Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Tawa dan Zoya


__ADS_3

Usai sarapan di sebuah restoran yang menjadi tempatnya bertemu dengan Edrin untuk membuat kesepakatan, Zoya dengan Ethan melanjutkan perjalanan untuk mengunjungi sebuah pusat perbelanjaan. Ethan tiba-tiba saja mengajak istrinya untuk berbelanja. Tentu saja Zoya tidak dapat menolak, ia sangat merindukan suaminya dan ingin menghabiskan waktu dengan sang suami.


Dengan topi dan masker berwarna hitam yang menjadi tameng keduanya agar tak menimbulkan kehebohan. Ethan dan Zoya menikmatinya dan berjalan-jalan dari counter ke counter. Zoya meminta agar Ethan tidak usah meminta bodyguard untuk mengawal mereka karena hal itu pasti akan menarik perhatian, sehingga mereks hanya berdua dan menikmati semuanya.


"Gimana Maladewa?" tanya Zoya, berjalan saling bergenggaman tangan dengan suaminya sambil menikmati es krim.


"Kamu belum cerita apapun tentang bulan madu kalian." sambung Zoya yang membuat Ethan diam, tampak berpikir kemudian mengangkat bahu acuh. Saat Ethan menghentikan langkahnya, Zoya hanya memerhatikan pria itu dan menunggu ceritanya.


"Tidak ada yang benar-benar istimewa. Kami tidur pada malam harinya, bangun di pagi hari, menikmati sarapan dan melihat pemandangan laut. Seperti itu setiap hari selama tiga hari." sahut Ethan seperlunya, Zoya melipat satu tangannya di dada, menatap Ethan dengan decakan. Bagaimana mungkin jika suaminya bahkan tidak tahu cara bercerita yang menarik?


"Klasik!"


"Kedengerannya nggak menyenangkan kalau kamu yang cerita." komentar Zoya, ia menatap sang suami dan menggelengkan kepala lantas melanjutkan langkahnya berjalan-jalan di dalam mall. Sementara Ethan sesaat hanya diam merenungkan kenyataan yang sudah ia katakan pada sang istri mengenai kesehariannya saat berbulan madu. Dimana letak kesalahan yang dibuatnya?


"Sayang," pria itu menyadarkan diri saat dilihatnya langkah sang istri sudah menjauh. Begitu ada di samping Zoya, Ethan kembali menggenggam tangan wanita itu. Zoya berdecih, tapi beberapa saat setelahnya ia tersenyum senang dan balik menggenggam tangan Ethan.


Keduanya melanjutkan langkah dengan santai dan mengunjungi counter yang menarik perhatiannya. Sampai ketika melewati counter ponsel, langkah Ethan memelan, ia mengingat jika semalam mereka meninggalkan ponsel Naina yang sudah rusak di Bandara di Maladewa dan gadis itu tidak memiliki ponsel sekarang.


Ethan melangkahkan kaki ke counter ponsel, membuat Zoya mengerutkan dahi. "Kamu mau ganti hp?" tanyanya pada sang suami namun Ethan tak kunjung menyahut. Tanpa berlama-lama, pria itu membeli ponsel paling canggih dan mengajak Zoya berlalu dari sana setelah melakukan transaksi.


"Ini buat Naina, semalam saat di Bandara hp nya rusak dan ketinggalan di Bandara." lebih tepatnya Ethan memang tidak memedulikan ponsel gadis itu dan berniat untuk membelikan Naina ponsel baru.


"Ohh, gitu." sahut Zoya dengan senyum lebar seraya beranjak. Ethan mengikuti di belakangnya. Meraih tangan wanita itu untuk kembali ia genggam.


"Kamu tidak cemburu?" Ethan bertanya, kali ini ia berjalan mundur di depan wanita itu dengan tangan yang masih saling bergenggaman. Zoya sempat memutar matanya ke atas guna berpikir.


"Cemburu?" tanyanya kemudian dengan dahi berkerut.


"Hmm." Ethan mengangguk samar.


"No, aku nggak cemburu."


"Kenapa kita berbeda?" tanya Ethan yang kali ini membuat Zoya tertawa mendengar pertanyaan yang sang suami lontarkan.


"Berbeda?"


"Iya. Saya yang selalu cemburu pada orang-orang disekitar kamu bahkan kepada manajer kamu. Sedangkan kamu tidak sama sekali." pria itu menjeda kalimatnya. Ia memerhatikan langkahnya saat mereka akan menaiki eskalator.


"Bahkan kamu tidak cemburu pada Naina." sambungnya. Zoya tersenyum, balas menggenggam tangan Ethan.


"Aku nggak cemburu karena tahu suamiku gak akan mencintai wanita lain selain aku." sahut Zoya. Ethan hanya mengerjap polos di hadapan wanita itu. Tak lama, senyum manis terbit di bibirnya dengan kepala yang mengangguk mengiyakan apa yang Zoya katakan.


"Mas Rival udah pulang." beritahu Zoya mengingat pria itu datang berkunjung ke rumah mereka pada malam dimana Ethan dengan Naina sampai di Maladewa.


"Waktu itu dia datang ke rumah." sambungnya. Ketika turun dari eskalator, Ethan kali ini berjalan di samping Zoya.


"Terus?"


"Dia nanyain kamu sama Naina karena saat itu aku cuma sendirian di rumah."


"Dia gak ngapa-ngapain kamu, 'kan?" mata Ethan menyipit menatap istrinya. Pukulan kepalan tangan Zoya mendarat di dada pria itu dan membuat Ethan meringis.


"Kamu ...," Zoya mendesah, tak melanjutkan kalimatnya dan melepaskan genggaman tangan Ethan.


"Pikiran kamu kok sempit banget, sih."


"Bukan begitu, Sayang."

__ADS_1


"Dia cuma nanyain kalian. Terus aku bilang kalau kamu ada kerjaan di luar kota dan Naina juga lagi ke luar kota ketemu sama sodaranya."


"Karena kalau aku bilang Naina pulang kampung, takutnya malah Mas Rival nyusulin Naina kaya waktu itu." Zoya menjabarkan dengan sejelas-jelasnya. Ethan tampak hanya mengangguk-anggukan kepala, lantas menggandeng Zoya dan merapatkan tubuh wanita itu padanya.


"Kerja bagus!"


"Good girl." puji Ethan sambil mengusap lengan sang istri, Zoya hanya mencebikan bibir mendapat perlakuan seperti itu dari sang suami.


***


Mobil yang Ethan kemudikan terus melaju menyusuri jalan raya menuju rumah mereka, keduanya pulang setelah puas menghabiskan waktu berdua. Jalanan cukup padat oleh lalu lalang kendaraan, sama seperti biasanya. Pemandangan yang rasanya sudah sangat akrab.


Ethan yang tengah fokus memerhatikan jalanan tanpa sengaja menangkap sebuah apotek dan mengingatkannya pada kejadian semalam ketika Naina tidur di kursi pesawat. Begitu mereka tiba di Bandara, cara berjalan Naina cukup tertatih. Saat itu Ethan tak perduli begitu banyak, ia hanya bertanya kenapa dan Naina menjawab jika kakinya mengalami lecet karena sepatu yang dikenakannya.


Sehingga membuat Ethan menepikan mobilnya lebih dulu untuk membelikan Naina obat. Bagaimanapun, Naina adalah tanggung jawabnya dan Ethan juga bertanggung jawab atas apa yang Naina alami saat di Bandara.


"Loh, kita ngapain ke sini?" tanya Zoya yang tampak heran saat Ethan menepikan mobilnya di depan apotek.


"Kamu sakit?" tanyanya lagi dengan nada khawatir begitu Ethan sudah menghentikan mobil, dengan cepat Zoya menaruh punggung tangannya di dahi Ethan untuk memastikan suhu tubuh pria itu. Ethan memejamkan mata sesaat, setelahnya ia menggenggam tangan sang istri.


"Nggak panas kok," sahut Zoya setelah ia mengukur suhu tubuhnya sendiri.


"Bukan saya yang sakit. Tapi Naina."


"Naina?" tanya Zoya, nada bicaranya terdengar sama khawatir.


"Kakinya lecet, mungkin karena semalam saya tidak memerhatikan alas kaki yang Naina pakai, saya juga membuat Naina berjalan terlalu cepat tanpa memikirkan kondisinya." panjang lebar Ethan.


"Ya ampun, kasihan." wajah wanita itu terlihat sendu.


"Iya."


Zoya hanya memerhatikan punggung pria itu yang kemudian menghilang di balik pintu kaca, Zoya menunggunya sembari bermain ponsel. Kemudian, satu pesan masuk berhasil membuatnya mengerutkan kening. Pesan itu dikirim pada pukul sembilan pagi.


Selama menghabiskan waktunya bersama dengan Ethan, Zoya sama sekali tidak mengecek ponselnya, ia mengambil beberapa foto dengan Ethan menggunakan ponsel pria itu.


Jari tangan Zoya menekan balon obrolannya dengan sebuah nomor baru.


...Suami kamu menyengkan, Zoya....


Zoya berdesis, sudah bisa dipastikan jika orang yang mengirimkan pesan tersebut adalah Edrin. Mengingat itu adalah nomor baru yang mungkin bukan milik Edrin karena sebelumnya Ethan sudah pernah memblokir nomor pria itu di ponsel Zoya.


Zoya buru-buru menghapus pesan tersebut saat melihat kemunculan Ethan dari apotek, pria itu kembali ke dalam mobil dengan sebuah senyuman dan plastik obat yang dibawanya.


***


Ethan dengan Zoya tiba di rumah saat waktu menunjukan pukul tujuh malam. Makan malam sudah tersaji di atas meja dan tampak menggiurkan.


"Naina."


"Hallo." Zoya segera menyapa gadis yang tengah menata makanan itu.


"Mbak Zoya." Naina tampak terkejut mengingat jika Zoya tak mengetuk pintu lebih dulu.


"Hay," pada akhirnya ia membalas sapaan wanita itu dan menyambut pelukan hangat Zoya dengan perasaan tulus. Satu jam yang lalu saat ia sibuk memasak, Zoya menghubunginya melalui telepon rumah jika mereka akan pulang. Sangat kebetulan saat Naina sudah menyiapkan makam malam untuk dua orang itu dan juga dirinya.


"Mbak Zoya sehat?" tanya Naina. Zoya mengangguk, seraya mengelus rambut Naina.

__ADS_1


"Maaf yah, seharusnya saya yang nyambut kamu dan masak makanan, bukan malah sebaliknya." sesal Zoya pada gadis itu. Naina hanya tersenyum lembut.


"Nggak masalah, saya justru senang Mbak Zoya sama Mas Ethan datang tepat waktu untuk makan malam." sahut gadis itu dengan senyum semringah. Sementara Zoya sesaat terdiam, jika ia tidak salah dengar Naina sudah tidak lagi memanggil Ethan dengan embel-embel Pak seperti sebelumnya. Zoya menatap dua orang yang tampak kikuk itu secara bergantian.


"Ada apa?" tanya Zoya saat melihat raut wajah Naina dan Ethan. Naina tampak tersenyum canggung, mungkin seharusnya ia meminta izin lebih dulu pada Zoya untuk memanggil Ethan secara berbeda. Sedangkan Ethan hanya mengalihkan perhatiannya ke arah lain seolah tak ingin menjelaskan apapun.


"Euu, maaf Mbak Zoya."


Zoya sontak saja tergelak mendengar Naina yang justru meminta maaf dengan raut wajah tampak bersalah. "Kenapa, sih. Nggak masalah lagi, toh selisih usia kamu sama Ethan beda jauh. Wajar kalau kamu panggil dia 'Mas.'" sahut Zoya, tak mempermasalahkan hal itu. Justru ia senang, bahkan Naina mengganti aksen panggilannya pada Ethan. Bukankah artinya hubungan dua orang itu memiliki kemajuan?


"Mbak nggak marah?" Naina bertanya dengan nada ragu. Zoya menggelengkan kepalanya.


"Enggak dong, justru saya senang." sahut Zoya, untuk yang kali ini, tatapan Ethan tampak berbeda. Mendengar nada santai Zoya yang tampak tidak cemburu sedikitpun membuat Ethan merasa terganggu.


"Kalau gitu sekarang kita makan malam dulu atau mandi dulu?" tanya Zoya kemudian. "Saya sudah mandi Mbak."


"Oh, yasudah kalau gitu saya sama Ethan mandi sebentar yah, nanti habis ini kita baru makan malam." usul Zoya yang membuat Naina mengangguk. Ethan berjalan lebih dulu menuju kamar mereka, Zoya mengekor di belakangnya sedangkan Naina hanya menatap kepergian dua orang itu.


"Mas Ethan,"


"Mas Ethan." Zoya bagai meledek pria itu saat keduanya menapaki anak tangga.


"Saya tidak mau dengar Zoya."


"Mas Ethan." wanita itu justru kian gencar menggoda.


"Mas–" spontan Zoya membulatkan mata saat ia nyaris terjatuh ketika tiba tiba saja tubuh Ethan berbalik padanya. Beruntung, Ethan meraih pinggang wanita itu dengan cepat.


Zoya mengatur deruan napasnya yang begitu terkejut mendapat hal mengerikan tadi. Ia tidak bisa membayangkan andai dirinya terjatuh nanti.


"Hati-hati." sahut Ethan setelah Zoya menegakan tubuhnya sambil memegangi dada yang seolah terkena takikardia.


"Kamu ngagetin."


"Saya nggak mau kamu ngeledekin saya." sahut pria itu, Zoya hanya mencebikan bibirnya, tidak mau disalahkan.


"Kalau gitu aku jalan duluan, biar kamu langsung nangkep aku kalau misalnya aku jatuh."


Ethan turun satu langkah dan berdiri di samping wanita itu lantas menggandeng pinggang Zoya sebelum wanita itu melangkah lebih dulu. "Kita jalan berdampingan agar saya bisa lebih menjaga kamu."


Sesaat Zoya mematung seolah tubuhnya membeku. Tapi detik selanjutnya, saat Ethan menuntunnya berjalan, Zoya hanya mampu tersenyum. Tak ada yang bisa ia katakan. Senyumnya adalah bahasa cinta untuk suaminya.


***


Obrolan menyenangkan terjadi sepanjang makan malam berlangsung. Naina menceritakan pengalaman liburannya di Maladewa dengan menyenangkan, berbeda dengan apa yang Ethan ceritakan siang tadi yang terkesan garing dan membosankan.


Naina menjelaskan dengan detail bagaimana pemandangan di Maladewa pada pagi, siang, sore dan bahkan malam hari. Beberapa kali Zoya harus tertawa sampai sakit perut mendengar cerita random mengenai kepolosan wanita itu saat berada di sebuah hotel mewah.


Kalau saja Naina tidak bersama dengan Ethan, mungkin ia akan menjadi bahan tertawaan, beruntung Ethan kerap kali membantunya untuk menyesuaikan diri selama di sana.


"Saya nggak bisa bahasa inggris kan Mbak, jadi pas ada bule yang tanya-tanya saya cuma bisa nunjuk random."


"Misalnya kemana?" tanya Zoya.


"Ke toilet." Naina menyahut polos dan membuat Zoya tertawa. "Ternyata nyari pemilik hotel, bukan kebelet. Ya mana saya tahu." sahut gadis itu, ia sibuk bercerita sedangkan Zoya sibuk tertawa, sementara Ethan sibuk memerhatikan bagaimana wanita itu tertawa.


Cantik, Zoya sangat cantik dengan matanya yang menghilang saat ia tertawa.

__ADS_1


TBC


__ADS_2