Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Kehilangan jejak Andri


__ADS_3

LUNA


Aku merasakan sakit disekujur badanku. Rasanya seperti habis mengangkut beban yang sangat berat. Remuk redam semua pergelangan sendiku. Aku meringis menahan sakit, saat menggerakan tangan kiriku.


Masih setengah sadar, ku coba membuka mata. Aku tidak lagi dikamarku, ruangan ini serba putih. Ku rasakan tangan kananku seperti ada yang menggenggam. Mataku melihat mas Syahdan tertidur duduk di kursi. Dia tertidur sambil menggemggam tanganku. Aku baru sadar, kalau sekarang berada di rumah sakit. Terlihat dari slang infus yang jarumnya tertancap di tanganku.


Aku mencoba mengingat apa yang telah terjadi. Kenapa aku sampai berada disini. Sakit di peergelangan tangan kiriku semakin terasa saat ku mencoba menggerakannya. Tanganku dibalut perban yang cukup tebal.


Ku pejam kan mataku, mengumpulkan semua memori di ingatanku. Dan aku pun mengingat semuanya, terakhir kali aku masih berada dirumah. Aku tak keluar kamar seharian. Pikiranku benar benar kacau, hatiku sakit teramat sakit. Sehingga aku meluahkan amarah sesak di dada ku dengan membanting dan melemparkan semua apapun benda yang berada dikamarku. Dan sampai akhirnya aku memecahkan kaca cermin yang berada di kamar mandi, dan langsung menyayat pergelangan tanganku dengan pecaha kacanya. Setelah aku mencoba merendam kepalaku didalam bathub agar kehabisan nafas tapi tak berhasil. Setelah menyayat tanganku, ku rasakan sakit teramat sangat. Mungkin aku terlalu dalam menyayatnya. Dan aku pun merebahkan badanku di lantai kamar mandi yang dingin. Sesaat sebelum tak sadarkan diri, aku masih sempat mendengar suara dobrakan pintu dan suara mas Syahdan memanggil namaku.


"Maafkan Luna mas.. Maafkan Luna.." Tangisku pun pecah. Aku tak sanggup bila mas Syahdan tau kalau aku telah menghancurkan harapannya. Aku sekarang sudah tak ingin hidup lagi rasanya. Aku ingin mati saja biar bisa mengurangi sedikit rasa sakit ini.


"Luna,, kamu sudah bangun dek." Mas Syahdan terbangu karena aku berusaha menggerakkan tanganku yang pegel.

__ADS_1


"Maafin Luna mas.." Hanya itu yang mampu ku ucapkan, airmataku pun berderai. Tak kuasa lagi aku menahannya. Aku semakin menambah beban mas Syahdan rasanya.


"Sudahlah, kamu istirahat aja dulu. Jangan befikir macam macam. Atau berniat mau mengakhiri hidupmu lagi. Mas ada buat kamu Luna. Tolong, sebelum kamu melakukan tindakan seperi ini lagi. Ingatlah bagaimana hancurnya mas. Istirahatlah, mas akan menjagamu dek." Ucap mas Syahdan.


FLASHBACK ON


Mungkin karena hatiku masih berduka karena kehilangan Mami. Ditambah lagi dengan keadaan mas Syahdan yang menyedihkan karena ditinggal menikah oleh Airin. Aku merasakan hidupku hampa, aku merasa sendiri di dunia ini.


Kehadiran mas Andri sangat sangat menghiburku. Dia begitu perhatian dan memanjakanku. Setiap har dia selalu siap menemaniku. Mengantarkan aku kemana pun yang aku mau. Aku benar benar merasa sangat tketergantungan padanya. Apalagi perlakuannya yang sangat teramat manis. Aku yang merasa kurang perhatian, menjadi sangat terhibur.


Mas Andri benar benar membuatku hanyut dalam asmara. Bahkan aku yang sering meminta padanya. Kelembutannya seperti candu bagiku. Aku ingin selalu dimanjanya, Aku ingin slalu berada dalam pelukannya, mendengarkan desahannya yang sangat teramat menggodaku. Merasakan setiap hentakan tubuhnya mengukungku dalam pelukannya. Aku benar benar telah lupa diri selama bersamanya.


Sehingga hari itu, aku merasakan lain dengan tubuhku. Aku sering pusing dan mual mual. Awalnya aku fikir hanya masuk angin atau magh ku yang lagi kambuh. Jadi tidak terlalu ku fikirkan. Tapi aku baru ingat kalau bulan ini aku ngk datang bulan. Ketakutanku muncul, bagaimana kalau aku hamil. Karena selama berhubungan dengan mas Andri kami tidak pernah pakai pengaman. Tapi teringat dengan sikap mas Andri kepadaku, aku jadi tenang. Aku yakin mas Andri akan bertanggung jawab kalau benar aku hamil.

__ADS_1


sepulang dari kampus sore itu, aku mampir di apotik untuk beli tespeck. Sesampainya dirumah langsung aku test. Dan ternyata dugaanku benar, aku positif hamil. Meski sebenarnya tetap ada rasa khawatir dengan kehamilan ini. Bagaimana tidak, aku masih kuliah semester terakhir. Bagaimana nanti kuliahku, dan bagaimana caranya aku memberi tau mas Syahdan kalau aku hamil. Apa nanti responnya, aku sudah sangat mengecewakannya. Tap aku mencoba tenang, aku yakin bersama mas Andri kami bisa meyakinkan mas Syahdan. kami berdua pasti bisa melalui smua ini. Akhirnya aku akan menikah, dengan lelaki yang sangat mencintaiku.


Tak sabar rasanya aku untuk mengabari mas Andri. Aku yakin saja kalau nanti mas Andri akan bahagia mendengar berita aku hamil. Aku tengah mengandung anaknya, buah cinta kami. Tapi sudah beberapa kali kuhubungi nomer mas Andri, selalu tidak aktif. Bahkan sudaa puluhan kali aku menghubungi nomer handphonenya. Kemana mas Andri, kenapa hape nya tak aktif. Aku masih belum menaruh rasa curiga apapun.


Sampa hari itu, aku mampir ke apartemennya mas Andri. Sesampainya disana aku tak bertemu mas Andri Bahkan aku tak bisa masuk lagi, karna paswordnya sudah diganti. Saat itu lah ketakutan menghantuiku. Kemana mas Andri, dan kenapa sekarang pasword pintu apartemennya diganti. Lama aku terdiam didepan pintu. Hingga lewat seorang Bapak Bapak yang memberitauku kalau ternyata mas Andri sudah tak tinggal disana lagi. Dan akupun akhirnya tau kalau ini bukan apartemen milik mas Andri seperti apa yang dikatakannya padaky. Dia hanya mengontrak disini. Dan masa sewa nya sudah habis, jadi dia tak lagi tinggal disini.


Akhirnya aku pulang dengan perasaan hancur. Kemana akan kucari mas Andrim Aku tak tau apa apa tentangnya. Sahabatnya, rumahnya, pekerjaannya, bahkan keluarga mas Andri pun tak pernah kutau. Aku hanya mengenal sosok mas Andri saja selama ini. Kebersamaan yang hangat, membuatku lupa tentang hal lain. Kemana kini aku akan mencarinya, sedikitpun tidak ada tempat atau orang yang bisa ku datangi untuk menanyaakan keberadaan mas Andri.


Setelah beberapa hari aku seperti orang gila menyusuri jalanan mencarinya. Setiap tempat yangpernah kami datangi kembali ku kunjungi. Bahkan aku sengaja berlama lama disana hanya untuk menunggu. Siapa tau mas Andri akan muncul disana. Tapi tak pernah bertemu.


Aku benar benar stres, aku tak tau lagi harus bagaimana. Bagaimana kalau krhamilanku semakin membesar. Bagaimana dengan mas Syahdan. Aku sudah menghancurkan kepercayaannya. Penyeselan selalu datang terlambat. Sekrang baru aku sesali kebodohanku. Kenapa aku begitu mudah termakan rayuannya. Selama ini aku paling anti dekat dekat dengan cowo yang sok sok perhatian. Aku terkenal cuek dengan pria yang sok sok romantis. Tapi kenapa setelah Mami meninggal dan mas Syahdan larut dengan lukanya aku menjadi lemah. Dan begitu mudah larut dalam kelembutan yang diberikan mas Andri.


"Aaaarrrrhhhhhhggggggghhhhh....." Aku berteriak sekuat yang aku bisa. Mungkin saja beban ini akan terasa berkurang dan lenyap. Ku hancurkan semuanya, ku pecahkan semua yang ada dikamarku. Apakah aku harus membunuh bayi ini. Aku tidak mau melahirkan tanpa suami. Aku tidak mau menjadi beban mas Syahdan.

__ADS_1


"Mungkin lebih baik aku dan bayi ini sama sama tidak ada lagi didunia ini. Mungkin lebih baik aku menyusul Mami dan Papi saja" Fikiran gila itu menguasai hati dan pikiranku. Dan langsung saja ku ambil pecahan kaca itu dan menyayat tanganku. Sesaat ku rasaan tubuhku ringan.. Hawa dingin menyelimutiku. Sebelum mataku benar benar terpejam ku dengar mas Syahdan memanggil namaku. Dan aku tak ingat apa apa lagi.


__ADS_2