
Zoya merapatkan tubuhnya, mengikis jarak di antara keduanya. Wanita itu menaruh dagunya di pundak Ethan, sedikit membuat pria itu lebih mencondongkan tubuhnya. Bersamaan dengan lagu yang berakhir, Zoya berbisik pelan di telinganya.
"Congrats, future Father."
Ethan tak bereaksi, tapi gerakan tubuhnya berhenti. Senyum Zoya terukir, ia mengurai pelukan mereka dan beranjak ke kursinya, mengambil sesuatu yang sejak tadi berada pada sandaran kursi yang didudukinya. Lantas berjalan menghampiri Ethan dan menunjukan hasil usg - nya, juga sebuah testpack dengan garis dua yang menandakan positif.
"Tadaaa." wanita itu tersenyum lebar di tempatnya seraya mengibas - ngibaskan dua benda itu di hadapan suaminya. Ethan masih tak bereaksi, ia justru mengalihkan perhatiannya ke arah lain dengan tawa tertahan. Satu hal yang Zoya tau, pria tampan itu sangat bahagia dan tidak bisa mengungkapkan kebahagiaannya dengan kata - kata. Memang sulit bagi Ethan menunjukan ekspresinya. Ia tidak tau harus bereaksi seperti apa. Tapi yang paling pasti, hatinya membuncah bahagia. Kebahagiaan benar - benar berpusat dalam kehidupannya.
"Kamu bakalan jadi seorang ayah." ungkap Zoya saat pria itu berhambur memeluknya dengan mata yang memerah menahan haru.
"Kamu seneng?" tanya Zoya, kemudian ia merasa jika Ethan mengangguk di pundaknya. Perasaan Zoya melega. Ia benar - benar merasa bahagia. Keluarganya sebentar lagi akan sempurna. Ia berhasil membuat Ethan bahagia.
**
"Kenapa kamu nggak ngajak saya ke Rumah Sakit, huh?" tanya pria itu saat keduanya tengah menonton. Masih di ruang baca Ethan dengan lampu yang dibiarkan padam, pencahayaan di antara mereka hanya berasal dari layar televisi. Sejak tadi Ethan tak berhenti menempel padanya, terus menanyakan kondisi kehamilannya yang baru berumur tiga minggu.
Awalnya Zoya merasa tak yakin, namun begitu ingat jika dirinya memang terlambat datang bulan, ia segera memeriksanya. Begitu testpack menunjukan garis dua, ia juga tak kunjung percaya, takut jika alat test kehamilan itu salah. Itulah sebabnya ia datang ke Rumah Sakit lebih dulu untuk memastikan kehamilannya. Dari sana, barulah ia bernapas lega dan benar - benar merasa bahagia.
"Seharusnya saya orang pertama yang tau kehamilan kamu. Bukan Naina," protesnya yang membuat Zoya tertawa. Tapi kemudian pria itu tersenyum lembut. "Tapi saya bahagia, Zoya. Sangat bahagia." mengusap punggung tangan Zoya tak kalah lembut.
"Terimakasih." senyum pria itu terukir begitu tulus, begitu pun tatapan matanya. Siapa pun yang melihatnya akan merasa tentram dan bahagia.
"Ethan,"
"Aku nggak nyangka. Sekarang, aku hamil anak kamu."
"Kamu tau, aku nggak percaya saat hasil testpack - nya positif."
"Kenapa?" heran pria itu.
"Aku takut hasilnya salah. Itu kenapa aku nggak kasih tau kamu dulu. Makannya, aku pastiin dulu ke Rumah Sakit. Dengan begitu, hasilnya pasti dan kita nggak akan kecewa." panjang lebar wanita itu. Ethan mengangguk mengerti, menatap istrinya lekat - lekat. Sedangkan kini, tatapan wanita itu tengah lurus pada layar televisi. Mata bulat yang berbinar itu membuat Ethan betah menatapnya, sampai kemudian mata bulat wanita itu mengarah padanya. Alis wanita itu bertaut, tapi tak lama Zoya yang tau arti tatapan suaminya hanya tersenyum dan mendekatkan wajah mereka.
**
Naina mengerjapkan matanya, bersamaan dengan pusing yang menyerang kepala begitu hebatnya. Ia tersentak begitu mendapati jika dirinya berada di dalam mobil. Ia jauh lebih tersentak saat mendapati Kevin berada di sampingnya.
"Hay, udah bangun?" tanya pria itu dengan senyum memuakan yamg sangat Naina benci. Bahkan senyum pria itu sudah melecehkan harga dirinya. Naina mengalihkan tatapan ke depan. Dua bodyguard Kevin berada di sana. Naina berusaha mengingat apa yang terjadi sebelumnya hingga ia berakhir di dalam mobil Kevin.
Gadis itu memejamkan matanya sekilas. Ia ingat pasti jika dirinya jatuh pingsan setelah meminum minunan dari restoran. Kevin menjebaknya?
Gadis itu menggelengkan kepala. Menolak isi pikirannya, ia harus berpikiran baik. Barangkali Kevin menolongnya dan akan mengantarkannya pulang. Naina mengangguk - anggukan kepala meyakinkan dirinya. Namun keadaan berbalik dengan harapannya saat jalan yang mereka lewati bukan jalan menuju kediaman Zoya Hardiswara dan Zeinn Ethan Maheswari. Tapi ..., sebuah hotel? Mobil Kevin hendak menepi di sebuah hotel. Berapa lama kira - kira ia pingsan?
__ADS_1
"Apa yang mau kamu lakukan?" protesnya begitu Kevin hendak meraih tubuhnya. Ia menjauh dengan gerakan mata waspada, Kevin justru senang melihatnya. Mangsanya kali ini benar - benar aktif.
"Jangan macam - macam!" ancamnya sungguh - sungguh.
"Tidak sayang, tidak akan macam - macam. Kita hanya akan bersenang - senang. kamu pasti akan menyukainya." sahut Kevin begitu mobil tiba di pelataran hotel. Naina menggelengkan kepalanya kuat - kuat.
"Oh, ya, ini akan menjadi pertama kalinya untuk kamu?" pria itu memasang wajah kasihan yang sangat kentara jika dibuat - buat.
"Aku akan melakukannya dengan lembut dan hati - hati." wajah pria itu mendekat. "Okey?"
Plak!
Satu tamparan dari Naina mendarat di pipinya. Kevin tampak menahan kesal, namun yang ia lakukan adalah turun dari mobil. Begitu juga dengan dua anak buahnya yang ia bawa.
"Seret dia keluar!" perintah Kevin yang membuat anak buahnya mengangguk mengiyakan, kemudian membuka pintu mobil dan memaksanya untuk masuk ke dalam hotel. Salah satu petugas hotel yang menyambut mereka di pintu masuk mengernyit heran. Yang akhirnya membuatnya menghadang langkah mereka.
"Pak tolong –" Kevin memberi kode pada anak buahnya untuk membawa Naina masuk. Keduanya menyeret Naina, salah satu dari mereka menutup mulut gadis itu dengan telapak tangan. Petugas hotel itu hanya menatap Naina sekilas.
"Ada apa?" protes Kevin, tidak terima karena kedatangannya tidak disambut dengan baik. Petugas hotel itu lantas mengalihkan perhatiannya kembali pada Kevin.
"Kamu mau dipecat? Aku sudah pesan kamar di sini!" ancamnya yang tak membuat gentar penjaga hotel tersebut.
"Tunjukan identitas anda!"
Petugas hotel itu tidak bisa berbuat apa - apa karena orang yang baru dihadangnya adalah putra dari orang penting. Ia hanya orang kecil yang tidak bisa berbuat banyak hal. Begitu Kevin dengan dua anak buahnya yang menyeret Naina itu berlalu, petugas hotel tersebut merogoh ponsel dan menghubungi seseorang.
Hanya orang besar yang mampu mengalahkan orang besar.
**
"Tidak akan terjadi apa - apa kalau kita melakukannya?" tanya Ethan begitu mereka tiba di kamar, wanita itu hanya menggeleng kecil.
"Enggak tau,"
Ethan menggeleng pelan, tapi kemudian masih melanjutkan apa yang mereka lakukan di ruang baca. Zoya mengalungkan tangannya dengan bebas di leher suaminya. Sedangkan Ethan menanggalkan jas hitam yang dikenakannya. Zoya merasa, kali ini Ethan akan memperlakukannya jauh lebih lembut dari sebelum - sebelumnya.
Ponsel yang tiba - tiba berdering membuat fokus Ethan terganggu. Zoya menyuruhnya mengangkat panggilan sehingga ia harus melepaskan tautan bibir mereka. Dengan satu tangan yang masih mengungkung Zoya di bawahnya, Ethan mengernyit mendapati id petugas hotel pada layar ponsel. Tidak biasanya ia dihubungi terutama di jam seperti ini
"Siapa?" tanya Zoya. Ethan menyingkir dari atas tubuh wanita itu. Cocktail dress yang sudah terlepas dari tubuhnya membuat Zoya akhirnya menyambar sleepwear yang sudah ia taruh di tepi tempat tidur, ia mengenakannya saat melihat reaksi wajah suaminya yang tampak keruh begitu menerima panggilan telpon. Satu hal yang pasti jika aktivitas di antara mereka otimatis tidak akan terjadi malam ini.
"Ada apa?" tanya Zoya saat pangilan telpon sudah berakhir.
__ADS_1
"Naina belum pulang?" tanya Ethan yang membuar Zoya heran.
"Naina?" Zoya mendadak mengingat jika gadis itu pamit keluar dan belum kembali. Ia menatap jam dinding yang sudah menunjukan pukul sebelas malam.
"Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Zoya setelah dengan cepat ia dapat menyimpulkan. Ethan mengangguk, meraih jas - nya yang semula berada di lantai kemudian mengenakannya.
"Saya harus menolong Naina, Sayang." ungkapnya, Zoya mengangguk - anggukan kepala. Ekspresi wajahnya juga tampak cemas begitu mendengar kabar bahwa Naina berada dalam bahaya.
"Kamu hati - hati, yah." pesan Zoya saat keduanya berada di pintu kamar. Ethan mengangguk, meraih kening Zoya dan mengecupnya. Lantas ia membuka pintu, tapi beberapa saat ia terdiam dan mematung di sana. Seperti melupakan sesuatu hal sehingga kemudian ia berbalik pada Zoya. Tanpa wanita itu duga, Ethan mengusap perutnya.
"Di rumah baik - baik, yah. Saya akan segera kembali."
"Kamu lebih baik beristirahat." ungkapnya, kemudian berlalu dengan cepat begitu Zoya menganggukan kepala.
Wanita itu turun ke lantai bawah setelah suaminya pergi. Ia merasa tidak tenang dan tidak mungkin untuk tidur sedangkan Naina berada dalam bahaya sekarang.
**
Naina menjerit tertahan begitu tubuhnya dihempaskan begitu saja ke atas tempat tidur oleh dua bodyguard Kevin. Kemudian dua orang itu pergi dan menutup pintu, Naina melihat Kevin mengunci pintu dan berjalan mendekat ke arahnya.
"Saya mohon, jangan apa - apa, 'kan, saya." pinta gadis itu, beringsut dari tempat tidur dan menjauh dari jangkauan Kevin.
"Aku cuma bilang kita akan bersenang - senang, Naina. Kamu cukup menikmati, biar aku yang mengendalikan permainan." sahut pria itu dengan raut tenang bak air danau. Naina menggeleng pelan saat Kevin menanggalkan jas - nya dan melemparnya ke sembarang arah. Naik ke atas tempat tidur dan hendak meraih tangan Naina. Namun dengan gerakan cepat gadis itu menghindar.
Seharusnya ia tidak takut dengan ancaman Kevin. Seharusnya ia tidak perlu datang dan bertemu dengan pria itu di restoran. Akan lebih baik baginya mendapat teror dari Kevin setiap hari dari pada menyerahkan kesuciannya pada pria biadab itu.
"Jangan apa - apa, 'kan saya, Mas Kevin. Saya mohon,"
"Kalau begitu kamu mau mencari pengganti kamu untuk aku?" tanya Kevin dengan alis bertaut, membuat Naina mematung di tempatnya mendengar pria itu. Ia terkesiap saat satu nama lolos dari bibir Kevin.
"Zoya Hardiswara."
"Berikan dia pada ku. Jebak, atau lakukan apa pun biar dia jadi pengganti kamu untuk tidur denganku."
Naina menggeleng pelan mendengar kalimat menjijikan keluar dari mulut pria itu. Kepalanya dengan cepat membayangkan bagaimana wajah bahagia Zoya, bagaimana perlakuan baik wanita itu terhadapnya. Dan bagaimana kebahagiaan Zoya dengan Ethan saat ini karena mereka sebentar lagi akan dianugrahi malaikat kecil di dalam pernikahannya. Yah, saat ini mereka pasti sedang bersenang - senang.
Naina menggelengkan kepalanya pada pria itu. Justru membuat Kevin smirk. "Jadi kamu merelakan diri kamu sendiri demi Zoya?" tanyanya.
Naina yang lengah harus jatuh dalam rengkuhan pria itu dan jatuh di atas tempat tidur dengan posisi berada di bawah Kevin. Posisi yang sangat menguntungkan bagi pria itu karena dengan begitu Kevin mendapat kesempatan mudah mendaratkan bibirnya di permukaan leher gadis itu.
Naina berontak dengan air mata yang jatuh sedemikian deras. Ia berteriak meminta tolong dengan mata terpejam, meski apa yang dilakukannya sangat percuma. Ia pasrah. Sampai pintu yang terbuka dengan begitu keras karena tendangan kaki seseorang membuat aktivitas Kevin terhenti. Kemudian Naina merasakan jika seseorang menarik Kevin dari atas tubuhnya. Sedangkan Naina belum berani membuka mata. Harga dirinya benar - benar terluka.
__ADS_1
TBC
Duh, siapa, nih yang jadi pahlawannya Naina?