
Dari jauh Akio telah melihat seluet Zee berjalan ke arahnya. Pria itu lekas-lekas menyembunyikan kantong kresek berisi kaosnya ke dalam tas punggungnya.
"Kak ...." Zee lebih dulu menyapa Akio, lalu melirik Naya dengan judes. "Ngapain kamu di sini? Deketan gini sama Kak Io?!" Dia bertanya sinis.
Naya gelagapan, bingung untuk menjawab, dia berganti melihat Akio. Berharap pria itu ikut memikirkan jawaban. Naya tahu dari gosip anak-anak kampus kalau Akio dan Zee memang sangat dekat, namun hubungan mereka belum resmi berpacaran.
"Zee, aku yang memanggil Naya untuk menanyakan tugas selama kita nggak masuk kemarin," jawab Akio.
Mata Zee tertuju pada pria itu. Tanggapannya menunjukan ketidaksukaan. "Kenapa tanya sama dia? Biasanya Kakak tanya sama Bobi."
"Karena kebetulan pas dia yang lewat."
"Ck. Kakak nggak usah pusing-pusing tanya tugas, nanti biar Zee yang tanya sama temen lain. Sudah, ayo, masuk!" Tanpa izin, Zee menarik tangan Akio untuk berdiri dan menariknya masuk ke kelas.
Naya berdiri mematung dengan menatapi kepergian mereka. Terlintas kejadian malam lalu, semoga apa yang terjadi antara dia dan Akio tidak menjadi rumit dan menyebabkan kehancuran bagi kedekatan Akio bersama Zee. Dari pandangan Naya sendiri, mereka berdua sangat serasi. Akio sangat pantas untuk Zee.
Zee menggandeng lengan Akio sampai masuk ke dalam kelas. "Kak, nanti pulang kuliah anter Zee ke mall, yuk, sekalian jalan-jalan. Kakak bosen kan dari kemarin jadi penghuni rumah sakit, nanti kita shoping-shoping. Aku udah izin sama Tante Mom, dan Beliau izinin."
Akio ingin sekali menolak, tetapi sudah sering dia mengecewakan Zee. Dan akhirnya kali ini hanya bisa pasrah. Pria itu mengangguk setuju.
"Yeey ... makasih, Kak."
Lihat! Betapa Zee terlihat sangat bahagia hanya karena dia menyetujui ajakannya untuk berkeliling mall. Akio terpaku melihat senyum Zee yang merekah.
"Kakak liatin aku-nya gitu amat sih. Kenapa? Ada apa dengan mukaku?" tanya Zee dengan menggerak-gerakan bola mata karena salting.
Akio tersenyum tipis, lalu mencubit pipi Zee dengan gemas. "Nggak ada apa-apa di mukamu, cuma ada kecantikan yang natural."
"Aaaakkkhh'!!!" Zee berteriak kegirangan seperti anak kecil mendapat hadiah. "Kakak! Pegangin tangan Zee! Zee hampir melayang, nih. Sweet. banget."
Akio melebarkan bibir dan tertawa. "Zee, kamu nggak malu diliatin anak-anak?" ujarnya mengingatkan Zee agar berhenti bertindak heboh. Pada saat itu tak sengaja melihat Naya berdiri di depan pintu, Akio menghentikan tawa. Entah mengapa ada sesuatu berbeda melihat tatapan Naya.
"Biarin aja! Mereka punya mata, wajar kalau liatin kita."
Di dekat pintu Naya terdiam canggung. Ingin duduk di bangkunya, tetapi harus melewati Akio dan Zee. Dia tak enak hati. Naya membuang pandangan saat Akio tertuju padanya.
Keadaan itu tidak berlangsung lama karena dosen pemberi materi sudah berjalan mendekat. Itu artinya mereka akan segera menerima materi.
__ADS_1
•
Selesai mengikuti materi kuliah, Akio sungguhan mengantar Zee pergi keliling mall. Mereka menghabiskan waktu sampai menjelang Maghrib. Usai itu Akio mengantar Zee pulang ke rumahnya tanpa berniat singgah. Entah kenapa hatinya justru bergerak untuk mampir ke cafe. Dia tidak tahu pasti apa alasannya, tetapi hatinya sangat ingin ke sana.
sampai di cafe Akio menuju ke ruangannya.
"Bos!" Alfin mengikuti di belakang Akio. "Bos susah sembuh?"
"Kalau aku belum sembuh, nggak mungkin aku bisa ke sini," jawab Akio ketus. Alfin mengerutkan kening. Sadis amat si bos jawabnya?
Baru duduk Akio langsung menyalakan layar CCTV untuk melihat aktifitas seseorang. Manik hitam legam itu tertuju pada sosok yang ada di gambar.
"Fin, aku aku nggak bisa lama-lama di sini. Aku minta, kamu tetap kasih tumpangan pada Naya. Antar dia sampai depan rumahnya."
"Memang kenapa harus mikirin, Naya, Bos? Dia susah diberi tumpangan. Kemarin aja setengah maksa."
"Jalanan malam nggak aman buat cewek pulang sendirian. Nggak usah mikir macam-macam, yang penting lakukan apa yang aku suruh. Ini nggak gratis."
"Wuih, nggak gratis ... apa nanti ada bonus?"
Akio menghendikan bahu.
"Terserah kamu mau buat alasan apa. Yang terpenting setiap dia pulang malam, kamu harus antar dia sampai depan rumahnya."
Setelah Alfin keluar, Akio teringat kantong kresek yang diberikan Naya tadi. Dia mengambil dan mengeluarkan isinya. Pertama kali saat menjerang kaos, harum parfum Naya masih bisa tercium oleh indera penciumannya. Seketika teringat dengan gelora panas pada malam itu.
"Akh! Ingetnya kesana lagi." Dia melipat baju dengan asal dan memasukannya ke dalam laci. Keinginannya untuk melupakan apa yang terjadi dengan Naya ternyata tidak semudah inginnya. Nyatanya dia tak bisa melupakan begitu saja.
Tuling ... Ponsel di dalam saku berdering. Ternyata Mommy Kei yang menghubungi.
"Iya, Mom?"
"Kamu di mana, Sayang? Sudah hampir malam kenapa belum pulang? Apa mampir ke rumah Zee?"
"Io di cafe. Maaf nggak kabari Mom, cuma sebentar, ini Io lagi siap-siap mau pulang."
"Cepetan, Mom tunggu. Nanti malam kita makan bersama."
__ADS_1
"Iya, Mom."
"Ya udah, sampai ketemu nanti, Sayang."
"Iya Mom, sampai nanti."
Akio melihat layar CCTV sebelum turun ke lantai bawah. Ternyata Naya masih di dapur dan sibuk mencuci piring. Dia memutuskan langsung pulang.
•
"Ma, Zee pakai yang warna peach, nut atau black?" Zee menjerang 3 baju dengan warna yang disebutkan tadi di depan mama Dewi. Perempuan itu sedang dilanda bingung untuk menentukan warna apa yang cocok di pakai pada kulitnya.
"Putri Mama cocok pakai warna apa aja. Kamu nggak usah bingung. Pilih warna yang bikin kamu nyaman dan percaya diri."
Zee meninggalkan baju-baju itu dan memeluk Mama Dewi dengan haru biru. "Ma, Zee bahagia banget. Makasih ya, Ma. Mama udah dukung Zee sama Kak Io. Mudah-mudahan Kak Io setuju kalau satu bulan lagi kita bertunangan dulu."
Dewi mengelus rambut Zee dengan sayang. "Kio pasti setuju. Mama doakan semoga semua lancar."
"Aamiin, Ma. Zee sangat mencintai Kak Io. Walau Kak Io nggak pernah ngungkapin atau nunjukin sayangnya seperti Zee, tapi aku yakin Kak Io itu sebenarnya sayang sama Zee. Hanya saja mungkin dia malu untuk jujur. Mama nggak tahu, tadi aja Kak Io bilang wajah Zee cantik natural. Ugh ... sweet, Ma." Zee berbinar bahagia.
Dewi turut bahagia melihat putrinya bahagia.
.
.
.
.
.
.
Readers, yang minta flasback apa yang terjadi dengan Akio dan Naya, sabar ya. Nanti bakal terungkap, mereka telah melakukan apa.😁
Akak Mei ucapkan terima kasih pada pembaca yang Budiman, kalian masih memberi respon baik untuk cerita yang mungkin nggak sesuai alur yang kalian pikirkan.
__ADS_1
Tunggu kelanjutannya ya.🙏