
"Sayang." Ethan lantas membalikkan tubuh Zoya agar berhadapan dengannya, sementara raut wajah Zoya amat murung. Sangat kontras dengan ekspresi Ethan yang tersenyum penuh keceriaan.
Ethan menangkup kedua sisi wajah Zoya.
"Kita bisa childfree." sahut Ethan yang justru membuat Zoya mengerutkan keningnya dalam dalam dengan mata menyalang menatap pria itu.
"Hmm? Bagaimana jika kita tidak perlu punya anak saja?" seketika Zoya menepis kedua tangan Ethan yang menangkup sisi wajahnya.
"Jadi maksud kamu, kamu nggak pengen punya anak dari aku?" Zoya bertanya dengan nada emosi.
"Bukan seperti itu, Sayang. Kita akan lebih baik kalau hidup berdua." Ethan mencoba memberi pengertian.
"Enggak ada yang lebih baik dari itu, Ethan!" Zoya akan sangat merasa sempurna ketika dia sudah memberikan seorang anak untuk suaminya.
"Kamu nggak cinta sama aku?" tany Zoya kemudian, menatap Ethan penuh intimidasi.
"Sayang, bukan seperti itu aku–"
"Saya cinta sama kamu tentu saja."
"Ya terus?"
"Aku sekarang tanya sama kamu. Kenapa kamu nggak pengen punya anak dari aku?" air mata Zoya sudah berjatuhan, terjun bebas dan menganak singai di pipinya.
"Sayang, bukannya saya tidak ingin. Saya ingin sekali, tapi pada kenyataannya sulit bukan?"
"Jadi kita sabar, okey. Tuhan belum ngasih."
"Karena aku pernah gagal?" Ethan tau ia tidak boleh kehilangan kontrol diri, sehingga yang ia lakukan selanjutnya adalah diam.
"Kenapa ngomong gitu, sih!" Zoya menggerutu.
"Harusnya kamu kasih semangat buat aku. Sakit tau nggak, sih, Than–" Zoya menunjuk dadanya. "Sayang–" Zoya dengan segera menepis tangan Ethan yang hendak menyeka air matanya, mengambil langkah menjauh beberapa langkah dari Ethan.
Ethan memijat pangkal hidungnya. Ia tidak tau bagaimana cara menjelaskannya pada Zoya agar wanita itu mengerti jika mereka tidak akan memiliki anak.
Ttak kunjung menemukan cara, Ethan akhirnya hanya berpegangan kepada pembatas balkon meremas besi-besi itu sebagai pelampiasan rasa kesalnya, sementara Zoya justru terus terisak di samping Ethan tanpa Ethan tau bagaimana cara menenangkannya.
Dalam kekacauan itu, Ethan mengingat kembali apa yang dikatakan sang Bunda ketika saat itu Zoya baru saja selesai operasi pengangkatan rahim.
__ADS_1
Ethan sangat terpukul tentu saja, angan-angannya untuk bisa memiliki keluarga kecil yang utuh pada akhirnya harus ia kubur dalam-dalam karena wanita yang sangat dicintainya tak mampu memberinya keturunan.
"Bunda tahu ini nggak mudah untuk kamu sama Zoya, Than. YlTapi kamu harus percaya takdir Tuhan, semuanya bukan kebetulan. Sudah ada yang mengatur. Jadi kalian hanya bisa pasrah." sahut Freya saat itu dengan raut sendu dan genangan air di pelupuk matanya.
" Bunda tahu kamu sedih." tangan Freya mendarat di bahu Ethan yang hanya menunduk dalam-dalam mendengarkan nasihat Bundanya. Freya mengusap bahu putranya tersebut dengan lembut, penuh pengertian. Andai mampu maka ia akan mengalirkan sejuta kekuatan untuk Ethan agar putranya mampu kuat dalam menghadapi kenyataannya sendiri.
"Kamu harus lebih kuat dari Zoya, Sayang. Supaya nanti kita Zoya juga sedih, dia memiliki kamu kamu untuk bersandar."
"Seandainya Zoya nanti tahu dia tidak bisa memiliki anak, maka hati dan harga dirinya akan sangat terluka, kamu harus bisa mempertahankannya."
**
Zoya sudah sangat sabar menanti seorang malaikat hadir dalam pernikahannya dengan Ethan, namun hal itu tidak kunjung berbuah manis. Pada akhirnya ketika ia sudah dengan perasaan senang mengambil sebuah testpeck, ketika alat tersebut menunjukkan hasil negatif ia justru sedih dan marah pada dirinya sendiri.
Apakah Tuhan berhenti meminta kesempatan padanya karena ia tidak bisa dipercaya? Zoya sadar suaminya tidak pernah menuntut agar mereka cepat memiliki anak. Zoya tidak bisa memberikan apapun kepada Ethan jadi dia ingin membetikan bayi untuk pria itu sebagai bentuk terima kasih atas apapun yang
yang Ethan berikan padanya selama ini.
Pada akhirnya yang Zoya bisa lakukan hanya menangis. Pagi ini kesedihannya menjadi dua kali lipat ketika kita Ethan mengatakan agar mereka tidak usah memiliki anak. Padahal, Zoya sangat ingin menghadirkan sesuatu yang baru untuk keluarganya, ia ingin menjadi seorang istri yang sempurna bagi Ethan yang sudah memberikan segalanya tetapi dengan mudah pria itu mengatakan padanya agar mereka tidak perlu memiliki anak sementara selama ini angan-angan Zoya begitu besar agar mereka cepat memiliki anak.
Ditengah isakannya, Zoya merasakan tangan besar Ethan meraih punggungnya, kemudian membawa Zoya dalam dekapan pria itu. Ethan tidak mengatakan sepatah kata pun, tidak ada yang keluar dari bibirnya bahkan untuk waktu yang cukup lama.
"Semuanya sudah Tuhan atur. Kita hanya tinggal menjalaninya saja, kita harus menerima apapun yang Tuhan berikan untuk kita."
"Kita tidak sendirian Sayang, banyak di luaran sana pasangan yang sudah menikah sepuluh tahun, bahkan lima belas tahun dan mungkin lebih, dan mereka belum memiliki anak."
"Atau ada yang baru memiliki anak."
"Kita harus sabar Sayang. Jangan buat saya merasa gagal." ucap Ethan, mengusap belakang rambut Zoya. "Jangan membuat saya merasa gagal karena melihat air mata kamu."
Drama pagi itu diakhiri dengan ciuman lembut Ethan di bibir Zoya, ketika Ethan menyadari jika Zoya membalas dan justru lebih mendominasi. Ia justru terkekeh pelan dan membuat Zoya berhenti dengan tatapan tidak mengerti.
"Pagi-pagi napsu amat." ledek Ethan yang membuat wanita itu berdecak kesal dengan pipi yang memerah. Kenapa Ethan senang sekali merusak hal romantis?
Zoya lebih memilih untuk kembali menatap ke depan, mengabaikan Ethan yang masih menertawakannya hingga kemudian pria itu kembali mendekap tubuh istrinya membuat Zoya tersenyum dan menyandarkan kepalanya pada dada Ethan.
Hal sensitif memang, tapi rasanya berdebat dengan Ethan menyenangkan.
**
__ADS_1
"Aku udah izin ke Ethan tapi Ethan enggak kasih aku buat ambil filmnya." Zoya mendesah sambil memeluk bantal sofa.
"Sayang banget. Padahal aku suka," curhatnya kepada Selin yang siang itu datang ke rumahnya. Selin yang mendengar hal itu hanya mampu menepuk bahu Zoya, meski ia tahu jika Zoya sudah kuat akan hal itu. Nyatanya ia lebih memahami bagaimana suaminya.
"Ya udah, enggak apa-apa masih banyak film-film bagus di depan sana nanti." hibur Selin yang membuat Zoya mengangguk pasrah. Tapi sungguh, Zoya menyukai peran yang akan dibawakannya di dalam film tersebut. Namun sayang, sepertinya ia harus memberikan peran tersebut kepada orang lain karena ia tak mendapat izin dari sang suami.
"Oh ya untuk syuting brand dari luar negeri itu nanti dilaksanain tiga hari lagi. Kamu udah siap ?" tanya Selin begitu mengingat hal itu. Zoya menganggukan kepala.
"Ada brand make up juga yang minta kamu buat jadi Brand Ambassador-nya Mbak udah tandatangani kontraknya," sambungnya yang membuat Zoya kembali menganggukan kepala, percaya kepada Selin yang sudah mengatur semua pekerjaannya.
Sementara di tempat lain, Etan sedang bersama dengan Randy di sebuah counter perhiasan di salah satu pusat perbelanjaan terbesar Ibu Kota.
"Menurut kamu bagus yang mana?" tanya Ethan sambil menunjukkan dua buah kalung dengan liontin rasi bintang kepada Randy.
"Yang ini saja Pak." sahut Randy dengan mudahnya sambil menerima kalung berliontin rasi bintang tersebut dari tangan Ethan. Sementara Ethan tampak mempertimbangkan, menilik satu lagi kalung dengan liontin batu kristal di tangannya
Ia berencana akan memberikan hadiah untuk Zoya sebagai permintaan maafnya karena kejadian semalam dan juga tadi pagi. Apapun akan Ethan kulakukan untuk mendapatkan senyum istrinya kembali.
Setelah melakukan pertimbangan yang cukup panjang pada akhirnya Ethan mengambil kedua kalung tersebut untuk diberikan kepada zoya.
Sepanjang perjalanan menuju ke rumah, Ethan hanya terdiam di kursi belakang dengan sikut yang bertumpu pada kaca mobil, memikirkan kembali perdebatannya dengan Zoya pagi tadi mengenai perihal anak. Sepertinya akan berbuntut sangat panjang. Karena Zoya begitu ingin mengadirkan sosok anak di dalam keluarga mereka
Jika ditanya mengenai ingin atau tidak, maka Ethan pun sama. Ia sangat ingin memiliki seorang anak dari Zoya, namun ia juga tahu hal itu tidak mudah dan ia tidak menuntut untuk agar Zoya sempurna menjadi istrinya
Ethan menatap Randy yang tengah fokus menyetir. "Menurut kamu, bagaimana jika Zoya terus mengungkit perihal anak?" tanya Ethan, meminta pendapat kepada sang sekretaris.
Randy yang sedang menyetir sempat melihat bangku belakang, dia terdiam sesaat. Dirinya tahu jika kecelakaan yang Zoya alami berbulan lalu membuat wanita itu akan sulit mendapatkan anak dari rahimnya sendiri.
"Apa Mbak Zoya benar-benar ingin segera memiliki anak?" Rendy justru bertanya balik. Ethan mengangguk, sementara setelah Randy kembali terdiam, mempertimbangkan jawaban dan solusi untuk sang atasan.
"Bagaimana jika Pak Ethan dengan Mbak Zoya mengadopsi seorang anak dari panti asuhan?" usul Randy, sekalipun ia sempat ragu untuk mengatakannya.
Setelah beberapa saat, kali ini giliran Ethan yang dia mempertimbangkanm Sepertinya usulan Randy tidaklah buruk.
"Saya tahu hal itu akan berbeda karena Mbak Zoya tidak mengandung dan melahirkan. Namun kalian tetap akan dipanggil Ayah Bunda kan?" sambung Randy saat Ethan masih diam.
Ethan menganggukan kepala, membenarkan hal tersebut. Ia dengan Zoya bisa memiliki seorang anak tanpa harus wanita itu hamil dan melahirkan.
"Baiklah, saya akan coba berbicara dengan Zoya nanti mengenai hal ini." sahutnya dengan hati yang berharap Zoya akan menerima usulan untuk mereka mengadopsi seorang anak.
__ADS_1
TBC