
"Kapan mau dibawa ke rumah dan dikenalin sama Mama sama Papa?" tanya Vina, tampak tidak sabaran.
Rival tersenyum miring kali ini, membuat Vina kian penasaran terutama setelah Rival buka suara. "Mama kenal dia, Papa juga kenal. Kita kenal sama dia."
Vina mengernyitkan dahi dengan isi kepala yang sedang menebak, mengingat dan menerka siapa kira-kira wankta yang dimaksud putranya.
"Hmm, Arasy?" tebak Vina dengan random. Kalimat yang berhasil membuat Rival berdecak sekaligus melenyapkan senyum dari wajah pria tampan itu.
"Karena aku cuma akrab sama Arasy Mama beranggapan kami punya hubungan spesial?" Rival bertanya tidak habis pikir. Vina hanya mengangkat bahu acuh. Faktanya, ia tak pernah melihat Rival bersama dengan wanita manapun kecuali hanya Arasy.
"Yang bener aja, Ma. Masa Arasy, kami masih saudara sepupu." tolak pria itu.
"Ya, siapa tahu aja. Lagian Mama belum pernah liat kamu sama perempuan manapun kecuali sama Arasy doang kan, Mas."
Kali ini, giliran Rival yang mengangkat bahu acuh. Tidak ingin memperpanjang tebakan sang mama yang mengarah pada Arasy.
Rival sangat mengakui jika Arasy benar-benar cantik, bahkan wanita itu seringkali membuatnya terpaku jika mereka bertemu. Namun untuk miliki perasaan lain dari saudara, rasanya mustahil bagi Rival untuk melakukan hal demikian.
"Ada, tapi bukan Arasy." sahutnya seraya beranjak dari posisi duduknya.
"Terus siapa?"
"Nanti juga Mama tahu." ia seolah sengaja membuat Vina penasaran.
"Tapi prosesnya masih panjang Ma. Aku lagi berusaha, Mama doakan saja." sahutnya dengan senyum manis, Vina juga hanya membalasnya dengan senyuman dan anggukan samar. Setelah mengusap sisi wajah sang Mama, Rival berlalu memasuki rumah. Vina hanya menatap punggung putranya sampai Rival menghilang dari pandangannya.
Begitu tiba di dalam kamar, Rival segera merebahkan diri, ia membuka galeri dan melihat kembali foto yang ia miliki dengan Naina saat berkunjung ke kampung halaman gadis itu tempo lalu.
"Kamu harus tahu Naina, kamu adalah alasan saya kembali." ungkapnya dengan suara lirih.
Saat ini, ia tengah mempertimbangkan apakah ia harus menghubungi Naina atau tidak. Rival ingin mendengar suara gadis itu, namun sebagian dari dirinya menolak untuk segera melakukan hal tersebut dan membiarkan saja rindunya kian mendalam untuk Naina.
Selanjutnya, yang ia lakukan adalah memejamkan mata dengan bayangan Naina yang mulai menganggu isi kepalanya.
***
Maladewa.
Naina menuruti apa yang Ethan perintahkan, setelah cukup lama membiarkan Ethan tidur, ia segera menuju kamar mandi utuk membersihkan diri. Namun sial, Naina harus mengutuki dirinya sendiri saat ia lupa membawa pakaian gantinya ke dalam kamar mandi.
"Shh, gimana dong?" ia bertanya pada dirinya sendiri dengan raut bingung. Berbalutkan handuk putih yang melilit tubuhnya, rasanya sangat mustahil bagi Naina untuk keluar dari kamar mandi dalam keadaannya tersebut. Ia melihat lagi pakian yang semula sudah digunakannya, sudah ia rendam dan tidak dapat dipakainya saat ini.
Cukup lama Naina berada di dalam sana, ia mondar mandir tidak jelas dengan raut cemas sampai kemudian pantulan dirinya di dalam cermin membuat tatapannya memaku ke arah sana.
__ADS_1
Naina mulai mendekat ke arah cermin, menatap pantulan wajah cantiknya di sana. Ia menyentuh lehernya tepat di bagian dimana semalam Ethan hampir meninggalkan jejak di sana.
Naina menggelengkan kepalanya guna mengusir hal tersebut dari benaknya, kemudian ia mengingat sebuah fakta penting jika saat ini Ethan tengah tertidur. Lalu apa yang membuatnya ragu untuk keluar dari kamar? Toh pria itu tidak akan melihatnya.
Naina mengangguk kali ini untuk meyakinkan dirinya jika ia harus bergerak. Kemudian, membuka pintu kamar mandi dan berjalan dengan hati-hati menuju lemari dimana pakaiannya berada di sana.
Ethan yang sudah terbangun cukup lama dan lama pula menunggu gadis itu keluar dari kamar mandi lantas menoleh, tanpa sengaja ia melihat Naina yang tengah berjalan pelan dengan handuk yang melilit di tubuhnya. Dengan segera, Ethan kembali memejamkan mata. Sepertinya pura-pura tidur adalah cara terbaik agar Naina tidak merasa malu padanya karena sudah ketahuan dalam keadaan tidak mengenakan pakaian.
Dengan gerakan cepat, Naina mengambil pakaiannya satu persatu dan mengenakannya. Ethan yang sudah kembali memejamkan mata dan tidak nyaman dengan posisinya perlahan membuka mata, dahinya mengernyit saat mendapati pemandangan di depan matanya begitu Naina tengah mengenakan kaosnya.
Kulit gadis itu begitu putih bersih dengan tubuh yang tidak terlalu kurus. Tapi juga tidak berisi seperti tubuh Zoya.
Ethan kembali memejamkan mata, menaruh tangannya di atas kening dengan napas berantakan, tiba-tiba ia merasa resah sendiri. Dahi pria itu kembali berkerut saat mendengar langkah kaki Naina mendekat ke arahnya.
"Di mana, yah." Naina yang sudah selesai mengenakan pakaian dan menyisir rambutnya mencari ponsel. Seingatnya, ia menaruh ponsel pada meja di samping tempat tidur. Senyumnya tersungging saat ponsel tersebut sudah ia temukan.
Begitu membuka aplikasi chat, ia sejenak terdiam saat melihat notif dari Rival yang kemarin mengiriminya pesan. Naina mendesah, membuat Ethan lagi-lagi mengerutkan kening mendengar ******* napas gadis itu.
Naina pikir, awalnya Rival memberikan sinyal padanya untuk mereka menjalin kedekatan. Terlebih, saat Zoya pernah bertanya mengenai pendapatnya tentang Rival.
Naina akui Rival adalah pria yang baik, tampan dan juga tampak dewasa. Tapi apa yang bisa Naina lakukan? Haruskah ia mengemis pada Rival agar mau dengannya? Sangat tidak mungkin, terlebih mengingat statusnya saat ini adalah istri kedua dari seorang Zeinn Ethan Maheswary, Direktur Utama agensi besar ibu kota.
Mungkin lebih tepatnya, istri simpanan.
Fakta tersebut membuat Naina mengabaikan kembali chat yang Rival kirim. Ia menaruh ponselnya ke tempat semula. Atensinya kini teralih pada Ethan yang masih pura-pura tertidur, Naina tersenyum tipis menatap pria itu. Hingga dengan perlahan, tangannya terlur untuk menyentuh wajah Ethan.
Senyum Naina kian menjadi saat tangannya sudah mendarat di pipi Ethan. Pria itu adalah suaminya, seharusnya ia tidak perlu merasa sulit untuk meraih Ethan. Namun fakta jika pernikahan keduanya adalah hitam di atas putih membuat Naina dengan sangat jelas menyadari jika ada tembok besar di antara ia dengan suaminya sendiri.
Fakta jika hati Ethan hanya untuk Zoya dan pria itu menikahinya hanya demi mendapatkan anak membuat Naina sangat tahu diri.
"Huh," Naina membulatkan mata saat tiba-tiba saja mata Ethan terbuka. Tertangkap basah, Naina tidak bisa mundur untuk menghindar. Ia hanya mematung saat matanya dengan Ethan saling bersitatap dalam satu garis lurus.
"Kamu sudah siap?" pertanyaan yang keluar dari bibir Ethan membuat Naina tersadar dan segera menarik tangannya.
"Euu, siap?" Naina belum bisa bekerja sama dengan otaknya.
"Kita jalan-jalan." jawab Ethan dengan beberapa lipatan di dahinya.
"Oh, iya, jalan-jalan. Sudah, saya sudah siap." Ethan mengangguk, beranjak dari posisi berbaringnya setelah menyadarkan Naina jika maksud dari 'siapnya' adalah untuk jalan-jalan sore dengan gadis itu.
"Biar saya ke kamar mandi dulu."
"Pak Ethan mau mandi?" tanya Naina. Pertanyaan yang berhasil membuat dirinya sendiri mengigit bibir. Mungkin seharusnya ia diam saja dan tak perlu bertanya. Ethan yang menghentikan langkah dan menoleh padanya hanya diam, tapi kemudian, "saya cuma cuci muka."
__ADS_1
Naina menanggapi pria itu dengan senyum dan anggukan kepala. Ethan berlalu menuju kamar mandi sedangkam Naina meringis, mengutuki diri sambil memukul kepalanya sendiri.
"Kenapa bod*h banget, sih?"
***
Sementara di tempat lain, sepulang dari acara makan siang bersama dengan Edrin dan manajernya, Zoya segera merebahkan tubuhnya di atas sofa tepat di ruang utama rumah. Rumah yang besar membuat suasana kian hening saat hanya ada Zoya sendiri di dalam rumah itu.
Ia mengeluarkan ponselnya dan melihat riwayat panggilannya dengan Ethan, membuat Zoya mengingat kembali apa yang manajernya katakan mengenai keterlibatan Edrin dalam film yang akan mereka bintangi.
"Menurut Mbak kamu yang harus bilang sendiri sama Pak Ethan kalau lawan main kamu Edrin. Semuanya akan jadi runyam kalau dia tahu dari orang lain, Zoy."
"Kapan kira-kira aku harus bilang ke Ethan?"
"Lebih cepat lebih baik, Zoy."
"Kamu yang paling tahu suami kamu. Jangan buat dia marah."
Saat itu Zoya hanya menjawab dengan anggukan kepala. Ia akan mengatakannya sendiri pada Ethan namun pastinya diwaktu yang tepat. Ia harus menyiapkan diri untuk menghadapi reaksi suaminya nanti.
Kali ini Zoya menggelengkan kepala, menepis hal tersebut dalam benaknya. Selanjutnya, ia tersenyum tipis, membayangkan sekiranya apa yang sedang Ethan dengan Naina lakukan bdi lokasi bulan madu mereka.
***
Langit sore yang cerah dan lalu lalang para wisatawan menghiasi tepi pantai Maladewa saat itu, banyak di antara mereka yang masih asik bermain air di sore hari. Tak jarang pula para orang dewasa yang hanya menikmati angin sore dengan berjalan-jalan santai menambah ramai suasana, seperti yang Naina dan Ethan lakukan tepatnya
Keduanya berjalan di tepi pantai, menikmati sepoi angin dan langit cerah di sore hari. Jika pasangan pada umunya saling berpegangan tangan atau bahkan berangkulan, Naina dengan Ethan tidak. Mereka berbeda.
Sekalipun Zoya memberikan kebebasan pada keduanya dengan ikhlas untuk kebaikan rumah tangganya dengan Ethan sebagaimana kesepakatan yang sudah mereka buat, namun pada kenyataannya Ethan dan Naina sendirilah yang membuat batasan.
Keduanya hanya berjalan saling bersisian bahkan dengan jarak yang tidak terlalu dekat.
"Maaf Naina."
Permintaaan maaf Ethan yang tiba-tiba membuat Naina menoleh pada pria itu, membuat mata Naina menyipit saat cahaya matahari sore menerobos netranya tanpa permisi.
"Maaf untuk?" Naina bertanya dengan polos, ia menatap Ethan kian dalam sekalipun cahaya matahari yang menyilaukannya tak dapat menampakan wajah Ethan dengan jelas, hingga pria itu menggeser tubuhnya, menghalangi pandangan Naina dari sinar matahari.
Meski apa yang pria itu lakukan tetap tidak dapat membuatnya melihat Ethan dengan jelas.
"Maaf untuk apa?" Naina bertanya sekali lagi.
"Maaf karena sudah melibatkan kamu dalam pernikahan saya sengan Zoya."
__ADS_1
"Mungkin, bukan pernikahan seperti ini yang kamu inginkan."
TBC