
Menyusul tuan Ken dan Kei masuk kedalam lift, didalam masih menyisakan senyuman.
"Kau kenapa Lee?" tuan Ken bertanya. Secepatnya Lee berdiri tegak, memasang wajah datar.
"Tidak kenapa-kenapa tuan muda."
"Apa kau membayangkan candu?" Ken tersenyum, dia hanya asal menebak karna baru tadi Ken melihat sekretaris Lee duduk berdampingan dengan lawan jenis dan mungkin itu yang membuat Lee tersenyum-senyum begitu. Lee menggelengkan kepala dan mengalihkan pandangan. Kei yang tidak begitu mengerti hanya diam saja.
"Baru ini aku melihatmu tersenyum secerah itu, pasti ada sesuatu." Ken meledek.
"Tidak ada sesuatu apapun, tuan muda." Lee menjawab datar.
"Hem... aku menunggu kabar baik, Lee." Ken tersenyum meledek.
Triing... lift terbuka, mereka bertiga segera keluar. Ken menggandeng tangan Kei dan masuk keruangannya, sekretaris Lee langsung menuju keruangannya sendiri.
Lee masuk keruangan nya dan duduk dikursi, menyangga dagu dengan satu tangganya.
"Apa tingkah seorang wanita seperti itu, jika sedang kesal? itu terlihat lucu, bibirnya mengerucut menggelikan, pantas saja tuan Ken kadang bersikap aneh jika berdekatan dengan nona Kei ternyata kaum wanita itu unik. Wanita tadi manis juga, eum... kenapa aku bisa memikirkan wanita itu." Lee menggelengkan kepala, menepis pikirannya tentang Dewi. Menyalakan laptop untuk kembali bekerja.
Diruangan Ken tidak ada aktivitas lain selain Ken yang terus menempel dengan Kei, seperti tidak ada bedanya ketika dirumah atau dimanapun karna tuan Ken tidak bisa jauh dari candunya.
"Tuan, apa tidak ada pekerjaan?"
"Ada,"
"Kenapa tidak dikerjakan, nanti tidak akan selesai." sebenarnya Kei merasa risih, ingin terbebas dari tuan Ken untuk sesaat. Jika berdekatan seperti ini tangan tuan Ken susah dikendalikan.
"Ini aku sedang mengerjakan sesuatu." Ken sedang menjelajahi leher jenjang milik istrinya, menghirup parfum yang digunakan Kei. Menggigit kecil hingga meninggalkan bekas kemerahan.
'Mengerjakan apa tuan, kau hanya mengerjai ku. Huh...'
Tangan Ken sudah berada ditempat ternyaman, Kei ingin menghentikan aktivitas tuan Ken tetapi tidak punya keberanian.
"Tuan, nanti ada yang masuk. Sudah... nanti saja dirumah." Kei mengumpulkan keberanian untuk mengatakan itu. Meski dia menikmati perlakuan tuan Ken tetapi posisi mereka saat ini tidak aman, karna mereka berdua duduk disofa Kei takut jika tiba-tiba ada yang datang.
__ADS_1
"Dirumah bonus."
'Hah... bonus? benar-benar tuan mesum. Apa dia tidak punya rasa lelah!'
Ken menghentikan aktivitasnya sejenak, melihat kearah Kei. Kei menatap aneh, menautkan kedua alis.
"Kau tau?" Kei menggeleng.
"Ada sesuatu yang sudah berdiri."
"Hiya... dasar mesum!!" Kei memukuli lengan suaminya, dengan gerakan cepat Ken menggendong Kei masuk kedalam kamar pribadinya.
"Tuan... aaa'... kau ini." Kei meronta digendongan Ken, Ken tergelak.
"Hei... jangan berteriak begitu, kau mau Lee datang kesini?" Kei menggeleng kuat. Jika sekretaris Lee datang, dia akan lebih malu lagi.
Ketika sudah diatas ranjang tidak akan bisa terelakan untuk bergumul panas, saling memuaskan satu sama lain.
Sekretaris Lee mengetuk pintu ruangan tuan Ken tetapi tidak ada jawaban, mungkin tuan Ken tidak mendengar dia memberanikan diri membuka pintu. Saat pintu terbuka didalam ruangan itu kosong tidak ada siapapun, berjalan masuk dan melupakan sesuatu.
"Ah... telingaku sekian kalinya ternoda, beberapa kali mendengar suara seperti itu. Huh, apa tidak bisa melakukannya dirumah saja." Lee menggerutu kesal, berjalan kearah lift dia ingin mengecek ruang Devisi keuangan.
______________________
Hari wekkend saatnya bersantai terbebas dari pekerjaan yang melelahkan. Lee sedang bersantai didalam Apartemennya, menikmati waktu libur untuk menghibur diri dengan bermain game yang ada di ponsel.
Tidak berapa lama perutnya terasa lapar, terlalu malas jika harus menyiapkan makanan. Dia bangkit dari duduk dan masuk kedalam kamar, berganti pakaian sebentar dan menyambar jaket yang tergeletak diatas sofa segera memakai, setelah itu mengambil kunci motor yang ada diatas meja. Berjalan keluar dan menekan tombol hingga alarm motor sport miliknya berbunyi.
Mengambil helm dan memakainya, menghidupkan mesin motor dan melajukan motor keluar gerbang. Ketika sedang keluar sendiri atau ada urusan pribadi Lee lebih suka mengendarai motor, selain menghindari macet dia juga bisa bersantai dijalanan.
Ditengah perjalanan tidak sengaja pandangannya tertuju kepada seorang gadis yang sedang berjongkok disamping motor, dia tidak begitu perduli dengan orang lain. Tetapi saat melewati gadis itu seperti teringat seseorang. 'Bukankah itu gadis unik?' Lee membatin. Segera memutar balik arah motornya.
"Ada apa?" ketika sudah didekat gadis itu Lee bertanya, Dewi tidak merespon dia memasang wajah cuek karna merasa tidak mengenal orang itu.
"Hei, aku bertanya padamu! apa kau tidak mendengar?" Lee membuka helm yang dipakai. Dewi membuka mulut karna terkejut, ternyata orang itu adalah tuan sekretaris.
__ADS_1
"Tuan sekretaris."
"Ada apa dengan motormu?" Lee mengulangi pertanyaannya.
"Motorku bannya bocor tuan, aku tidak tau dimana ada bengkel."
"Memang mau kemana?"
"Mau pulang, tadi dari jalan xxx mengantar paket."
"Ya sudah aku antar pulang."
"Apa...!" Dewi kembali terkejut, saat mendengar sekretaris Lee akan mengantarnya pulang.
"Tuan sekretaris tidak salah bicara 'kan?"
"Kalau tidak mau, ya sudah." Lee memakai helm dan menghidupkan mesin motor. Dewi sudah bergerak cepat menghadang didepan motor sport itu.
"Baik tuan sekretaris, saya mau diantar pulang. Tetapi motor saya bagaimana?"
"Motornya biar disini saja."
"Tapi tuan, kalau motornya diambil orang bagaimana?"
"Nona berpikirlah, mana ada orang yang mau mengambil motor bannya kempes?"
"Hah... ah iya-ya... hehe..." Dewi cengengesan. Lee menggelengkan kepala, dibalik helm bibirnya menyunggingkan senyum.
"Ambil barang yang berharga dan jangan lupa motornya dikunci." Dewi mengangguk dan segera memeriksa apa ada barang yang tertinggal, setelah mengunci motor Dewi mendekati sekretaris Lee.
"Menunggu apa, ayo naik." Lee menyuruh Dewi untuk segera naik keatas motornya. Motor sport yang tinggi membuatnya kesulitan untuk naik, memberanikan diri memegang bahu sekretaris Lee dan naik keatas motor.
Lee menghidupkan mesin motor dan melajukannya pelan, matanya melihat dipinggiran jalan apa ada bengkel didekat daerah sana. Lee memberhentikan motornya ketika menemukan bengkel dan memberikan kunci motor milik Dewi kepada seorang untuk mengambil motor itu. Setelah urusan selesai, kembali melanjutkan perjalanan.
Lee melajukan motornya sedikit kencang agar segera sampai, perutnya yang kosong tidak bisa menahan lapar lagi. Dewi memegang ujung jaket yang dikenakan Lee, dia takut terjatuh. Kecepatan motor matic dengan motor sport berbeda, hingga membuatnya takut terjatuh. Lee melihat kebawah, tangan Dewi begitu erat memegang ujung jaketnya. Senyum dibibir Lee kembali terbit, entah apa yang diinginkan Lee, dia semakin menambah laju kecepatan motornya. Dewi yang terkejut tidak sadar sudah memeluk tubuh sekretaris Lee dengan erat.
__ADS_1