
"Gimana Bun?" tanya Arasy dengan antusias setelah Freya memutus sambungan telponnya dengan Zoya. Agyan juga mengangguk meminta jawaban, sama penasarannya seperti Arasy.
"Mereka udah baikan." jawaban Freya membuat Arasy dan Agyan kompak mengembuskan napas lega. seolah beban berat sudah terhempas dalam batin keduanya.
Sekarang Arasy sedang membayangkan bagaimana dua insan itu saling bermesraan setelah lebih dari satu minggu bahkan sama sekali tidak bertemu.
"Arasy, kamu jangan membayangkan hal macam-macam!" Freya memperingatkan.
"Bundaaaa." wanita itu merengek manja. Sedangkan Agyan tampak malah tertawa.
**
"Ruang rahasia?" Dahi Ethan beekerut begitu Zoya mengutarakan keinginannya, ia bersikap seolah tidak tau yang Zoya maksud.
"Arasy?" tebaknya kemudian. Zoya mengangguk, Ethan menggeleng pelan. Mengutuki adiknya yang selalu bersikap lancang, meski Ethan tidak marah dan mempermasalahkannya.
Zoya kembali memunggungi pria itu, Ethan mendekap tubuh Zoya erat, merebahkan kepalanya pada bahu Zoya. "Kamu ingin masuk?"
"Hmm." Zoya mengangguk.
"Kamu akan terkejut."
Zoya mengerutkan kening, sepertinya ia tidak perlu terkejut karena sudah melihat semuanya. Atau jangan-jangan masih ada ruangan lain lagi yang lebih menakjubkan, seperti diam-diam ada jalan menuju wonderland misalnya?
**
Atas keinginan Zoya, begitu sarapan selesai keduanya kembali ke Jakarta. Dengan Ethan yang mengendalikan stir dan Zoya duduk di samping pria itu sambil sesekali saling menoleh satu sama lain sembari mengukir senyum. Sebelumnya mereka sempat mampir di pantai dan menghabiskan waktu untuk beberapa saat. Sekarang, mereka menuju rumah untuk segera memasuki ruang rahasia Ethan.
"Belok kiri!" intruksi Zoya saat mereka berada di pertigaan. Membuat Ethan heran meski pria itu tetap menurut saja atas perintah sang istri, pasalnya jalan yang sekarang Ethan ambil bukan jalan menuju rumah mereka.
"Aku mau ajak kamu ke suatu tempat." sahut Zoya. Ethan hanya mengerutkan kening dengan laju mobil yang memelan. "Udah, kamu nyetir aja!" perintah Zoya melihat raut wajah sang suami yang penasaran.
Lagi, Ethan hanya mampu menuruti istrinya. Melajukan mobil sesuai arahan Zoya, semakin lama membuat Ethan merasa tidak asing, Zoya sempat menyuruh Ethan untuk mampir di toko bunga, wanita itu membeli dua buah buket bunga berukuran besar dan membuat Ethan kian heran, sampai kemudian mereka tiba di sebuah pemakaman umum.
Ethan memarkir mobilnya, Zoya turun lebih dulu dengan dua buket bunga dalam dekapannya. Ethan juga turun, sekarang ia cukup peka dan mengerti. "Biar saya bawa." Mengambil satu baket bunga dari tangan Zoya, wanita itu mengangguk dan menyerahkannya dengan sukarela pada Ethan.
"Ayo, aku mau mengenalin kamu sama seseorang." sahut Zoya dengan senyum manis. Ethan mengangguk sembari tersenyum, kemudian menggandeng wanita itu dan mulai melangkah menuju nisan kedua orang tua Zoya.
Langkah kaki wanita itu berhenti pada sebuah makan yang tampak terurus, tidak ada rumput liar yang berhasil tumbuh di sana. Zoya bersimpuh sambil meletakan bunga di atas makam ibunya.
Ethan melangkah pada makan di samping makam ibu Zoya, yaitu makam ayah Zoya, meletakan buket bunga yang dibawanya di sana.
"Assalamuallaikum, Ayah, Ibu. Ini Zoya, maaf Zoya jarang kemari."
"Zoya datang sama Ethan, suami Zoya. Menantu Ayah sama Ibu." Zoya tersenyum lebar dengan stetes air mata yang jatuh. Ia merasa bersyukur memilikk Ethan dalam hidupnya saat ia tidak memiliki siapa pun. Ia merasa bangga menganalkan pria itu pada orang tuanya.
Jika ayah dan ibunya masih hidup. Zoya yakin jika mereka juga akan senang melihat Zoya hidup dengan Ethan yang banyak memberikan cinta untuknya. Pria yang mampu memberikan apa pun yang Zoya butuhkan.
"Salam kenal ayah ibu mertua, saya Ethan suami Zoya, menantu kalian."
"Ayah dan Ibu tidak perlu khawatir, saya akan membahagiakan dan menjaga Zoya dengan baik. Hiduplah dalam damai di sana, Zoya aman dengan saya." Ethan mengatakannya dengan tulus, membuat rasa bahagia di hati Zoya kian nyata. Tidak salah, jika ia juga sangat mencintai pria itu.
**
Langkah kaki Ethan dan Zoya terhenti begitu ponsel Zoya berdenting. Satu pesan masuk dari Selin yang menanyakan keadaannya juga hubungan ia dan Ethan. Zoya tersenyum, mengetikan balasan pada sang manejer tercintanya. Kemudian melanjutkan langkah setelahnya sampai mereka berdiri di depan pintu ruang kerja Ethan.
"Jangan melihat!" Ethan memperingatkan saat ia akan memasukan password ruang kerjanya, Zoya mencebikan bibir.
"Kamu mau main rahasia-rahasiaan sama aku? Lagian aku udah tau kok,"
Senyum Ethan terbit dengan kepala yang menggeleng dan tampak kecewa.
"Arasy?"
"Hmm."
Ethan pasrah, memasukan password dengan Zoya yang memperhatikannya. Ia kemudian membuka pintu dan membiarkan Zoya masuk lebih dulu, memperhatikan ekspresi wanita itu yang tampak biasa saja.
"Sepertinya saya gagal melihat ekspresi terkejut kamu saat memasuki ruangan ini." sahutnya dengan tangan yang terlipat di dada. Zoya menatapnya, kemudian tersenyum.
__ADS_1
"Seharusnya kamu terkejut meski hanya pura-pura." sahut Ethan, kecewa.
Zoya mendehem, dalam seperkian detik raut wajahnya berubah, tampak antusias meski sangat kentara jika hanya dibuat-buat. "Astaga, Ethan. Aku gak nyangka–"
"Sekarang terlambat!" sela Ethan dengan cepat. Raut wajah Zoya kembali berubah. Ia tersenyum dan menangkup kedua sisi wajah sang suami.
"Salah kamu karna terlambat buat nunjukin ruangan ini sama aku."
"Selama ini kamu tidak pernah penasaran pada apa pun yang berhubungan dengan saya."
"Saat itu, saya kira saya belum memiliki alasan untuk menunjukan ruangan ini." jujur Ethan, ia tersenyum miris, kemudian tertawa melihat raut wajah Zoya yang menatapnya iba.
"Bukankah saya tampak menyedihkan?"
Zoya menggeleng. Berhambur memeluk pria itu dengan tulus.
"Makasih. Udah mau cinta sama aku."
"Makasih udah buat ruangan ini."
Ethan tersenyum, mengusap puncak kepala Zoya dan mengurai pelukan wanita itu. "Kemarilah, ada sesuatu yang harus saya tunjukan." Ethan menggenggam tangan Zoya, membawa wanita itu pada sesuatu yang pernah Arasy tunjukan sebelumnya. Ruang rahasia.
**
...Zoya...
...Semuanya aman terkendali...
Selin tersenyum melihat balasan pesan dari Zoya.
"Gimana?"
"Zoya sama Ethan?" tanya seorang pria yang duduk berhadapan dengan Selin, keduanya sedang berada di restoran dan tengah menikmati makan malam.
"Semua aman terkendali." Selin menyahut dengan satu mata yang berkedip.
**
"Kamu udah siapin ini?"
"Of course." Ethan menyahut singkat. Zoya menyipitkan mata menatap pria itu.
"Romantisnya," decaknya sambil mengusap puncak kepala pria itu, Ethan menangkap tangan Zoya dan kembali menggenggamnya. Tatapan keduanya kembali fokus pada potret diri mereka pada layar televisi. Hinggga setelah beberapa saat, Ethan membiarkan Zoya dan Ethan yang sedang menikmati liburan di puncak itu bermesraan menikmati makan di sebuah rumah pohon. Sedangkan ia bangkit dan membuka brankas miliknya kemudian mengambil sebuah album.
Persis, album yang sebelumnya juga pernah Arasy tunjukan pada Zoya. Ethan kembali duduk di samping Zoya, merangkul wanita itu dan membiarkan tv tetap menyala, menaruh album dalam pangkuannya.
"Kamu pasti sudah melihat isinya." sahut Ethan sembari menyelipkan sebagian rambut Zoya ke belakang telinga, wanita itu mengangguk dengan segera. Sementara tangannya membuka album foto yang sekarang berpindah ke pangkuannya, Ethan memperhatikan. Sepertinya ia tidak perlu menjelaskan apa pun, kelihatannya Zoya sudah mengetahui semuanya.
"Jadi kamu udah lama suka sama aku?" tanya Zoya, tanpa pertimbangan apa pun Ethan menganggukan kepala.
"Kenapa?" tanya Zoya lagi, penasaran.
"Mmm, karena ....,"
Zoya menunggu jawaban pria itu.
"Tidak tau kenapa, saya tidak memiliki alasan untuk itu."
"Ihh."
Ethan tertawa begitu mendapat satu pukulan di dada dari istrinya. "Mungkin karena cuma kamu yang bisa buat jantung saya berdebar." sahut Ethan kemudian.
"Emangnya kamu vampire?"
"Kamu, tuh, masih hidup. Jantung kamu pasti berdebar."
"Tapi debarannya kencang saat saya mengingat kamu."
"Kaya takikardia?" tanya Zoya dengan alis bertaut.
__ADS_1
"Tepat sekali, saya seperti memiliki penyakit takikardia setiap mengingat dan melihat kamu."
Zoya terdiam dengan senyum lembut. Ethan mengedarkan pandangan, melihat figura Zoya yang terpajang memenuhi ruangan tersebut. Ethan bertepuk tangan yang membuat lampu otomatis menyala dan menerangi ruangan, membuat mata Zoya menyipit mendapati cahaya yang langsung menembus matanya.
"Semua ini, saya siapkan untuk kamu." ungkapnya dengan tatapan mata yang sangat tulus, Zoya hanya mampu menatap binar di mata pria itu.
"Berjanjilah, kamu tidak akan berpaling apalagi sampai meninggalkan saya!"
Zoya mengangguk dengan senyum yang mengembang. Ethan tersenyum puas, kembali bertepuk tangan dan membuat ruangan kembali menjadi gelap. Hanya tv dan lampu meja klasik yang menyala, membuat Ethan pelan tapi pasti menggapai bibir istrinya.
Zoya teringat sesuatu di sela-sela ciuman mereka. Ia menahan dada Ethan agar sedikit menjauh darinya.
"Aku mau tanya." sahutnya yang membuat satu alis Ethan terangkat, heran.
"Sketsa komposit di ruangan sebelumnya ...,"
"Itu kamu!" Ethan menyela dengan cepat.
"Ihh, kamu pikir aku buronan!" kesalnya yang berhasil membuat Ethan tertawa.
"Iya."
"Karena apa? Karena udah nyuri hati kamu?"
"Bukan?"
Zoya mengerutkan kening.
"Karena kamu udah nyuri sebagian hidup saya."
Zoya menahan diri untuk tidak tersenyum, meski ia harus gagal begitu tangan Ethan merengkuh pinggangnya.
"Maka dari itu jangan tinggalkan saya. Saya sudah punya sketsa komposit wajah kamu, tidak ada yang bisa kamu lakukan kecuali pasrah hidup dengan saya!" tatapan Ethan seolah mengancam dengan gaya menawan.
Zoya tersenyum, sukarela mengalungkan tangannya pada leher pria itu. "Dengan senang hati." lantas menyatukan bibir keduanya. Mengabaikan apa yang ada di sekitar mereka. Hidupnya hanya milik berdua, sekali pun dunia milik bersama, Zoya hanya miliknya. Dan Ethan juga hanyalah milik Zoya.
Dua orang insan itu bukan peramal yang mampu memprediksikan takdir apa yang akan keduanya jalani. Tidak sepenuhnya jalan berliku, tidak juga selamanya selalu cerita bahagia. Meski kadang kala terselip luka, selalu ada akses untuk melewatinya.
Zoya percaya, cintanya dengan Ethan mampu mengalahkan segala aral yang menghadang.
Pada bagian selanjutnya di mana kehidupannya terus berjalan, Zoya tau tidak semuanya akan mudah. Namun bersama dengan Ethan, ia merasa mampu melaluinya.
Tak perduli aral apa pun yang menghadang.
...TAMAT...
*
*
Thor kok tamat? Padahal bagian uwuu mereka baru sedikit!
Jadi gini gengss, aku berharap kalian mau kisah ini dilanjut. And, aku udah siapin Season 2 Musim 2. Alasan cerita ini tamat karena semuanya udah selesai. Babak baru akan dimulai setelah timingnya pas.
Tanggal 20 Maret aku ada ujian, aku mau fokus belajar. Seenggaknya kalau untuk ngerjain satu novel aku punya banyak waktu luang buat menghafal. Nulis tuh hoby aku, nyenengin kalian dengan tulisanku juga jadi kebahagiaan tersendiri buatku. Tapi belajar adalah kewajibanku yang masih berstatus pelajar.
Kisah ini gak gantung kok, semua problem beres. Kalo pengen romantic scene EthanZoya, kita ketemu di musim selanjutnya, okey?😉
Aku belum bisa pastiin kapan, karena aku mau nyelesein novelku di lapak sebelah dulu, selain itu aku juga mau pas ramadhan nanti aku gak sibuk bikin naskah. Mau rebahan sama tadarusan aja, hehe.
And btw buat yang nanya novelku pindah lapak di mana dan judulnya apa, gini yah. Judulnya Maybe Mine, di lapak kuning N-o-v-e-l-m-e.
Jangan hapus Bukan Cinta Biasa dari favorite, ya dan nantikan musim selanjutnya
See you, i love youu.
Terimakasih untuk semuanya.
Jangan lupa follow ig-ku eva_yuliaaan_04
__ADS_1
Kita cuss ke maybe Mine kuy😉❤