Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
EXTRA PART (5)


__ADS_3

Seperti hari-hari biasanya, Ethan dan Arasy pulang dengan dijemput oleh Freya, tapi hari ini sang Bunda dalam keadaan sakit setelah mereka pulang berlibur dari puncak tiga hari lalu.


Dua bulan berlalu dengan cepat, begitu syuting film Freya dan Arasy selesai. Mereka benar-benar berlibur dalam waktu empat hari. Sayangnya, liburan tidak bisa dilakukan ke luar negri karena Arasy dan Ethan memiliki beberapa jadwal syuting dan pemotretan.


"Hari ini kita tidak ada jadwal pemotretan, mari ke taman bermain, Ethan." ajaknya begitu keduanya memasuki mobil.


"Langsung pulang ke rumah saja, Arasy."


"Kita sudah liburan, sudah cukup untuk bersenang-senang." Ethan berusaha untuk menolak.


"Ayolah. Besok jadwal kita padat, kita tidak akan bisa bersenang-senang. Ayah dan Bunda pasti mengizinkan. Kita hanya sebentar," gadis itu bersikukuh seperti biasanya.


"Ayolah."


"Tidak mau!"


"Ethan!"


"Kamu melupakan pesan Bunda? Pulang ke rumah jika sudah pulang sekolah. Mengerti?"


"Kalau begitu aku akan pergi sendiri."


Ethan mengembuskan nafasnya kesal. Aryo yang duduk di balik kemudi hanya tersenyum mendengar perdebatan dua anak di belakangnya. Lantas ia menoleh. "Jadi mau bagaimana, kita akan ke mana?" tanyanya. Ethan yang melipat tangaannya di dada hanya menggerakan kepalanya ke arah Arasy.


"Ikuti saja maunya!" ungkapnya setengah kesal. Arasy menatapnya dengan mata berbinar.


"Ethan, kamu benar-benar kakak terbaik yang pernah ada."


"Terserah!"


Aryo tersenyum dan mengangguk. Ia melajukan mobil menuju tempat yang Arasy minta. Memang sulit menolak anak majikannya yang satu itu. Dia keras kepala, sama seperti Freya. Ah, bahkan lebih dari Freya.


"Padahal sudah bukan anak TK." gerutu Ethan dengan suara pelan. Arasy tampak tidak perduli, ia asik menatap kaca kendela mobil, memperhatikan apa saja yang dilewatinya.


Begitu mobil sampai di sebuah taman bermain, Arasy segera turun. Ethan dengan cepat menyusul, hal pertama yang akan Arasy datangi, pastilah komedi putar, Ethan sudah dapat menebaknya.


"Om Aryo, telpon Bunda jika kami akan datang terlambat. Bilang pada Ayah, Arasy sudah lupa aturan yang sudah Bunda terapkan!" Ethan mengatakannya dengan buru-buru. Ia harus berada di dekat Arasy untuk menjaga sang adik.

__ADS_1


Aryo hanya mengangguk, memperhatikan kemana dua anak majikannya pergi. Setelahnya, ia mememuhi perintah Ethan untuk menelpon Freya dan Agyan. Kemudian, ia akan mengawasi dua anak kembar itu.


"Ethan, ayo kita naik roller coaster."


"No!"


"Rumah Hantu!"


"No!"


Gadis kecil itu memicing, ia sudah bosan dengan komedi putar. Ia ingin mencoba hal baru, dan menaiki komedi putar setelahnya. Ia menatap Ethan di sampingnya. Baginya, Ethan hanyalah patung hidup yang menjalani kehidupannya dengan monoton. Tidak asik.


"Kalau begitu, aku akan pergi membeli tiket sendiri. Tunggu aku di pintu keluar,"


"Hmm."


Arasy pergi membeli tiket. Ethan hanya menunggu sampai gadis itu kembali. Ethan tersenyum, ia tau Arasy tidak akan berani untuk masuk sendiri. Sedangkan jika ia harus ikut, sepertinya tidak bisa.


Arasy tampak beberapa kali menghela nafasnya. Ia mengatupkan tangannya dan memejamkan mata. "Jika tidak berani yasudah. Rumah Hantu diciptakan bukan untuk orang-orang sepertimu." sahut Ethan yang membuat Arasy mendelik padanya.


Kembali Arasy menghela nafas. "Aku akan masuk. Do'akan yang terbaik untukku, tunggu aku di pintu keluar."


"Katakan pada Ayah dam Bunda, aku menyayangi mereka—"


"Kamu hanya akan memasuki arena bermain, jangan berlebihan."


"—Dan aku tidak ingin mempunyai kakak sepertimu." sambungnya setelah Ethan menyela.


"Ya, ya, ya. Terserah!"


Arasy mulai menaiki tangga menuju pintu masuk Rumah Hantu. Langkahnya sangat pelan, ia menoleh ke belakang sebelum melanjutkan langkahnya. "Ethan,"


"Tidak usah jika tidak sanggup." Ethan sedikit berteriak.


"Aku tidak takut, aku tidak sendirian." karena sebelum Arasy, sudah ada beberapa anak yang masuk di sana.


"Aku bohong soal tidak menginginkan kamu untuk menjadi kakakku. Aku tidak bersungguh-sungguh mengatakannya."

__ADS_1


"Aku tau."


"Aku akan masuk. Kamu tunggu saja di pintu keluar,"


Ethan mengangguk, menatap gadis itu yang mulai melangkah masuk. Ada perasaan tidak enak di hati Ethan membiarkannya pergi sendiri. Tidak ada yang dapat menjaga Arasy di dalam sana.


Tapi gadis itu harus mandiri. Hal itulah yang melintas dalam fikiran Ethan dan membuatnya membiarkan Arasy pergi.


Sepuluh menit berlalu, Ethan hanya berdiri di sana tanpa mememuhi perintah Arasy untuk menunggunya di pintu keluar. Tak lama, Aryo datang dan menanyakan keberadaan Arasy.


"Baiklah, kita tunggu Nona Arasy di pintu keluar." ajak Aryo. Ethan mengangguk, ia berjalan mengikuti Aryo untuk menunggu Arasy.


Selama menunggu sang Tuan Putri, Aryo membeli beberapa camilan dan juga minuman. Satu persatu para anak kecil yang tadi memasuki Rumah Hantu tampak keluar dengan ekspresi yang masih ketakutan. Sepertinya Arasy berada di belakang mereka.


Dua puluh menit berlalu, Ethan sudah mulai tidak tenang karena Arasy tak kunjung muncul. Aryo di sampingnya juga mulai panik. Ia mencari penjaga Rumah Hantu dan menyusul ke dalam untuk mencari Arasy. Tapi sayang, gadis kecil itu tidak dapat ditemukan.


Ethan semakin tidak tenang. Ia tidak bisa menjaga Arasy dengan benar. "Bagaimana Om, Arasy ada?" tanya Ethan dengan tidak sabaran saat Aryo keluar dari Rumah Hantu dengan beberapa petugas Taman Bermain. Aryo menggeleng, membuat Ethan semakin cemas dan khawatiar dengan keadaan Arasy.


"Pak, tolong teruskan pencarian!" pinta Aryo pada salah satu petugas di sana.


"Baik Pak. Saya akan mengerahkan semua anak buah saya dan menyisir tempat ini."


Aryo mengangguk, para petugas itu mulai berpencar untuk mencari Arasy di berbagai tempat. Rasanya aneh, jika Arasy menghilang begitu saja saat memasuki Rumah Hantu.


"Ayah dan Bunda sudah tau ini?" tanya Ethan. Ia tidak bisa membayangkana bagaimana ekspresi sang Bunda jika mengetahui Arasy hilang.


Aryo menggeleng. "Jika dalam waktu dua puluh menit Nona Arasy tidak ditemukan, baru kita menghubungi Ayah dan Bunda kamu."


Ethan mengangguk, setuju dengan ide Aryo untuk memberitahukan Agyan dan Freya setelah beberapa saat kemudian. Dengan harapan, Arasy dapat segera mereka temukan.


Ethan kembali duduk dengan diam. Sementara kepalanya dipenuhi suara-suara Arasy yang memintanya agar ikut dengannya. Suara Arasy yaang mengucapkan salam perpisahan padanya, dan seletika membuat perasaannya merasa bersalah.


"Seharusnya aku ikut denganmu, Arasy."


"Aku berjanji, jika kamu dapat ditemukan, aku tidak akan menolak apapun keinginan kamu."


TBC

__ADS_1


__ADS_2