
Ethan pulang ke rumah sekitar pukul enam sore, saat itu Naina tengah menunggunya di teras. Gadis yang semula duduk pada salah satu kursi di teras rumah itu lantas bangkit begitu melihat mobilnya memasuki gerbang dan berhenti di pelataran rumah yang luas.
Hubungannya dengan Naina setelah kejadian beberapa hari yang lalu masihlah sama. Begitu juga perasaannya, bagi Ethan semua tidak akan ada yang berubah, terlebih cintanya yang hanya bisa dimiliki oleh Zoya.
Hanya saja, setelah apa yang Naina katakan saat itu, membuat Ethan lebih memahami dan menghargai perasaan Naina yang sebelumnya seringkali ia abaikan. Ia juga tidak pantas bersikapa kasar dan acuh tak acuh pada gadis itu. Bagaimanapun, Naina adalah orang asing dan Ethan tidak bisa seenaknya.
Sebelum turun dari mobilnya. Ethan lebih dulu mengambil paper bag yang ia taruh di kursi penumpang. Lantas menyerahkannya pada Naina. "Apa ini?" Naina bertanya seraya melihat isi paper bag yang ternyata isinya adalah sebuah dress.
"Gaun untuk acara nanti malam." Ethan menyahut singkat seraya melangkahkan kaki memasuki rumah dan membuka jas yang ia kenakan. Naina mengekor di belakangnya sembari menilik dress tersebut. "Randy yang pilihkan, saya tidak tahu kamu akan suka atau tidak." sambung pria itu yang kemudian menghentikan langkah saat mereka sudah berada di ruang utama rumah.
"Padahal kemarin Mbak Zoya udah beliin banyak banget pakaian buat aku." gadis itu berbicara seolah pada dirinya sendiri seraya menilik dress jenis A line dress berwarna putih tersebut. Kemudian ia mengalihkan perhatiannya dari dress tersebut dan menatap Ethan.
"Untuk acara nanti malam?" Naina mengerutkan kening begitu menyadari apa yang Ethan katakan sebelumnya dibalik alasannya membelikan dress. Pria itu mengangguk. Ia memang sudah berniat untuk mengajak gadis itu pada acara tersebut.
Setidaknya, Naina harus mendampinginya sekali saja dalam sebuah acara agar gadis itu tidak terlalu merasa jika Ethan mengabaikannya.
"Acara serah terima jabata di Zeinn Hotel itu?" tanya Naina lagi begitu mengingat jika beberapa hari ini Ethan sibuk mengurus hal tersebut.
Ethan kembali mengangguk dan membuat Naina keheranan. Bagiaman mungkin Ethan akan menggandengnya dimuka umum. Mempertontonkannya pada khalayak ramai. Naina tentu tidak akan bisa berjalan di samping Ethan sebagaimana Zoya. Apa pendapat orang-orang nanti?
"Mas Ethan jangan ngarang, kamu nggak mungkin ajak aku ke sana, 'kan. Di sana pasti banyak orang. Aku nggak bisa." tolaknya dengan cepat.
Ethan terkekeh sebentar melihat reaksi yang gadis itu berikan. "Saya nggak ngarang, Naina. Saya memang akan ajak kamu ke sana." Ethan menyahut santai.
"Kamu benar, di sana akan ada banyak orang. Tapi kebanyakan kolega keluarga yang sudah pada berumur. Lagipula acaranya juga tidak akan diliput media, jadi kamu nggak perlu khawatir." pria itu menjelaskan dengan detail untuk menenangkan Naina.
"Tapi tetep aja, Mas. Gimana nanti reaksi orang-orang kalau Mas Ethan gandeng wanita lain ke acara resmi seperti itu?"
"Gimana nanti respond orang-orang kalau ngeliat kita berduaan?"
Ethan mengerutkan dahi, nyaris tertawa melihat bagaimana reaksi penuh frustrasi istrinya tersebut. "Kita tidak berdua, ada Randy." Ethan menyahut santai dan membuat gadis itu menciut karena sudah banyak berbicara dan mengkhawatirkan hal hal yang tidak perlu.
Seharusnya ia tahu jika Ethan juga tidak akan melakukan hal ceroboh.
Seharusnya Naina tahu jika pria itu tidak mungkin mengajaknya begitu saja tanpa pertimbangan situasi dan kondisi dengan matang.
"Kamu bisa pura-pura menjadi asisten saya agar orang lain tidak curiga. Bagaimana? Apa tidak masalah?" Ethan meminta pendapat gadis itu. Naina menganggukkan kepalanya dengan senyum mengembang, setuju dengan usulan Ethan.
Etha tersenyum melihat gadis itu. Setidaknya ia juga tidak mungkin meninggalkan Naina sendiri di rumah sementara dirinya akan pulang larut malam.
"Kalau begitu kamu siap-siap, sebentar lagi Randy akan menjemput kita." suruh pria itu kemudian. Naina mengangguk seraya berlalu dari hadapan Ethan.
***
Selang setengah jam setelahnya, Randy datang menjemput saat Naina dengan Ethan juga sudah bersiap dan tengah menunggunya.
"Ayo,"
Naina mengangguk dan bangkit dari duduknya. Ia menoleh ke arah sofa di mana ponsel suaminya tergeletak di sana.
"Hp Mas Ethan." beritahunya. "Oh," Ethan mengambil ponsel dan memasukannya ke saku di balik jasnya. Lantas dua orang itu berjalan menuju pintu keluar.
__ADS_1
Mobil segera berangkat menuju lokasi acara. Bahkan sebelum sampai di tempat acara, dada Naina sudah berdebar-debar mengingat ia akan bertemu dengan orang banyak yang pastinya mereka semua berasal dari kalangan menengah atas. Tangannya bahkan sampai dingin mengingat hal itu.
Ethan di sampingnya hanya tersenyum melihat gadis itu yang tampak terlihat gugup. Sampai begitu mobil tiba di pelataran hotel, Naina dengan Ethan turun dari mobil, sedangkan Randy lebih dulu memarkirkan mobil dan meminta dua orang itu untuk masuk duluan karena acara sudah dimulai.
"Nggak apa-apa kita masuk berdua?" tanya Naina saat keduanya sudah berada di dalam lift. "Randy sebentar lagi menyusul. Kamu nggak perlu khawatir." Ethan menenangkan. Nain hanya mampu tersenyum tipis sembari mengatur napasnya. Ia sudah merasa gugup bahkan sebelum tiba di lokasi acara.
Dan ia benar-benar merasa kian tak karuan ketika kakinya sudah benar-benar sampai di sebuah ballroom hotel yang didekor dengan sedemikian indah. Warna putih menjadi ornamen mewah yang membuat gadis itu terpesona begitu tiba.
Banyaknya para hadirin membuat ia tidak bisa berkutik. Ia juga tidak tahu apa yang harus dilakukannya kecuali hanya diam di tempat dan sesekali tersenyum ketika matanya bersitatap dengan tamu undangan lain.
Ketika Ethan membalas sapaan rekan-rekannya atau bahkan mengobrol perihal pekerjaan, Naina tetap berdiri di belakang pria itu persis asisten seorang Zeinb Ethan.
"Pak Ethan dengan–?" seorang pria paruh baya dengan stelan rapinya mengarahkan pandangan pada Naina. Membuat beberapa di antara mereka juga melakukan hal yang sama karena baru menyadari jika kehadiran Ethan tidak sendiri.
Ada seorang wanita di belakangnya sementara Randy belum kunjung tiba.
Ethan menoleh ke belakangnya dimana Naina tersenyum penuh canggung. "Ohh, dia asisten saya. Saya juga bersama skretaris saya tapi dia masih di bawah." Ethan menyahut dengan tenang.
"Istri Pak Ethan masih sibuk?"
"Saya sering mengikuti kegiatannya di sosial media. Sepertinya film yang dibintanginya yang akan tayang diakhir tahun nanti bakalan amazing banget, yah Pak." istri dari pria paruh baya itu nenimbrung.
Naina bisa melihat jika dia adalah wanita high class diusianya yang sudah tak lagi muda. Penampilannya yang fashionablle dan asksesoris mewah yang dipakainya menunjukan hal itu jika dia adalah kalangan atas yang tak pernah ketinggalan trend.
Termasuk tidak ketinggalan update-an para selebritis tanah air.
Ethan tersenyum dan mengangguk menanggapinya. "Hebat istri Pak Ethan." yang lain memuji.
Sedangkan Naina tak mengerti sama sekali dengan apa yang tengah dibahas. Mereka berbicara tentang bisnis, koneksi. Semua hal yang tak dimengerti olehnya kecuali hanya uang.
"Mas, kayaknya aku harus ke toilet dulu." gadis itu menyentuh lengan Ethan yang tengah menyimak pidato.
"Randy, kamu antar Naina." suruhnya pada sang skretaris karena Naina tidak akan tahu di mana letak toilet. Randy mengangguk dan segera berlalu diikuti Naina di belakangnya. Sementara Ethan tetap di sana.
Naian ingin mencuci tangan, merapikan penampilan, meregangkan otot wajahnya dan bernapas dengan tenang di toilet nanti. Di sana, di khalayak ramai ia bahkan berhati-hati hanya untuk sekedar bernapas, ia tidak mampu leluasa dan hal itu benar-benar membuatnya tak nyaman.
"Pak Randy sampai di sini aja. Tunjukin dimana toiletnya. Saya bisa sendiri." sahut Naina saat ia melangkah cukup jauh dari kerumunan orang-orang.
"Kamu yakin?" tanya Randy. Naina mengangguk penuh keyakinan sehingga Randy tidak ada pilihan lain dan menunjukan arah toilet pada gadis itu.
"Kamu bisa kembali ke tempat acara sendiri?" tanya Randy memastikan saat gadis itu memintanya untuk kembali dan meninggalkan gadis itu sendiri.
"Bisa, Pak Randy tenang aja. Pak Randy bisa langsung kembali." Naina meyakinkan. Randy kemudian mengangguk samar dan kembali ke lokasi acara.
Sementara Naina menuju toilet dan melakukan apa yang sudah diniatkannya. Ia cukup lama menatap pantulan dirinya dalam cermin usai merapikan penampilannya. Ia lantas menghela napas dan menilik baik-baik dirinya.
Apakah ia pantas bersanding dengan Ethan disaat mana ia lebih pantas berdiri di belakang pria itu sebagai asisten. Bukan di samping Ethan sebagai pendamping pria itu.
Ia bahkan tak pantas hanya untuk sekedar berdiri di samping pria itu.
Naina kembali ke tempat acara setelah cukup lama ia berada di toilet. Acara tampak belum usai, Naina melangkah masuk tanpa sengaja ia bertabrakan dengan seorang pria.
__ADS_1
"Maaf, maaf." sahut Naian karena hal tersebut memang salahnya, ia berjalan dengan menunduk dan tdak memerhatikan jalan.
"Tidak papa, saya juga salah. Saya jalan terlalu buru-buru. Saya minta maaf." pria itu juga tak sepenuhnya menyalahkan Naina. Tapi begitu mata keduanya bertemu, Naina sesaat mematung.
Sama halnya dengan pria yang ditabraknya yang juga ikut mematung dan menatapnya penuh heran seolah bertanya-tanya. Naina juga merasa familiar terhadap pria tersebut.
"Pak Rayn?" Naina berusaha mengingat. Pria di hadapannya mengangguk.
"Kamu–" Rayb tidak mengenali Naina namun ia ingat jika mereka pernah beberapa kali bertemu.
"Pah, Papa nggak apa-apa?" seseorang bertanya dari arah belakang dan menggandeng Rayn, disusul satu pria lagi yang ikut menyentuh Rayn guna memastikan jika Rayn tidak kenapa-napa.
Sesaat mata Naina dengan salah satu di antara dua pria yang baru datang itu bersitatap, gadis itu mengukir senyum tipisnya namun Rival justru menepiskan tatapan mereka dengan raut datar saat melihatnya.
"Nggak apa- apa, Mas. Papa baik-baik aja." Rayn menyahuti putra pertamanya. Ia memang pamit pada kedua putranya tersebut untuk ke toilet.
"Oh, yah. Kamu–" Rayn mengingat lagi Naina dan bertanya pada gadis itu.
"Bukannya kamu asisten rumah tangga Zoya dan Ethan?" tanya Rain, ia tersenyum mengingat hal itu jika mereka memang saling mengenal. Rayn ingat jika ia pernah beberapa kali bertemu dengan Nain dalam acara keluarga.
"Iya Pak, benar. Saya asisten rumah tangga Pak Ethan sama Mbak Zoya." Nain menyahut dengan tersenyum.
"Iya, iya. Pantesan saya merasa familiar. Apa kabar?" basa-basinya.
"Baik Pak."
"Kamu kesini dengan siapa?"
"Saya diminta menemani Pak Ethan karena Mbak Zoya sedang di luar kota." Naina menyahut dengan penuturan yang amat hati-hati, takut salah berbicara. Rayn mengangguk-anggukan kepala.
"Kalau begitu silakan menikmati acara, saya ke toilet sebentar." pamit Rayn yang kemudian permisi dan berlalu ke toilet setelah Naina menganggukan kepala.
Tinggalah hanya ada Naina dan Rival di sana, serta Rafa yang malam itu bersedia diajak menghadiri acara.
"Ayo Mas." ia mengajak Rival berlalu bahkan saat pria itu belum menyapa Naina yang tampak heran dengan sikapnya.
Rival sedang belajar untuk mengabaikan gadis itu. Rival sedang menguji dirinya sendiri apakah ia bisa atau tidak melenyapkan Naina dalam hati dan ingatannya.
"Mas," Rafa memanggil ketika pria itu hanya mematung. "Ohh," Rival tersadar dari lamunannya dan mengangguk.
"Mbak, duluan yah." Rafa berpamitan pada Naina. Gadis itu hanya mengangguk samar dan membiarkan Rafa membawa Rival meninggalkannya. Naina memaku di tempatnya dengan perasaan pilu.
Ada apa dengan Rival?
Ada apa dengan sikap tidak bisa pria itu?
Bukankah mereka sudah sepakat untuk menganggap kejadian kemarin seolah tidak pernah terjadi?
Lantas, kenapa pria itu menghindarinya?
TBC
__ADS_1