nyonya, Tuan Besar dan Nona, saya permisi sebentar." Lee kembali berpamit dan secepatnya menuju pintu keluar.


Tidak lupa mengambil ponsel untuk menghubungi nomor Ken tapi tidak tersambung.


Lee menemui penjaga diluar hotel untuk menanyakan keberadaan Ken, apakah tuan mudanya benar pergi meninggalkan gedung hotel atau sedang beristirahat di ruang khusus milik Ken sendiri.

__ADS_1


__ADS_2