Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Hari Penuh Suka Cita


__ADS_3

Malam Pesta.


Seorang wanita tampak dengan anggun memasuki sebuah tempat yang ramai oleh orang - orang yang mengenakan gaun pesta. Pandangan semua orang tertuju pada wanita yang tengah diapit oleh menantu kesayangannya itu dengan tatapan penuh kagum.


Freya menebar senyum pada tamu undangan yang didominasi teman - teman sekolahnya dan juga rekan kerja ia dan sang suami. Sejak awal, Freya menolak untuk merayakan ulang tahunnya, namun suami, anak dan juga menantunya bersikeras membuatkannya pesta.


Sehingga Freya tidak bisa melakukan hal apa pun kecuali menurutinya saja.


Agyan menyambut wanita itu di tengah kerumunan lokasi pesta, dengan senang hati Zoya menyerahkan Freya pada Agyan. Dengan senang hati pula Freya menerima uluran tangan Agyan. Seketika wanita cantik mantan model majalah terkenal itu mendapat banjiran ucapan selamat ulang tahun.


Sedangkan Zoya diam - diam mundur dari kerumunan dan menghampiri sang suami yang berada di salah satu meja bersama dengan Rival dan anggota keluarga yang lain.


Ethan menyambut sang istri dengan senyuman, wanita itu segera mengapit lengan Ethan. Lantas menatap Agyan dan Freya yang menjadi pusat perhatian.


"Mereka masih aja sosweet sampe sekarang." komentar Zoya yang merasa kagum dengan cinta di antara kedua mertuanya tersebut.


"Itu karena merek saling mencintai." sahut Ethan. Ia akan sangat bersedih andai cinta di antara dua orang tercintanya memudar. Rasanya begitu mustahil saling menyia - nyiakan begitu saja mengingat bagaimana perjuangan keduanya di masa lalu untuk dapat bersama seperti sekarang.


Ethan terkesiap saat Zoya melepas rangkulan tangannya san sedikit merendahkan tubuh karena seorang anak kecil menghampirinya. Anak kecil? Ethan mengernyit mendapati anak gados yang begitu familiar baginya.


"Anye," sampai ia mendengar Zoya menyebutkan nama gadis kecil itu. Ethan ingat siapa dia, karena setelahnya orang tua gadis itu menghampiri mereka.


"Anye sama Mama Papa kesininya?" tanya Zoya pada anak itu. Ia sempat terkejut saat Anye, gadis yang pernah menumpahkan minuman pada pakaiannya lebih dari dua tahun lalu itu menghampirinya dan memberingkan setangkai mawar putih untuknya.


"Hmm, sama Adek Bayi juga."


"Adek Bayi?" kening Zoya mengernyit sampai kemudian ia mendapati Fahry – pria dari masa lalunya bersama dengan Anggun yang membawa bayi berusia sekitar tiga bulanan.


"Hay Zoya." sapa Anggun. Ia datang ke acara pesta ulang tahun istri mantan bosnyaakarena mendapat undangan melalui grup chat. Tidak enak jika tidak datang mengingat bagaimana kebaikan semua keluarga AE RCH padanya.


"Hay, Mbak Anggun." Zoya balas menyapa, tersenyum singkat pada Fahry yang tampak tidak nyaman melihat tatapan Ethan, juga bagaimana sikap pria itu saat mengapit lengan Zoya seolah menegaskan jika wanita itu adalah miliknya. Padahal Fahry tidak akan mengambilnya.


"Apa kabar, lama nggak lihat kamu di layar tv." basa basi Anggun yang Zoya tanggapi dengan senyuman. Ia menoleh pada Ethan yang melayangkan tatapan tajam pada Fahry seolah mengibarkan bendera peperangan. Seolah ada hal yang belum usai.


Adalah hal yang tidak Zoya mengerti dengan pria itu yang seolah tidak bisa berdamai dengan masa lalu.


"Iya, Mbak. Setelah kecelakaan itu, aku mutusin buat istirahat total." sahut Zoya, tiba - tiba dadanya terasa sesak mengingat kembali bagaimana tragedi yang membuatnya kehilangan calon anaknya untuk yang kedua kali.


"Mbak turut berduka cita, yah. Tuhan lagi ngerencanain sesuatu yang indah buat kamu." Anggun mengukir senyum menenangkan. Zoya mengangguk, lantas matanya fokus pada bayi laki - laki yang sejak tadi asik memain mainkan jemarinya dalam gendongan Anggun.


"Lucu, usianya berapa bulan Mbak?" Zoya menyentuh pipi bulat bocah kecil itu.


"Satu minggu lagi usianya empat bulan."


"Lucu banget." decak Zoya, membuatnya menatap bocah kecil itu bersamaan dengan Fahry yang pamit untuk pergi ke toilet. Tak lama, Anye juga ingin ke toilet, sehingga Zoya menawarkan diri untuk menggendong putra kedua Anggun dan Fahry. Zoya turut senang, artinya hubungan Anggun dengan Fahry berjalan dengan baik selama ini.


"Maaf, yah, merepotkan." sahut tidak enak Anggun, Zoya menggelemg tanpa rasa keberatan. Ia justru senang karena bisa menggendong anak itu.


"Lucu banget, 'kan Than?" ia meminta pendapat sang suami, Ethan mengangguk dengan senyuman, membiarkan jari telunjuknya yang besar di genggam oleh bayi mungil itu.


"Lucu kalau kita punya anak cowok." sahut Zoya yang membuat pria itu mengalihkan perhatian padanya. Menatap istrinya dengan lembut.


Andai, andai wanita itu tau jika kecil kemungkinan keduanya untuk memiliki anak.


**


"Apa, Sayang, hmm." Zoya mengajak bayi itu mengobrol, menghindarinya untuk menggigit jari tangan Zoya. Ethan hanya memerhatikan dengan senyum tipis, ia menyentuh lengan Zoya dan membuat wanita itu menoleh. Pancaran wajah Zoya tampak begitu bahagia saat wanita itu tersenyun lembut padanya.

__ADS_1


Hingga tak lama setelah itu, Freya menghampiri mereka. Anggun menyapa wanita itu, mengucapkna selamat ulang tahun serta menyampaikan doa terbaiknya dan berbasa- basi untuk beberapa saat sebelum akhirnya Freya memusatkan perhatian pada bayi dalam gendongan Zoya.


"Ya ampun ganteng sekali," decak Freya, mengangkat jari telinjuknya saat bocah itu menggenggamnya. "Iya Bunda, lucu juga." Zoya menambahi, Freya mengangguk, memerhatikan bayi itu yang sekarang tampak mengucek seluruh permukaan wajahnya.


"Ethan sama istrinya gak ada niatan buat cepet punya anak, Frey?" seorang wanita sebaya dengan Freya bertanya. Zoya tampak terdiam dengan hal itu, raut wajahnya berubah, ia tiba tiba merasa tidak tenang dan terganggu dengan hal itu.


Freya hanya tersenyum, lantas menggandeng menantunya. "Belum, nanti aja. Mereka masih butuh banyak waktu buat romantis - romantisan." jawab Freya yang sesungguhnya mencoba menenangkan perasaan menantunya.


Zoya memejamkan mata sekilas, kemudian ia menatap suaminya san mengalihkan perhatian saat wanita itu kembali buka suara. "Jangan lama-lama romantis - romantisannya, nanti malah bosen. Mending cepet punya anak, biar lebih harmonis."


"Sayang sekali, Ethan gak pernah mau dengerin omongan orang lain. Dia udah punya rencananya sendiri, situ siapa ngatur - ngatur?" pada akhirnya Freya merasa kesal mendengar nada ngotot dari wanita berambut hitam legam itu. Zoya menoleh terkejut pada mama mertuanya, sedangkan wanita tadi permisi dengan ekspresi tersinggung mendengar kalimat yang tadi Freya lontarkan.


Kini, giliran Freya yang menoleh pada menantunya. Wajah sang mama mertua nampak kontras begitu tatapannya bertemu dengan Zoya, senyumnya terukir dengan hangat. "Gak usah dipikirin. Banyak orang yang emang gampang banget ngomong tanpa berpikir." hiburnya pada Zoya dengan tangan yang mengusap satu sisi wajah wanita itu. Zoya hanya tersenyum.


"Proses punya anak emang gak gampang Zoya. Gak papa, sekalian kamu belajar dari orang - orang sekitar kamu. Nih, yah, kalau nanti udah ada anak, susah mau mesra-mesraan, sama suami." Anggun menambahkan, diakhiri tawa yang membuat Freya juga tertawa, Zoya juga tersenyum mendengarnya, namun perasaannya tetap tidak bisa tenang.


Ia menyerahkan bayi Anggun, lantas pamit untuk ke toilet. Pikirannya dipenuhi beragam pertanyaan mengenai kapan ia akan hamil lagi? Mengingat tiga bulan terakhir ia selalu merasa putus asa begitu memdapati hanya satu garis pada alat tes kehamilannya.


Tanpa terasa, airata Zoya menetes begitu saja. Ia benar-benar merasa menjadi seorang wanita yang gagal.


Zoya menghentikan langkahnya, ia tau ada seseorang yang sejak tadi mengikutinya. Saat tatapan keduanya bertemu, Zoya hanya menutup wajahnya dan menangis, sedangkan Ethan melangkah ke arahnya dan meraih wanita itu dalam dekapan.


"Kenapa?" tanya Ethan dengan lembut, tangannya tak kalah lembut mengusap belakang kepala Zoya. Ethan sengaja mengikuti wanita itu karena merasa khawatir. Khawatir karena kejadian tadi yang pastinya membuat perasaan Zoya tersinggung. Juga khawatir jika istrinya bertemu dengan Fahri.


"Kamu gak marah, 'kan kita belum punya anak?" tanyanya dengan nada tercekat, ia mendongak menatap sang suami dan membuat Ethan menunduk, menjatuhkan tatapannya pada sang istri. Kepalanya menggeleng dengan senyum mengembang.


"Buat apa saya marah?"


"Aku merasa gagal–"


"Siapa yang bilang? Kamu tidak gagal, kamu sudah berhasil menyempurnakan hidup saya."


Naina mendesah, lantas hendak beranjak namun justru ia menabrak seseorang, membuat isi gelas di tangannya menumpahi gaun berwarna putih yang ia kenakan. Pria yang berjalan dengan putrinya itu tampak menyesal.


"Maaf, saya tidak sengaja." sesalnya.


"Oh, gak masalah Pak, saya yang salah karena tidak hati hati." sahut Naina, berusaha menutupi dadanya yang sedikit transparan. Tampak canggung dan terus-menerus menundukan pandangan, sedangkan pria yang menabraknya yang tak lain adalah Fahri juga tampak bingung. Sampai kemudian Naina mengangkat pandangannya begitu sebuah jas berwarna dark caramele mendarat di bagian depan tubuhnya.


Fahri mengernyit mendapati hal itu, namun begitu ia tidak ingin ambil pusing. Sekali lagi ia meminta maaf kemudian mengajak Anye untuk kembali pada Anggun yang pastinya sudah lama menunggu mereka.


Sedangkan Naina yang pria itu tinggalkan hanya terdiam, terlebih Rival juga hanya diam. Membuatnya gugup dan tidak ada yang bisa dikatakannya kecuali. "Terimakasih Mas Rival."


Rival menoleh begitu mendengar gadis itu bersuara setelah cukup lama. Tapi tidak ada respon apa pun darinya kecuali hanya tatapan lekat yang membuat Naina jauh lebih risih dari sebelumnya.


"Tapi, Jas Mas Rival akan lengket."


"Hmm terus?"


Naina terdiam meremas ujung jas yang dikenakannya dengan raut bingung. Rival tampak seperti orang yang terpaksa menolongnya.


"Kamu bisa kembalikan setelah dicuci!" sahut pria itu sebelum akhirnya berlalu pergi meninggalkan Naina sendiri. Gadis itu hanya merapatkan bibirnya, matanya menatap punggung Rival yang kian menjauh, lantas menatap jas pria itu yang melekat di tubuhnya.


Sementara Zoya yang sudah mengurai pelukannya dengan Ethan menyeka air matanya, tangan Ethan juga terulur ikut menghapus air mata wanita itu, ia tersenyum melihat sang istri dan membuat wanita itu mengernyitkan dahi. "Jelek, yah?"


"Siapa?"


"Aku." Zoya cukup yakin sebagian riasannya berantakan. Tapi Ethan menggelengkan kepalanya, sedangkan Zoya mencebikan bibir karena tidak memercayai jawaban sang suami yang tak meyakinkannya sama sekali. "Kapan kamu tidak cantik?" justru pria itu bertanya dan membuat mata sang istri mengarah padanya, tapi bibirnya terkunci rapat. "Tidak pernah. Kamu selalu cantik," jawab Ethan, kali ini senyum manis merekah di bibir Zoya.

__ADS_1


"Iya. Karena aku dilihat oleh orang yang tepat." Ethan mengernyit.


"Beberapa orang bilang, 'Kamu akan terlihat cantik di mata orang yang tepat'"


Ethan mengangguk saat Zoya memperjelas maksudnya. Setelah drama itu usai, Ethan mengajak Zoya untuk kembali pada Freya karena acara tiup lilin akan segera dilangsungkan.


Suasana di halaman samping tepat di mana acara ulang tahun Freya digelar tampak ramai saat semua tamu undangan merapat dan membuat lingkaran pada acara peniupan lilin. Tapi sebelum sesi itu berlangsung, Freya buka suara, mengucapkam terimakasihnya pada semua tamu undangan yang hadir.


"Terutama, terimakasih pada suami saya tercinta," Freya menoleh pada Agyan yang sejak tadi menatapnya. Pria tampan itu mengangguk.


"Terimakasih, karena selalu ada." Freya menenggelamkan tatapannya pada bola mata Agyan, begitu dalam seolah mengenang kembali apa yang sudah mereka mulai sampai sekarang.


Bagaimana perjuangan cinta mereka tidak mudah dan penuh liku karena terhalang restu. Hingga kejadian bodoh yang tidak bisa keduanya sesali terjadi dan menghadirkan Ethan dan juga Arasy dalama kehidupan mereka.


"Terimakasih, karena sudah menjadi seorang suami dan ayah yang sempurna untuk keluarga kecil kita."


Lagi, Agyan hanya bisa mengangguk. Sedangkan semarak suara tepuk tangan terbang diudara untuk keduanya.


Banyak dari mereka terbawa suasana dan berbinar bahagia dengan mata berkaca - kaca. Sedangkan Zoya sendiri menggandeng lengan suaminya erat - erat, ikut tersentuh atas apa yang mertuanya utarakan.


Arasy yang berdiri di samping Agyan juga menggandeng lengan sang ayah mesra. Ia bahagia, lahir dari pasangan yang sempurna.


Bukan karena Freya dan Agyan benar - benar sempurna, tapi karena Arasy tau kedua orang tuanya itu saling melengkapi kekurangan masing-masing dengan cinta tulusnya.


"Dan terimakasih untuk Zeinn Ethan dan Zeinn Arasy. Terimakasih sudah hadir dalam hidup Bunda."


Ethan melambaikan tangan pada sang bunda dan membuat Freya tersenyum. "Dan terimakasih untuk Zoya, menantu kesayangan. Terimakasih karena sudah menyempurnakan hidup malaikat Bunda." sambung wanita itu untuk yang terakhir dan disambut riuh gemuruh tepuk tangan yang jauh lebih meriah dari sebelumnya.


Zoya mengangguk, lantas menoleh Ethan. Pria itu hanya tersenyum dengan sorot penuh kasih sayang. Di depan sana, Freya sudah meniup lilin.


Selanjutnya acara di sambumg dengan sesi dansa dengan pasangan masing - masing. Meski beberapa dari mereka lebih memilih menikmati jamuan karena tak memiliki pasangan, atau mungkin karena enggan.


Ethan mengganti posisi tanpa meminta persetujuan, membuat Zoya terkejut karena hal tersebut. "Ngapain?" spontan ia bertanya saat Ethan mengatur posisi tangannya untuk mengalung di leher pria itu.


"Dansa."


"Emang bisa?"


Ethan tak menyahut, hanya mengikuti irama dan membuat Zoya terbuai. Terlebih saat pria di hadapannya memejamkan mata. "Pulang jam berapa?" tanya Zoya dengan tiba-tiba. Pertanyaan sang istri membuat Ethan membuka matanya.


"Kenapa?"


"Teng jam 12 nanti, aku gak akan kaya gini."


"Cinderella? Sepatu kaca?" alis Ethan bertaut. Zoya mengangguk dengan kekehan kecil.


"No." pria itu menyangga.


"Hmm?"


"Kamu bukan Cindetella. He is my wife never die."


TBC


Masya Allah Alhamdulillah banget setelah 2 bulan mungkin kurang lebih nyusun rencana buat nerusin ini cerita akhirnya kesampaian juga sekarang, ya Allah.


Gimana reader? Apa kabar sehat-sehat kah? Semoga selalu dalam lindungan Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

__ADS_1


Jadi gimana lanjutin nggak nih ceritanya Hahaha?


Tinggalkan sepatah dua patah kata di kolom komentar Sayaang❤❤❤


__ADS_2