
Beberapa jam sudah terlewati, Ken mulai tersadar. Mengerjapkan mata beberapa kali dan menengok kekanan dan kekiri, tapi tak ada seorangpun diruang rawat itu.
Saat ingin bergerak badannya terasa sakit, ia masih belum mengingat kejadian yang dialami dengan tragis.
Kini ingatannya mulai kembali, teringat jika ia mendapat luka itu dari wanita gila dirumahnya yang bernama Ita.
Ketika mengingat nama itu kemarahan yang tak bisa terbendung. Seakan meluap kepermukaan.
Sedikit menyesal, airmata yang menggenang di pelupuk mata tak bisa menghapus penyesalan, justru semakin nampak.
Olive, satu nama yang memiliki tempat dan kenangan tersendiri dihati Ken. Betapa bodohnya ia tak mengetahui penyebab kecelakaan itu, hingga merenggut nyawa mantan istri dan juga calon anaknya.
Tak sedikitpun ada curiga untuk mengusut lebih jauh, ia yang saat itu juga terpuruk dengan keadaan hingga melupakan hal penting.
Jika dirinya tidak terluka, maka akan dipastikan wanita gila itu akan mati ditangannya.
Airmata yang menggenang tadi berhasil menetes membasahi bantal yang menyangga kepalanya. Karna bahu kanan terdapat luka, maka ia berbaring dengan memiringkan tubuhnya.
Ketika sadar, ia sudah teringat dengan kenangan buruk. Kenangan yang mungkin tak dapat terlupa, selalu memiliki tempat tersendiri.
Larut dalam lamunan penyesalan, Ken terhenyak diatas pembaringan. Suasana yang kurang baik membuat mod nya buruk.
Terdiam dengan pemikirannya, tiba-tiba daun pintu terbuka. Kei muncul dan berjalan mendekat.
"Sayang, kamu sudah sadar?" kebahagiaan langsung menghampiri, senyum merekah tersungging dibibir pucatnya. Semenjak tadi siang, Kei belum merubah penampilan.
Ken melihat sebentar lalu pandangan itu terarah lulus menatap dinding putih didepannya.
Kei mematung, sedikit aneh dengan sikap suaminya. "Sayang?" panggil Kei lagi, ia ingin menyadarkan pada Ken jika dirinya berada didekatnya. Biasanya Ken akan langsung menyambut dengan senyum atau pertanyaan yang mengandung kekhawatiran. Tapi, kali ini suaminya bersikap beda. Apa yang membuatnya seperti itu? atau ia ingin balas dendam dengan sikapnya tadi pagi.
__ADS_1
"Sayang, maafin aku. Tadi pagi aku bersikap acuh dan mendiamkan mu. Awalnya aku memang kecewa dengan sikapmu karna tidak mengabulkan keinginan ku untuk memecat pelayan itu. Aku pikir kau tidak percaya dengan ucapku jika pelayan itu jahat. Tapi, aku baru tau kalau kau hanya pura-pura dan sedang merencanakan sesuatu. Untuk itu, maafkan aku." ucap Kei dengan penyesalan, ia menunduk mengakui kesalahannya tadi pagi.
Meskipun bukan seratus persen kesalahannya, karna Ken sendiri tidak memberitahu sebelumnya.
Kei hanya ingin meminta maaf pada suaminya agar hubungannya dengan Ken baik seperti sebelumnya.
Tepat saat itu Lee masuk kedalam, ia berjalan mendekati ranjang tuan mudanya.
"Honey, tolong tinggalkan aku dengan Lee. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengannya."
Kei terhenyak, sikap suaminya benar-benar aneh dan berbeda. Setelah panjang lebar perkataanya tadi, kini Ken mengusirnya begitu saja. Begini kah sakitnya dicueki?
Kei mengangguk pelan, gerakan yang melambat. Merasa sedih, ia yang sedari tadi cemas menunggu suaminya tersadar, kini setelah sadar ia harus menelan kepahitan tidak diinginkan kehadirannya.
Bayangan ketika sadar Ken akan mencarinya, menanyakan dia atau putranya. Tapi tidak, bahkan kehadirannya ditolak. Bisa terbayangkan, bagaimana perasaannya?
"Keadaanku tidak baik-baik saja, Lee." kesedihan terlihat dari sorot mata yang masih menatap lurus.
"Jika begitu, saya akan menyiapkan perpindahan anda kerumah sakit luar negeri. Di sana banyak rumah sakit hebat yang akan lebih cepat menyembuhkan luka anda." Lee mengira tuan mudanya tidak baik-baik saja karna luka dari tusukan pisau itu.
"Bukan karna luka di tubuhku Lee, tapi luka di hatiku." tuan muda yang posesif bisa menjadi melow.
"Luka dihati anda?" Lee mengulang karna kurang paham dengan maksut ucapan Ken.
"Aku menyesal Lee, aku menyesal, ternyata Olive meninggal karna wanita gila itu. Andai dari awal tidak menerima dia bekerja dirumah, mungkin Olive masih hidup."
"Tuan muda, itu bukan kesalahan anda. Mungkin sudah takdir Nona Olive harus pergi dengan cara itu."
"Apa maksudmu? kepergian Olive bisa dicegah jika aku lebih teliti mengawasi apapun disekitar kami."
__ADS_1
"Tapi anda juga perlu ingat tuan, kejadian itu sudah berlalu. Sekarang sudah tidak ada yang perlu disesali. Anggap saja semua sudah garis takdir." Lee tau, tuan mudanya merasa menyesal. Tapi ia ingin menasehati jika yang dilakukannya itu salah, saat ini sudah tidak mungkin untuk menengok atau menyesali kejadian dimasa lalu. Karna masa lalu itu sudah tergantikan dengan masa depan.
"Kau tidak tau yang aku rasakan Lee! percuma aku bercerita padaku." Ken terlihat kesal.
Lee menghembuskan nafas, bagaimana ia akan bersikap.
"Tuan muda, Nona Kei sedari tadi cemas menunggu anda tersadar. Putra anda juga sangat rewel hari ini." Lee ingin menyadarkan tuan mudanya, bahwa sudah ada masa depan yang menggantikan masa lalu.
"Aku tau Lee, saat ini aku dihantui rasa bersalah." ucap Ken. Mata yang biasa terlihat tajam kini berubah sendu.
"Tidak tuan. Itu bukan kesalahan anda!" Lee menolak keras jika tuan mudanya menyalahkan dirinya sendiri karna itu bukan kesalahannya.
Dari sorot mata yang sendu itu Lee tau tuan mudanya sedang bersedih, tapi kesedihannya meratapi masa lalu dan kesalahan yang bukan karena kesengajaannya, itu salah.
"Boleh anda menyesal, tapi jangan terlalu berlarut tuan. Jaga juga perasaan Nona Kei, ia pasti akan sedih jika anda mengabaikannya. Saat ini dialah masa depan anda, dia ibu dari anak anda. Biarkan almarhum Nona Olive tenang. Saya yakin Nona Olive sudah tenang di alamnya. Kita hanya perlu mendo'akan yang terbaik"
Satu tetes airmata itu lolos lagi, katakan hari ini tuan muda itu cengeng.
"Hem... kau benar Lee. Aku memang menyesal, tapi tidak harus mengabaikan keberadaan Kei." ia baru sadar telah mengabaikan keberadaan Kei.
"Benar tuan, masa lalu tidak harus disesali. Semua yang sudah menjadi masa lalu berati hanya singgahan sementara. Akan ada masa depan yang baik disiapkan untuk kita."
Ken mengerutkan dahi. "Sejak kapan kau menjadi lelaki puitis Lee." ejeknya. Sudut bibir sebelah terangkat. Lee senang melihat tuan mudanya sudah mulai lupa akan kesedihan tadi.
"Sepertinya jiwa puitisku bisa datang saat anda galau tuan." ucap Lee dengan senyum tipis.
"Sial kau Lee! aku tidak pernah galau." sanggahnya. Sedikit kesal.
Lee tersenyum tipis, kini ia bisa bernafas lega, istri dan anaknya selamat. Tuan muda yang selalu dijaganya juga selamat. Saat tadi ia menjadi manusia paling pusing, saat ini sudah berubah. Bisa melihat orang terpenting bisa tersenyum baik-baik saja maka hatinya merasa senang.
__ADS_1