Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Sekretaris Baru


__ADS_3

Sekian lama meninggalkan urusan kantor, hari ini raja bisnis sudah bersiap dengan pakaian formal. Mengenakan jas berwarna abu-abu dilengkapi dasi berwarna abu tua. Apapun yang dikenakan terlihat pas ditubuhnya.


"Honey, kau tidak pa-pa jika ku tinggal ke kantor?" tuan muda itu sibuk merapikan rambut yang sudah sedikit panjang. Sesekali ujung matanya melirik kearah sang istri yang sedang memangku baby Kio.


"Nggak pa-pa. Berangkat aja, aku sudah pulih. Lagian ada babysister dan juga pelayan lainnya, bisa minta bantuan mereka."


Ken yang sudah bersiap, kini beralih berjalan mendekati Kei dan putranya.


"Hei, baby boy... kau jangan nakal. Heum. Daddy berangkat kerja dulu." Ken yang gemas tidak bisa menahan untuk menciumi pipi gembul putranya.


Bayi dalam dekapan sang istri itu bergerak-gerak. Merasa tak nyaman karna gangguan dari Daddy.


"Sweety, sebenarnya aku bisa mengecek hasil laporan lewat E-mail tidak masuk ke kantor juga tidak pa-pa." Tuan Ken malas untuk beranjak dari posisi nyaman. Ia ingin menemani baby Kio sepanjang hari.


Gerakan tangan dan kaki membuatnya gemas, apalagi saat putranya tengah tertidur dan bermimpi indah, bibir kecilnya yang menyunggingkan senyum. Saat itu benar-benar menggemaskan. Untuk itu, setiap saat tuan muda yang baru menyandang status sebagai ayah itu tidak ingin terlalu lama berpisah dengan putranya, walau hanya 8jam baginya sudah sangat lama.


"Sayang, sudah terlalu lama kamu tidak berangkat ke kantor, mulai sekarang harus mengurus sendiri pekerjaanmu. Kasihan sekretaris Lee sudah terlalu lama mengurus semuanya sendiri." kata Kei.


"Hei, kenapa kau perduli dengan Lee?" tuan Ken menyelidik. Kei memutar bola mata malas. Sekian lama sikap over posesif itu hilang, kenapa pagi ini muncul?


"Aku tidak begitu peduli, hanya saja mengingatkan, jika itu memang tugasmu 'kan?" entah penjelasan itu bisa diterima tuan Ken atau tidak.


"Aku sudah menggaji dia bahkan aku memberinya bonus, bukan kah itu sudah cukup?" jawab Ken santai.


"Ya-ya, kau lah sultannya, jadi terserah saja." kini berganti Kei yang kesal, terlihat acuh.


Tuan Ken mengetahui Kei berubah kesal, berpindah duduk disampingnya. "Hei, kau marah?"


"Tidak." Kei bersikap acuh, tanpa melihat kearah suaminya.


"Eum, baiklah. Aku berangkat sekarang." mengalah, daripada melihat Kei yang marah. Sebelum berangkat menyempatkan diri mencium seluruh wajah Kei sampai kegelian.


"Berhenti. Geli." ucap Kei, sambil tertawa. Bulu-bulu halus disekitar dagu Ken mulai tumbuh, membuat gesekan dikulit wajah hingga membuat Kei kegelian.


Tuan Ken tertawa lebar, sekarang dirinya benar-benar harus pergi ke kantor.


"Baby boy, Dadd..."


"Ah... kau sudah mengatakan itu tadi. Pergilah." usir Kei.

__ADS_1


"Oke-oke..." Ken kembali tertawa, ia senang melihat Kei bersungut kesal karna ulahnya.


Setelah suaminya hilang dibalik pintu, Kei bisa bernafas lega.


Baru menghela nafas lega, pintu yang tadi tertutup terbuka lagi.


"Apalagi?" sungut Kei. 'Memang dasar suami menyebalkan' batinnya.


"Tenang, aku hanya mengambil flashdisk tertinggal dimeja." segera berjalan menuju kemeja dan mengambil benda kecil yang disebutkan tadi.


"Sekarang aku beneran berangkat." pamitnya.


"Iya." jawab Kei. "Dari tadi bilangnya aku berangkat, aku berangkat, tapi nggak jadi-jadi." Kei menggerutu.


Saat tidak ada tuan Ken, hidupnya seperti bebas. Ia bisa bergerak mengapresiasikan gerakan tangan dan kaki tanpa larangan.


Jika ada suaminya yang over protective, maka semua yang dilakukan akan melalui masa sortir yang panjang. Termasuk pergi kekamar mandi, berjalan keruang ganti atau berjalan ke balkon juga dilarang.


Saat menuruni tangga berpapasan dengan sekretaris Lee yang juga akan menuju kekamarnya.


"Tuan muda." menyapa dan membungkuk sebentar.


"Hem..." tuan Ken berdehem. Mereka berdua langsung berangkat ke Kantor.


Sampai diruang Direktur Utama, sekretaris Lee segera membuka pintu untuk tuan Ken.


"Tuan muda, sekretaris Lisa mengambil cuti karna melahirkan. Tapi posisi sekretaris itu sudah ada yang menggantikan." sekretaris Lee masih berdiri didepan tuan Ken.


"Suruh dia kesini, membawa laporan keuangan satu minggu terakhir." perintah tuan Ken.


"Baik tuan." Lee membungkuk sebentar, lalu meninggalkan ruangan itu.


Tak berapa lama, terdengar ketukan pintu. Seorang wanita muda masuk dan dengan membawa hasil laporan keuangan.


Tuan Ken sibuk menatap layar laptop didepannya, tak sedikitpun mengalihkan pandangan kearah perempuan muda itu.


"Selamat pagi, tuan Ken." suara yang terdengar halus dan manja.


Mendengar suara asing, tuan Ken penasaran untuk melihatnya. Tuan muda itu sedikit terkejut dengan wanita cantik didepannya. Penampilan itu bukan seperti sekertaris pada umumnya, dia begitu berani memakai pakaian yang ketat dan terkesan sexy.

__ADS_1


"Kau yang menggantikan posisi Lisa?" tanya tuan Ken dengan nada datar, meskipun sempat terkagum tapi ia segera menepis.


"Iya tuan." jawabnya dengan senyum yang dibuat manis.


"Berikan laporan keuangan untuk minggu ini." tuan Ken menundukkan pandangan, ia tak mau melihat kearah perempuan itu.


"Siapa namamu?" tuan Ken bertanya.


"Nama saya Tasya, tuan." jawabnya.


"Kau boleh keluar," usir tuan Ken.


"Baik tuan, permisi." membungkuk sebentar, dengan baju yang sedikit terbuka hingga terlihat kulitnya yang mulus.


Setelah itu, Tasya keluar dari ruang tuan Ken. "Oh, itu tuan Ken? jauh dari bayanganku, ternyata tuan muda itu sangat tampan dan uh..." berjalan menuju ruangannya, Tasya berbicara sendiri dengan tersenyum.


"Kalau tuan mudanya seperti itu, tanpa uang juga aku mau." ucapnya lagi.


Diruang tuan Ken.


"Dasar kau Lee, apa-apaan mencari sekretaris model begitu!" sentak tuan Ken. Lelaki didepannya hanya mampu menunduk, ia tau tuan Ken sedang kesal.


"Maaf tuan muda, itu rekomendasi dari Lisa sendiri. Tasya hanya menggantikan kedudukan Lisa selama 2bulan, setelah Lisa sembuh ia akan keluar." Lee menjawab dengan takut-takut.


"Perempuan itu sangat mumpuni dan cekatan tuan, untuk itu saya menyetujui." imbuhnya lagi.


"Kalau untuk urusan pekerjaan boleh skill mumpuni. Tapi apa kau tidak memperhatikan cara berpakaiannya? sudah seperti cabe-cabean dipasar lokal." sungut tuan Ken.


Dikantornya memang tidak ada larangan khusus dalam berpakaian, yang terpenting memenuhi standar.


Menurut tuan Ken, pakaian yang digunakan Tasya terlalu vulgar hingga menimbulkan pemikiran negatif.


"Baik tuan muda, saya akan menegur Tasya supaya memakai pakaian yang sopan."


Tuan Ken tidak menjawab, ia masih terlihat kesal. Sekretaris Lee berjalan keluar dan akan menemui perempuan bernama Tasya.


"Heum, aku setuju. Berapapun aku mau," terdengar suara manja yang sedang berbicara lewat telfon.


Lee mengetuk pintu dan masuk.

__ADS_1


"Sekretaris Lee?" Tasya segera memutus sambungan telepon.


"Aku hanya memberitahumu, saat berada dikantor pakailah baju yang sopan. Jangan terlalu pres body." ucapnya langsung.


__ADS_2