Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Terbongkar


__ADS_3

"Kita mau kemana?" tanya Zoya saat langkah kaki Arasy membawanya ke lantai dua tepat pada ruangan paling ujung yang Zoya ketahui adalah perpustakaan sekaligus ruang kerja Ethan.


"Kita ngapain di sini?" tanya Zoya lagi saat sudah berada di depan ruang perpustakaan suaminya. "Udah, liatin aja!" Arasy menolak untuk memberitahu lebih dulu. Membuat rasa penasaran dan heran di hati Zoya semakin meronta-ronta.


Zoya hanya mengikuti sampai kemudian ia menegur adik iparnya begitu melihat Arasy yang memasukan passwoard di sana. "Tanggal lahir aku?" tanya Zoya. Arasy mengangguk. "Ialah, kamu kan istri Ethan." Arasy menyahut cepat.


"Sejak kapan?" tanya Zoya lagi.


"Apanya yang sejak kapan?" Arasy balik bertanya tidak mengerti. Tidak mungkin jika Zoya menanyakan sejak kapan dirinya menjadi istri Ethan, Zoya tidak sepolos itu.


"Passwoard ruangan ini!" Zoya memperjelas


Arasy mengangakat satu sudut biibirnya."Sejak rumah ini berdiri." Arasy kemudian menyahut santai.


"Dua tahun yang lalu." sambungnya. Memegang handle dan membuka pintu. Zoya hanya mengikuti, mengusir berbagai tanya di kepalanya, ia tidak mengerti situasi yang sedang ia hadapi. Zoya dengan Arasy melangkah masuk ke ruangan tersebut. Lagi-lagi membuat Zoya terheran, karena tidak ada yang istimewa di sana kecuali rak rak yang berdiri kokoh dengan banyak buku yang tersusun rapi di sana. Juga kursi dan meja kerja, serta terdapat sofa bed berwarna monokrom dekat dengan perapian gantung.


Selain itu, juga ada televisi di sana, dengan lemari pendingin berukuran kecil di sampingnya. Sebuah matras dengan dua bantal tampak rapi seolah tak tersentuh debu. Pantas saja jika Ethan selalu berlama-lama di ruang kerjanya. Tempat itu sangat nyaman ditempati.


Sebelumnya Zoya memang tidak pernah penasaran dengan tempat kerja suaminya. Ruangan khusus milik Ethan terlihat begitu klasik dan elegan dengan beberapa lukisan tokoh dunia yang menghiasi dinding. Sangat menakjubkan.


Zoya juga melihat sebuah lukisan semacam sketsa komposit. Alis Zoya menajam, seperti mengenal sosok tersebut.


"Zoya," panggialn Arasy mengalihkan perhatian Zoya. Wanita itu melangkah menghampiri Arasy yang tengah berdiri di depan beberapa buku yang melayang, menempel begitu saja pada dinding.


Tidak ada ilmu sihir di sini, hal itu hanya tipuan mata dari rak buku minimalis. Karena sesungguhnya buku buku tersebut diletakan pada besi penopang tipis yang kuat dan disatukan dengan dinding.


"Kamu mau aku baca semua buku ini?" tanya Zoya dengan alis bertaut, Arasy tersenyum dan menggelengkan kepala.


"Kamu akan kaget." sahut Arasy, menggeser salah satu buku dengan sampul tebal berwarna hitam yang berada di rak buku melayang. Zoya memperhatikan, sebuah dinding partisi berjarak sekitar lima belas centi meter dari rak buku tampak bergerak, membuka sebuah ruangan gelap yang terlihat menyeramkan.


Arasy yang melihat keterkejutan wanita itu tersenyum, lebih dulu masuk dan membuat Zoya mau tidak mau akhirnya melangkah mengikuti.


"Welcome Nyonya Ethan Hardiswara." sahut Arasy diiringi tepukan tangan dan membuat lampu otomatis di ruangan tersebut menyala. Membuat Zoya takjub akan hal itu, bukan lampu otomatis yang menyala karena mendengar suara tepuk tangan. Tapi lebih kepada beberapa ruangan tersebut terutama figura besar yang terpajang dengan cantik di sana.


Ruang tersembunyi, di ruang rahasia. Sepertinya kata tersebut sangat cocok untuk mendeskrpsikan ruangan menakjubkan milik Ethan.


"Arasy," Zoya berkata lirih, setelah melihat banyak figura dirinya terpajang sempurna di beberapa dinding. Arasy tau wanita itu terkejut, ia sudah dapat menebak reaksi kebingungan seperti aoa yang akan Zoya tunjukan.


"Ikut aku!" Meraih tangan Zoya, mengajaknya duduk pada sebuah loveseat berwarn hitam di sana. Sedangkan Arasy beranjak pada sebuah brankas, membuka brankas tersebut setelah memasukan passwoard. Zoya menggeleng takjub, sepertinya Ethan sangat mempercayai Arasy. Sekali pun keduanya jarang terlihat akrab, pada kenyataannya baik Ethan maupun Arasy sama-sama saling menaruh kepercayaan, seolah tidak ada rahasia apapun di antara mereka.


Arasy kembali dengan sesuatu di tangannya. Duduk di samping Zoya. "Ini album foto Ethan pas SMA." sahut Arasy, membuka album tersebut dan membuatnya menutup mulut tidak percaya saat melihat halaman pertama.


"Kamu sama Ethan sekolah di Ghapagos?" tanya Zoya saat melihat Ethan yang tampan mengenakan seragam Ghalapagos.


"Grandma Grrycia alumni Ghalapagos, Grandfa Andreas pernah ngajar di Ghalapagos. Ayah sama Bunda juga sekolah di Ghalapagos." sahut Arasy. Zoya bagai tidak percaya, mereka satu SMA tapi tidak pernah bertemu? Kenapa bisa? Meski ia dengan Ethan dan Arasy berbeda tingkatan, tapi seharusnya mereka dapat bertemu saat upacara atau festival sekolah.


Atau mungkin saat itu Zoya tidak memperhatikan?

__ADS_1


Arasy tiba tiba saja menyerahkan album tersebut pada Zoya, dengan bahasa wajah ia menyuruh agar Zoya membukanya sendiri. Zoya melihat satu persatu potret tampan suaminya saat duduk di bangku SMA. Pria itu terlihat tampak tak jauh berbeda dengan sekarang. Ia hanya memiliki sedikit ekspresi dan selalu terlihat tampan.


"Semuanya hasil motoin aku, itu juga dapet maksa. Kamu tau nggak, sih, Ethan bakal ngamuk kalau ada orang yang ngarahin kamera ke dia." beritahu Arasy, mengingat hal itu membuatnya tidak habis pikir dengan Ethan yang nyaris tidak berubah sampai sekarang.


"Dia pernah ngamuk?" tanya Zoya. Arasy menggelengkan kepala.


"Mana ada orang yang berani ngarahin kamera ke Ethan." Arasy tertawa. "Tapi pernah ada cewek. Diem-diem motoin Ethan yang lagi ngintip."


"Hah? Terus gimana?" Zoya penasaran dan bertanya heboh dengan tidak sabaran.


"Dia marahlah."


"Kasar ke ceweknya?"


"Mukul?"


"Enggaklah, Ethan mana berani maen tangan ke cewek."


"Terus apa yang Ethan lakuin?"


"Mmm, banting hp-nya tanpa basa basi!" Arasy menyahut santai. "Enggak suruh hapus aja!"


"Ethan, tuh, nggak suka ngomong Zoya!" Zoya menggelengkan kepala tidak percaya.


"Dan besoknya dia ngasih hp baru ke aku. Minta supaya aku ngasih hp tersebut ke si cewek yang udah mergokin dia."


"Ethan tuh, tanggung jawab tau!"


"Kamu lanjut aja!" dagunya menunjuk album foto dalam pangkuan Zoya.


Zoya mendesah, ia sudah tidak sabar dan penasaran sedangkan Arasy tak memberikan jawaban.


Zoya memilih kembali membuka lembar demi lembar album yang didominasi oleh foto Ethan dan Arasy, juga pohon di belakang gedung sekolah. Zoya tidak mengerti apa maksudnya, setiap lembar ia membuka album foto tersebut selalu ada.


Sampai foto selanjutnya membuat Zoya mengerutkan kening begitu di balik pohon itu ternyata ada seseorang.


Hingga kemudian Zoya benar-benar tidak mampu menyembunyikan keterkejutannya begitu sadar jika orang yang selalu berada di bawan pohon di belakang sekolah adalah Zoya. Keyakinan tersebut diperkuat dengan foto terakhir di mana seseorang tersebut memang Zoya, orang yang diam-diam selalu Ethan perhatikan.


"Ethan udah suka kamu sejak lama." sahut Arasy. Wanita cantik itu mengukir senyum tipis.


"Aku tau kamu sejak tadi bingung. Kamu pasti bertanya-tanya ini ruangan apa dan sejak kapan figura kamu terpasang di sini." sambungnya, dalam hati Zoya membenarkan.


"Kamu tau sendiri, Ethan emang nyebelin. Tapi dia selalu jujur sama perasaannya. Kalau dia bilang cinta, dia jujur sama perasaannya. Kalau dia bilang dia kecewa–" Arasy menjeda, menggapai tangan Zoya dan menggenggamnya.


"Jangan sampai buat Ethan kecewa." Zoya menatap wanita itu, sorot mata Arasy begitu tulus saat mengatakannya, terlihat jelas jika dia sangat menyayangi Ethan.


"Aku mau jujur satu hal sama kamu." ungkap Arasy, terlihat sedikit ragu. Ia menghela napas sesaat dan menatap Zoya.

__ADS_1


"Kamu boleh marah sama aku, tapi tolong jangan marah sama Ethan." pintanya dengan memohon, Zoya mengangguk pelan.


"Kamu sama Ethan–." Arasy memejamkam matanya. "Aku yang jebak kalian di kamar hotel Ethan. Aku yang masukin obat ke minuman Ethan dan minta kamu buat nganterin dia, aku juga yang manggil wartawan buat potret dan nerbitin artikel tentang kalian." Arasy berkata panjng lebar, menggenggam tangan Zoya erat-erat.


"Aku cuma pengen kalian bersama, aku nggak bisa ngeliat Ethan terus menerus cuma merhatiin kamu."


"Zoy, aku tau aku salah. Aku ngelakuin itu karena aku sayang sama Ethan."


Zoya terdiam dengan raut wajah tidak percaya. Malam ini Arasy terlalu banyak memberikan kejutan padanya tanpa Zoya duga, bahkan sesuatu yang tak ia harapkan pun Arasy berikan padanya.


"Aku bilang ini semua sekarang karena aku nggak mau ada masalah apapun di masa depan antara kamu sama Ethan." sahutnya lagi sedangkan Zoya belum berbicara sepatah kata pun.


"Zoy," Arasy menilik sorot mata wanita itu yang mungkin marah dan sedang menyumpahi dirinya.


"Kenapa kamu bawa aku ke ruang rahasia Ethan?" Zoya justru keluar dari topik pembicaraan.


"Heh?"


"Zoy, kamu nggak marah?" Arasy bertanya ragu, berharap-harap cemas.


"Kenapa aku harus marah?" Zoya balik bertanya. Membuat Arasy terdiam di tempatnya.


"Kamu bilang Etjan orang yang tulus, 'kan?" sambung Zoya saat mendapati Arasy hanya diam.


"Dia udah bilang cinta sama aku, artinya dia tulus tentang perasaannya. Dan setelah liat ini semua. Aku gak punya alasan apapun lagi buat nolak Ethan."


Arasy membeku menatap Zoya yang terlihat begitu tulus dengan kalimat yang dituturkannya. Detik selanjutnya Arasy berhambur memeluk Zoya erat-erat dan berterimakasih pada wanita itu yang tidak marah dan juga tidak menyalahkannya, terutama tidak membenci Ethan.


Setelah beberapa detik berlalu, Arasy mengurai pelukan. Ia memyadari satu hal.


"Kamu nolak Ethan?" tanyanya, terkejut begitu mengingat hal itu.


"Mmm." Zoya berpikir sebentar.


"Pasti Ethan sakit banget." wajah Arasy meringis, Zoya yang melihatnya justru tertawa, menggandeng adik iparnya dan tertawa bersama.


"Jangan bilang ke Ethan kalau aku nunjukin ruangan ini ke kamu." pinta Arasy kemudian.


"Mmm, aku gak bisa janji."


"Zoya, ayolah!"


"Okey, bakalan aku pikir-pikir."


Arasy berdecak kesal. Tapi dalam hati ia bahagia mendapat kakak ipar seperti Zoya. Ethan tidak salah jatuh cinta pada seorang wanita, dan Arasy tidak menyesal sudah menjadi perantara untuk memyatukan mereka.


TBC

__ADS_1


Oghey, satu masalah udah beres🙃


Tinggal komen sama vote dari kalian aja yang belum🤣


__ADS_2