Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Kado


__ADS_3

Begitu melangkah kan kakinya di lantai dasar tepat di ruang utama, Zoya terbelalak, antara terkejut sekaligus takjub saat melihat Naina yang sudah sangat cantik dengan gaun yang kemarin ia pilihkan untuk gadis itu. Di belakang gadis itu, ada dua wanita yang dengan senyum ramah menyambut kedatangannya.


"Kamu mandi, terus turun ke bawah. Nanti ada yang bakal bantu kamu buat dandan, biar saya siap - siap sendiri."


"Naina pasti sudah selesai di sana."


Begitu kalimat Ethan yang membawanya mandi dan segera turun ke lantai bawah begitu usai membersihkan diri. Rupanya, pria itu memanggil team Ainaya Home Service. Salon kecantikan langganannya, bahkan dua karyawan yang dikirim adalah orang - orang yang sudah akrab dengannya.


"Makasih, Mbak Zoya. Gaunnya cantik banget." ucap gadis itu saat Zoya melangkah mendekat.


Wanita itu mengangguk, kian puas melihat Naina dan juga gaunnya yang semakin mencolok dengan make up cantik yang tidak berlebihan di wajah gadis itu. Dengan gaya rambut tata kepang fishtail yang sangat cocok dengan Naina.


"Zoya makin cantik aja." puji salah seorang dari dua karyawan Ainaya Home Service itu setelah mendudukan Zoya di kursi yang sudah disediakan. Zoya menangkup kedua sisi wajahnya dengan kedua tangan.


"Masa, sih, Mbak?" lantas matanya menatap cermin di mana pantulan wajahnya tampak terpancar penuh aura positif di sana, plush rona merah. Apa Ethan benar - benar membuatnya bahagia? Yah, sangat. Tanpa sadar wanita itu tersenyum penuh arti. Kemudian menoleh pada salah satu dari dua orang tersebut.


"Aku jarang dandan, males. Bawaannya ini itu ogah terus." sambungnya yang membuat dua orang itu terdiam, mengenakan masker kemudian siap untuk memoles wajah Zoya dan membuatnya tampil cantik dan elegan seperti biasa.


"Mungkin bawaan baby." salah satu dari mereka buka suara.


"Hmm, kayaknya emang kaya gitu."


Sepanjang Zoya di make up dengan penuh kehati - hatian, Naina hanya memerhatikan. Sampai Ethan yang menuruni anak tangga dan sudah dengan pakaian rapinya menunjuk ke arah dapur dengan menggerakan dagu. Membuat Naina mengikuti langkah kaki pria itu dengan hati berdebar tanpa bisa ia kendalikan, terlebih parfum Ethan begitu sangat memabukan.


Bagaimana tidak, sekali pun setiap hari Ethan berpenampilan rapi, tapi kali ini di matanya pria itu tampak berbeda. Berkali lipat lebih tampan dari biasanya. Gadis itu menghela napas dan menggeng pelan. Bagaimanapun ia harus menampar dirinya sendiri jika pria yang dikaguminya sudah memiliki istri.

__ADS_1


Naina setengah melamun, hingga tanpa ia duga kakinya yang mengenakan sepatu hak tinggi hampir tergelincir dan membuatnya jatuh mencium lantai andai Ethan tidak menahan tangannya dengan cepat. Pandangan keduanya sempat bertemu namun Ethan dengan cepat menepis.


"Kamu melamun?" tanya pria itu setelah melepas tangan Naina dan gadis itu sudah bisa memperbaiki posisi berdirinya. "Maaf, Pak."


"Kalau sepatunya ketinggian kamu bisa ganti. Daripada nanti jatuh dan membahayakan diri kamu sendiri." sahut Ethan dengan tatapan lurus pada Naina. Salah tingkah, gadis itu hanya mampu mengangguk samar dengan diri yang sekuat tenaga mengendalikan perasaannya.


Jatuh hati pada Ethan? Tidak mungkin, ia hanya kagum pada sikap, sifat dan pendirian pria itu. Hal itulah yang berusaha Naina terapkan pada dirinya agar ia tetap tahu diri, membatasi diri dan juga sadar diri.


"Zoya belum sarapan, kamu udah siapin yang saya suruh bikin?" tanya Ethan kemudian, mengingat kembali apa yang membuatnya memanggil Naina ke dapur.


"Oh, sudah, Pak. Ada di –" Naina berjalan ke arah meja makan, membuka tudung saji di mana ia sudah menyiapkan dua buah sandwich untuk sarapan Zoya pada sebuah piring, lantas menyerahkannya pada Ethan. Pria itu menerimanya dan melihat sandwich buatan Naina. Sandwich isi daging.


"Zoya belum sarapan, saya tidak ingin dia datang menghadiri resepsi pernikahan Randy dan Selin dengan perut kosong."ungkapnya yang membuat Naina hanya menganggukan kepala sopan, pria itu tersenyum sembari mengangkat piring berisi sandwich kemudian berlalu dari hadapan Naina, kembali ke ruang utama rumah untuk menghampiri istrinya.


"Kamu belum sarapan." sahutnya seraya menyodorkan piring ke hadapan wanita itu. Zoya meraih piring dari tangan sang suami dan melihat isinya. Matanya seketika berbinar melihat dua potong sandwich tersebut dan segera mengigitnya. Ethan benar, ia belum sarapan dan sangat lapar.


"Kamu udah sarapan?" tanya Zoya kemudian pada pada sang suami yang tampak sudah begitu tampan. Kepala pria itu menggeleng.


"Yaudah, sarapan dulu." menyodorkan piring di mana tersisa satu sandwich di dalamnya. Tapi justru pria itu mendekatkan diri pada potongan sandwich yamg sudah Zoya gigit kemudian memakannya sebagian persis di bagian gigitan bekas Zoya. Sontak membuat wanita itu terkejut terlebih dua orang yang sedang meriasnya saling bertatapan. Zoya tau mereka sama - sama tersenyum di balik masker yang dikenakannya.


Sedangkan Ethan tampak seperti biasa. Santai dan bersikap seolah hanya ada mereka berdua di sana.


"Lagi?" wanita itu bertanya pelan. Kepala Ethan menggeleng. "Udah, nanti kamu nggak kenyang." sahut pria itu, tampak menahan tawa dan membuat Zoya mencebikan bibirnya.


Kurang lebih setelah setengah jam proses make over Zoya yang cukup membuat Ethan dan Naina menunggu cukup lama. Akhirnya ketiganya siap untuk berangkat menuju sebuah gedung hotel di mana acara pernikahan Randy dan Selin digelar.

__ADS_1


Ethan tak berhenti takjub melihat penampilan sang istri yang sedemikian cantik. Ia tak salah memilihkan gaun tersebut untuk Zoya.


"Cantik ya?" tanya wanita itu dengan senyum tertahan saat Ethan terus menatapnya sepanjang mereka berjalan menuju teras. Pria itu mengangguk mengiyakan, membuat Zoya tersipu yang akhirnya hanya menggandeng lengan pria itu.


Zoya terus tersenyum begitu melihat pantulan dirinya pada kaca jendela mobil. Model rambut kombinasi mini braids dan loose waves yang begitu cantik, simpel dan cocok untuknya.


Ethan dengan Zoya duduk di kursi belakang, sedangkan Naina berada di kursi bagian depan di samping kemudi di mana Ethan menyuruh sopir perusahaan untuk menjemputnya karena ia tak ingin menyetir.


"Kamu jadi kasih hadiah apartement buat Randy sama Mbak Selin?" tanya Zoya begitu mobil perlahan mulai melaju meninggalkan pelataran rumah.


Ethan di sampingnya mengangguk. "Mm, jadi."


"Kalau aku kasih mereka apa ya?" Zoya menaruh telunjuk di bibir, tampak bingung untuk menentukan hadiah bagi Randy dan Selin. Sedangkan di kursi depan, Naina hanya tersenyum kecut. Menatap paper bag di tangannya yang isinya sebagai kado pernikahan untuk Randy dan Selin yang dirinya pun merasa tak yakin layak atau tidaknya hadiah yang ia beli kemarin saat di mall.


Rasanya terlalu murah dan tidak istimewa. Ia bahkan merasa terkejut mendengar Ethan akan memberikan apartement untuk Randy dan Selin. Naina cukup yakin jika Ethan akan memberikan apartement elite. Butuh waktu empat sampai lima tahun atau bahkan lebih dari itu untuk Naina bekerja agar dapat membeli apartement.


"Tiket honeymoon aja gimana?" Zoya meminta pendapat pada sang suami. Karena jujur, sejak kemarin - kemarin ia memang bingung hendak memberikan kado apa untuk sang manejer.


"Boleh." Ethan tampak setuju.


"Atau ..., mobil aja gimana?"


"Boleh juga."


Naina hanya mampu menelan saliva mendengar hal itu. Di belakangnya, Zoya terus mengoceh mengenai kado pernikahan yang akan diberikannya pada sang manejer. Sedangkan Naina masih menimang - nimang apalah ia akan menyerahkan kadonya atau tidak untuk Selin dan Randy.

__ADS_1


TBC


__ADS_2