Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Dua Pria Beda Sisi


__ADS_3

Persiapan pernikahan nyaris seratus persen. Pemberitaan mengenai pernikahan Zeinn Ethan Maheswari dengan Zoya Hardiswara tengah menjadi buah bibir orang banyak. Zoya yang beberapa hari ini tinggal di rumah orangtua Selin tak lagi melakukan kegiatan apapun.


Sementara waktu syuting yang sedang dijalaninya harus ditunda karena acara pernikahan. "Bagaimana Zoya, Tante cantik bukan?" Ibunda Selin menentang sebuah kebaya berwarna biru tua pada Zoya.


Ini adalah kali ketiga orang yang sudah dianggapnya sebagai Ibu itu bertanya. Selin yang sedang membereskan meja rias menoleh pada sang mama.


"Mama, sejak awal Zoya udah bilang itu cocok buat Mama, kasian Zoya bosen ditanyain mulu." sahu Selin, melangkah dan menggandeng mamanya untuk keluar dari kamar Zoya.


"Mama udah cantik banget, hmmm."


"Kamu ...," Berjalan pasrah keluar dari kamar Zoya. Sementara Zoya hanya tersenyum di tempatnya. Begitu sang mama benar-benar pergi, Selin menutup pintu dan berjalan ke arah Zoya.


"Gimana perasaan kamu?"


"Deg-degan jadi calon pengantin?"


"Aku masih nggak percaya, Mbak."


Selin meraih tangan Zoya dan menggenggamnya, memberi elusan di sana sementara wanita itu memejamkan mata.


"Oh, yah. Fahry bagaimana?"


"Dia nggak keberatan aku nikah, cuma aku merasa ..., Fahry sayang aku nggak, sih?"


"Kamu ini nanya sama siapa? Mbak nggak tau jawabannya."


Zoya mendesah, menatap plafon kamar berwarna biru cerah sementara pikirannya tak tentu arah. Sedikit-sedikit ia pasrah dan sedikit-sedikit ingin menyerah. Semua terasa sulit baginya.


"Fahry mau ketemuan sama Pak Ethan, tapi aku gak yakin Pak Ethan bakalan mau." ujar Zoya begitu mengingatnya, Selin tampak mempertimbangkan, Zoya sudah bercerita jika dirinya jujur pada Etham bahwasannya sudah memiliki pacar.


"Nanti biar Mbak yang sampaikan ke Pak Ethan," Selin beranjak hendak mengambil ponsel tapi Zoya menghentikan.


"Enggak usah, Mbak. Biar aku aja,"


Selin kembali duduk, Zoya menggulir layar ponselnya. Ragu akan menghubungi Ethan tetapi harus ia lakukan mumpung ada kesempatan.


Menempelkan benda pipih itu ke teling saat sudah terdengar bunyi sambung. Zoya menggigit ujung kukunya berharap-harap cemas. Ragu Ethan akan mau menjawab telpon darinya.


"Hallo,"


Pikiran itu pupus begitu saja saat Ethan mengangkat telpon darinya. Ia mendengar napas tenang orang di ujung sana. Saat terakhir kali keduanya bertemu setelah fitting gaun pengantin, Ethan bilang jika ia akan tinggal di rumah orang tuanya untuk beberapa waktu.


"Pak Ethan sibuk?"


"Iya." menyahut jutek tanpa minat.


Zoya memutar bola mata. Ethan selalu memiliki cara untuk membuatnya merasa kesal dan marah.


"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanyanya tidak ingin berbasa-basi. "Begini Pak, saya ingin bertemu."


Sesaat hanya hening. Zoya merasa ambigu setelah mengatakannya seolah ia ingin bertemu dengan Ethan karena rindu.


"Pak Ethan?" memanggil pria itu untuk memastikan Ethan masih ada di sana.


"Saya masih di sini."


"Bagaimana, kita bisa bertemu?"


"Akan saya kabari nanti."


"Oh, oke."


Panggilan terputus, Zoya menghela napas lega karena Ethan menyetujui keinginannya, setidaknya pria itu mau mempertimbangkan. Selin mengangkat alis bertanya. "Dia mungkin setuju," Zoya memberitahu yang membuat Selin menganggukan kepala.

__ADS_1


Sementara orang yang baru saja selesai berbicara melalui sambungan telpon dengan Zoya menyandarkan punggung ke belakang sambil menyangga dagu dengan ponsel dalam genggamannya.


"Zoya?" tanya Randy yang sejak tadi berada di sana dan mendengar semuanya.


"Iya, dia mengajaku bertemu." entah sadar atau tidak, Ethan tersenyum dan membuat Randy menatapnya heran. Ia sangat mengenal Ethan dan kejadian tadi adalah hal langka.


"Kamu baru saja tersenyum, Than?" tanyanya yang membuat Ethan mengarahkan mata padanya. Ia menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Randy tadi. Setelahnya bersikap acuh seperti biasa, seolah Randy tidak mengerti perasaannya.


Padahal Randy melihat ada percikan api asmara di sana. Ada cinta di mata Ethan.


Pintu ruangan yang terbuka membuat kedua pria di dalam sana menoleh pada pintu masuk. Alexa muncul dengan senyuman dan berjalan ke arah meja Ethan, meletakan cup coffee yang dibawanya dari statbucks.


"Sudah makan siang?" tanyanya pada Ethan, mengabaikan Randy yang ada di antara mereka di sana.


"Aku baru akan makan siang," Ethan menyahut seraya bangkit. Alexa tersenyum bangga dan melangkah ke arah Ethan, mengaitkan tangan pada lengan pria itu.


"Kalau begitu kita makan siang bersama, bagaimana?" tawarnya dengan raut bahagia. Ethan tidak menyahut, ia mengambil cup coffee yang dibawakan Alexa dan berjalan dengan wanita itu keluar dari ruangannya.


Randy menggeleng melihat kepergian dua orang itu, tak lama ia juga melangkah untuk menyusul dan ikut makan siang.


"Arasy masih sibuk?"


"Sepertinya begitu."


"Om Agyan tidak kembali tertarik ke dunia akting?"


"Sepertinya tidak!"


Alexa menoleh pada pria yang ia peluk tangannya. Bibirnya mengerucut mendengar jawaban singkat Ethan sejak tadi. Ia tau Ethan adalah orang yang sangat irit berbicara, tapi setidaknya Ethan harus cerewet padanya mengingat mereka sudah akrab sejak lama.


"Berhenti menggandeng tanganku, aku tidak mau ada isu macam-macam jika sampai ada media di sini."


Tak perlu diperintah dua kali, Alexa dengan pasrah melepas pelukannya pada tangan Ethan. Ia hanya berjalan di samping pria itu dan mengambil tempat pada meja yang jauh dari siapa pun setelah mengambil makanan.


Alexa duduk dengan wajah ditekuk. "Aku mendapat tawaran syuting lagi," mencoba membuka percakapan.


"Mungkin, aku mau sama kamu."


"Selamat kalau begitu."


"Aku mau sama kamu!" Alexa mengulang kalimatnya barangkali Ethan tidak mendengar apa yang tadi ia katakan.


"Kamu dipilih tanpa casting?"


"Aku tidak ingin membahas itu. Aku ingin membahas kita!"


"Tidak ada kita, Lexa. Aku akan segera menikah,"


Lagi. Alexa mengerucutkam bibir, menatap makanan Ethan. "Kamu tidak makan?" Ethan bertanya setelah selesai mengunyah.


"Aku tidak lapar, selera makanku hilang!" Bangkit dengan wajah kesal. Lantas berjalan meninggalkan Ethan dengan kaki yang dihentak-hentakkan ke lantai.


Ethan menatap kepergian wanita itu dengan tatapan datar. Alexa sudah ia anggap seperti adiknya sendiri, sehingga tidak ada perasaan apapun untuk wanita itu sekali pun berulang kali Alexa mengungkapkan perasaannya pada Ethan.


**


Zoya sedikit terburu-buru memasuki sebuah restoran tempat ia dan Ethan akan bertemu. Pria itu menghubunginya dengan tiba-tiba dan membuat Zoya harus ekstra cepat.


Fahry mengikuti di belakang sambil berjaga-jaga, antisipasi jika saja Zoya terpeleset atau jatuh karena langkah cepatnya dengan sepatu hak tinggi yang ia kenakan.


Zoya menghela napas lega saat mendapati Ethan berada pada salah satu meja dengan posisi memunggunginya. Zoya baru sadar, jika hanya ada mereka di sana, entah suatu kebetulan atau mungkin Ethan sudah mengaturnya.


"Pak Ethan,"

__ADS_1


Ethan yang memang menunggu kedatangan Zoya mengukir senyum. Ia lantas menoleh, senyum tipisnya memudar saat mendapati seseorang di belakang Zoya.


"Aku sudah bilang jangan berlari," Fahry merapikan rambut Zoya yang sedikit berantakan. Zoya hanya tersenyum, memamerkan deretan giginya yang putih pada sang kekasih.


"Zoya silakan duduk."


Zoya mengangguk, menggandeng Fahry dan membawa pria itu duduk di sampingnya. Membuat Ethan tampak konyol duduk di hadapan dua orang itu.


"Pak Ethan sudah lama menunggu?"


"Hmm."


"Oh, maaf. Jalanan sedikit macet tadi,"


"Tidak masalah!" Ethan memilih untuk tidak perduli. Membuat Zoya mencebikan bibir tatkala mendapat perlakuan jutek dari Ethan. Fahry di sampingnya tersenyum, di bawah sana tangannya meraih tangan Zoya dan menggenggamnya. Membuat wanita itu menoleh dan tersenyum, interaksi keduanya tak luput dari pandangan Ethan.


"Apa alasan kamu ingin bertemu?" tanya Ethan setelah mereka memesan makan dan menunggu hidangan.


"Oh," Zoya baru mengingatnya.


"Saya mau ngenalin Fahry ke Pak Ethan."


Fahry tersenyum ramah, sementara Ethan tampak tidak bereaksi. Zoya yang melihat hal itu melakukan penilaian dalam hatinya. Dua pria yang sedang berada dengannya benar-benar memiliki sikap yang sangat bertolak belakang.


Fahry yang tampan, hangat dan ramah.


Ethan yang tampan, dingin dan misterius.


"Fahry, ini Pak Ethan," sambung Zoya.


"Senang bertemu anda, Pak." Fahry berbasa-basi, sedangkan Ethan masih berekspresi sama.


"Saya Ethan, calon suami Zoya."


Mendadak Zoya merasa suasana menjadi canggung. Ia tidak tau jika Ethan akan berkata seperti itu dan membuat Zoya tidak enak hati pada Fahry. Memang bagaimana perasaan pria itu saat mendengarnya sekali pun Fahry sudah mengetahui semuanya?


"Saya tau, Zoya sudah mengatakannya."


Ethan mengangguk tanpa minat. Beruntung pria itu adalah Fahry, jika bukan, sejak awal Zoya tidak dapat memprediksi apa yang akan terjadi.


Beberapa pelayan yang menghidangkan pesanan menetralisir kecanggungan yang tercipta di meja mereka.


Selama menikmati makan malam, diam-diam Ethan merasa kesal pada Zoya. Awalnya ia mengira hanya akan ada mereka berdua, itulah sebabnya Ethan sengaja membooking restoran untuk mereka. Nyatanya wanita itu datang dengan kekasihnya.


Begitu makan malam usai, ketiganya keluar dari restoran. Fahry dengan Zoya melangkah lebih dulu. Sementara Ethan masih berbicara dengan manajer restoran.


"Zoya, sepertinya aku tidak bisa ikut pulang. Aku masih ada beberapa urusan," Fahry mengurai gandengannya di pinggang Zoya. Zoya menatapnya penuh tanya. Tapi tak lama, ia hanya mengangguk pasrah.


Fahry tidak lahir dari keluarga serba ada. Dia juga bukan orang yang memiliki jabatan tinggi di usia muda. Dia hanyalah karyawan biasa di perusahaan swasta, mungkin itu sebabnya Fahry membiarkan Zoya menikah dengan orang lain. Terutama setelah mengetahui latar belakang calon suami Zoya yang adalah cucu dari dua pemilik perusahaan besar dan menjabat sebagai CEO di agensi sang ayah.


Kesederhanaan dan sikap lemah lembut Fahry-lah yang membuat Zoya jatuh cinta. Meski tingkah Fahry yang selalu hilang secara tiba-tiba membuatnya seeingkali merasa kesal.


"Kamu nggak papa pulang sendiri?"


Zoya menggelengkan kepala. "Aku duluan," pamit Fahry.


Zoya mengangguk, Fahry tak kunjung beranjak dari hadapannya, justru pria itu menatapnya lekat. "Setelah kamu menikah, kita mungkin akan jarang ketemu."


"Aku pasti akan merindukanmu."


Tangan Fahry mengelus sisi wajah Zoya, tatapannya memusat lekat pada wajah cantik wanita itu. Tidak tahan, Fahry akhirnya mendaratkan bibirnya begitu memastikan tidak ada orang yang melihat mereka.


Zoya memejamkan mata, menikmati pagutan lembut Fahry di bibirnya. Fahry benar, nanti mereka akan saling merindukan. Sementara Ethan yang masih berada di dalam restoran dengan dinding kaca, ia hanya menatap apa yang tertangkap oleh matanya

__ADS_1


Ethan melihat hal itu, ia melihat semuanya.


TBC


__ADS_2