
Ternyata Rahma belum juga pergi, dia kembali menggedor gedor pintu. Sambil menangis dia masih memohon agar Dewi menerima Syahdan sebagai suami Airin.
"Jeng Dewi, saya mohon. Tolong jangan nikahkan Airin dengan orang lain. Syahdan sangat mencintainya. Saya mohon Jeng. Saya akan lakukan apapun agar mereka berdua bisa menikah." Rahma tak henti hentinya memohon. Airmatanya maih bercucuran. Sambil menggedor pintu dia memanggil manggil Airin dan Dewi.
Sementara itu didalam rumah. Ayah Airin mengambil tongkatnya dan berjalan menuju kamarnya. Dia juga tidak tau apa yang haru dilakukan. Menerima Syahdan tidak mungkin karena Lamaran lain sudah diterima. Menolak Syahdan sementara itu dia tau Airin juga mencintai Syahdan. Dia juga tak bisa menyalahkan istrinya sepenuhnya. Mungkn telalu cepat menerima Lamaran itu, tapi semua berawal dari Mami Syahdan yang tak menyukai anaknya jatuh hati pada Airin.
Dikamarnya, Airin pun menangis. Dia pun terluka. Mungkin Mami nya Syahdan sudah menerima kalau dia dan Syahdan saling mencintai. Tapi sayang, tidak akan ada pernikahan diantara mereka. Karena sebentar lagi dia akan menjadi istri orang lain.
"Pergilah Bu Rahma. Tolong mngertilah. Airin akan menikah esok. Tidak akan semudah itu membatalkan semuanya. Pergi... pergi..." Dewi berteriak dari balik pintu. Berharap Rahma segera pergi.
Setelah beberapa waktu, Rahma pun pergi meninggalkan rumah Airin. Meski masih dengan linangan airmata. Dia menjalankan mobilnya pelan. Dia merasa sangat bersalah. Dia sendiri yang telah mematahkan hati anaknya. Anak laki laki satu satunya, kebanggaannya. Selama ini Syahdan selalu menomor satukan dirinya dan Luna. Belum pernah sekalipun Syahdan menjaln hubungan dengan seorang wanita manapun.
Untuk pertama kalinya Syahdan Jatuh cinta. Dan dia yang telah menghancurkan hati anaknya. Karena ke egoisan nya. Hanya karena Airin janda dan punya anak.
"Maafkan Mami nak, maafkan Mami. Semua salah Mami, Mami egois nak. Maafkan Mami." Rahma meratapi kesedihannya. Dia terus terisak meminta maaf. Meskipun tak bersama Syahdan. Keadaan hatinya yang tak teng membuatnya tak focus menyetir. Sehinggaaa... "BRAAAAKKKK.... DDUUUAARR...." Mobil Rahma kehilangan kendali saat dia ingin menghindari mobil yang datang dari depan. Rahma mendadak memutar setir kesamping tapi bukannya ke kiri malah ke kanan. Sehingga mobilnya menghantam pembatas jalan dan ditabrak dari belakang.
Kecelakaan pun tak ter elakan. Lalu lintas pun macet. Syukur segera ada yan membantu. Rahma pun dilarikan kerumah sakit. Kondisinya kritis. Sampai dirumah sakit para petugas langsung membawanya keruang IGD. Dan Rahma pun mendapatkan penanganan langsung.
Tak sengaja, Dokter Devid yang baru sampai di Rumah Sakit dan melihat ada korban kecelakaan. Langsung iku masuk keruang IGD. Dia pun kaget melihat Mami Syahdan yang terluka. Tanpa pikir panjang Devid segera menanganinya dibantu oleh Dokter yang piket.
Kondisi Rahma benar benar kritis. Terjadi pendarahan yang sangat hebat dibagian kepala. Devid dan team yang membantunya sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi kondisi Rahma semakin menurun. Detak jantungnya semakin melemah.
Devid yang melihatnya, langsung segera menghubungi Syahdan. Menurut pengalaman kedokterannya kondisi Rahma hanya tinggal menunggu waktu. Kecuali ada keajaiban dari Allah.
__ADS_1
Syahdan shock mendengar berita yang disampaikan Devid. Dia baru saja sampai di kantor Firma Hukumnya. Syahdan kembali melajukan mobilnya ke arah Rumah Sakit.
Sesampai di Rumah Sakit, Syahdan langsung menuju ruang ICU. Dimana Maminya sekarang berada. Devid baru saja keluar dari ruangan. Dar kejauhan dia melihat Syahdan yang berjalan tergesa gesa setengah berlari. Devid paham bagaimana sekarang suasana hati sahabatnya itu. Apalagi tadi saat memeriksa Rahma. Tak henti hentinya Rahma memanggil nama Syahdan.
"Bagaimana kondisi Mami ku Dev." Tanya Syahdan dengan suara yg ter engah engah karena kepayahan belari.
"Masuklah, Tante Rahma sudah menunggu kamu." Ujar Devid pelan...
"Sabar ya... Apapun yang terjadi ikhlaskan..." Ujar Devid sesaat sebelum Syahdan masuk kedalam ruangan ICU. Syahdan hanya tersenyum pasrah.
Didalam Rahma tergeletak lemah. sebagian besar tubuhnya terbalut perban. Apalagi bagian Kepalanya. Masih tampak darah segar diperban itu. Meskipun matanya terpejam tapi Syahdan bisa mendengarkan suara Maminya yang menyebut nyebut namanya.
"Syahdan,,, syahdan,,,"
"maafkan Mami nak,, maafkan Mami... Semua salah Mami. Maafkan Mami Syahdan.." Suara Rahma terdengar semakin Lemah.
"Mamiiiiiiii....." Teriak Luna terisak.... Luna sangat terkejut melihat kondisi Maminya. Ternyata pagi tadi, tidak ada satupun diantara Syahdan dan Luna yang tau Maminya kemana. Saat sarapan, hanya ART mereka yang bilang kala Mami pergi sebentar.
Luna menangis disamping Maminya. Dia tak kuasa melihatnya, Aroma darah segar bercampur dengan aroma Rumah Sakit. Syahdan tak mampu berkata apapun. Lidahnya seperti terkunci.
"Syahdaaannn..." Panggil Rahma lemah.
"Mami... ini Syahdan. Mami bertahan ya.. Mami harus kuat." Ujar Syahdan.
__ADS_1
"Syahdaan... maafkan Mami nak.." lagi lagi Rahma berucap maaf..
"Ngk ada yang peelu dimaafkan. Mami nggak ada salah apa apa. Mami istirhat ya, bsr Mami cepat sembuh." Kata Syahdan.
"Airin,,, akan menikah,,, maafkan Mami nak. Semua salah Mami." kata Rahma. Syahdan sedikit heran, knapa Maminya menyebut tentang Airin. Apakah Mami nya dari Rumah Airin. Syahdan bertanya tanya dalam hati.
"Syahdan,, Mami titip adikmu yaa... Maafkan Mami yang selalu menyusahkanmu..." Suara Rahma semakin lemah. Hingga akhirnya diam. Untuk selamanya.
"Mamiiiiiiiii..........." Luna menangis histeris. Dia belum siap kehilangan orangtua lagi. Dia menggoyang goyangkan tubuh Maminya. "Bangun Mamiiiii... Jangan pergi dulu.. Jangan sekarang Mamiiiii.. Luna masih butuh Mamiiii..." Teriak Luna histeris.
Sementara Syahdan, tubuhnya smakin lemas. Sehingga dia merosot. terduduk dilantai yang dingin. Meskipun dia tak meangis histeris seperti Luns. Tapi dia merasaka luka yang sangat dalam dihatinya. Sekali lagi, dia kehilangan orang yang sangat disayanginya.
Tak lama Devid pun masuk. Dia mendengar tangisan Luna dari luar. Dan sudah bisa mengira apa yang terjadi. Devid merangkul Syahdan. membawanya kedalam pelukannnya.
"Sabar, ikhlaskan..." Hanya itu yang mampu Devid katakan..
Para perawat menangani Jasad Rahma. mencabut semua alat2 yang tadi di pasang. Jenazah segera dipersiapkan untuk dbawa pulang pihak keluarga.
Setelah semua prosedur beres. Jenazah Rahma dibawa pulang untuk prosesi pemakaman. Devid pun turut serta kerumah Syahdan. Rencananya Sore ini langsung di kuburkan. Sesampai nya di rumah, sudah banyak yang datang menyambut. Banyak keluarga yang hadir ikut mengantarkan kepergian Rahma.
Luna masih saja menangis, meskipun tak sehisteris saat di Rumah Sakit tadi. Terlihat matanya sudah sembab. Anita Bunda Devid juga datang, dikabari Devid. Anita ikut menghibur Luna. Terlihat sekali gadis muda itu sangat terpukul kehilangan Maminya. Sementara Syahdan, meskipun tak ada airmatanya yang jatuh tapi raut wajahnya menampakkan kedukaan.
Semua sudah takdir Ilahi.. Mereka harus kuat menjalani semuanya. Terlebih lagi Syahdan, ada Luna yang berharap perlindungan penuh darinya. Dia harus kuat, dia harus bisa menghapus duka Luna. Jangan sampai adiknya itu menjadi kesepian setelah kepergian Mami.
__ADS_1
Syahdan masih terpaku didepan pusara Maminya. Temat peristirahatan terakhir Mami. Luna sudah kembali kerumah, ditemani mbok Inah. ART yang sudah lama ikut keluarga Syahdan. Sejak Syahdan masih sekolah SD dulu. Mbo inah sudah seperti keluarga sendiri. Dan Luna pun dekat dengannya. Jadi Syahdan sedikit tenang Luna bersamanya.
Hari pun senja, sebentar lagi Adzan Maghrib berkumandang. Syahdan masih terdiam disamping gundukan tanah merah itu. Dan gerimis pun turun, semakin menambah pilunya suasana. Gerimis semakin deras. Barulah Syahdan berdiri berjalan beranjak pergi. Seiring Adzan Maghrib yang terdengar sayup sayup...