Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Memilih Diam dan Meghindar


__ADS_3

Devid menahan amarahnya. Ternyata dugaannya benar. Airin dan Syahdan masih sering ketemuan. Ternyata hanya penampilan saja yang sholeha tetapi, dengan segera Devid balik badan dan meninggalkan pasangan itu. Dia tak ingin lebih lama lagi menyaksikan kemesraan mereka.


Sementara itu Syahdan yang tau Devid telah pergi akhirnya melepaskan pelukannya. Airin segera mundur ke belakang menjauh dari Syahdan.


"Tolong jangan berbuat seperti ini lagi mas, jangan sampai rasa hormat ku hilang. Aku pamit. Assalamu'alaikum." Ucap Airin kemudian pergi meninggalkan Syahdan. Dia tidak suka dengan apa yang sudah dilakukan Syahdan. Memeluknya di tengah keramaian orang seperti tadi. Bagaimana kalau ada yang mengenalnya sebagai istri Devid, bisa bisa akan timbul fitnah. Airin segera keluar dari Mall dan langsung menuju parkiran. Dimana tadi Supir menunggunya. Dan kemudian Airin pulang.


Syahdan yang menatap kepergian Airin kembali duduk di kursi. Entah kenapa muncul keinginan jahat dihati nya. Jika dia tak bisa memiliki Airin, maka Devid juga tak boleh mendapatkan Airin. fikirnya.


"Aahhh tidak... Aku tidak sejahat itu. Airin telah lama menderita, aku tak ingin membuatnya terluka lagi." Syahdan mencoba menepis bisikan setan yang datang dihatinya.


Sementara itu Devid melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Hatinya terbakar cemburu dan marah. Kenapa dia mau melanjutkan pernikahan ini kalau dia masih saja menjalin hubungan dengan Syahdan. Devid masih bertanya tanya.


"Apakah ini wajah aslimu Airin.." Ucap Devid lirih. Dia memutuskan untuk kembali ke Rumah Sakit. Meskipun sudah tidak ada lagi jadwal prakteknya. Devid belum ingin kembali pulang ke rumah. Dia belum ingin bertemu dengan Airin.

__ADS_1


Sementara itu di sisi lain cafe dimana tadi Airin dan Syahdan bertemu. Terlihat seorang pria tengah duduk dengan tenangnya menikmati secangkir kopi dan sebatang rokok. Dia tersenyum puas, saat melihat wajah Devid dengan penuh amarah memandang Airin dan Syahdan yang tengah berpelukan.


Tak sengaja tadi dia melihat Airin saat baru sampai. Dia mengikuti Airin, dan tak menyangka kalau Airin akan bertemu dengan Syahdan disana. Tak lama dia melihat Devid juga datang, saat Airin akan pergi. Dia ada ide yang akan membuat ceita semakin menarik. Dengan cepat dia lewat dibelakang Airin kemudian menyenggol Airin. Sehingga Airin kehilangan keseimbangan dan langsung jatuh tepat kedalam pelukan Syahdan. Rencananya pun berhasil, adegan itu langsung disaksikan oleh Devid dari kejauhan. Dan membuat wajah Dokter itu merah padam menahan amarah.


"Kau pikir bisa hidup tenang setelah apa yang kau lakukan Wanita si*lan." Ucap pria itu lirih. Api kebencian tampak dari sorot matanya.


"Akan aku hancurkan kebahagianmu. Kau tak pantas untuk bahagia." Ucapnya lagi...


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Setelah mengerjakan sholat maghrib, Airin lanjut membaca Alqur'an. Syfa seperti mengerti kalau yang dibaca Bunda nya adalah Kitab Suci. Syfa duduk manis disamping Airin mendengarkan bacaan Bundanya. Sambil memeluk boneka kesayangannya.


Tak terasa waktu sholat Isya pun masuk, Airin pun bersegera melaksanakannya. Alhamdulillah wudhu nya belum batal, jadi dia tak perlu meninggalkan Syfa sendirian untuk berwudhu. Selesai menunaikan kewajibannya, Airin merapikan mukenahnya. Dilihatnya Syfa sudah tertidur di karpet. Syukurlah karena Syfa sudah makan tadi sore. Jadi tidak masalah kalau dia tidur cepat malam ini. Airin memindahkan Syfa ke ranjang. Agar gadis kecilnya itu semakin tidur dengan nyaman.

__ADS_1


Tak terasa sudah hampir jam sembilan malam, tapi Devid belum juga pulang. Airin sedikit cemas dan bertanya tanya. Kenapa sampai sekarang suaminya belum juga pulang. Padahal tadi kata Ibu mertuanya Devid sudah sempat pulang sore tadi. Tapi pergi lagi karena ada yang kelupaan. Semoga Devid baik baik saja dan telat pulang memang karena ada pekerjaan yang belum selesai. Bukan karena sesuatu hal yang tak di inginkan. Harap Airin dalam hati.


Tak lama yang ditunggu pun datang, Devid masuk ke kamar mengucapkan salam. Kemudian langsung menuju ke kamar mandi. Dia masih sempat melirik ke arah Airin. Airin tersenyum menjawab salamnya, tapi Devid hanya berwajah datar tanpa ekspresi. Apalagi membalas senyumnya. Airin heran, kenapa Devid bersikap dingin seperti itu.


Setelah Devid masuk kamar mandi, Airin pun menyiapkan baju ganti untuk suaminya. Dia juga menyiapkan air putih minum Devid seperti biasanya. ditaruh diatas meja. setelah beberapa saat lamanya Devid pun keluar dari kamar mandi. Dia memakai pakaian yang telah disiapkan Airin dan meminum air mineral juga. Tapi Devid masih saja bersikap diam. Airin mendekatinya kemudian meraih tangannya dan menciumnya.


"Mas tadi balik ke Rumah Sakit lagi ya tadi, apa ada pasien ?" Tanya Airin.


"Nggak ada, hanya ada keperluan lain saja tadi." Ujar Devid. Kemudian Devid keluar kamar menuju ruang kerjanya. Dia belum siap berhadapan dengan Airin saat ini, karena kejadian sore tadi masih mengganggu hati dan fikirannya. Devid lebih memilih menghindar untuk beberapa waktu. Sampai dia siap untuk meminta penjelasan Airin.


Airin pun merasakan perubahan sikap Devid. Kenapa Devid bersikap dingin dan tak ada tersenyum sedikitpun padanya. Airin mencoba introfeksi diri, apakah ada dari sikap dan perbuatannya yang membuat Devid mendiamkannya seperti tadi. Apakah Devid mengetahui kalau tadi dia bertemu dengan Syahdan. Airin merasa cemas, kalau benar Devid tadi melihatnya bertemu dengan Syahdan.


Airin pun mulai takut, apa yang akan terjadi dengan rumah tangganya. Kalau saja Devid mengetahui dia menemui Syahdan tanpa sepengetahuannya. Akankah Devid marah dan menceraikannya. Airin segera menyusul Devid, tapi baru saja hendak membuka pintu. Airin mengurungkan niatnya. Bagaimana kalau perkiraannya salah. Mungkin saja Devid memang lagi banyak fikiran mengenai Rumah Sakit. Bukankah selain seorang Dokter, Devid juga adalah seorang Presdir. Beban tanggung jawabnya sangat besar.Airin takut kalau nanti dia menceritakan pertemuannya dengan Syahdan, akan menambah fikiran Devid. Airin tidak mau membuat Devid semakin banyak beban. Apalagi pertemuannya dengan Devid tidak ada yang penting. Akhirnya Airin memutuskan untuk tidak jadi memberi tau Devid. Biarlah dia menyimpannya sendiri.

__ADS_1


Airin pun melangkahkan kakinya ke ranjang. Dia akan menunggu Devid dikamar saja. Dia kemudian ikut berbaring disamping Syfa. Ranjang dikamarnya berukuran King Size, meskipun mereka tidur bertiga, ranjang ini masih sangat lapang.


__ADS_2