
Agyan menunggu Freya di dalam studio make'up setelah acara selesai. Gadis itu sudah kembali memakai pakaian yang ia kenakan dari rumah.
Agyan menghampirinya, memeluk dan mencium kening Freya sebagai ucapan selamat atas keberhasilannya tadi. "Aku nggak kenapa-napa, 'kan?" Freya bersuara setelah Agyan melepas pelukannya. Agyan mengangguk seraya mengacak puncak kepala gadis itu.
Tari yang duduk di kursi rias menghadap Agyan dan Freya hanya memperhatikannya dengan tersenyum. Beberapa orang yang masih di dalam studio make'up sibuk dengan urusannya masing-masing. Tak lagi memperhatikan Agyan saat tau jika pria tampan itu sudah memiliki pasangan.
"Mbak Tari, aku sama Gyan duluan, yah." pamit Freya, Agyan mengambil tas gadis itu dan membawakannya.
Tari bangkit dari duduknya dan menghampiri Freya. "Sisanya sudah saya urus. Makasih, yah, Freya." ucapnya dengan tulus. Freya mengangguk dengan senyum tak kalah tulus.
Freya pamit dengan Agyan yang menggandeng bahunya. Keduanya keluar dari studio make'up. Tari melepas kepergian keduanya dengan terus menatap Agyan.
Ia merasa tertarik dengan pesona menawan suami dari mantan model itu.
*
*
"Gavin sama Cherry belum pulang?" Agyan menggeleng, Freya menunjuk ke arah parkiran setelah mereka keluar dari gedung. Agyan melihat apa yang Freya lihat. Keduanya berjalan menghampiri Gavin dan Cherry.
"Makan siang bareng, yu." ajak Cherry setelahnya. Freya dengan Agyan menyanggupi tanpa berfikir panjang. Mencegah sopir utusan Tari mengantarkan mereka.
"Sumpah Freya, tadi loe keren banget. Gue sampe gak bisa ngedip." decak Cherry dengan penuh antusias sambil menggerayangi lengan Freya yang duduk di sampingnya. Sementara suami mereka duduk di kursi depan.
"Tapi sekarang udah bisa ngedip, 'kan?" Freya memastikan dengan candaan. Agyan dan Gavin hanya tersenyum. Sedangkan Cherry berbicara panjang lebar di kursi belakang sana. Freya dengan santai hanya mendengarkan.
Sebuah restoran prancis menjadi pilihan mereka untuk makan siang. Diiringi obrlan ringan tentang banyak hal, juga mengenai pekerjaan.
Gavin bilang, jika Agyan akan naik gaji jika bisa bersikap baik pada anak cewek anggota club mobil yang latihan di sirkuitnya. Karena selama ini, Agyan terlalu membatasi dirinya dan sering membuat cewek-cewek kecewa dengan sikapnya.
"Jadi Agyan di sana sering sama cewek, Vin?" tanya Freya, Gavin mengangguk mantap. Sementara Agyan mengumpat pelan, menyumpahi Gavin yang tiba-tiba saja membahas hal ini dan memancing Freya.
Padahal, sikap cueknya ia lakukan karena memang tidak tertarik dengan para cewek di sirkuit, dan ia cukup bersikap sewajarnya tanpa harus berlebihan.
"Frey, anak cewek banyak yang tiba-tiba daftar latihan ke sirkuit gue karna ada Agyan, coba." sahutnya tanpa merasa berdosa meski Agyan sudah memperingatkan dengan tatapan tajamnya.
"Oh, gitu." Freya tampak acuh tak acuh. Agyan
memutar bola matanya melihat tatapan jail Gavin dan Cherry.
"Sayang—" Agyan membujuk istrinya.
"Pantesan, Vin. Katanya betah banget dia kerja di tempat loe." Freya memasukan makanan ke mulutnya setelah melirik Agyan sebentar di sampingnya. Gavin dan Cherry yang duduk di sebrang meja di hadapan mereka tampak menahan tawa.
"Sayang—"
"Kalo tiba-tiba pulangnya sore banget, katanya ada beberapa urusan urgent."
"Mm, tapi gue yakin, deh, dia telat ya—Karena sibuk liatin cewek-cewek lajang, yah, 'kan."
"Nah, bener." Cherry menjadi-jadi.
"Secara, gue udah jadi istrinya. Gue mulai ngebosenin, apalagi sekarang gue hamil. Beberapa bulan ke depan berat badan gue pasti naik."
"Gak kebayang, 'kan. Gyan pasti bakal bosen sama gue dan—"
Freya menahan tawanya saat tiba-tiba saja Agyan memeluknya dari samping. Menghentikan kalimat Freya agar tak berkata macam-macam lagi.
"Enggak gitu, Freya, sumpah."
"Aku percaya Gavin, gimana, dong."
__ADS_1
"Freya!"
Seketika tiga orang di meja itu tertawa maelihat ekpresi Agyan yang khawatir jika Freya marah padanya. Freya mengusap kepala pria itu.
"Aku nggak pernah liatin cewek-cewek di sirkuit!"
"Aku cuek sama mereka karena aku udah punya kamu."
"Iya, aku percaya." sahutnya sambil mengusap-usap puncak kepala Agyan. Pria itu tampak menekuk wajahnya. Freya hanya tersenyum menatap Agyan. Lama, sampai perlahan Freya merasa pandangannya kabur.
Sangat tiba-tiba, padahal tadi dirinya tidak merasakan apa-apa, ia memegang kepalanya. "Frey, kenapa?" Agyan ikut memegang tangan Freya yang memegangi kepalanya. Gavin dan Cherry juga tampak khawatir.
"Loe kenapa Frey?" Gavin terlihat cemas. Freya menggeleng. "Enggak papa,"
"Gue ke toilet dulu," ia beranjak dengan buru-buru. Agyan segera menyusul bahkan tanpa berpamitan pada Gavin dan Cherry.
*
*
"Nggak papa?" tanya Agyan. Ia memegang rambut Freya sementara istrinya itu mencuci mulutnya. Freya tiba-tiba saja merasa pusing dan mual. Seketika ia merasa lemas.
"Sayang,"
Freya menggeleng. Ia yakin akan baik-baik saja setelah ini. Meski merasa tidak nyaman dengan perutnya yang tiba-tiba saja terasa keram.
"Kita ke Rumah Sakit aja, yah."
"Enggak usah, aku nggak papa."
Agyan melihat tangan Freya yaang memegangi perutnya. Ia merasa khawatir, terlebih saat Freya meringis menahan sakit. Agyan bisa melihatnya, jika Freya tidak baik-baik saja.
"Kita ke Rumah Sakit sekarang," Agyan menarik tangan Freya.
"Jangan maksa,"
Agyan mengusap wajahnya gusar. "Aku nggak mau terjadi apa-apa sama anak kita, sama kamu." ucapnya dengan nada lembut. Freya tetap menggeleng samar yang membuat Agyan hanya mendesah pasrah.
Setelah mengalah dan membiarkan apa keinginan Freya. Keduanya memutuskan untuk mengajak Gavin dan Cherry segera pulang. Agar Freya bisa beristirahat dengan tenang.
"Loe beneran nggak perlu ke rumah sakit, Frey?" Cherry ikut khawatir. Freya hanya menggeleng. Agyan di sampingnya tak lepas terus menggandeng bahu Freya.
"Tapi muka loe pucet gitu,"
"Gue gak papa."
Akhirnya Cherry hanya bisa diam, sampai mobil Gavin berhenti di hadapan mereka. Freya dengan Agyan melangkah menuju mobil. Sementara Freya berhenti, pandangannya kembali kabur dan perutnya kembali terasa keram.
"Sayang,"
"Freya,"
"Frey,"
Samar-samar ia mendengar suara Agyan. Tapi pandangannya justru menghitam. Setelahnya, Freya tidak mengingat apapun lagi. Ia merasa dunianya tiba-tiba saja gelap, hitam pekat.
"Kita bawa ke Rumah Sakit." seru Cherry dengan cepat, Agyan tak kalah cepat menggendong Freya dan segera masuk ke dalam mobil.
Sepanjang perjalanan ke Rumah Sakit Agyan terlihat tidak tenang. Freya terkulai lemas dengan mata terpejam dan membuatnya amat khawatir.
"Vin, bisa kebut nggak?"
__ADS_1
"Bisa, Gyan."
"Hati-hati." Cherry mengingatkan. Gavin mengangguk
*
*
Agyan terus menggenggam tangan Freya yang belum kunjung siuman. Tidak ada yang serius, kata Dokter, dia hanya kelelahan. Gavin dan Cherry sudah ia suruh pulang karena Freya baik-baik saja.
Agyan merasa lega sekarang, sepanjang perjalanan ke Rumah Sakit tadi, ia terus merasa cemas dengan keadaan Freya dan juga bayi mereka. Syukurlah semuanya terlewati dengan mudah.
"Sayang,"
Agyan mengusap sisi wajah Freya saat gadis itu membuka matanya, ia tersenyum ke arah Agyan seolah menenangkan. Justru membuat perasaan Agyan tidak karuan.
"Apa kata Dokter?" tanyanya seraya balik menggenggam tangan Agyan.
"Kamu kecapean."
Freya menghembuskan nafasnya dengan tenang. Ia begitu cemas pada kandungannya, terlebih saat ia merasakan keram pada perutnya.
"Aku udah bilang, 'kan buat kamu nggak usah ikut acara peragaan busana." sesal Agyan. Mengingat jika bagaimana pun, Freya kelelahan pasti karena acara tersebut.
"Kan sekarang udah nggak papa."
Agyan mendesah, menggenggam tangan Freya dengan kedua tangannya, mengecupnya berkali-kali.
"Aku cemas, aku khawatir kamu kenapa-napa. Sebelumnya kamu nggak pernah kaya gini." Agyan berkata dengan pelan, ia meras tak berdaya andai saja sesuatu yang buruk menimpa istrinya.
Freya menatap Agyan dengan rasa bersalah. Tapi semuanya sudah terjadi, tidak ada yang perlu disesali. Tangan Freya yang tidak digenggam Agyan terangkat untuk mengelus sisi wajah Agyan. "Maaf, udah buat kamu cemas." sahutnya. Agyan hanya diam.
Ketika ibu jari Freya justru mengusap bibirnya, Agyan menahan tangan gadis itu. Keduanya saling menatap dengan pancaran penuh cinta dari mata masing-masing.
Agyan bangkit dengan tenang, mencondongkan tubuhnya ke arah Freya. Ketika bibirnya menyentuh permukaan bibir Freya, Freya menyambutnya dengan senang hati.
Sementara tangannya sedikit menahan dada Agyan. Freya dengan Agyan tidak tau apa yang sedang mereka lakukan. Sebuah kebiasaan, atau sedang saling menginginkan.
"Ekhem."
Agyan menghentikan ciumannya dengan terpaksa, sementara posisi tubuhnya masihlah bertahan dalam posisi yang sama. Freya menoleh, seorang Dokter dengan perawat berdiri di ambang pintu.
"Dokter," ucap pelan Freya yang sesungguhnya memberitahu Agyan. Agyan perlahan memperbaiki posisinya, ia menoleh dan tersenyum pada Dokter berusia sekitar empat puluhan itu.
"Maaf mengganggu," ucapnya seraya berjalan ke arah brankar Freya tanpa merasa berdosa.
"Tidak papa." Agyan menyahut tenang meski sebenarnya merasa kesal. Suster yang bersama dengan Dokter Obgyn wanita itu melirik Agyan sebentar dan tersenyum.
Sedangkan Dokter tersebut memeriksa keadaan Freya, menanyakan keluhan gadis itu. "Kandungannya baru berapa minggu, Bu?" tanyanya saat Freya mengeluh jika ia sempat merasa keram dengan perutnya.
"Sembilan minggu, Dok."
"Mau di USG saja?" tawarnya saat Freya berkata keram pada perutnya hanya sebentar dan ia sudah tidak apa-apa.
Freya menoleh pada Agyan, meminta persetujuan suaminya. Agyan hanya mengangguk samar, tampaknya ia masih kesal pada Dokter yang sedang menangani Freya sekarang.
"Boleh, Dok." sahut Freya seraya menganggukan kepala.
Sedangkan Agyan masih tidak bisa menyembunyikan rasa kesalnya pada Dokter tersebut. Tentu saja Agyan merasa kesal. Harusnya, Dokter tersebut masuk ketika aktivitasnya dengan Freya sudah selesai.
Atau setidaknya jangan mengganggu dan tunggu saja sampai ciuman itu Agyan akhiri dengan sewajaranya, tidak dengan tiba-tiba.
__ADS_1
TBC