Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Maafkan Aku


__ADS_3

Seorang wanita berjalan gontai menyusuri lorong-lorong rumah sakit. Kedua bola mata yang meneteskan airmata, menggambarkan kesedihan yang dipendam.


Sejak menguping pembicaraan tadi, ada perasaan sedih yang menghampiri. Mengabaikan keberadaan orang-orang disekitar, ia berjalan menunju keluar.


Terduduk ditaman sendirian, menunduk dan menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Ingin menyembunyikan airmata sialan yang selalu terjatuh, ia tak ingin mengundang perhatian orang-orang disekitar taman rumah sakit. Tapi tak bisa juga menutupi rasa sedih yang menimpanya.


Ia yakin, perasaan sedih itu hanya sementara. Tidak mungkin ia akan memperpanjang masalah itu. Almarhum Olive hanyalah mantan istri suaminya, bahkan wanita cantik itu sudah berbeda alam. Ia tak perlu larut dalam kecemburuan yang tak mendasar, itu seperti anak kecil.


Tapi, lagi-lagi Kei kecewa dengan sikap suaminya sendiri yang tak begitu mengerti perasaanya. Harusnya Ken tau, betapa khawatir dan dihantui kecemasan saat menunggu ia tersadar. Bahkan disaat terbangun ia mengabaikan dan mengusirnya begitu saja, jika Ken tak melalukan itu ia pasti masih bisa terima dan tidak merasa sedih.


Bahkan ia akan memberi kekuatan dan kata pemenang seperti yang dikatakan sekretaris Lee tadi.


Ken tidak menganggapnya lebih, ia lebih percaya dan mengungkapkan rasa penyesalan itu pada Lee. Bukan dirinya.


"Aku bukan anak kecil, aku pasti bisa memaklumi rasa penyesalan mu pada almarhum Olive. Tapi kau malah mengabaikan ku. Harusnya aku orang pertama yang kau jadikan sandaran kesedihanmu." Kei berbicara lirih. Sebisa mungkin airmata itu ia hentikan agar tidak menetes.


Ia menghembuskan nafas berkali-kali agar kegundahan hatinya lebih berkurang. Menaik turunkan pemikiran agar tidak berlarut dalam kesedihan.


Jika suaminya egois, maka ia lebih baik mengalah. Dalam suatu hubungan memang harus ada salah satu yang mengalah dan berkorban, menjadikan rumah tangga utuh.


Namun rasa sakit tetap akan menyelimuti.


"Nona Kei, kenapa anda berada disini?" tidak tau kedatangan tangan kanan suaminya, tiba-tiba Lee sudah berdiri dibelakangnya.


Kei segera membersihkan kedua pipi yang terdapat bekas airmata, agar Lee tidak curiga.


Tetapi telat, bahkan Lee sudah mendengar perkataan Kei tadi.


"Tidak pa-pa sekretaris Lee. Aku hanya mencari udara segar saja. Kau lupa, aku paling suka berada ditaman. Melihat bunga-bunga bermekaran dan juga menghirup wanginya." jawab Kei dengan tersenyum. Menutupi kesedihan itu teramat sakit daripada terkena goresan pisau. Seperti ada beban berat yang menimpa, hingga terbelenggu dalam sakit yang terpendam.


'Aku tau Nona, kau berpura-pura baik, padahal hati anda terluka.' batin Lee.


"Sudah saatnya anda kembali dan menemui tuan muda, beliau mencari anda." kata Lee. Ia tadi memang diberi perintah untuk mencari Kei.

__ADS_1


"Apa perbincangan penting tadi sudah selesai?" tanya Kei dengan berpura-pura tidak tau.


"Sudah Nona. Silahkan." Lee mengajak Kei untuk kembali keruang rawat Ken.


Tapi Kei menggeleng, "Kau duluan saja, aku masih ingin disini. Sampaikan pesanku padanya, aku akan kembali setelah matahari tenggelam." tolaknya.


"Tapi Nona.." Lee tidak setuju dengan pesan yang diperintahkan padanya. Saat ini tuan muda sedang menunggu, jika Kei tidak segera datang maka ia akan cemas.


"Sekretaris Lee, tolong. Hanya kali ini saja, biarkan aku sendiri. Aku hanya disini, tidak akan kemana-mana." wanita yang berpura-pura tegar itu tak lagi bisa menutupi, saat mengatakan permintaanya satu tetes cairan bening lolos disebelah pipi, ia dengan cepat menghapusnya.


Tak ingin memaksa, lebih tepatnya ia tak tega, akhirnya Lee membiarkan Kei untuk tetap berada disana.


Ia menundukkan kepala sebentar dan berbalik arah untuk kembali keruang tuan mudanya. Tak lupa menyuruh beberapa pengawal supaya mengawasi dari jarak jauh dengan memastikan keselamatan nona Kei.


Ketika Lee sudah pergi, Kei kembali menangis. Ia yang berpura-pura baik-baik saja tak bisa menutupi rasa sakit yang disembunyikan.


Ketika sendirian itulah saatnya meluapkan sesak di dada dengan menangis sepuasnya, jika bisa ia ingin menghabiskan airmata agar disaat kembali keruang suaminya ia tak lagi meneteskan airmata dan bisa tersenyum seperti sebelumnya.


Lee kembali keruang tuan Ken.


Ketika melihat Lee hanya sendiri, membuat Ken mengerutkan dahi. Dimana Kei?


"Kau sendirian? tadi aku menyuruhmu untuk mencari Kei?" kata Ken. Padahal Lee belum sampai didepannya.


"Maaf tuan muda, Nona Kei sedang berada ditaman. Ia mengatakan satu jam lagi akan kembali." bagaimanapun Lee tak ada pilihan selain menyampaikan pesan Kei tadi.


Dahi Ken berkerut, kenapa Kei mengabaikan perintahnya. Apa ada sesuatu?


"Kenapa seperti itu? katakan, apa ada sesuatu? mungkin dia marah saat aku meminta waktu tadi?" Ken kebingungan.


Lee kembali duduk dikursi tadi, ia harus menyampaikan apa yang ia lihat. Jika tidak, Kei akan memendam kesakitan tanpa diketahui oleh tuan mudanya.


"Tuan muda,"

__ADS_1


Mata Ken terarah pada Lee.


"Sepertinya nona Kei mendengar perbincangan kita tadi."


"Apa?"


"Saat aku mengetahui nona Kei ditaman, sedang menangis dan mengatakan sedang kecewa dengan sikap anda. Harusnya ia orang pertama yang mengetahui perasaan anda, tapi anda mengabaikannya."


Ken terdiam, hanya terdengar hembusan nafas berat.


Baru beberapa saat lalu mood tuan Ken kembali tapi saat ini harus bersedih lagi. 'Maafkan aku tuan muda, harus mengatakan kebenaran agar anda bisa intropeksi diri dengan kesalahan anda. Peka dengan perasaan nona Kei."


"Bawa aku ke taman Lee." perintahnya.


"Tidak tuan. Anda tidak boleh kemanapun, luka anda baru selesai dioperasi jika anda banyak bergerak maka akan terbuka lagi."


"Tidak perduli. Bawa aku ke taman sekarang juga!" Ken memerintah dengan suara keras.


Lee bingung harus bagaimana, tapi inilah resiko yang harus ditanggung.


Ia berdiri dan keluar mencari perawat untuk membawakan kursi roda.


Mengabaikan luka dibahu kanannya, Ken sudah duduk dikursi roda dengan tiang infus disampingnya.


Lee mendorong kursi roda itu menuju ke taman. Baru keluar dari rumah sakit, Ken menyuruh Lee menghentikan dorongan itu.


Ken bisa menyaksikan Kei tengah duduk sendirian ditaman rumah sakit yang tidak terlalu ramai, saat itu langit senja menemani luka Kei.


Setelah tadi merasakan penyesalan, kini berganti rasa bersalah.


Ken terdiam melihat Kei dari kejauhan, ia bisa melihat bahu Kei yang bergetar karna menangis.


Ia tau, tangisan itu ia sendiri yang menciptakan untuk wanita masa depannya, ibu dari anaknya.

__ADS_1


Sanggupkah bibirnya mengatakan maaf. Sakit yang ada di bahu kanan tak sesakit yang dirasakan.


'Aku bersalah, aku telah membuatmu menangis, Honey. Maafkan aku.' batin Ken. Ia belum ingin mendekat, membiarkan Kei dalam kesendiriannya.


__ADS_2