Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Sepenggal cerita yang tersimpan


__ADS_3

Belum puas menghabiskan waktu dengan merenung di kantin rumah sakit. Kini Lee tengah duduk sendirian di hamparan tanah yang cukup luas. Wangi bunga kamboja dan bunga mawar semerbak tercium di indra penciumannya.


Lee menundukkan pandangan, menyembunyikan airmata yang berjatuhan. Sekitar dua tahun lebih ia tidak pernah mengunjungi sebuah rumah singgah yang notabene menjadi rumah terakhir bagi manusia.


Satu patah katapun belum mampu diucapkan. Tangannya tengah sibuk menyusut airmata yang berkali-kali keluar.


Perasaan yang sulit dijabarkan, hanya dirinya sendiri yang tau tentang semuanya. Sebuah cerita atau pun kenangan yang sengaja disembunyikan dan dikubur dalam-dalam.


Bertahun-tahun semuanya tersimpan sangat rapi, tak ada satu orang pun yang tahu.


Lee sendiri cukup pandai memerankan peran sekretaris yang patuh dan setia.


"Om Papi..." panggilnya lirih. Sebutan itu hanya dia dan si Koi kecil yang tau.


"Sekian lama kini Lee baru datang lagi menjenguk Om Papi. Ada tujuan aku datang kesini. Pertama untuk meminta maaf. Lee gagal menjaga amanah, maafkan keteledoran ku yang tidak sigap memasang badan untuk si Koi kecil." ucapnya penuh penyesalan.


*Lee, apapun yang terjadi, kau harus menjaga si Koi dan harus siap memasang badan ketika Adikmu dalam bahaya.* suara berat dari seseorang yang sangat berpengaruh dalam hidupnya begitu terngiang. Sebuah pesan amanah yang selalu diingat setiap saat ia menghembuskan napas.


Itulah sebuah alasan kenapa dia begitu setia mendampingi disisi Ken. Meskipun Ken bukan seperti manusia biasa, bersikap arogan, dingin, dan sangat mudah tersulut emosi. Bahkan saat kabut tebal telah mengelilingi, semua yang berhadapan dengan Ken akan ketakutan. Tapi tidak dengan Lee, yang malah sigap untuk selalu berada disamping Ken.


Mendampingi Ken dengan segala sikap egoisnya bukanlah hal mudah. Sering kali ia menjadi korban keegoisan Ken dan menjadi samsak hidup yang setiap saat menerima bogem mentah disaat kemarahan Ken memuncak.


Semua diterima dengan lapang dada tanpa keputusasaan. Lee masih setia disisi Ken.


*Kenapa Om Papi pisahin aku sama si Koi? Om jahat!* teriak anak kecil berumur delapan tahun menjelang sembilan tahun.


*Ini demi kebaikan kalian. Kau harus menjadi anak tangguh supaya bisa melindungi dirimu sendiri dan juga si Koi. Tupai sayang tidak, dengan si Koi?*


Masih teringat jelas sepenggal percakapan-percakapan waktu dulu.


*Tupai sangat sayang sama si Koi. Tupai akan melindungi Koi dari orang-orang jahat.*

__ADS_1


Bola mata Lee yang berkaca-kaca kini telah meloloskan airmata. Ketika mendongak dan membaca huruf demi huruf yang bertuliskan Hiro Kenichi.


Orang paling berjasa dalam hidupnya. Jika bukan karna tuan Hiro, mungkin hidupnya sudah berakhir dari dia masih belum mengerti keindahan dunia.


"Om Papi, apakah Om Papi akan marah padaku karna saat ini anak kesayangan Om sedang terbaring lemah. Apakah Om Papi akan menyalahkan aku atas kecelakaan yang dialami si Koi?" Airmata Lee sudah tidak bisa dibendung, berderai begitu saja. Ia sudah bersimpuh di depan makam tuan Hiro.


Dari kecil Lee sangat paham karakter tuan Hiro yang jarang sekali menunjukan kemarahan meskipun Ken atau dirinya berbuat kesalahan. Bahkan tuan Hiro mendidiknya dengan kesabaran dan kasih sayang yang penuh.


Dia bukanlah ayah kandung, bukanlah pamannya, bahkan bukan juga saudaranya. Tapi dengan tulus melindungi hidupnya. Dari umur yang masih dini, Lee bertekad menyayangi Ken seperti adiknya sendiri dan akan selalu melindungi dari mara bahaya apapun.


Anak berumur sekitar lima tahun yang ada di gendongan tuan Hiro tampak enggan mengulurkan tangannya.


Tapi tuan Hiro membimbing Ken kecil untuk menjabat tangan Lee.


*Kenalkan, dia teman baru mu.* untuk awalan dulu tuan Hiro memperkenalkan Lee sebagai teman untuk Ken.


*Aku tidak mau berteman dengan dia, Pi. Pasti membosankan.* Ken kecil menolak.


*Dia bernama Lee, kau coba dulu berteman dengannya. Papi yakin kalian bisa berteman.*


Lee kecil tak bergeming dan hanya memperhatikan Ken yang nyaman berada di gendongan tuan Hiro. Rasa iri selalu disimpan dalam hati, ingin sekali merasakan perhatian dari seorang ayah seperti Ken.


Untuk awalan Ken tetap menolak, tidak mau berteman dengan Lee. Tapi tuan Hiro tak pantang mundur selalu membawa Ken menemui Lee kecil dan membujuk putranya agar mau bermain bersama. Tujuan tuan Hiro hanya satu, yaitu mengembalikan keceriaan Lee kecil agar siap menghadapi orang luar. Tanpa ketakutan.


*Lee, kemarilah. Kau senang Om mengajak teman baru untukmu?*


Lee kecil mengangguk. *Senang Om. Tapi anak itu kurang baik.*


Tuan Hiro hanya tersenyum.


*Kemarilah, kau tidak mau duduk dipangkuan Om.*

__ADS_1


Dengan senang hati Lee kecil berlari kearah tuan Hiro yang sudah merentangkan tangannya untuk menyambut tubuh kecil Lee.


*Om baik sekali.*


*Anggap saja Om seperti ayah mu.*


*Benar Om?* Lee kecil sangat berbinar. Tuan Hiro tersenyum lebar dan mencium pucuk kepala Lee kecil.


*Hei jelek! jangan rebut Papiku. Hua.... Papi direbut sama si jelek!*


Lee mengingat sepenggal kisah yang dilalui sewaktu kecil. Dia tersenyum dengan deraian airmata yang belum juga surut.


"Aku masih sangat mengingatnya. Dasar si Koi kecil." ucap Lee lirih berbicara sendiri seolah si Koi kecil sedang menangis dihadapannya.


"Cepat sekali semuanya berlalu, aku sangat merindukan saat itu." imbuhnya.


"Apa Tuan Muda masih ingat hewan kesukaannya yaitu ikan Koi? sampai dia sendiri mendapat julukan si Koi." saat ini Lee ingin bernostalgia tentang momen masa kecilnya.


Setiap mengunjungi makam tuan Hiro maka kenangan masa kecil selalu teringat kembali. Memori masa kecil yang selalu disimpannya sendiri. Sangat indah menurutnya, meski saat usia kecil dia tidak memiliki teman karna cenderung membatasi pergaulan. Dan hanya Ken yang menjadi satu-satunya teman sekaligus adiknya.


Dari kecil Lee sudah terbiasa menghadapi sikap Ken. Sudah hapal dengan karakteristik yang mendarah daging dan susah dirubah.


"Om Papi, setiap Lee bersimpuh di rumah terakhir Om. Tidak pernah bosan mengucapkan terima kasih untuk kasih sayang dan kebaikan Om Papi. Semoga semua amal Om diterima Tuhan. Om Papi orang paling baik, pasti mendapatkan tempat yang terbaik."


"Maafkan Lee yang jarang mengunjungi rumah Om Papi. Lee harus mencari waktu yang tepat untuk datang kesini."


Meski tuan Hiro pernah berpesan padanya jika suatu saat dia harus menceritakan semuanya pada mami Lyra dan juga Ken, tapi Lee belum siap. Ia masih ingin menyimpan semuanya seperti sebelumnya.


"Lee, sedang apa kau disini?" sebuah suara yang sangat familiar mengejutkan Lee.


Deg... Deg...

__ADS_1


__ADS_2