
"Saya terima nikah dan kawinnya Dewi Puspitasari binti almarhum Mustofa dengan mas kawin tersebut, tunai."
"Bagaimana saksi, sah?"
"Sah......."
"Alhamdulillahirobbil alamin..."
Setelah itu bapak penghulu membaca do'a.
Setelah membaca do'a, pak penghulu menyuruh Lee untuk mencium kening Dewi dan juga Dewi yang mencium tangan Lee, baru pengantin itu meminta restu kepada Ibu Maryam dan juga bersalaman dengan tamu yang hadir.
Ketika saat Lee menjabat tangan tuan Ken, taun Ken mengucapkan selamat untuk pernikahan mereka. "Selamat Lee, akhirnya kau resmi mempunyai candu." bisik tuan Ken lirih agar yang lain tidak mendengar. Sekretaris Lee tersenyum, "terima kasih tuan muda. Aku sudah tidak iri lagi dengan kemesraan kalian."
"Hei... jadi selama ini kau iri melihat aku bermesraan dengan Kei!" tuan Ken terkejut. "Tuan muda jangan berbicara keras, bisa saja yang lain mendengar." tuan Ken hanya memandang sinis.
Meski acara itu hanya sederhana tetapi didalam ruangan itu sudah tertata rapi dengan hiasan bunga-bunga asli yang semerbak dengan keharuman. Kini saatnya kedua mempelai itu untuk mengabadikan momen mereka dengan berfoto, fotografer handal sudah siap untuk memotret dengan gaya kekinian.
Santap makanan sudah selesai, para tetangga yang hadir sudah mulai berpamitan. Pengantin itu lebih leluasa bergaya sesuka hati mereka.
Melihat senyum ceria dari pengantin membuat ibu hamil itu juga merasa iri, dia yang sudah berpakaian dan riasan sama dengan pengantin ingin merasakan jepretan kamera.
"Sayang..." Kei memanggil tuan Ken manja, tuan Ken sedang malas. Ketika yang lain asik menikmati makanan, tuan muda itu hanya meratapi nasibnya.
"Iya Honey." menjawab singkat. Sebelah tangannya menyangga pelipis. "Aku ingin..."
__ADS_1
'Hah... kau menginginkan apa Kei? jangan sampai kau menginginkan hal aneh lagi!' tuan Ken membatin, padahal Kei belum menyelesaikan kalimatnya.
Tidak mengatakan keinginannya, tapi jari telunjuk Kei menunjuk kearah Sekertaris Lee dan Dewi yang sedang berfoto.
Tuan Ken mengernyitkan dahi, tidak tau yang diinginkan istrinya. "Apa?" Ken bertanya.
"Hiiiih, aku ingin difoto seperti mereka." memajukan bibirnya. 'Ough, Kei... kau ini ada-ada saja!' tuan Ken hanya berkata dalam hati. Dirinya benar-benar malas, tapi bagaimana lagi, keinginan istrinya seperti perintah yang harus dipatuhi.
"Baik Honey, kita tunggu mereka selesai. Setelah itu kita yang akan berfoto." jawab tuan Ken. "Ok...." Kei tersenyum senang.
Beberapa lama menunggu fotografer itu sepertinya sudah selesai mengabadikan foto pengantin Lee dan Dewi. Dengan segera Kei mendorong lengan tuan Ken agar meminta fotografer itu untuk mengabadikan foto mereka juga. Dengan keadaan malas, tuan Ken menghampiri orang itu dan berbincang sebentar, setelah itu fotografer mulai memberi arahan kepada pasangan pengantin lama untuk bergaya seperti pengantin juga.
Sekretaris Lee, Dewi juga mami Lyra hanya tersenyum menyaksikan pengantin lama itu bergaya didepan layar kamera.
"Lee, selamat ya atas pernikahan kalian, semoga langgeng sampai maut memisahkan." mami Lyra baru bisa mengucapkan kata selamat untuk pernikahan Lee dan Dewi. "Amin.. terimakasih, Nyonya besar." ucap Lee. Dewi tersenyum kearah mami Lyra. Mereka kembali melihat kearah Ken dan Kei.
"Nanti 10 gaya foto lagi ya..." pinta Kei. "Apa? yang benar saja Sweety, foto kita sudah sangat banyak." tuan Ken ingin menolak. Kei mencebikan mulutnya, "Aku ingin 10 gaya foto lagi." ibu hamil itu masih belum puas. Ketika bibir Kei sudah mencebik, kekerasan hati tuan Ken perlahan terkikis. Tidak ada cara lain selain menuruti kemauannya lagi. Akhirnya mereka kembali bergaya, meski gaya yang mereka lakukan sudah diulang berkali-kali tapi Kei tetap mau bergaya seperti itu. Tuan Ken merasa dirinya bodoh, baru ini berada diposisi seperti itu. Gaya yang jauh dari seleranya, bahkan itu gaya terkonyol yang dilakukan.
Gaya terakhir Kei meminta gaya yang berbeda, seolah dia sedang meninju tuan Ken dan tuan Ken sendiri harus memasang wajah kesakitan. Tanpa Kei tau, bahwa sebelum melakukan gaya itu hati tuan Ken-lah yang teramat sakit. Seumurnya belum pernah melakukan hal konyol, memalukan seperti ini. 'Apa-apaan ini!' ingin rasanya berteriak marah. Menghancurkan segara perabotan yang ada.
Tuan muda yang dingin itu mengatur nafas dengan sedemikian rupa agar meredam emosi.
"Honey, apa kau tidak lelah. Sayang...." Ken menekan kata sayang, giginya pun saling beradu. Kei tidak perduli. "Justru itu, aku sudah kelelahan. Makanya cepetan lakukan gaya ini untuk yang terakhir."
'Ough, kau masih menginginkan gaya seperti itu! aku ingin menyuntik obat bius untukmu.' batin tuan Ken kesal.
__ADS_1
"Cepat!"
"Oke... kita bergaya seperti yang kau inginkan istriku tersayang, tapi aku yang malang." kata tuan Ken semakin lirih agar Kei tidak mendengar. Mereka berdua mengambil posisi seperti yang diinginkan Kei tadi. Saat fotografer itu memberi contoh kepada tuan Ken bagaimana wajah kesakitan dan tuan Ken menirukan tapi fotografer itu tidak bisa menahan tawanya. Ketika tuan Ken menatapnya tajam baru orang itu sekuat tenaga meredam tawanya, takut dengan aura tuan Ken.
Beberapa kali mencoba gaya aneh itu, gaya ke7 baru pas untuk mengambil foto.
Dan seperti yang diucapkan itu gaya terakhir, setelah selesai tuan Ken mengajak Kei untuk bergabung lagi dengan mami Lyra.
Ken dan Kei duduk disamping mami Lyra kembali. "Sudah fotonya?" tanya mami Lyra. "Sudah, mi." Kei mengangguk antusias.
"Ayo kita pulang, aku lelah." tuan Ken mengajak Kei dan maminya untuk pulang dengan alasan lelah, tetapi tuan muda itu memang lelah bahkan bukan raganya yang lelah tapi hati dan perasaannya yang lelah.
Mami Lyra dan Kei menyetujui ajakan tuan Ken, mereka berpamitan kepada Lee dan Dewi.
Setelah berpamitan mereka harus berjalan diantara gang sempit membuat tuan Ken menggerutu dalam hati. Akhir-akhir ini dia menjadi pria yang sering menggerutu dalam keadaan apapun. Tidak seperti dulu yang bebas berkata dan berekspresi, semenjak Kei hamil dia tidak bisa asal bicara.
Mereka bertiga sudah berada didalam mobil. "Huh..." Kei menghela nafas, kebaya yang dia kenakan terasa sempit saat duduk. "Ada apa Baby?" Ken langsung menoleh kearah Kei. "Tidak pa-pa, bajuku terasa sempit." jawab Kei santai.
"Hem, anak kita pasti juga kesempitan. Itu karna kau aneh menginginkan pakai baju seperti itu."
"Kamu nyalahin aku!"
"Tidak! bukan begitu Sweety, aku menyalahkan orang yang membawakan baju itu."
"He'em... aku ingin berganti baju." Kei merengek. "Iya, tunggu sebentar lagi kita sudah sampai."
__ADS_1
Tidak berapa lama mobil sport itu sudah sampai didepan istana tuan Ken. Saat sudah keluar dari mobil, tuan Ken segera menggendong tubuh Kei dan dibawanya kedalam kamar agar istrinya itu bisa berganti baju.