Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Hadiah Dari Fans


__ADS_3

Hari-hari berikutnya, sikap Zoya terhadap Naina sama sekali tidak berubah. Ia masih perduli dan perhatian sama seperti sebelumnya, hanya saja sedikit Zoya lebih memerhatikan dengan seksama ketika Naina berinteraksi dengan suaminya. Bahkan Zoya melihat vaik-baik tatapan mata Naina teehadap Ethan.


Zoya kian sibuk di lokasi syuting. Tak ia sangka jika dirinya sudah sampai di titik dimana sebentar lagi akan menyelesaikan syuting filmmya.


Begitu break syuting dan beristirahat beberapa waktu, Zoya lebih menilih memejamkan matanya untuk sesaat. Namun tak lama karena kedatangan tak terduga Ethan membuatnya membuka mata.


"Kamu kesini?" tanya Zoya saat sang suami duduk di kursi di hadapannya. Ethan mengangguk dan mengusap puncak kepala wanita itu.


"Sengaja kesini?" tanya Zoya lagi.


"Habis meeting sama klien, kebetulan pulangnya lewat lokasi syuting kamu, makannya saya kesini."


"Ohh."


Zoya tampak acuh saat tau sang suami bukan sengaja ingin mendatanginya. "Sudah makan siang?" tanya Ethan begitu para kru yang diarahkan Randy untuk mengambil makan siang yang dibawanya dari mobil membagikan makanan.


"Belum."


"Yasudah, kita makan siang bersama, yah." ajak Ethan, tersenyum menatap wanita itu, Zoya menengadahkan pandangannya, bersamaan dengan kepalanya yang mengangguk mengiyakan ajakan Ethan, dua sudut bibirnya juga tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman.


Para staf dan kru berterimakasih pada Direktur Utama agensi AE RCH yang sudah membawakan makan siang untuk mereka siang itu. Ethan sendiri menikmati makan siang dengan Zoya, Arfat, juga beberapa pemain lain dan kru pada sebuah meja panjang di basecamp.


"Mbak Zoya." seseorang berseru dan membuat Zoya menoleh ketika mereka sudah menyelesaikan makan. Rupanya orang yang memanggilnya adalah salah satu kru yang membawa beberapa buket bunga untuk Zoya, juga beberapa kado dari para fans Zoya yang mengiriminya di lokasi syuting.


"Simpan saja di sini." Selin mengosongkan meja agar kru yang kerepotan itu dapat dengan mudah menaruh barang-barang milik Zoya hadiah dari para fansnya.


"Makasih." Zoya berucap seraya meraih salah satu buket bunga. "Sama-sama Mbak Zoya. Di depan masih banyak." pria itu menyahut. "Kalau begitu biar saya bantu." Randy yang juga sudah menyelesaikan makan siangnya ikut turun tangan.


Kru tersebut mengangguk dan berlalu diikuti oleh Randy. Sementara Zoya sibuk melihat kiriman dari para fansnya berikut note yang mereka selipkan. Satu bulan belakangan, para fansnya memang rutin mengirimkan hadiah ke lokasi syuting. Baik berupa barang-barang biasa sampai yang harganya merogoh gocek mahal, hingga camilan dan makanan yang biasanya akan Zoya bagikan pada para pru karena jumlahnya yang banyak. Tidak mungkin untuk ia makan sendiri.


Semangat Zoya. Semoga syutingnya selalu berjalan lancar. Aku gak sabar pengen nonton filmnya, sukses selalu.


Zoya membaca salah satu note dari penggemar. Ethan yang masih duduk di tempatnya hanya menatap sang istri.


Mungkinkah Ethan harus cemburu? Saat banyak ditemukannya hadiah dari penggemar laki-laki Zoya? Rasanya ia cukup kesal. Namun juga senang karena banyak yang mendukung dan menyayangi sang istri.


Selin yang ikut membuka kado milik Zoya meraih sebuah kotak persegi dengan ukuran kecil yang dibalut pita berwarna biru dan membuka isinya.


Seketika wanita itu mematung, tentu saja hal itu membuat Zoya bingung sehingga wanita itu segera menghampiri Selin yang beberapa langkah berada di depannya.


"Ada apa mbak?"


"Zoy," Selin berseru dengan raut panik seraya memperlihatkan isi kotak persegi tersebut pada Zoya tanpa mengeluarkannya. Hal itu tentu saja membuat Zoya terkejut, bahkan wanita itu segera menutup mulutanya. Reaksi yang membuat Ethan juga tampak begitu penasaran sehingga pria itu beranjak menghampiri istrinya.


"Ada apa Zoya?" salah satu lawan main Zoya di film tersebut bertanya melihat reaksi wanita itu. Tapi Zoya hanya menggeleng samar dan membuat beberapa orang yang masih berada di sana penasaran.


Ethan segera meraih kotak tersebut dari tangan Selin. "Zoya nggak bisa makan strawberry, biar saya saja." sahut pria itu yang kemudian menutup kotak persegi dan menatap Zoya.


"Sayang, saya harus segera kembali ke agensi. Ada monthly meeting, Momy Rachel pasti sudah menunggu saya." panjang lebarnya yang kemudian mengusap puncak kepala Zoya dan berlalu dari sana dengan langkah lebar.


Randy yang baru saja tiba dengan beberapa buket bunga dengan segera menyerahkan barang bawaannya pada salah seorang kru yang ada di sana lantas menyusul langkah lebar Ethan dengan cepat.

__ADS_1


Sementara Zoya hanya menatap kepergian sang suami dengan raut tak terbaca.


"Fans Zoya nggak tahu kalau Zoya nggak suka strawberry?"


"Aku juga baru tahu, emang Zoya ada alergi strawberry?"


"Kenapa ngirimnya nggak pake keranjang buah aja?"


Zoya mendengar rekan-rekannya yang bertanya-tanya.


****


"Bakar begitu sampai di agensi nanti!" intruksi Ethan, menyerahkan kotak persegi yang dirampasnya dari Selin pada Randy.


Randy yang sudah berada di balik kemudinya meraih kotak persegi yang disodorkan Ethan dan membuka isinya. Ia mengangguk setelah melihat lembaran foto Ethan dengan Naina di dalamnya. Setengah bingung dan bertanya-tanya siapa pengirimnya.


Bagaimana mungkin foto tersebut bisa bocor?


"Dia pulang?" tanya Edrin saat melihat mobil milik Ethan keluar dari area parkir. Alexa yang sejak tadi menatap mobil pria itu dengan tangan yang sibuk mengaduk makanannya hanya mengangguk samar.


***


Apa yang terjadi di lokasi syuting beberapa bari lalu mengenai hadiah yang diterimanya dari salah satu fansnya yang berisi lembaran foto Ethan dengan Naina cukup mengganggu Zoya beberapa hari terakhir ini.


Zoya merasa hal tersebut adalah ancaman dan ia takut orang yang memiliki foto tersebut menyebarluaskannya nanti.


Terlebih Ethan tidak dapat melacak siapa pengirimnya. Namun begitu, Ethan selalu bisa menenangkannya sehingga Zoya mencoba percaya saja pada pria itu.


"Sehat-sehat, yah, Sayang di dalam sana. Tumbuh dengan baik, biar bisa cepet ketemu Mami." Zoya mengelus permukaan perut Naina, tidak sabar untuk segera bertemu makhluk kecil di dalam sana. Naina hanya tersenyum merasakan sentuhan tangan Zoya di perutnya.


"Ethan Sayang." panggil Zoya saat suaminya baru saja menuruni anak tangga sambil membawa laptopnya. Ethan tak menyahut namun mengarahkan tatapannya pada Zoya dengan gestur bertanya.


"Minta tolong, buatin susu buat Naina, yah." pintanya. Tanpa berkata apapun, Ethan mengangguk dan berlalu ke arah dapur setelah menyerahkan laptopnya pada Zoya.


"Gimana mual kamu akhir-akhir ini?" tanya Zoya pada Naina.


"Masih kaya gitu aja, Mbak. Cuma nggak terlalu parah." Naina menyahut. Tak lama setelah itu, Ethan tiba dengan segelas susu buatannya. Ini bukan kali pertama Ethan membuat susu untuk gadis itu.


"Makasih." ucap Zoya dengan senyum lebar seraya menerima gelas susu yang pria itu sodorkan.


"Makasih Mas Ethan." Naina menyusul. Pria itu hanya mengangguk, lantas duduk pada single sofa dan membuka laptopnya.


Sedangkan dua wanita di sana juga kembali asik dengan dunianya. Naina yang sudah menghabiskan segelas susunya dan menonton televisi, juga Zoya yang kembali sibuk memerhatikan dan mengelus perut gadis itu.


Ethan yang berkutat dengan pekerjaannya diam-diam memerhatikan. Menatap raut wajah istrinya dengan lekat. Kemarin, saat wanita itu syuting di pusat perbelanjaan, Zoya begitu bersikeras mengajak Ethan untuk membeli beberapa keperluan bayi begitu syuting usai.


Ethan tentu saja tidak dapat menolak, ia mengikuti saja kemuan istrinya dan membeli beberapa perlengkapan bayi yang wanita itu inginkan. Padahal sebelumnya, saat wanita itu hamil anak kedua mereka, Zoya sudah sempat membeli banyak kebutuhan bayi.


"Ethan,"


Panggilan wanita itu menyadarkannya dari lamunan. Ethan hanya mengangkat alisnya.

__ADS_1


"Sini." suruhnya, "cepetan!"


Dengan raut bingung, Ethan melangkah menghampiri wanita itu. Ia hanya pasrah saat Zoya menarik tanganyannya dan menaruhnya di permukaan perut Naina.


Apa yang Zoya lakukan diluar dugaan dua orang tersebut sehingga Naina dan Ethan tampak sedikit terkejut, keduanya saling bertukar pandang hingga Ethan yang lebih dulu memutus tatapan mereka begitu tangan Zoya mengusap punggung tangannya di atas permukaan perut Naina.


"Aku nggak sabar liat dia launching nanti." sahutnya yang membuat Ethan tersenyum tipis.


"Masih lama Sayang."


"Iya, makannya aku nggak sabar. Masih lama soalnya," wanita itu sedikit menggerutu, kesempatan tersebut dimanfaatkan Ethan untuk segera melepaskan tangannya dari permukaan perut Naina, dengan begitu Naina juga dapat leluasa bernapas setelah cukup merasa gugup dengan apa yang Zoya lakukan.


"Sabar, yah, Sayang." terdengar suara Ethan yang menenangkan Zoya sehingga Naina mengalihkan tatapannya pada dua orang itu.


"Oh, yah, untuk acara empat bulanannya nanti, gimana kalau kita persiapin dari sekarang." usul Zoya tiba-tiba.


"Kita harus cari tempat aman juga biar syukuran empat bulanannya bisa digelar tanpa ketahuan Bunda."


"Sayang–"


"Aku bakal sewa hotel aja buat acaranya, karena kalau di rumah, aku takut tiba-tiba Bunda dateng."


"Zoya, masih lama."


"Tapi kita sibuk, Than. Harus udah dipersiapin dari sekarang."


"Kita fokus ke hal-hal yang saat ini kita kerjakan saja Sayang. Lagian kamu juga masih harus fokus sama proses syuting kamu." oceh Ethan. Zoya terdiam sesaat dan memerhatikan sang suami.


"Aku liat-liat kok kamu kaya gak antusias banget, sih, Than. Aku perhatiin juga kamu jarang merhatiin Naina, dia lagi hamil anak kamu loh."


"Seenggaknya kamu perhatian sama anak dalam kandungannya."


Jujur Zoya merasa janggal dengan sikap Ethan. Bagaimanapun, meski Ethan tidak memiliki perasaan apapun pada Naina, setidaknya pria itu harus memerhatikan calon anaknya yang tengah Naina kandung.


Bahkan kemarin, saat Zoya mengajaknya berbelanja beberapa keperluan bayi, Ethan terlihat enggan dan hanya menuruti keinginan Zoya saja.


"Sayang–"


"Kamu aneh!" decaknya yang kemudian melipat tangan di dada dan mengalihkan pandangannya pada layar televisi. Ethan hanya mampu mendesah dan tak bisa berkata-kata lagi. Ia takut, jika banyak berbicara ia justru akan terus terang pada wanita itu juga anak dalam kandungan Naina bukanlah anaknya.


Naina yang berada di sana dan mendengar perdebatan singkat dua orang itu bebar-benar merasa terjebak terutama setelah Ethan dan Zoya hanya saling terdiam setelahnya.


"Mbak Zoya," Naina mencoba buka suara untuk melerai dua orang itu.


"Apa yang Mas Etglhan bilang bener, Mbak. Waktunya masih lama, lagipula Mbak Zoya juga harus fokus buat proses syuting filmnya." sahutnya lembut, agar Zoya tidak tersinggung.


Zoya menatap gadis itu dengan sorot pasrah. "Gimana kalau nanti, setelah proses syuting Mbak Zoya beres, kita baru bahas ini?" usulnya.


Sesaat Zoya hanya diam, namun beberapa detik berikutnya wanita itu mengangguk setuju, meski sorot matanya masih menyiratkan kecewa.


TBC

__ADS_1


__ADS_2