Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Kita Memiliki Hanya Sementara


__ADS_3

3 bulan berlalu.


Kei sibuk mondar-mandir menyiapkan makanan untuk memperingati kehamilan Naya yang ke-4 bulan. Naya sendiri ikut membantu ibu mertuanya di dapur.


"Kamu duduk aja, Nay," kata Kei.


"Nggak papa, Mom. Aku bantu-bantu apa yang bisa aku bantu."


Kei tersenyum dan mengajak Naya duduk. Dia mengelus perut Naya lembut. "Dia belum gerak, ya?"


Naya menggeleng. Kei meneliti wajah Naya yang terlihat kusam dan tak bercahaya. Bukan itu saja, di kehamilan 4 bulan menuju 5 bulan, bobot tubuh Naya tidak mengalami kenaikan yang spesifik.


"Kamu kurus, makan yang banyak dan lakukan hal-hal yang buat kamu senang. Katakan, apa di sini kamu kurang nyaman?"


Naya menunduk diam. Ragu untuk menjawab seperti yang ada di hatinya. Di rumah ini hanya Kei yang berlaku lembut dan sangat baik.


Suaminya? Sejak Akio ditarik bekerja di kantor, pria itu selalu sibuk dengan urusan pekerjaan. Berangkat pagi dan pulang sore, bahkan tak jarang mengambil lembur dan pulang malam.


"Mungkin sudah bawaan kalau aku susah gemuk, walau hamil juga keliatan kurus."


"Besok Mom mau ikut ke rumah sakit buat anter kamu periksa. Mom juga mau lihat perkembangan cucu mom."


Naya mengangguk senang. "Iya, Mom."


Kei akan bangkit untuk kembali membantu pelayan menyusun makanan, tetapi suara Naya menghentikannya.


"Em, Mom ...."


"Ya, Nay?"


Naya ragu-ragu melihat ke arah Kei. Seperti ada yang ingin disampikan, tetapi Naya terlihat bingung.


"Ada apa?" tanya Kei tak sabaran.


"Apa Mom marah kalau Nay ingin tinggal terpisah?" Akhirnya Naya mengungkapkan keinginannya.


"Kamu nggak nyaman tinggal disini?"


"Bukan begitu ...," sahut Naya cepat, meski benar kalau dia tidak nyaman, tapi tidak mungkin mengatakannya. Dia tidak ingin Kei bertanya macam-macam.


Kei mengelus pundak Naya. "Mom tidak marah dan tidak akan melarang kamu untuk tinggal terpisah. Nanti bicarakan dulu dengan Akio."


"Terima kasih banyak, Mom," ucap Naya tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Dia memeluk ibu mertuanya.

__ADS_1


'Terima kasih. Setelah ini aku akan berjuang semampuku untuk mengembalikan semuanya,' batin Naya.


'Sepertinya kamu memang kurang nyaman tinggal disini, Nay. Mudah-mudahan kamu lebih nyaman dan bahagia tinggal di tempat kamu sendiri,' batin Kei.


Sore hari Akio dan Ken menyempatkan pulang lebih cepat, Lee dan Dewi juga diundang ke rumah mereka.


Sampai di rumah tak lama dari kedatangan mereka, acara sudah dimulai. Tak ada acara besar, hanya mengundang pak ustad untuk memimpin doa dan memberikan santunan kepada beberapa anak yatim. Juga berbagi rezeki dengan membagi kotak makanan.


"Alhamdulillah acara hari ini berjalan lancar," ucap Kei di tengah kebersamaan bersama keluarganya. "Beberapa hari lagi tinggal nyiapin kepindahanmu, Io."


"Maksud Mom?" Naya yang belum sempat mengajaknya bicara, tentu saja Akio belum tahu rencana itu.


"Aduh, kamu belum bilang, ya, Nay?" Kei justru menanyai Naya.


"Belum, Mom."


"Itu, istrimu pengen tinggal terpisah. Dia pengen hidup mandiri," ucap Kei menerangkan.


Ken, oma Lyra juga Kyu nampak terkejut. Mereka bersamaan melihat Akio dan Naya.


"Ih, kenapa pindah?! Tinggal di sini ajalah, Kak," protes Kyu tidak setuju.


Akio tidak menggubris, dia beralih menanyai Naya. "Benar kamu ingin kita tinggal di tempat sendiri?"


Takut-takut Naya mengangguk. Sebelumnya dia belum mendiskusikan hal itu, takutnya Akio tidak setuju.


"Aku terserah mereka. Kalau itu kemauan mereka, aku dukung," jawab Ken.


"Io sudah ada rencana juga buat itu. Kalau Mom dan Dad setuju, biar Akio langsung menandatangi surat jual beli rumah yang Io siapin sebelumnya."


"Untuk itu Daddy tidak setuju, biar Dad yang pilihkan rumahnya sebagai hadiah untuk keluarga kecilmu. Dad akan pilihkan fasilitas yang sama dengan rumah ini."


"Tapi Io sudah punya tabungan untuk beli rumah, Dad."


"Simpan saja tabungan kamu buat kebutuhan lainnya. Dad akan tetap memfasilitasi rumah dan lainnya. Itu sudah kewajiban Daddy sebagai orang tua."


Meski Ken tidak begitu menyukai Naya, akan tetapi dia hanya memandang Akio. Putranya sudah pantas mendapatkan hak yang memang sudah dipersiapkannya dari kecil.


"Kenapa harus pindah, Io. Nanti Oma tidak bisa melihat kamu setiap hari." Oma Lyra ikut menyahut. Semua kelurga tahu oma Lyra memang sangat menyayangi Akio.


Akio berpindah duduk di samping omanya. Meraih tangan yang sudah keriput dimakan usia. "Jangan sedih, Oma. Io dan Naya akan sering kemari."


"Tetap saja Oma sedih."

__ADS_1


"Mi, itu keputusan mereka. Kita dukung saja," ujar Kei. "Mungkin Naya juga ingin tinggal di rumahnya sendiri."


Oma Lyra melihat ke arah Naya. Seolah menyirat ketidaksukaan. Dalam hatinya menyalahkan Naya karena keinginannya pindah rumah.


*


Keduanya tengah berbaring di ranjang yang sama. Akio merubah posisi menghadap ke arah Naya.


"Kamu nggak bilang dulu ke aku, malah bilang sama mom?" tanyanya.


"Tadinya cuma minta pendapat, tapi mom langsung setuju. Apa sekarang kamu yang keberatan?"


"Enggak. Aku terserah kamu aja."


"Dua hari lagi aku jadwal periksa, kamu bisa anterin nggak? Kalau nggak ada waktu biar aku sama mom aja."


Akio malah tersenyum-senyum.


"Ditanyain malah senyum gitu?" Naya melirik aneh.


"Aku senang kamu lebih dekat dengan mom. Tapi kenapa kamu mau pindah? Bukannya disini ada mom, oma, dan Kyu yang bisa nemenin."


"Iya, tapi aku ingin mandiri. Nanti aku mau buka usaha biar punya kesibukan. Dulu aku terbiasa kerja, sekarang rasanya aneh kalau nggak ngapa-ngapain." Tidak, sebenarnya bukan itu alasannya. Naya hanya berbohong.


"Walau kita pindah ke rumah sendiri aku nggak ijinin kamu bekerja. Biar aku saja yang bekerja."


"Aku anggap itu bukan bekerja sih, tapi pengusir bosan," ucap Naya sambil terkekeh.


"Baiklah, lakukan sesuka hatimu."


"Sudah kelihatan buncit, ya?" Akio menatap perut Naya.


"Iya, tapi belum ada pergerakan." Naya mengelus perutnya. Tanpa diduga, Akio menimpali tangan Naya dan ikut mengelus.


Naya langsung menatap Akio. Hal itu tak pernah dilakukan sebelumnya. Detak jantung Naya sedikit lebih cepat. Tatapannya lekat tak ingin lepas.


Akio terfokus pada perut Naya, setelahnya membalas tatapan Naya. Masih cantik, hanya saja terlihat lebih kurus. Akio merubah menjadi menautkan jemari mereka.


"Apa kamu masih belum menerima kebersamaan kita?"


'Bukan aku tidak menerima kebersamaan kita. Justru aku ketakutan untuk menerimanya. Kita memiliki hanya sementara. Kamu bukan milikku seutuhnya.' Mata Naya berkaca-kaca. Dia tersiksa dengan perasaanya sendiri.


"Jangan menangis, aku nggak maksa. Oke, kita segera tidur."

__ADS_1


Selama pernikahan, mereka belum memenuhi kewajiban sebagai suami istri. Itu kesepakatan mereka diawal. Akan tetapi, Akio tetaplah pria dewasa yang normal, dia juga butuh untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Apalagi dia dan Naya sudah menjadi suami istri, mereka sudah sah. Terkadang dia tak bisa menahan untuk tidak menyentuh Naya. Tetapi Naya akan menitikkan air mata setiap kali dia ingin menyentuhnya.


Naya tahu itu kewajibannya, akan tetapi dia hanya membentengi diri agar tidak terjebak lebih jauh dalam pernikahan yang dia tahu kapan akhirnya.


__ADS_2