
Zoya menutup wajahnya sendiri. Setelahnya menatap pantulan dirinya di cermin. Beruntung, saat Zoya tidak bisa menolak atau menghentikan apa yang Ethan lakukan, pria itu mendapat panggilan telpon dan mengakhiri apa yang dilakukannya.
Tidak ada yang bisa Zoya perbuat saat itu, ia hanya menunduk dan tidak berani menatap Ethan yang merijek panggilan. Tapi pria itu masih mengotak atik ponsel, Zoya yakin Ethan menerima pesan atau pria itu sendiri yang sedang mengirimkan pesan.
"Saya harus pergi keluar." sahut Ethan, memasukan ponsel pada saku celana. Pria itu tdak terlihat canggung sedikit pun atas apa yang terjadi beberapa detik lalu di antara mereka.
"Keluar aja, aku udah bilang kalau mau pulang nggak papa." Sahut Zoya, mengedarkan pandangannya ke sembarang arah, kemana saja asal tidak pada Ethan.
Ethan tersenyum. "Saya duluan," pamitnya. melenggang begitu saja meninggalkan Zoya yang mati kutu di tempatnya.
"Kenapa dia bisa sesantai itu, sih?" Zoya tidak mengerti, berbicara pada diri sendiri melalui pantulan cermin. Tidak habis pikir dengan apa yang Ethan lakukan, meski dalam hati Zoya sepenuhnya sadar jika dirinyalah yang mengawali semuanya.
Zoya mengguyur rambutnya ke belakang, menggelengkan kepala demi mengusir apa yang terjadi antara ia dan Ethan yang saat ini terus berputar di kepalanya.
**
Ethan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, maserati granturismo hitam itu menyapu jalanan Ibu Kota.
Bibir pria tampan itu membentuk senyum tipis. Tak lama ia terkekeh pelan sambil memalingkan wajah, rasanya tak karuan mengingat apa yang terjadi antara ia dengan Zoya tadi.
"Seharusnya aku tidak melakukannya." ucap Ethan pelan. Tak lama, mobilnya berhenti pada sebuah restoran, Ethan turun dari mobil dan berjalan ke arah pintu masuk. Matanya mengedar sampai seseorang melambaikan tangan padanya, Ethan melangkah ke sana dan duduk berhadapan dengan orang tersebut.
"Apa yang kamu temukan?"
Randy merogoh sesuatu dari saku celananya, menaruhnya ke atas meja. Ethan melihatnya, kemudian menatap pria dengan kaos berwarna abu dan jaket kulit berwarna hitam tersebut.
"Kamu perlu melihatnya secara langsung atau langsung saja percaya dengan apa yang aku bilang?"
"Panggil Arasy kemari!"
"Than, restoran lagi rame. Seratus persen Arasy gak akan mau dateng, apalagi dia baru nyelesein syuting terakhirnya di puncak."
Ethan bangkit dari duduk setelah mengambil sebuah USB yang tadi diletakan oleh Randy di atas meja. "Suruh dia datang ke hotel!" Beranjak begitu saja sebelum menunggu persetujuan Randy, membuat pria yang sedang menggigit makanan itu membulatkan mata. Mengikuti arah kepergian Ethan menuju pintu keluar.
"Ethan nggak tau, yah, kalau hari ini gue lagi libur?" kesalnya, menggigit makanan dengan kasar setengah kesal pada atasannya tersebut. Tapi beberapa detik selanjutnya ia memanggil pelayan dan membayar makanannya, setelah itu beranjak untuk menjemput Arasy dan membawanya ke hotel sesuai dengan perintah Ethan.
Sementara itu, Ethan yang sudah berada di president suitenya hanya menautkan jari jemarinya melihat layar laptop, menyaksikan hasil rekaman cctv hotel tempat berlangsungnya acara pesta ulang tahun perusahaan.
Ethan mendesah, kemudian menghela napas pelan. "Arasy!" geramnya dengan kesal.
**
"Ke hotel Ethan? Ngapain?" tanya Arasy dengan malas, duduk di sofa mengabaikan Randy yang memohon sejak tadi.
"Ethan nggak ada ngehubungin apapun," bermain ponsel dan bersikap tidak perduli pada Randy. Agyan yang muncul dari arah kamarnya mengernyit melihat kedatangan skretaris putranya. Randy beranjak dan menyalami Ethan.
"Ada apa ini?" tanyanya, Arasy tak mengidahkan. Fokus melihat hasil pemotretannya beberapa waktu lalu yang belum sempat ia periksa saat sudah dikirimi photorgafer.
"Ethan meminta saya menjemput Arasy, Om."
Jawaban Randy membuat Agyan menoleh pada putrinya. Freya yang duduk di samping Arasy hanya mengangkat bahu, tidak mengerti dengan tingkah Arasy yang abai sejak tadi.
"Tadi Randy sudah beberapa kali bujuk tapi anak kamu nggak mau nurutin kakaknya." adu Freya agar Arasy sadar setelah Agyan menegurnya nanti.
"Arasy?"
"Ayah, kalau ada sesuatu hal yang penting seharusnya Ethan yang datang ke sini, bukan malah harus Arasy yang nyamperin." sahut Arasy sebelum Agyan berbicara panjang lebar.
"Zeinn Arasy Maheswsri." Agyan memanggil nama lengkap putrinya. Dengan begitu Arasy akan menurut karena sang ayah sedang serius.
Arasy mendesah, meletakan ponsel di atas meja kemudian beranjak dari duduknya dan membuat Randy tersenyum, Arasy memicing menatapnya penuh ancaman. "Minggir!" Randy menyingkir, Arasy tengah berlalu ke arah kamarnya untuk mengganti baju.
"Randy, silakan duduk." sahut Agyan yang membuat Randy mengangguk dan tersadar, mengalihkan tatapannya dari arah kamar Arasy.
Pria itu kemudian duduk begitu mengingat apa yang tadi Agyan perintahkan. Ia duduk dengan sopan di sana. "Bagaimanaa Ethan?" tanya Agyan. membuat Randy menatapnya tidak mengerti karena Agyan tidak bertanya secara jelas.
"Bagaimana hubungannya dengan Zoya, apa mereka baik-baik saja?"
Randy tersenyum kikuk. Ia jarang memperhatikannya, tapi jika melihat sekilas, mereka tampak baik-baik saja. Seperti tidak pernah ada sesuatu hal yang diributkan.
"Semuanya baik-baik aja, Om. Kelihatannya baik Ethan maupun Zoya, mereka kompak."
ucap Randy dengan yakin. Agyan mengangguk-anggukan kepala. Sampai tak lama Arasy datang dan bersiap untuk pergi. Keduanya berpamit dan segera berangkat menuju hotel tempat Ethan sedang menunggu Arasy di sana.
Sesampainya di hotel, Arasy bergegas menuju kamar jenis president suite yang ditinggali Ethan sebelum sekarang pindah ke rumah baru. Randy mengikuti di belakang Arasy sampai mereka tiba di kamar Ethan tepat di lantai 18.
Arasy langsung menghempaskan tubuhnya pada sofa begitu sudah masuk kamar sang kakak, melepas blazer yang ia kenakan kemudian beranjak untuk mengambil minuman, Ethan hanya memperhatikan, menunggu waktu yang tepat untuk berbicara. Sampai Arasy duduk di tepi tempat tidur, berhadapan dengan Ethan yang duduk di meja kerjanya.
"Ada apa?" Arasy sudah gatal ingin bertanya.
Tak bicara, Ethan hanya membalikan monitor laptop pada Arasy. wanita itu hanya melihat sekilas dan mengalihkan pandangannya ke arah lain, tau apa yang sedang Ethan coba tunjukan padanya.
"Arasy, apa yang coba kamu lakukan?" tanya Ethan.
"Shh, kamu nanya Than?" Arasy balik bertanya.
__ADS_1
"Aku, tuh, lagi bantu kamu!"
"Dengan cara kaya gini?" Ethan bertanya dengan nada santai.
"Apa salahnya kalau itu bisa bikin kamu sama Zoya sama-sama?" tanya Arasy, sedangkan Ethan tak menyahut.
"Aku tau kamu suka dia sejak lama,"
"Apa kamu pikir selamanya aku bakal diem aja ngeliat kamu yang sama sekali nggak ada pergerakan?"
Sampai dititik ini pun Ethan hanya diam mendengarkan ocehan Arasy yang sekarang bangkit dan mendekat pada Ethan, berdiri si samping meja.
"Kamu udah suka Zoya sejak kita kelas satu SMA. Dan sampai hari ini, kalau aku nggak jebak kalian, kamu masih cuma merhatiin dia doang, 'kan?"
"Dan saat tau dia udah punya pacar, kamu akan mundur!"
Ethan diam, diam-diam juga membenarkan apa yang Arasy katakan.
Arasy mendesah. "Dasar payah! Padahal kalian deket, deket banget malahan. Kamu tau kenapa Zoya tiba-tiba pindah agensi?"
Ethan menggelengkan kepalanya. "Karena Tuhan tau rencana terbaik buat kalian bisa bersama-sama." Arasy menyahut dengan yakin. Sedangkan Ethan masih membeku. Kemudian ia berbicara. "Tapi seharusnya nggak gitu caranya!"
"Enggak ada cara lain!"
"Kamu udah hancurin citra yang dibangun Zoya susah payah!"
"Pada akhirnya citra Zoya juga pulih berkat klarifikasi kamu, 'kan?"
Arasy mendesah, sedangkan Ethan menghela napas.
"Gimana kalau seandainya kamu ngelakuin kesalahan dan Zoya terjebak bukan sama aku?"
"Enggak ada seandainya Ethan. Kenyataannya sekarang kalian bersama dan Zoya jadi milik kamu!"
Setelahnya Ethan diam. Arasy juga diam dengan napas yang sedikit berantakan karena ulah Ethan yang memancing emosinya.
"Sebagai sodara yang sayang banget sama kamu. Menurutku aku udah ngelakuin yang terbaik, aku ikut seneng kamu sama Zoya."
"Kalian pasangan yang serasi," Arasy berkata serius dengan senyum indah yang terbit di bibirnya. "Cepet-cepet ngasih aku ponakan, yah!" imbuhnya. Kali ini Arasy jahil mode on.
"Ngomong-ngomong, kamu udah bobol Zoya, 'kan, Than?" tanya Arasy tanpa filter, sempat terkejut mengingat barangkali Ethan akan menahan diri.
"Jangan bilang kalian belum ngelakuin apa-apa?" Arasy terlihat risih. Sedangkan Ethan terdiam, satu sudut bibirnya terangkat menciptakan sebuah senyuman begitu mengingat jika ia sudah berhasil menyerang Zoya dalam tahap pertama.
"Sudah!" Ethan menyahut, seketika membuat Arasy berbinar.
Sekarang Randy tau alasan kenapa awalnya Ethan enggan menyelidiki siapa orang yang sudah menjebaknya dengan Zoya, karena bagaiamanapun Ethan sama sekali tidak dirugikan karena kejadian tersebut.
Satu hal lagi, Randy kini tau alasan kenapa Ethan memilih menikahi Zoya, karena ia sudah memikirkan masa depannya dengan matang, dan Zoya, masuk dalam rencana masa depan Ethan.
Sementara Arasy keluar dari kamar hotel Ethan dengan senyum yang memperlihatkan aura kecantikannya. Kepalanya mengingat apa yang saat itu terjadi saat pesta ulang tahun perusahaan berlangsung.
Semua aktris yang bernaung di agensi AE RCH juga para staf dan jajaran penting perusahaan tengah menkjmati pesta, sedangkan Arasy sibuk mencari waktu yang tepat untuk menjalankan misinya. Ia sudah merencanakan hal ini jauh sebelum pesta perusahaan digelar.
Arasy dengan anggun duduk di kursi di samping Ethan, matanya mengedar mencari keberadaan Zoya sampai ia menemukan wanita itu yang tengah duduk bersama dengan manajernya sambil menikmati minumannya.
"Than,"
Ethan menoleh bertanya dengan gestur tubuhnya. "Mau beer?" Arasy mengutuki dirinya sendiri. Kenapa ia harus bertanya setelah tau dengan baik saudaranya itu tidak menyentuh minuman beralkohol?
Ethan tak menyahut, memilih tidak memperdulikan sang adik. "Kalau gitu biar aku ambil yang lain." Arasy beranjak menuju meja minuman, ia mengambil salah satu gelas, tapi sebelumnya ia membuka kepalan tangannya, sebuah kertas terlipat berisi obat bubuk untuk menghilangkan kesadaran Ethan.
Setelah memastikan keadaan aman, Arasy memasukannya. Ia berjalan anggun kembali pada Ethan dan menyerahkan minuman.
"Cheers, untuk pencapaian yang kamu buat selama menjalankan perusahaan."
Terdengar bunyi tring saat Ethan dan Arasy membenturkan gelas, dalam sekali tegukan minuman berwarna merah itu habis. Arasy mengambil ponsel, mengirimkan pesan pada salah satu orang dari redaksi yang ia kenal selalu menuliskan artikel-artikel yang mampu menarik khalayak ramai.
From Arasy
Ingin dapat berita bagus? Datang ke Maheswari Hotel lantai 18.
"Than?" Arasy memanggil, sedangkan Ethan tampak terlihat sudah pusing.
Sedangkan di sudut lain.
"Zoy." Selin menyodorkan segelas mimuman lagi pada Zoya. "Mbak, kalau aku sampe mabuk nanti gimana?"
"Enggak akan, 'kan cuma sedikit."
Ini adalah gelas ketiga yang Zoya minum, tubuhnya tidak kuat minum banyak, karena hanya dengan dua gelas alkohol ia akan perlahan mabuk.
Selin memperhatikan, Zoya tampak sudah mulai kehilangan kesadaran diri. Membuatnya beranjak sebentar untuk memastikan sesuatu hal. Dan kepergian Selin tentunya dimanfaatkan dengan baik oleh Arasy yang memang menargetkan Zoya.
"Zoya, hey." menepuk lengan Zoya.
__ADS_1
"Aku mau minta tolong,"
Zoya menggelengkan kepalanya yang terasa pusing, namun kesadarannya masih sedikit tersisa. Ia tidak dapat melihat orang yang meminta tolong padanya. Sedangkan orang lain sibuk dengan urusannya masing-masing.
"Kamu lihat, dia boss kita." menunjuk pada meja di mana Ethan berada. "Dia butuh bantuan. Antarkan dia ke kamarnya, di lantai 18. Oke?"
Zoya mengangguk, meraih tasnya dan berjalan ke arah Ethan, Arasy tampak memperhatikan dua orang itu. Zoya yang setengah mabuk dan Ethan yang tidak berdaya karena pusing di kepalanya. Zoya tampak memapah Ethan dengan susah payah.
Setelah dua orang itu berlalu, seseorang menghampiri Arasy. "Mbak Arasy yang tadi mengirimkan pesan pada saya?" tanyanya dengan sebuah handycam yang dibawanya.
"Iya, kamu ke lantai 18 sekarang, jangan sia-siakan kesempatan ini. Ini akan jadi berita bagus,"
"Oke, baik Mbak. Terimakasih," segera bergegas ke arah yang ditunjuk Arasy.
"Meski akan sedikit merusak citra perusahaan." sambung Arasy. Ia terlonjak kaget saat tiba-tiba saja ada yang menepuk bahunya.
"Astaga Momy!" mengelus dada saat mendapati jika Rachel adalah pelakunya.
"Apa yang sedang kamu lakukan?" Rachel sudah mengamati gerak-gerik anak itu sejak tadi.
"Kamu menjebak Ethan dan aktris Momy?"
"Mom, Momy dengerin aku. Zoya Hardiswara, dia wanita yang Ethan suka sejak lama. Ini cara satu-satunya agar mereka bersama."
"Please, Momy jangan marah dan gagalin rencana aku."
Arasy memohon, Rachel tampak mempertimbangkan. Ia ingat jika Ethan pernah mengatakan padanya ada wanita yang disukainya sejak dirinya duduk di bangku SMA. Sekarang Rachel tau siapa orangnya. Zoya Hardiswara, ternyata dia.
"Terus bagaimana nanti keadaan perusahaan Momy?" Rachel melipat tangannya di dada. Arasy tersenyum kecut, ia pun sedang mempertimbangkannya.
"Akan sedikit kacau, tapi hanya sedikit Mom."
"Aku yakin Ethan akan membereskannya dengan baik."
Rachel menggeleng pelan, ia sudah hapal. Setiap Arasy membuat masalah, memang selalu Ethan yang akan menyelesaikannya.
"Yah, Mom."
Rachel akhirnya mengangguk, membuat Arasy kegirangan dan memberi pelukan pada ibu angkatnya tersebut.
Sementara itu, Selin yang baru saja kembali tampak kebingungan begitu tidak mendapati Zoya di tempatnya. Selin mengedarkan pandangan, mencari-cari keberadaan Zoya. Saat tidak menemukan wanita itu ia lantas menghubungi Fahry.
"Fah, Zoya enggak ada. Kemungkinan rencana kita gagal."
**
Keesokan paginya, Arasy keluar dari kamar dengan raut bahagia, bagaimana tidak, rencana yang sudah dibuatnya dalam jangka waktu yang tidak sebentar itu sudah mencapai titik keberhasilan.
Arasy baru saja melihat artikel mengenai Ethan dengan Zoya, dan itu sudah meningkatkan mood paginya untuk menjalankan aktivitas.
Duduk pada sofa dan menyalakan tv yang langsung pada acara gosip. Di mana di sana masih Ethan dengan Zoya yang menjadi bahan pembicaraan.
"Enggak sia-sia juga!"
Arasy tau bagaimana pola pikir sang kakak yang pastinya mempertimbangkan semua matang-matang. Dia tidak mungkin membahayakan perusahaan, dan juga sangat tidak mungkin melepaskan Zoya begitu saja.
Ketika Arasy sedang melakukan pemotretannya di puncak, ia meminta istirahat saat Dini sang asisten memberitahunya jika Ethan akan mengadakan konferensi pers atas skandalnya dengan Zoya Hardiswara.
"Sudah mulai Mbak." Dini menaruh ponsel pada stand handphone di atas meja rias, Arasy dengan serius memperhatikan. Berharap langkah yang diambil Ethan tidak jauh dari dugaanya.
"Saya di sini untuk memberikan klarifikasi mengenai foto kami yang tersebar di berbagai media."
"Mungkin hal itu sangat tidak wajar, membawa Zoya Hardiswara ke tempat tinggal saya."
"Saya tidak perduli apapun asumsi kalian. Saya merasa hal yang saya lakukan sangat wajar mengingat status kami sebagai calon suami istri."
"Apa maksud Bapak kalian memiliki hubungan spesial?"
"Benar."
Arasy menyuapkan salad buah ke mulutnya dengan mata yang tak beralih sedikit pun dari layar ponsel, menunggu apa yang akan Ethan katakan setelah ini.
"Saya dengan Zoya Hardiswara sudah berpacaran selama dua tahun. Secepatnya kami akan segera menikah."
"Perfect!" Arasy menjentikan jarinya, misinya sudah berhasil. Bahkan daripada Ethan, ia adalah orang yang paling bahagia atas pernikahan yang nanti akan digelar.
"Mbak, jadi Pak Ethan bener-bener udah punya calon istri?" tanya Dini dengan raut sedih.
"Maybe," Arasy menyahut sekenanya. Justru membuat wanita di belakangnya histeris tidak terima. "Mbak, selama ini Pak Ethan, 'kan enggak pernah deket sama siapapun. Mustahil dong, kalo tiba-tiba ternyata dia sama Zoya ada hubungan spesial."
Arasy hanya mengangkat bahu acuh. Yang terpenting baginya. Ethan dengan Zoya bersama sekarang.
TBC
Ini crazy up loh😍
__ADS_1
Crazy vote juga, yah🤣