
Beberapa kali Freya menghubungi nomor telepon putra dan juga menantunya, tapi tak kunjung ada respond. Ia sudah sangat cemas setelah melihat beberapa artikel di media sosial. Freya tau Ethan jarang memberitahukan apa pun jika ia sedang mengalami masalah, tapi setidaknya pria itu mau mengangkat telpon sang bunda. Freya hanya ingin menanyakan kabar mereka, itu saja.
"Gimana, Sayang?" bertanya pada Arasy yang sedang betusaha menghubungi Ethan. Arasy menggeleng, membuat tatapan Freya meredup. Sementara Arasy hanya menggigit ujung kukunya. Ia tidak tau jika hal seperti ini terjadi, Zoya pasti sangat terlika, citra dan reputasinya berantakan dalam sekejap mata.
**
Mobil yang mengantarkan Zoya berhenti di gedung unit apartementnya berada. Ia tidak mungkin pulang ke rumah Ethan dalam keadaan hatinya yang sedang sangat kesal. Ia butuh waktu untuk sendirian tanpa ada orang yang mengganggu, Zoya memejamkana mata sekilas dengan kepala yang berpikir keras, bagaimana cara memasuki apartementnya sedangkan para wartawan berdiri menunggunya di depan gedung?
Kali ini Zoya memijat pelipis, memerika ponsel yang sejak tadi ia abaikan. Puluhan panggilan tidak terjawab dari beberapa nomor termasuk Freya, Ethan dan Selin menghiasi layar ponselnya.
Zoya sedikit tersentak saat pintu kaca mobilnya diketuk dari luar. Seorang pria dengan jas formal berwarna hitam memberinya aba aba agar keluar dari mobil. Zoya menghela napas, bersyukur bukan para awak media. Tak lama, ia menurunkan kaca jendela mobil.
"Ibu Zoya, saya ditugaskan Pak Ethan untuk menjaga Ibu." sahutnya yang membuat Zoya terdiam, artinya Ethan sudah dapat memperkirakan jika Zoya tidak akan pulang ke rumah. Zoya yakin awak media juga sudah memperkirakan hal tersebut sehingga mereka datang kemari.
"Mari Bu, saya antar Ibu ke apartement."
Zoya mengangguk, pria tersebut membukakan pintu mobil dan Zoya turun dari sana. Melihat para awak media yang tampak sudah bosan menunggu lama. Pria yang mengaku sebagai utusan Ethan itu melepas jas yang dikenakannya.
"Mari Bu." ia menggunakan jas untuk menutupi Zoya setelah sebelumnya mengungkapkan kata maaf. Ia membawa Zoya ke arah basemant setelah berhasil melewati para awak media.
Membuka jas yang ia pakai untuk menutupi kepala wanita itu saat mereka sudah berada di depan lift. Zoya mampu bernapas lega setelah ia sudah berada di dalam kamarnya, pria tadi berjaga di depan pintu apartement.
Memejamkan mata, Zoya berusaha menolak kenyataan yang sedang dihadapinya. Bahkan ia tidak bisa memberanikan diri untuk membuka media sosialnya. Ia tau orang-orang akan menyerangnya di sana dan membuat psikis Zoya terganggu.
Tak lama dari itu, Zoya menggapai ponselnya yang berdering. Panggilan masuk dari Ethan, Zoya tidak memiliki minat untuk menjawabnya, ia hanya menatap layar ponsel sampai sambungan berakhir. Satu pesan masuk dari Ethan membuat jari tangan wanita itu meluncur pada aplikasi chatting.
...Pak Boss...
...Saya tau kamu kecewa. Tapi setidaknya angkat telpon dari saya. Jangan buat saya cemas....
Zoya menghela napas, panggilan masuk dari Ethan kembali membuat ponselnya berdering. Dengan egois, Zoya merijek panggilan telpon dan kemudian menonaktifkan ponsel, setelahnya ia menenggelamkan wajahnya pada bantal. Menahan agar air matanya tidak kembali jatuh.
Tapi Zoya harus merasa gagal ketika matanya mendadak basah. Air mata merembes. Membuatnya kembali menangis dengan suara tertahan.
**
Ethan menghempaskan tubuhnya ke sofa di kamar hotelnya. Nomor ponsel Zoya tidak bisa dihubungi, pesannya tidak mendapat balasan padahal wanita itu sudah membacanya. Media sosial sedang panas-panasnya membicarakan Zoya Hardiswara. Membuat Ethan memijat pelips karena tidak bisa berbuat apa-apa. Menghapus situs web artikel juga percuma karena semua sudah menyebar luas dalam lini masa.
Layar televisi juga tidak ketinggalan mengangkat nama Zoya Hardiswara sebagai buah bibir.
Dering ponsel yang Ethan letakan di samping kepala membuatya segera meraih benda tersebut, berharap Zoya kembali menghubunginya. Nyatanya Ethan harus kecewa saat ternyata telpon itu dari Randy. Dengan ogah-ogahan, Ethan menggeser ikon hijau dan menempelkan benda pipih itu pada daun telinga.
"Than, kamu di mana? Kalian udah balij dari puncak?" Randy langsung bertanya di ujung sana dengan nada tidak sabaran.
"Aku di hotel. Zoya udah pulang duluan, dia ada di apartnya."
"Kalian nggak bareng?"
"Nggak!" menyahut dengan malas.
"Gini, Than. Ke agensi sekarang, Ibu Rachel akan menggelar impromptu meetings untuk masalah ini. Dan Zoya–"
"Zoya tidak perlu datang." Ethan menyela dengan cepat. Ia tidak ingin wanita itu merasa semakin tertekan. Terutama jika sampai dihadapkan dengan media saat ia belum memiliki kesiapan.
"Yasudah, biar aku menghubungi manajernya."
Setelah panggilan terputus, Ethan mendesah. Sekali lagi ia mencoba menghubungi Zoya namun hasilnya tetap sama. Sia-sia.
Mobil yang ditumpangi Selin berhenti di depan gedung agensi, Randy sudah menghubunginya untuk datang. Awak media yang semula berkerumun di sana tampak sudah lengang setelah Rachel menemuinya, meski masih ada beberapa yang tetap bertahan untuk menambah bahan tulisan. Bukan beberapa, tapi jumlah mereka cukup banyak.
Selin turun setelah menghela napas, berjalan menuju pintu masuk, langkahnya dihadang beberapa awak media yang langsung mengarahkan mikrofon, alat perekam dan juga kamera padanya.
"Mbak, bagaimana keadaan Zoya Hardiswara? Kenapa dia menghindari media?"
"Lalu bagaimana hubungannya dengan Zeinn Ethan? Apa mereka akan tetap bertahan?"
__ADS_1
"Reputasi Zoya Hardiswara sedang jatuh, bagaimana cara Mbak sebagai manajer untuk memperbaiki semua itu?"
"Benarkah Zoya Hardiswara menjadi orang ketiga dalam rumah tangga seniornya di AE RCH."
Selin diserang banyak pertanyaan yang membuat kepalanya pusing, ia mengabaikan media. Langkahnya terhenti saat ia tak memiliki celah untuk melangkah dan lolos pergi, beberapa bodyguard yang berjaga di pintu masuk membantu Selin agar bisa masuk.
"Maaf, yah, permisi." salah seorang keluar dari dalam gedung, menembus media dan menarik tangan Selin agar bisa pergi dari sana. Selin tak sempat melihat, begitu berada di dalam gedung ia tau siapa pelakunya
"Terimakasih Pak Randy."
"Tidak masalah." Randy menyahut santai.
"Ibu Rachel dan Pak Ethan sudah menunggu di ruang rapat." sambungnya.
"Pak Ethan sudah sampai?" heran Selin.
"Sudah."
"Bagaimana cara dia melewati media?"
Randy menoleh, tersenyum kemudian menyahut. "Jalan tikus." Selin memicingkan matanya, tak begitu menangkap jelas maksud Randy.
"Kamu lupa jika gedung ini memiliki basemant, di sana ada lift yang terhubung langsung dengan lantai ruangan Pak Ethan."
"Oh, saya tidak terlalu memperhatikan."
Randy tersenyum, kemudian langkah keduanya berjalan menuju ruaang rapat.
"Sekarang, langkah apa yang akan kamu ambil Ethan?" tanya Rachel ketika impromptu meetings sudah dimulai. Hanya ada mereka beetiga di dalam sana, Anggun yang dilibatkan tidak bisa datang.
Ethan yang mendapat pertanyaan hanya diam dengan kepala yang berpikir keras. Otaknya sedang sangat buntu dan ia belum memikirkan cara apa pun untuk menyelesaikan masalah ini.
"Begini, kamu tau hubungan antara Zoya dengan Fahry bukan?" tanyanya lagi. Ethan mengangguk.
Rachel diam, begitu juga Ethan dan Selin yang sejak tadi memang hanya diam.
"Selin."
"Iya Bu."
"Bagaimana bisa ini semua terjadi. Kamu manejernya, kamu tidak mengawasi Zoya?" Rachel mendesak sang manajer aktris.
Selin lagi-lagi hanya diam. Semua salahnya, Zoya hanyalah korban di sini, andai ia memberirahu Zoya sejak awal, maka kejadiannya tidak akan seperti ini.
"Atau kamu mengetahui semuanya?" tanya Rachel lagi.
Selin mengarahkan tatapannya pada Rachel, ia tau wanita itu memiliki intuisi yang tajam. Tak lama, Selin mengangguk.
"Bagaimana bisa?" intonasi Rachel meninggi.
"Maaf, Bu. Tidak ada yang bisa saya lakukan saat itu. Zoya sangat mencintai Fahry, dan saya tidak ingin merusak hal itu."
"Apa kamu tidak memikirkan dampaknya di masa depan? Setelah ini semua terjadi sejmkarang, apa yang bisa kita perbuat?"
"Maaf, Bu."
Rachel diam. Memejamkan matanya sekilas dan kembali berbicara. "Zoya tau Fahry sudah berkeluarga?" Selin menggeleng. "Artinya Zoya korban?" Rachel menatap dua orang itu bergantian Ethan dengan Selin mengangguk.
"Artinya Fahry melakukan penipuan." Rachel mengambil kesimpulan.
"Kita bisa menuntutnya atas fakta itu."
"Tapi Fahry hanya menyembunyikan status pernikahannya Bu, tidak memalsukan identitas atau melakukan apa pun yang sifatnya menguntungkan dirinya sendiri dan melawan hukum." Selin tampak keberatan.
"Tapi apa yang dilakukannya merugikan dan mencemarkan nama baik Zoya Hardiswara!"
__ADS_1
Selin diam. Ia tau apa yang Fahry lakukan memang salah, tidak ada pembenaran untuk hal itu, dan Selin juga turut andil menyembunyikan kebenaran tersebut. Tapi jika Fahry di hadapakan dengan hukum, Selin tidak dapat membayangkan bagaimana perasaan Anye nanti jika hal itu terjadi. Terlebih, Selin juga yakin jika Zoya tidak akan mengambil langkah hukum sekali pun ia sangat kecewa terhadap Fahry.
"Kita akan menuntut Fahry atas penipuan dan pencemaran nama baik." ucap Rachel yang membuat tatapan dua orang itu mengarah padanya, terutama Selin.
"Ethan nggak setuju, Mom. Zoya juga tidak akan setuju." Ethan menentang hal itu, selama Rachel berbicara ia memikirkan rencana menyusun cara, juga mempertimbangkan semuanya.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan?"
"Satu-satunya cara untuk membuat nama baik Zoya kembali, kita harus buat Fahry mau berbicara di depan publik dan di hadapan media."
"Caranya?"
"Bagaimanapun caranya akan Ethan lakukan."
**
Waktu sudah menunjukan pukul sembilan malam saat Ethan memilih melajukan mobilnya menuju gedung apartement Zoya. Ia menuju basemant, dengan mesin mobil yang dibiarkan menyala, Ethan mendesah. Baru sehari, tapi ia sudah sangat merindukan Zoya.
Mencoba peruntungan, Ethan mengambil ponsel dan menghubungi nomor ponsel wanita itu. Tersambung, Ethan berharap Zoya mau mengangkat telpon darinya. Namun sampai dering kelima, tak ada respon dari Zoya.
Ethan membuka aplikasi chatting, mengetikan beberapa bubble pesan untuk wanita itu.
...To : Wife...
...Saya di basemant gedung apartement kamu....
...Temui saya sebentar....
...Saya khawatir, juga merindukan kamu....
Ethan terus menatap layar ponsel, tepat pada jendela obrolannya dengan Zoya. Centang biru tapi tak kunjung ada tampilan typing di sana. Membuat Ethan akhirnya menyerah dan menaruh ponsel pada dashbard mobil. Ia menjatuhkan keningnya pada gagang stir, memejamkan mata dengan rasa khawatir berlebihan pada istrinya.
Ethan pikir semua akan baik-baik saja setelah kencan pertama mereka di puncak kemarin. Nyatanya apa yang sudah Ethan lakukan kacau dalam sekejap mata dan membuat hubungannya dengan Zoya merenggang cukup sempurna. Ethan tau wanita itu butuh ketenangan, tapi Ethan juga butuh pertemuan untuk memastikan keadaan, ia tak ingin Zoya merasa tertekan sendirian.
Ethan menegakan duduknya, bersiap akan pergi sampai ketukan pada kaca jendela mobil membuatnya menoleh. Ketika wanita itu tiba-tiba saja masuk ke dalam mobilnya, senyum Ethan terukir setengah tak percaya. Zoya sempat mengukir senyum, sebelum akhirnya menubruk tubuh Ethan begitu saja, merebahkan kepalanya pada dada pria itu. Tanpa berpikir dua kali, Ethan membalas pelukan Zoya. Ia senang wanita itu mau menemuinya.
Zoya memejamkan mata dalam dekapan Ethan. Awalnya ia tidak berniat menemui Ethan, tapi hatinya merasa tidak tega jika mengabaikan suaminya berlama lama. Ethan tidak melakukan kesalahan apa pun yang membuat Zoya layak menghindarinya.
Zoya hanya sedih, dan butuh waktu untuk sendirian. Ia melupakan satu hal, jika ia memiliki Ethan sekarang. Ia memiliki sandaran, ia memiliki pria pengertian. Ia memiliki suami yang nyaris sempurna.
"Maaf," lirih Zoya, hampir tidak terdengar. Ethan menghela napas lega, mengusap rambut Zoya dan mengecup puncak kepala sang istri.
"Bagaimana perasaan kamu?" tanya Ethan tanpa melepas pelukan mereka. Zoya menggeleng samar dalam dekapan pria itu.
"Saya khawatir, dan merindukanmu." ungkap Ethan.
"Saya tau kamu kecewa, kamu berhak marah. Tapi jangan memendam semuanya sendiri, kamu tidak lupa, 'kan? Kamu punya saya sekarang."
Zoya mengangguk. "Saya tidak akan memaksa kamu untuk pulang. Kalau kamu sudah siap, hubungi saya dan saya akan segera menjemput kamu."
Zoya mengurai pelukannya. Menatap Ethan dan mengangguk, tangan Ethan tergerak menyelipkan sebagian rambut wanita itu ke belakang telinga. "Jangan telat makan dan jangan sampai sakit. Saya akan menyelesaikan masalah ini secepatnya." Lagi, Zoya mengangguk.
Kali ini Ethan meraih tangan Zoya dan menggenggamnya. "Jangan mengkhawatirkan apa pun." Ethan mendekat, memberi kecupan di kening Zoya, menahannya cukup lama seolah mengalirkan kekuatan juga ketenangan untuk Zoya.
"Ethan, terimakasih."
Hanya itu yang dapat Zoya sampaikan. Selanjutnya, ia kembali jatuh pada pelukan sang suami.
TBC
Thor, Ethan jangan saya dong, biar aku aja kalau sama Zoya.
Mm, gimana, yah, akunya nyaman. Sama kaya Andreas ke Grrycia. Karakternya cocok kalau dia pake bahasa formal. And, meski Ethan pake pembawaan 'saya', antara dia sama Zoya enggak ada batasan kok guyss.
BTW yang nanyain visual, aku udah post di ig, yah. eva_yuliaaan_04
__ADS_1