Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Lencana Dua Puluh Tahun Silam


__ADS_3

Dua hari setelah kembali ke Jakarta, Zoya dengan Ethan disibukan kembali oleh kegiatan masing-masing. Terutama syuting iklan Zoya yang seharusnya selesai dua hari yang lalu dan terbengkalai harus selesai hari ini juga.


Mereka pulang dari kampung halaman Naina dengan membawa banyak kenangan yang sudah diciptakan. Oh, yah, dan membawa banyak sekali buah naga pemberian Bibi Sri.


"Nanti bilangin di tivi. Ini buah naganya Mang Agus sama Bi Sri. Biar orang-orang kampung bangga gitu, sama bosnya." begitulah kata Bi Sri saat Ethan dengan Zoya berpamitan untuk pulang. Mobil yang membawa Ethan dengan Zoya kembali ke Jakarta diiringi lambayan tangan para penduduk kampung yang sudah menjamu mereka dengan hangat selama tiga hari berada di sana.


**


Sebelumnya, dihari pertama kembali syuting Ethan dengan Zoya di sambut pihak media yang bertanya mengenai liburan kemarin. Ethan adalah orang yang sangat malas di hadapkan dengan media terutama membahas hal-hal yang ia anggap sebagai privasi, namun begitu sang istri menjawab dengan senang hati setiap pertanyaan para wartawan, Ethan merasa senang sendiri. Terutama melihat raut wajah wanita itu yang begitu antusias menceritakan liburan mereka kemarin.


"Saya ada beberapa pertemuan dengan para investor hari ini. Ada rapat juga, mungkin pulangnya akan larut malam." terang Ethan saat ia sedang mengenakan pakaian kantornya. Zoya yang sedang menyisir rambut hanya mengangguk, bukankah ia sudah biasa ditinggalkan karena pekerjaan? Jadi tidak ada masalah sama sekali baginya, bukan sesuatu hal yang baru.


"Hati-hati di rumah."


"Hmm." wanita itu hanya menjawab dengan gumaman. Kemudian beranjak dari duduknya dan meraih dasi dari tangan Ethan, lantas memakaikannya pada sang suami. Ethan tersenyum, melingkarkan tangannya dengan posesif pada pinggang Zoya.


"Berangkat ke lokasi syuting jam berapa?" tanya pria itu saat mendapati sang istri hanya terdiam.


"Jam sepuluh nanti "


"Bawa mobil sendiri?"


"Dijemput Mbak Selin,"


Ethan mengangguk-anggukan kepala. Kemudian mengecup kening Zoya begitu dasinya terpasang dengan sempurna. Waktu masih menunjukan pukul setengah delapan saat itu, Zoya memilih mendaratkan diri di tempat tidur. Meraih ponsel dan melihat kembali foto-fotonya dengan Ethan saat liburan kemarin. Semua tampak menggemaskan.


"Oh, yah, Arasy besok berangkat ke Luar Negri." beritahu Ethan kemudian saat mengingat jika semalam saudara kembarnya itu mengabari, bahwa dirinya akan meninggalkan Indonesia.


"Dia jadi pergi?" tanya Zoya. Beberapa bulan yang lalu pun Arasy memang mengatakan kepada semua orang jika dirinya akan rehat dari dunia entertainment dan menikmati semuanya nanti dengan pergi ke luar negeri, tapi wanita itu tidak mengatakannya dengan detail tempat mana yang akan didatangi dan ditempati.


"Jadi. Kalau Arasy ingin sesuatu, maka keinginannya harus terwujud." sahut Ethan, mengingat jika seperti itulah seorang Zeinn Arasy Maheswary. "Bunda nggak papa ditinggalin sama anak perempuannya?" Zoya tiba-tiba saja mengkhawatirkan mama mertuanya. Bagaimanapun, sekalipun Arasy sudah dewasa, ia belum menikah dan masih tinggal dengan Freya, Freya pasti akan merasa kesepian.


"Tidak apa-apa, Arasy sudah banyak ngobrol dengan Bunda dan Bunda sama Ayah setuju." Ethan diam sesaat, kemudian mengangkat bahu acuh. "Biar bagaimanapun Ayah sama Bunda tahu anaknya, dia tidak bisa dicegah." sambungnya. "Kamu juga!" Zoya menimpalk, membuat Ethan berdecak pelan. Sementara Zoya tersenyum kecil.


"Jadinya gimana, kita ikut nganterin Arasy ke bandara?" tanya Zoya kemudian.


"Kalau kamu mau, ya boleh." Zoya mengangguk tentu saja, Arasy akan lama tinggal di luar negeri, untuk melepas kepergian adik iparnya tentunya Zoya harus mengantarkan ke bandara. Terlebih, di luar status keduanya yang adalah ipar, Zoya dengan Arasy memang cukup dekat sebagai rekan sesama aktris.


Ethan mengangguk, lantas menggandeng Zoya keluar dari kamar untuk sarapan.

__ADS_1


Sementara di lantai bawah, Naina yang sedang menata meja makan tampak sibuk. Ia sudah rapi sejak pagi tadi. Karena selain membereskan rumah tugasnya juga adalah menjadi asisten seorang aktris ternama – Zoya Hardiswara.


Naina menuangkan segelas air pada sebuah gelas yang membuatnya sesaat terdiam, sekalipun tidak ingin tapi tiba-tiba saja kepalanya kembali mengingat apa yang terjadi antara dirinya dengan Rival di dapur, di kampung halamannya tempo hari. Pikiran itu tidak bisa begitu saja Naina lupakan, terlebih lagi itu adalah ciuman pertamanya. Rasanya sampai kapanpun akan terus membekas dalam ingatan. Rasanya tidak mungkin Naina lupakan kecuali ia amnesia.


Gadis itu mendesah pelan kemudian memejamkan matanya dan mengatur napas berulang-ulang. Sampai hari ini, Naina masih tidak mengerti mengapa saat itu ia hanya pasrah saat Rival menciumnya. Mungkin seharusnya ia lari atau bahkan menampar Rival atas apa yang pria itu lakukan.


Bukankah apa yang Rival lakukan adalah sebuah pelecehan? Tapi Naina juga tidak bisa menyalahkan Rival sepenuhnya karena justru ia pun menikmati hal yang pria itu lakukan, sangat Naif sekali.


Naina dengan mudah memberikan hal itu kepada Rival, pria itu sudah melecehkannya padahal ia pula yang menyelamatkannya dari pelecehan yang akan dilakukan Kevin berbulan-bulan lalu. Dan hal yang membuatnya sangat kesal berkali lipat adalah sikap pria itu pada keesokan harinya yang tampak biasa-biasa saja seolah tidak ada yang terjadi di antara mereka.


Naina tidak mengharapkan sesuatu hal yang lebih. Tapi setidaknya, Rival harus meminta maaf karena sudah menciumnya tanpa izin.


"Naina," Naina menoleh saat namanya dipanggil. Rupanya Zoya dengan Ethan sudah berada di meja makan. Ia bahkan tidak menyadarinya, apa tadi dia benar-benar melamun?


Ethan sudah duduk pada salah satu kursi. bahkan Zoya sudah menyendokannya nasi. Jadi berapa menit lamanya Naina melamun? Naina mendesah pelan, tidak bisa terus dibiarkan.


"Kamu ngelamunin apa?" Zoya bertanya sambil cengengesan. Karena sejak ia dengan Ethan turun ke lantai bawah dan menuju dapur, Naina hanya mematung sambil mengelap sendok dengan tisue, lantas membuang tisuenya pada gelas yang berisi penuh air, sama sekali tidak sadar akan kehadirannya dengan Ethan.


"Mm, nggak Mbak." ia mengukir senyum, Zoya hanya menggeleng pelan, lantas menyendokan nasi ke piringnya. "Kamu udah sarapan?" Zoya mengalihkan topik, kasihan jika Naina merasa canggung karena tingkahnya pagi ini. Naina nenggelengkan kepalanya. "Yaudah, kita sarapan bareng-bareng." sahutnya. Naina kembali mengangguk. lantas duduk pada salah satu kursi.


"Nanti Mbak Selin jemput jam sepuluh." beritahunya pada sang asisten. Naina lagi lagi hanya menganggukan kepala. "Oh. yah, Than." Zoya beralih pada sang suami, Ethan menoleh begitu menyendokan nasi ke mulutnya, ia menatap sang istri dengan mulut yang mengunyah pelan.


"Mbak Zoya mau pecat saya? Naina tampak terkejut atas apa yang baru saja Zoya katakan pada suaminya, Zoya tersenyum dan menggelengkan kepala.


"Bukan kayak gitu, maksudnya biar nanti kamu fokus aja jadi asisten saya. urusan rumah biar nanti diurus sama pengurus rumah tangga yang baru." Zoya menerangkan. Naina tampak keberatan.


"Enggak masalah Mbak, saya bisa urus rumah. Saya juga bisa urus keperluan Mbak Zoya saat ada kegiatan syuting. Saya bisa melakukannya."


"Mbak Zoya tidak membutuhkan asisten rumah tangga yang baru."


"Saya nggak tega sama kamu, Naina. Pekerjaan kamu jadi double."


"Kan gajinya juga double, Mbak." gadis itu cengengesan yang membuat Zoya juga terkekeh, sementara Ethan hanya tersenyum.


"Saya nggak masalah Mbak. Lagian kerjaan di rumah juga ringan, cuma itu saja dan pekerjaan di lokasi syuting juga tidak terlalu berat." Naina berkata serius.


"Beneran kamu nggak papa?" Zoya merasa tidak yakin. "Iya Mbak. Waktu saya cukup untuk beristirahat, semua pekerjaannya tidak terlalu memberatkan, enggak masalah. Saya bisa." Naina meyakinkan dengan sepenuh hati.


"Yasdah kalau begitu." akhirnya Zoya hanya bisa pasrah.

__ADS_1


**


Di tempat lain, Arasy tampak sibuk membereskan barang-barang yang akan dibawa ke luar negeri. Tempat yang akan ia singgahi adalah negeri Matador.


Alasannya datang ke sana untuk apa? Arasy akan mencari tahunya sambil menyusuri negara tersebut.


"Ayah sudah urus visanya dari kemarin."


"Barang-barang kamu sudah dikemas semua? Eggak ada yang ketinggalan?" tanya Freya yang ikut membantu wanita itu mempacking barang barangnya. Arasy menggelengkan kepala.


"Udah semua kayaknya, Bunda." sahutnya. Freya mengangguk-anggukan kepala, mengamati putrinya yang entah mengapa memiliki tujuan untuk pergi jauh dalam waktu yang mungkin akan lama.


"Sejujurnya Bunda nggak ngerti kenapa kamu pengen pergi." akhirnya Freya buka suara. Arasy mengukir senyum tipisnya. Ia tahu sang Bunda tidak rela akan kepergiannya. Namun ada satu hal yang harus Arasy cari dan ia harus menemukannya.


Dari tatapan Freya, wanita itu tampak tidak rela melepaskannya memang sangat berat. Arasy pun merasakannya.


Di dalam hidupnya, Arasy memiliki banyak sekali cerita, dan pergi meninggalkan Tanah Airnya adalah salah satu cara untuk dirinya lebih banyak membuat kisah di luar sana.


"Aku bakal baik-baik aja, Bunda. Bunda nggak usah khawatir." Arasy menenangkan.


"Kalau Bunda kangen kamu, gimana?"


Di dalam hidup Freya. Zeinn Ethan Maheswary dan Zeinn Arasy Maheswary adalah satu-satunya harta paling berharga yang ia dengan Agyan punya. Meski pada akhirnya ia tetap sadar, ketika mereka beranjak dewasa maka mereka pun tidak akan selalu tetap bersama-sama. Akan ada masanya bagi mereka memiliki kehidupan masing-masing.


Tapi tetap saja, membiarkan Arasy pergi ..., rasanya ia belum benar-benar siap. Sekalipun selama ini putrinya tersebut sibuj syuting dan tidak 24 jam bersama dengannya, setidaknya ia masih ada di Jakarta, sekalipun di luar kota tetal masih Indonesia.


"Bunda, alat komunikasi sekarang canggih. Bunda kok jadi kolot, gini, sih."


"Aku janji, nanti di sana aku akan sering ngabarin Bunda. Bunda juga bisa datang kapan aja gampang, 'kan." ocehnya. enteng, meski sejujurnya dalam hatinya ia pun merasa berat.


Berbicara melalui sambungan telpon dengan bertemu langsung jelas saja sangatlah berbeda. Jelas saja bertemu langsung jauh lebih baik, mereka bisa bersentuhan secara fisik tidak melalui layar ponsel.


Kali ini Arasy memeluk Bundanya, menenggelamkan wajahnya di dada sang Bunda. orang yang selalu menganggapnya berlian yang dijaga dengan penuh kasih sayang dan kehati-hatian. Di dalam hidupnya, Arasy harus sangat bersyukur memiliki seorang Bunda seperti Freya.


Freya hanya bisa mendesah pasrah, setelahnya pamit pergi keluar meninggalkan Arady di dalam kamarnya sendirian. Setelah beberapa saat ia hanya mematung menatap pantulan dirinya dari dalam cermin pada meja rias, hingga akhirnya ia beranjak menuju jendela balkon kamarnya, membukanya dan menikmati udara pagi Jakarta yang menyapa. Ia akan sangat rindu Tanah Airnya.


Matanya mengedar menatap taman bunga milik Freya di halaman samping, sementara tangannya memegangi sebuah lencana keemasan yang selama kurang lebih 20 tahun ini ia simpan rapi.


Arasy berencana akan menemui pemiliknya, kira-kira di mana pria itu sekarang?

__ADS_1


TBC


__ADS_2