
Malam sudah larut saat Zoya melangkah masuk ke kamar. Ia membuka pintu dengan pelan dan menatap suaminya yang tengah berbaring dengan posisi memungunginya. Zoya mendesah, memilih menutup pintu kamar dan berjalan menuju ruang perpustakaan pria itu. Memasukan password dan masuk ke sana, duduk pada sofa panjang di sudut ruangan dan hanya terdiam.
Apa ia sudah membuat kesalahan besar pada Ethan?
"Aku, 'kan cuma nanya dan minta pendapat. Bukan ngajak ribut," kesalnya mengingat sikap Ethan padanya tadi siang.
"Siapa, sih yang ngak pengen punya anak? Aku juga mau, tapi kalau Tuhan belum ngasih aku, 'kan gak bisa berbuat apa - apa juga."
"Bukan berarti aku gak mau punya anak dari Ethan." napas wanita itu memburu, ia berusaha menahan amarahnya dengan memejamkan mata dan mengatur napas agar tidak dikendalikan rasa amarah. Lantas ia merebahkan tubuhnya dan memilih tidur di sana daripada harus dipunggungi suaminya jika tidur di kamar.
Sementara ketika tengah malam, Ethan yang terbangun karena menyadari ranjang di sebelahnya kosong lantas bangkit. Ia mengernyit karena tidak mendapati istrinya. Memilih turun dari tempat tudur dan memeriksa kamar mandi. Namun Zoya tidak ada di sana.
Ethan menyusuri lantai bawah bahkan juga ke kamar tamu. Istrinya tidak ada di mana - mana, Ethan mulai cemas barangkali wanita itu marah dan kabur dari rumah karena ia yang terus mendiamkannya.
Pria tampan itu hanya berdiri di undakan tangga dengan kepala yang berpikir keras. Sampai kemudian ia menemukan suatu tempat di mana besar kemungkinan istrinya ada di sana.
Ethan tersenyum lega begitu mendapati sang istri berbaring pada sofa di pojok ruangan. Ethan melangkah mendekat pada tempat Zoya berada, merendahkan tubuhnya dan menatap wajah polos Zoya dalam tidurnya.
"Kamu kesal dan tidak ingin tidur dengan saya?" gumam Ethan seraya mengusap sisi wajah istrinya. Tiba - tiba ia merasa bersalah sudah mendiamkan istrinya selama berjam - jam. Seharusnya ia tidak marah dan memperpanjang masalah. Justru seharusnaya ia merasa bangga dan bahagia karena Zoya sangat menghargai pendapatnya dengan meminta izin lebih dulu dan bertanya. Namun yang ia lakukan justru marah karena terpancing emosi ketika mereka menyinggung perihal anak.
Jujur Ethan memang merasa takut. Takut Zoya benar - benar tidak ingin memiliki anak darinya, mengingat bagaimana cara ia menikahi wanita itu. Sedangkan untuk membuat Zoya jatuh cinta padanya, Ethan membutuhkan waktu yang cukup lama.
**
Zoya mengerjapkan mata, merasa tempat yang ditidurinya mendadak luas. Padahal ia ingat dengan baik jika semalam dirinya tidur di sofa. Tak berapa lama wanita itu membuka mata, menatap punggung basah Ethan yang tengah berdiri sambil merapikan rambutnya dengan handuk putih yang melingkar di pinggang.
"Kamu yang mindahin aku?" tanyanya. Pria yang ia tanyai menoleh.
"Tidak."
"Semalem aku tidur di perpistakaan kamu."
"Sejak semalam kamu tidur di sini." Ethan menyahut acuh. Zoya mencebikan bibir, ia tau Ethan yang memindahkannya. Mustahil jika dirinya pindah sendiri. Berjalan sambil tidur? Impossible.
Zoya meregangkan tubuhnya, perlahan turun dari tempat tidur dan mendekat pada suaminya. Bersandar pada lemari sedangkan Ethan masih merapikan rambut basahnya.
"Kamu masih marah?" tanya Zoya seraya mengetuk - ngetukan kedua jari telunjuknya.
"Marah kenapa?" Ethan balik bertanya dan hendak beranjak, namun dengan cepat Zoya meraih tangan pria itu.
"Aku minta maaf."
"Maaf buat?"
Zoya diam menatap suaminya serba salah. "Kamu gak perlu minta maaf kalau gak tau apa kesalahan kamu."
"Ethan." memilih menubrukan tubuhnya pada dada shirtless suaminya yang basah. Membiarkan rasa dingin menghampiri pipinya.
"Aku minta maaf untuk yang kemaren."
"Aku minta maaf kalau buat kamu tersinggung. Demi Tuhan, aku gak ada maksud buat acuh sama apa yang kamu mau."
"Kapan pun itu, kalau Tuhan udah kasih, aku siap kok punya anak." ocehnya panjang lebar, berharap Ethan mau memaafkan dan tidak lagi mendiamkannya. Hukuman yang sangat menyakitkan bagi Zoya.
Tangan Zoya merambat mendekap tubuh pria itu. Tingkah menggemaskan yang membuat Ethan diam - diam mengukir senyum.
"Aku minta maaf." Zoya berucap sekali lagi. Sedangkan untuk menangkap Ethan ia merasa tidak berani.
Ethan mendorong pelan bahu wanita itu, tapi tangan Zoya terpatri di punggungnya. Hanya wajah wanita itu yang sedikit menjauh.
__ADS_1
"Kamu gak mau maafin?" kesalnya, padahal ia sudah menjatuhkan harga diri di hadapan sang suami.
"Sejak kemarin saya sudah maafin." Ethan menyahut acuh.
"Sejak kemarin? Yang nggak mau ngomong dan nganggep seolah - olah aku gak ada, itu namanya udah di maafin?" kekesalannya kian menjadi, terutama saat sekarang giliran Ethan yang menahan pinggangnya begitu tangan Zoya di punggung pria itu terlepas.
Ethan hanya menaikan alis. Hal yang kerap kali pria itu tunjukan, yaitu raut wajahnya yang suci tanpa sedikit pun noda dosa.
"Kok bisa, sih, aku nikah sama cowok bermasalah kaya kamu."
"Saya bermasalah?"
"Iyalah."
Ethan mengangguk - anggukan kepala, lantas mendaratkan kecupan di kedua pipi Zoya. Beralih pada bibir dan leher. Zoya pasrah, berontak pun percuma, terlebih ini adalah hari libur. Ia tidak memiliki jadwal pemotretan dan Ethan juga tidak akan ke perusahaan. Alasan kuat yang akan pria itu gunakan andai Zoya menolak apa yang dilakukannya.
"Kamu mau mandi pagi dua kali?" tanya Zoya yang segera mendapat anggukan dari pria itu seraya melancarkan aksinya.
"Tidak masalah, dua kali atau tiga kali sekali pun."
Zoya berdecih, baru tangan Ethan tergerak untuk membuka kancing piama wanita itu, pintu yang tiba - tiba saja terbuka menginterupsi keduanya. Naina berdiri dengan wajah panik begitu menyaksikan pemandangan yang tidak seharusnya ia lihat.
Ia segera menundukan pandangan, sedangkan Zoya mendorong pelan tubuh Ethan dan merapikan penampilan.
"Maaf Mbak Zoya, Pak Ethan." sesalnya dengan gugup.
"Ada apa Naina?" tanya Zoya, cukup merasa kikuk juga pada asisten rumah tangganya.
"Euu ..., itu Mbak. Ada tamu,"
"Siapa?"
"Katanya ibunya Pak Ethan."
"Yaudah, nanti saya ke bawah."
"Iya Bu."
Buru - buru Naina membalikan tubuh tanpa mau bersitatap dengan dua orang itu, terutama Ethan tentunya. Begitu menutup pintu kamar, ia segera mengusap dada dengan wajah memerah mengingat tubuh shirtless Ethan dan posisinya dengan Zoya tadi, matanya sudah ternoda. Naina menggerutu, ia sudah berhasil mempermalukan dirinya sendiri.
Sementara itu, Zoya bergegas ke kamar mandi. Ethan yang merasa jika keduanya sudah seharusnya memulai menahan tangan wanita yang akan meninggalkannya itu.
"Ada Bunda. Aku harus buru - buru mandi dan turun ke bawah."
"Cuma sebentar." mohon Ethan dengan ekspresi yang tak mampu membuat Zoya menolak. Ethan tentu tidak akan membiarkan Zoya lolos begitu saja, ia tidak ingin bermain solo.
"Cuma sebentar, okey Baby?"
**
"Pantes aja Ethan protes sama saya saat tau kalau asisten rumah tangganya itu kamu " sahut Freya sembari memperhatikan Naina yang tengah menyiapkan sarapan, juga menunggu anak dan menantunya keluar dari kamar. Freya yakin ada yang sedang terjadi, mengingat raut merah Naina saat gadis itu baru saja kembali dari kamar Ethan dan Zoya.
"Memang kenapa Bu?"
"Kamu madih muda dan cantik." sahut Freya yang membuat gadis muda itu tersipu. Freya tersenyum melihatnya.
"Ethan nggak mau bikin istrinya cemburu." kali ini Freya berkata dengan nada pelan yang Naina tanggapi dengan senyuman. Sampai kemudian Zoya tiba di antara mereka, segera menyapa Freya dan memeluknya dengan hangat. Spontan membuat Naina ikut mengembangkan senyum, namun kilasan singkat apa yang beberapa waktu ia lihat mendadak membuat senyumnya lenyap.
"Apa kabar Bunda?"
__ADS_1
"Baik Sayang. Kamu, bagaimana?"
"Bagaimana honeymoon - nya kamrin?" tanya Freya dengan kerlingan menggoda, membuat wanita itu tersipu malu, memilih untuk menggandeng Freya duduk tanpa niat menjawab apa yang mama mertuanya tanyakan.
"Bunda sengaja ke sini?" tanyanya merubah topik.
"Hmmm, Bunda pengen ketemu kamu. Hari ini gak ada pemotretan, 'kan?"
Zoya menggelengkan kepala. "Bagus."
"Ayah nggak ikut, Bun?"
"Ayah ada janji sama Om Morgan, Om Arvand dan yang lain." sahut Freya, Zoya mengangguk anggukan kepala
"Suami kamu mana?" Freya menatap ke arah tangga, menunggu kedatangan putranya.
"Katanya mau lari Bun."
"Olahraga?"
"Hmm."
"Kerja keras juga Ethan, biar makin prima, tuh, kayaknya." Freya tertawa, bersamaan dengan Ethan yang muncul dengan hoodie dan jogger pants berwarna hitam. Zoya menatapnya dengan tersenyum. He looks so handsome.
"Tumben kamu olahraga." tegur Freya begitu putranya itu mengurai pelukan.
"Karena udah lama nggak olahraga Bun."
"Olahraganya cuma malem doang?"
Zoya mengusap kening. Ayolah, ia pun tidak mengerti alasan kenapa Freya sangat mudah mengatakan hal - hal seperti itu. Ethan menanggapinya dengan tersenyum saja.
"Enggak sarapan dulu?" tanya Freya, Ethan menggeleng setelah menerima sebotol air mineral dari istrinya.
"Sekalian nanti aja."
"Yaudah."
Ethan mengangguk, meraih kening Zoya untuk ia kecup dan berlalu dengan cepat. Sedangkan Naina yang masih merasa malu, terutama pada Ethan hanya memalingkan wajah.
Zoya melambaikan tangan pada suaminya yang sudah menghilang di balik pintu. Freya memperhatikannya.
"Hmm, ini kalian selalu romantis, atau habis bertengkar?" tanya Freya, berhasil membuat Zoya mengernyitkan dahi karena tebakan Freya tidak melesat.
"Kenapa Bunda tanya kaya gitu?"
"Kalian habis bertengkar?" Freya lagi - lagi justru balik bertanya
"Habis berantem Bun, dikit." wanita itu menyahut tidak enak dengan pasrah.
"Pantesan."
"Kenapa Bun?"
"Biasanya kalau abis berantem ya gitu. Lebih perhatian dan romantis. Karena saling merasa bersalah." tutur Freya, membuat Zoya tersenyum penuh arti mendengarnya.
"Kalau gitu mau sering - sering berantem, ah."
TBC
__ADS_1
Holla, kok sepi? Alurnya monoton, yah. Atau karen aku jarang nyapa? Mohon maaf, yah.
Jadi gimana, lanjut nggak, nih?😅