
Gyan❤
By, aku pulang. Sama Aryo, sama Rachel. Katanya dia pengen kenalan sama kamu. Enggak papa?
Enggak papa, sekalian makan malem di sini. Aku sama Bibi udah buat makan malam.
Gyan❤
Iya, Sayang. Sebentar lagi nyampe.
Freya menganggukkan kepala melihat balasan pesan Agyan. Ia meletakan ponsel dan berjalan ke arah dapur.
"Bi,"
"Eh, iya Bu?"
"Masaknya agak banyakan aja, yah. Suami saya pulang sama temennya." sahut Freya pada asisten rumah tangga yang baru sampai sore tadi. Tidak buruk sejak kali pertama Freya melihatnya.
Ia terlihat baik dan polos, juga rajin dan mengerjakan semuanya dengan baik.
"Sebenernya rumah ini nggak terlalu besar. Saya bisa urus semuanya sendiri. Tapi suami saya berlebihan sampai harus sewa jasa art."
"Jadi ngerepotin Bibi, deh." oceh Freya sambil mengiris timun untuk lalapan. Art bernama Ningrum itu tersenyum.
"Tidak papa, Bu. Mungkin si Bapaknya sayang banget sama Ibu, makannya nyuruh saya kerja dan nemenin Ibu di sini."
"Iya. Dia baik, perhatian, makannya kadang berlebihan."
Dua orang yang baru saja saling mengenal selama beberapa jam itu tertawa, banyak mengobrol sampai apa yang mereka kerjakan usai. Bersamaan dengan suara mobil yang memasuki pelataran rumah.
Freya segera berjalan ke arah pintu untuk menyambut kepulangan suaminya. Ia membuka pintu, dan yang pertama dilihatnya adalah Agyan yang dengan wajah letih berjalan ke arahnya.
"Sayang," ia memeluk Freya, menyandarkan kepalanya pada pundak gadis itu dan sedikit memberi beban berat pada istrinya. Meski sedikit terkejut, Freya membalas pelukan suaminya.
"Cape, yah."
"Dia hanya arogan pada orang lain, tapi bertingkah seperti bayi pada istrinya!" cibir Rachel dengan pelan saat ia keluar dari mobil. Aryo yang masih di sana dan mendengar apa yang Rachel katakan menganggukan kepala. Membenarkan apa yang Direturnya itu katakan tentang Agyan.
"Mari, Bu." Aryo menuntun Rachel untuk melangkah ke arah teras rumah sederhana Agyan. Freya mengurai pelukannya begitu wanita yang dimaksud Agyan atasan yang dulu pernah ingin kepadanya itu tiba.
"Hay, selamat malam." Rachel menyapa dengan manis. Ia mengulurkan tangan untuk berkenalan dengan Freya.
"Rachel, teman kampus Agyan saat di Amrik dulu."
"Agyan sudah banyak bercerita tentang kamu. Freya," Freya menyahut santai, kemudian memperkenalkan dirinya juga.
"Silakan masuk."
Keempatnya masuk ke dalam rumah. Agyan menggandeng Freya, tangannya sibuk membuka tali apron yang dikenakan sang istri dan membukanya.
"Gimana, cocok sama asisten rumah tangganya?" tanya Agyan, Freya seketika mengangguk. Ia membalikan badan, melihat Rachel dan Aryo yang mengekor di belakangnya dan Agyan.
"Rumah kalian, nyaman." komentarnya setelah sejak tadi mengamati setiap sudut di dalam rumah Agyan. Freya hanya tersenyum.
"Mbak Freya yang masak?" tanya Aryo saat melihat hidangan di atas meja makan. Freya mengangguk, mereka duduk dan akan melaksanakan ritual makan malam.
"Enak kayaknya masakan Mbak Freya," imbuhnya, sementara tangannya hendak meraih bakwan jagung kalau saja Agyan tidak memelototinya.
Dalam hati Aryo merutuk. Tapi beberapa detik setelahnya ia tersenyum saat Freya membelanya dengan menatap tajam Agyan.
"Kalian sudah lama tinggal di sini?" Rachel mengawali pembicaraan di sela-sela kegiatan makan mereka.
"Setelah menikah, kita langsung pindah. Hampir tiga bulan, lah." Agyan yang menyahut.
"Tidak ada niatan untuk pindah? Uang kamu sudah cukup untuk membeli rumah yang besar, Gyan. Apalagi akan ada tambahan keluarga dari kalian." Rachel berucap santai setelah menatap Freya. Agyan menoleh pada istrinya sebentar.
"Sedang direncanakan, tenang saja. Kecuali Ibu Direktur mau diajak patungan, mungkin akan secepatnya."
__ADS_1
Aryo tertawa, membuat tatapan tiga orang di meja makan itu mengarah padanya. Ia menelan makanan dengan pelan-pelan dan tersenyum.
Setelah acara makan malam usai. Aryo dan Rachel duduk di ruang tamu. Sementara Agyan mandi terlebih dulu, ia langsung berganti dengan piama dan keluar dari kamar dengan Freya.
Aryo sudah seperti anggota keluarga, jadi tidak masalah jika ia yang menjamu tamu Agyan.
Langkah Freya dan Agyan berhenti di depan pintu kamar. Agyan menutup pintu sementara Freya sedikit merapihkan rambut Agyan.
"Ayo, kasian kalau tamunya dibiarin." ajak Freya. Ia berlalu, Agyan menarik tangannya, membuat Freya berbalik dan menabrak tubuh pria tampan itu.
"Gyan—"
"Kamu tau nggak, sih. Di luar sana ribuan cewek ngantri cuma buat foto sama aku?"
Dahi Freya berkerut. "Terus?"
"Kamu sekalian satu rumah enggak ada keliatan agresif-agresifnya." pria itu menunjukan ekpresi tidak suka dengan tingkah Freya.
"Ya iyalah. Aku, 'kan istri kamu, kamu udah milik aku. Jangankan buat foto, ngapa-ngapain kamu juga aku, mah, bebas."
"Ngapain misalnya?"
Freya diam sebentar. Ia menilik Agyan dari ujung kepala sampai ujung kaki. Agyan yang diperhatikan menaikan alisnya.
Freya tersenyum, berjinjit dan mengecup bibir Agyan. "Kaya gitu—" sahutnya. Agyan mengangkat satu sudut bibirnya.
"Cuma gitu doang?"
"Lebih agresif dari ini dong!" sahut Agyan sambil menarik pinggang gadis itu mendekat.
"Agyan—"
Baru Agyan akan mendaratkan bibirnya di permukaan bibir Freya, matanya menangkap seseorang yang tiba-tiba saja muncul dengan wajah terkejut serta heran.
Freya menoleh, melihat apa yang membuat Agyan terdiam.
"Sorry. Aku ganggu kalian?" Rachel terlihat tidak enak. Awalnya ia hanya ingin kembali melihat-lihat rumah Agyan. Tapi ia justru dipertemukan dengan kemesraan pasutri pemilik rumah tepat di depan pintu kamarnya.
"Enggak kok," Freya mengurai tangan Agyan yang melingkar di pinggangnya. Agyan terlihat menghela nafas. "Aku nemuin Aryo," pamitnya, kemudian beranjak. Ketika melewati Rachel, ia berucap pelan. "Ganggu!"
Freya tersenyum pada Rachel yang menatap kepergian Agyan dengan dahi berkerut.
"Dia arogan!" gerutunya pada Freya. Freya mengangguk.
"Tapi, sikapnya ke kamu begitu manis. Aku bahkan hampir tidak mengenalinya."
"Aku juga gak tau, dia aneh."
"Karena dia mencintai kamu."
"Mungkin." Freya menyahut sembari tertawa kecil. Keduanya mulai melangkah ke arah ruang tamu untuk bergabung dengan Aryo dan Agyan di sana.
"Bagaimana rasanya ditiduri Agyan?" dengan isengnya Rachel melempar pertanyaan random.
"Mm, seperti itu."
Freya menyahut tak kalah iseng, dua wanita cantik itu hanya tertawa. Kemudian meredakan tawanya setelah sampai di ruang tamu dan mendapat tatapan penuh tanya dari dua pria di sana.
*
*
Dua orang pria di dalam sebuah privat room di salah satu restoran itu tampak terdiam. Salah satunya terlihat sudah bosan berada di sana.
"Berapa menit lagi?"
"Sebentat lagi!"
__ADS_1
Agyan berdecak. Hari ini, ia akan bertemu dengan seorang pimpinan perusahaan yang mensponsori film perdana Agyan yang akan memulai syuting dua hari lagi.
Sudah lebih dari dua puluh menit Agyan dan Aryo menunggu. Klien mereka belum kunjung terlihat batang hidungnya. Agyan juga tidak tau mengapa pimpinan perusahaan tersebut ingin bertemu dengannya.
Aryo beranjak. Ia membuka pintu dan menampilkan dua orang pria memasuki ruangan. Salah satu dari mereka adalah Warry, Papi mertua Agyan.
"Om Warry," bibir Agyan berucap pelan. Aryo menatap Agyan sebentar, sorot matanya menyiratkan permintaan maaf karena tidak memberitahu Agyan siapa yang akan mereka temui hari ini. Karena Aryo yakin, jika Agyan tau, maka ia akan menolak untuk bertemu. Sedangkan Warry meminta pada Aryo agar mempertemukan mereka.
Agyan bangkit dari duduknya. Ia mengulurkan tangannya pada Warry. Begitu juga pada Skretaris Warry—Heru. Bersikap profesional sebagai rekan kerja
Tak lama, seorang pelayan mendatangi mereka dan menyerahkan menu. Memesan makan dan mereka akan menikmati makan siang sambil membahas pekerjaan.
"Bagaimana kabar Freya?" tanya Warry. Acara makan siang mereka sudah usai. Dan pertanyaan pertama Warry seketika menjurus pada urisan pribadi.
"Baik."
"Pak, saya permisi dulu." Heru bangkit dan berlalu. Aryo yang mengerti situasi juga bangkit. "Mas Agyan, saya tunggu di luar." pamitnya dan segera berlalu.
Setelah kepergian dua orang itu. Suasana mendadak menjadi canggung di antara mereka. Agyan meraih gelas minuman dan menengguk isinya. Sedangkan Warry menautkan jari-jemarinya, ia sedang menyusun kata.
"Saya bangga kepada kamu, Agyan." Warry baru buka suara.
"Meski kamu belum memberikan kehidupan yang mewah untuk Freya. Tapi kamu sudah berhasil membuktikan jika kamu mampu membahagiakan Freya."
"Saya tau, kebahagiaan tidak diukur dengan materi—Dan, kamu sudah berusaha yang terbaik."
Agyan hanya mengangguk-anggukan kepalanya mendengar penuturan Warry.
"Seharusnya saya tidak melibatkan kalian dalam rasa benci saya terhadap Andreas, Papi kamu."
Agyan mengangkat pandangannya, menatap Warry yang terlihat menghela nafas. "Setelah saya pikir-pikir, saya tidak tau alasan kenapa saya membenci Papi kamu. Padahal, dia tidak salah apa-apa."
"Tapi sepertinya, Papi kamu juga enggan menerima Mami Freya sebagai besannya. Saya bisa apa?"
"Mungkin tidak semudah itu untuk berdamai dengan masa lalu."
Warry menjeda kalimatnya. Sedangkan sejak tadi Agyan juga hanya terdiam memperhatikan.
"Yang sudah berlalu, maka biarkan. Kamu hanya harus hidup bahagia dengan Freya."
"Saya mendukung kamu." Warry beranjak mendekat. Ia menepuk bahu Agyan dan menaruh tangannya di sana.
"Saya bangga dengan kamu, dan kerja keras kamu."
"Semoga kamu selalu menjadi orang yang berhasil."
"Terimakasih, Om."
"Papi,"
Mata Agyan mengarah pada Warry. Warry mengangguk. "Panggil saya Papi. Karena saya adalah Papi mertua kamu."
Agyan mengangguk, perlahan bibirnya melengkung membentuk senyuman. "Terimakasih, Pih."
Warry mengangguk dengan senyum tulus di binirnya. "Kapan-kapan mampir di rumah kami. Freya pasti akan senang jika Papi berkunjung."
"Pasti. Papi akan datang bertamu ke rumah kalian."
Agyan mengangguk-anggukan kepalanya.
Hal ini tentu tidak mudah bagi Warry. Tapi, selama ini, kepalanya berfikir dengan keras bagaimana ia harus membahagiakan putrinya dengan memberi restu yang tulus pada pernikahannya.
Kesungguhan Agyan dalam mencapai kesuksesannya membuat Warry semakin yakin untuk benar-benar mendukung mereka dan meredakan egonya pada masa lalu sang istri dan Andreas—Besannya.
TBC
Akhir-akhir ini, tuh, lagi suka nonton drakor. Alhasil, ngetik terbengkalai. Bahan buat nulis bejibun di kepala, cuma openingnya yang susah:"(
__ADS_1
Maaf, yah:")