
"Sayang, aku pulang."
Agyan berjalan masuk ke dalam rumah dengan wajah semringah. Freya muncul dari arah kamar dan menyambut kedatangan suaminya.
Keduanya saling menghampiri dan berpelukan, persis seperti sepasang kekasih yang sudah lama tidak bersua. Agyan menyodorkan setangkai mawar pada Freya, Freya menerimanya dengan senang hati. "Kebiasaan," sahutnya, berjalan ke arah meja ruang tamu dan menyimpan bunga dari Agyan pada vas di sana yang sudah berisi beberapa mawar.
Memang bukan hanya sekali Agyan memberikannya bunga setiap ia pulang kerja.
"Biar kamu seneng," Agyan menyahut sambil duduk di sofa sana, ia menggapai tangan Freya dan menggoyang-goyangkannya.
"Kamu pulang dengan selamat aja aku seneng." Freya tersenyum tulus. Agyan perlahan menarik gadis itu duduk di pangkuannya, Freya sudah mandi dan wangi, berbeda dengan dirinya. Tapi gadis itu tak menolak ketika Agyan menempel padanya terus menerus.
"Tadi pagi ngobrol apa sama Mami?" Agyan bertanya dengan tenang. Sementara Freya justru malah terdiam. Ia menatap Agyan lekat-lekat, apa Agyan marah?
Yang dilakukan Agyan justru menyelipkan rambut Freya ke belakang telinga. Bersabar menunggu jawaban dari istrinya.
"Kalo nggak mau cerita nggak papa." pasrah Agyan setelah Freya tak kunjung bersuara.
"Bukan." Freya mencegat dengan cepat. Agyan kembali menatapnya.
"Kita nggak ngobrolin apa-apa. Cuma—"
"—Mami cuma mastiin keadaan aku aja."
Agyan mengangguk dan tersenyum. Ia tidak tau kenapa Freya begitu sulit untuk menceritakan hal seperti itu. Tapi Agyan percaya dengan apa yang baru saja istrinya sampaikan.
"Gimana kerjaan kamu hari ini?" Freya mengalihkan pembicaraan. Agyan diam sebentar dengan mata yang mentap plafon, ia seolah sedang berfikir.
"Mm, lumayan."
"Lumayan cape?"
"Sedikit."
"Kalau gitu, laper nggak. Aku udah siapin makanan." tawar Freya dengan semringah. Agyan mengangguk, Freya turun dari pangkuan Agyan. Agyan bangkit dan menggandeng Freya ke arah dapur untuk makan.
Ritual makan malam bersama akan berlangsung. Cacing di perut Agyan sudah protes ingin dinafkahi. Freya menyendokan nasi dan beberapa lauk pauk ke dalam piring Agyan.
Agyan melahap makanannya. Sesekali ia menatap istrinya yang begitu cantik. Jika ditanya siapa yang paling beruntung di antara mereka karena saling memiliki, rasanya jawaban Agyan dengan Freya akan berbeda.
Bagi Agyan, ia yang beruntung karena dapat bersama dengan gadis secantik Freya yang sudah berhasil mengambil hati Agyan sepenuhnya sejak pertemuan pertama mereka.
Sedangkan bagi Freya. Ia yang beruntung memiliki Agyan. Seorang pria yang banyak membawa perubahan pada hidupnya semasa remaja. Menyempurnakan sebagian hidup Freya yang begitu hambar. Menghadirkan kebahagiaan untuknya sampai pada hari ini.
Pada dasarnya, keduanya memang sangat beruntung. Tak perduli jika orangtua mereka masih belum setuju sepenuhnya dengan hubungan Agyan dan Freya.
Setidaknya, keduanya cukup yakin. Jika suatu saat, semuanya akan kembali normal.
"Kamu pernah kangen ke Papi Andreas?" tanya Freya. Keduanya sedang duduk di sofa depan tv. Lampu di ruangan itu sengaja di matikan. Freya sedang menonton film romantis. Berlaga seolah keduanya berada di dalam gedung bioskop dan menikmati keromantisan dalam cahaya temaram. Tapi sejak tadi, Freya tak henti terus bicara.
Agyan yang sudah memejamkan mata hanya menggumam tanpa minat pada pertanyaan istrinya. Freya yang merebahkan kepalanya di lengan Agyan yang terlentang lantas mendongak.
Agyan yang merasa diperhatikan mengucek matanya dan menatap Freya. "Ada apa?"
"Aku tanya kamu. Kamu pernah kangen sama Papi kamu?"
"Dia sekarang Papi kamu juga."
__ADS_1
"Iya." Freya menyahut lemah. Agyan diam untuk sesaat, kemudian matanya fokus pada layar tv yang sedari tadi ia abaikan.
"Harusnya kita tetep silaturahmi, Gyan."
"Bukan kita yang nggak mau ketemu Papi, By. Tapi Papi yang nggak bakal mau ketemu aku."
Freya diam, jari tangannya yang sedari tadi menulis acak di dada Agyan terhenti. "Seandinya kamu bukan nikah sama aku—Mungkin semuanya nggak akan kaya gini."
Bagaimanapun, hal ini tidak dapat Freya abaikan begitu saja. Jika kerenggangan antara Andreas dengan Agyan menjadi beban baginya. Freya merasa ialah penyebabnya.
"Hal yang terjadi di hotel, harusnya nggak kita lakuin. Coba aja, kalo misalnya kita nggak ngelakuin hal itu dan—"
"Frey!"
"—Dan aku nggak hamil. Kita nggak perlu nikah!"
"Frey!"
"—Atau seenggaknya kita tunggu waktu yang tepat buat yakinin orangtua kita."
"Atau kamu bisa nikah sama cewek lain!"
"FREYA!"
Freya tertunduk, ia menjauhkan tubuhnya dari Agyan. Sedangkan Agyan mengusap wajahnya, gusar. "Aku cuma ngerasa jadi penyebab kerenggangan hubungan kamu sama Papi Andreas, Gyan."
"Aku ngerasa bersalah."
Agyan menarik gadis itu ke pelukannya. Nafasnya terdengar mulai tenang. Agyan sangat marah jika Freya menyalahkan dirinya sendiri sementara keduanya saling mencintai.
Sekalipun saat itu Freya tidak hamil anaknya, Agyan tetap akan berusaha keras untuk mendapatkan restu dan menikah dengan Freya.
"Kamu nggak salah apa-apa di sini. Dan calon anak kita juga nggak salah apa-apa. Aku nggak suka kamu kaya gini, Frey."
"Gyan—"
"Ini udah jadi jalan buat kita, gak ada yang perlu di sesali. Kita hanya harus memperbaiki, yah."
"Aku nggak mau bayi kita stres gara-gara kamu mikirin hal ini."
Freya mengangguk samar dalam pelukan Agyan. Tidak bisa di pungkiri, jika apa yang ia pikirkan akan memengaruhi kandungannya. Dan Freya tidak ingin terjadi apapun dengan calon anak mereka.
*
*
"Maafin Papi, yah, Gyan."
"Mami tau kamu pasti marah sama Papi. Tapi jangan pernah benci Papi, yah." Grrycia menyentuh lengan Agyan dan mengusapnya.
"Kamu harus tau. Papi juga ngerasa ini gak mudah. Dia juga sering kangen sama kamu."
"Tapi kamu tau sendiri, 'kan, Gyan. Gimana egoisnya Papi, sekali keputusannya seperti itu, maka semuanya nggak akan berubah."
"Mami harap kamu ngerti dan mau maafin Papi."
Agyan hanya mengusap-usap rambut Freya. Gadis itu sudah terlelap sejak setengah jam yang lalu. Sementara Agyan masih terjaga, ia mengingat obrolannya dengan Grrycia saat mereka bertemu di rumah Rayn.
__ADS_1
Apa benar Andreas pernah merindukannya? Tapi Agyan tau Grrycia tidak mungkin berbohong. Dan ia juga mengenal bagaimana papinya sendiri.
Sekalipun acuh tak acuh. Andreas sangat perduli pada Agyan dan mencintai Agyan sebagai putra satu-satunya.
Agyan menghela nafas, ia mencium kening Freya. Kemudian mengambil posisi untuk berbaring di samping Freya. Ia butuh istirahat yang cukup untuk kembali bekerja besok.
*
*
"Ini apa?" Freya menyodorkan sebuah kartu kecil pada Agyan saat suaminya itu sedang sarapan.
Agyan menerima apa yang disodorkan Freya. Ia menatap istrinya yang terlihat kesal. Agyan justru tersenyum.
Freya duduk berhadapan dengan Agyan, matanya menyalang penuh selidik. Ia tidak sengaja menemukan sebuah kartu nama saat memasukan pakaian kotor Agyan ke keranjang cucian.
Freya cukup terkejut saat kartu nama tersebut adalah milik Tari. "Jadi selera kamu sekarang Tante-Tante, Gyan?" sinisnya.
Agyan menggeleng sambil menyendokan nasi gorengnya tanpa terganggu oleh kekesalan Freya.
"Aku ketemu dia kemaren di toko bunga." ia menjelaskan dengan santai.
"Terus?"
"Nawarin aku buat jadi model."
Freya mengernyit. "Kamu mau?"
Agyan menggeleng dengan cepat. "Nggak tertarik!"
"Kenapa?"
"Nggak suka!"
Freya mencebikan bibirnya. "Alesannya?"
"Aku nggak suka Tari Amaliya."
Kali ini Freya berdecih, ia menatap Agyan lamat-lamat. Sedangkan yang di tatap tetap asik melanjutkan ritual sarapannya.
"Jangan ngeliatin, nanti kamu suka sama aku."
"Suka sama suami sendiri emang dosa, yah?"
"Enggak, sih, cuma aku nggak suka."
Freya mengernyit. "Kalo langsung cium, sih, oke." sambungnya dengan senyuman nalal.
"Dasar, nggak bener kamu."
"Biasanya juga kalo di ranjang langsung nyosor!"
"Gyan!" protes Freya sambil mengepalkan tangan. Ia mati kutu, sedangkan Agyan hanya menatapnya dengan gelagat santai. Berbeda dengan Freya yang memilih untuk memalingkan wajah.
Ia tidak ingin menatap Agyan untuk beberapa detik ke depan.
TBC
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like guys:")