
Ken dan Lee tengah duduk disofa berseberangan. Keduanya tengah membahas proyek baru sekaligus tentang renovasi panti asuhan.
Pena yang ada ditangan kanan hanya diputar-putar saja, belum terdapat tanda tangan, Ken malah terdiam dengan lamunannya.
Sedangkan si tangan kanan itu tengah sibuk mengoceh tentang proyek yang sedang digarap. Terlalu fokus melihat ke layar laptop sampai tidak tau jika nyawa si Bos tengah traveling entah kemana.
Saat arah pandangan Lee menengadah, ia baru sadar jika sedari tadi sang Bos tidak memperhatikannya. Lee harus menahan kekesalan terhadap Ken yang tidak menghargai waktu dan usahanya saat menjelaskan tadi.
Lee harus menghembuskan napas berkali-kali agar emosi yang muncul bisa diredam.
Lee menutup mulut, tidak lagi melanjutkan penjelasannya tadi. Percuma, ia menjelaskan sampai mulut berbusa tapi tidak didengar.
Beberapa saat tidak lagi terdengar suara berisik, Ken baru tersadar. Ia langsung menoleh kearah Lee.
"Apa penjelasannya sudah selesai??" tanya Ken.
"Dengan terpaksa saya harus menyudahi." jawab Lee.
Kening Ken mengerut, "Kenapa ada paksaan?" bingung Ken.
"Sepertinya percuma kalau saya jelaskan, tapi anda tidak mendengar." kata Lee dengan melirik kearah Ken.
"Ah... maaf Lee, pikiranku sedang penuh. Aku pusing." keluh Ken.
"Anda pusing? apa perlu saya panggilkan dokter atau... sekalian saja kita ke rumah sakit?" Lee menanggapi dengan serius. Sedikit keluhan dari tuan mudanya sudah seperti berita buruk.
"Tidak perlu Lee. Aku pusing gara-gara pikiran bukan karna sakit." ucap Ken.
Lee mengangguk mengerti. "Oh..." lalu ber oh ria saja.
"Anda pusing karna belum menemukan Frank Lee atau karna sebentar lagi ulang tahun perusahaan?" tanya Lee.
"Dua-duanya." jawab Ken singkat.
"Tentang Frank Lee, bagaimana kita menemukannya jika tidak ada satu petunjuk pun yang kita ketahui." tambahnya dengan tidak bersemangat.
Lagi-lagi Lee menanggapi dengan anggukan kepala. "Menurut saya, kasus Frank Lee ditutup saja. Kita tidak bisa bertindak lebih jauh untuk mencari karna minim sekali tentang petunjuknya."
"Tapi bagaimana dengan Mami? mimpi-mimpinya akan terus dihantui oleh almarhum John Lee." kata Ken.
"Mimpi hanya sebagai bunga tidur, Tuan. Kadang kita terlalu mengingat dan merindukan seseorang, makanya akan hadir sosok yang kita rindukan dalam mimpi kita."
__ADS_1
Ken terdiam, mempercayai perkataan Ken barusan atau mengabaikannya. Mimpi sendiri terdapat dua kepercayaan, tentang bunga tidur atau firasat. Tinggal kita mau mempercayai yang mana.
"Untuk ulang tahun perusahaan aku serahkan padamu. Adakan acara seperti tahun-tahun sebelumnya." pinta Ken.
"Baik Tuan, semua akan saya lakukan persiapan seperti biasanya."
Beberapa saat keduanya terdiam dalam lamunannya masing-masing.
Sampai Ken tersadar lebih dulu.
"Lee," panggil Ken.
"Iya Tuan Muda."
"Aku sedang memikirkan perkataan Mami tentang kakak John Lee yang bernama Jason. Lelaki itu mengincar keberadaan Frank Lee, berniat buruk akan melenyapkan anak itu."
"Menurutmu, apakah Frank Lee dijemput oleh Jason lalu..." ucapan Ken menggantung.
Lee sangat penasaran dengan kata selanjutnya. "Lalu... apa Tuan?!" tanya Lee kebingungan.
"Lalu, Frank Lee dilenyapkan oleh Jason." kata Ken dengan pandangan terkejut.
"Mungkin," jawab Lee sangat singkat. Berbeda dengan Ken, raut wajah Lee terlihat biasa saja.
"Berati gampang, kita tinggal kirim mata-mata keperusahaan itu untuk mencari informasi tentang keberadaan Frank Lee." Ken terlihat berbinar, seolah telah menemukan ide yang cemerlang.
"Ide anda boleh juga, tapi siapa yang akan kita utus untuk menjadi mata -mata?" bingung Lee.
"Berikan tugas itu pada Tony, biar dia yang mencari orang atau terjun langsung ke perusahaan itu."
"Baik Tuan, nanti saya bicarakan dengan Tony."
"Untuk Izham, kita belum bisa memindahkannya sekarang. Menunggu pihak HRD untuk menyiapkan orang pengganti untuk Izham. Mungkin sekitar satu minggu baru bisa pindah ke kantor cabang lagi." Lee memberitahu.
Ken terlihat bertambah malas ketika membahas Izham, si pria jelek.
Meski hanya mantan suami Kei beberapa tahun lalu, tapi terlalu malas dan kesal saat mendengar nama Izham disebut didepannya.
Jika bukan karna permohonan dari Kei, maka ia tak akan Sudi mempekerjakan pria laknat itu di perusahaannya. Bahkan bila perlu menyuruh anak buah atau preman untuk melenyapkan manusia tidak berguna itu.
Mengingat dulu perlakukan Izham pada Kei sangat buruk membuat Ken murka. Ingin sekali melenyapkan dengan tangannya sendiri atau pun membalas perlakuan buruk yang Izham lakukan.
__ADS_1
Bagaimana dulu Kei hidup dalam ketidak adilan, tertindas dan terhina. Bahkan Kei pernah bercerita sering mendapat tamparan dari Mira, atau pun Izham. Bukankah itu sangat kejam.
"Tuan Muda, saya permisi sebentar untuk menemui kepala HRD," pamit Lee.
Ken mengangguk. "Yang ini kita lanjutkan besok saja." kata Ken.
"Baik Tuan Muda, saya keluar dulu." Lee beranjak keluar dari ruangan Ken.
Ken kembali melamun untuk melanjutkan yang tadi.
Sekitar setengah jam, pintu ruangannya terdengar ada yang mengetuk. "Masuk," Ken langsung mempersilahkan tamunya untuk masuk.
Saat orang yang berada dibalik pintu sudah membuka handel, dengan gerakan pelan kakinya melangkah untuk mendekati Ken.
Ken menutupi rasa keterkejutan, padahal baru beberapa menit membayangkan tentang kelakuan buruk Izham dimasa lalu, tapi tiba-tiba saja pria jelek itu sudah berdiri dimeja seberangnya.
Ken sangat malas, benar-benar malas.
Ken tidak mau menyapa lebih dulu. Dibiarkan Izham berdiri tanpa menyuruh untuk duduk.
Saat sudah berada didepan Tuan Ken, Izham menunduk sebentar tapi masih berada diposisi berdiri.
"Ada perlu apa?!" belum-belum Ken sudah menyambut dengan raut sinis.
"Tuan Ken, saya dengar Anda akan memindahkan saya ke kantor cabang lagi?" Izham bertanya dengan terang-terangan.
"Memangnya ada apa?! saya memang akan memindahkan kamu ke sana. Tapi sayang, harus menunggu selama satu minggu.
"Menyebalkan," desisnya pelan. Ia telah enggan untuk melihat wajah Izham. Lebih baik pura-pura sibuk.
"Tuan, bolehkan saya memohon." wajah Izham terlihat sangat mengiba didepan Ken. Tapi sang atasan itu tidak perduli.
"Tolong jangan pindahkan saya ke kantor cabang lagi. Disana terlalu jauh, saya tidak bisa bersama keluarga saya. Ibu saya lumpuh karna stroke kasihan jika istri saya harus merawatnya sendirian." Izham memohon.
"Itu bukan urusan ku!!" Ken masih saja ketus. Jika sendirian tidak akan mungkin memiliki rasa kasihan terhadap Izham. Bahkan dirinya harus menahan kekesalan setiap melihat pria itu.
"Tolong Tuan, sekali ini saja saya mohon satu permintaan itu pada anda." Izham belum menyerah untuk meluluhkan hati tuan Ken.
"Pergilah, aku sudah terlalu baik padamu. Memberimu pekerjaan lagi dan membiayai pengobatan ayahmu dulu." usir Ken.
Izham memandang kearah Ken dengan raut wajah yang susah ditebak.
__ADS_1
"Baik, permisi Tuan." ucapnya, ia terpaksa meninggalkan ruangan Ken dengan langkah gontai.