Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Cinta dan Kehidupan (1)


__ADS_3

Setelah menjadi dokter umum dan bekerja di salah satu rumah sakit ternama di Jakarta. Brandon fokus dengan profesinya tersebut, ia mengabikan cinta dan menjalani kehidupan apa adanya sesuai dengan garis takdir yang menuntun ia sampai di titik sekarang.


Masa lalunya dengan Desty sudah terkubur dalam sebagai kenangan. Kabar terakhir yang ia dengar tentang mantannya tersebut adalah Desty yang sudah memiliki anak. Brandon turut bahagia dengan hal itu.


Sementara dirinya sendiri— "Dokter Brandon,"—Mungkin sedang proses melengkapi hidup setelah sekian lama mengabaikan cerita cinta dalam hidupnya.


"Dokter Gisna," Brandon kembali menegur. Gisna terkekeh. "Mau makan siang bareng?" tanya gadis itu dengan senyum ramah. Brandon mengangguk, kemudian keduanya berjalan ke arah kantin Rumah Sakit yang berada di lantai satu.


Banyak yang terjadi selama empat tahun ini. Termasuk bagaimana seorang Brandon bersikap, ia terlihat dewasa, yah, jika di depan wanita. Terutama Gisna.


Brandon tak sengaja bertemu Gisna saat ia masih berkuliah di Jerman. Saat itu, Gisna tengah mengunjungi saudaranya. Malang, gadis itu kehilangan dompetnya karena tertinggal di dalam taksi yang ditumpanginya.


Barangkali keduanya berjodoh, Brandon yang memang sudah lama mengenal Gisna karena gadis itu mantan pacar Agyan, menolong menolong Gisna dengan mengantarkan gadis itu ke tempat tujuannya. Dari sana, keduanya menjadi akrab dan terus berkomunikasi.


Ada titik kenyamanan tertentu yang membuat keduanya semakin akrab. Sampai pekerjaan membuat mereka bertemu di Rumah Sakit yang sama dan membuat hubungan keduanya kian dekat.


Perbedaan jarak usia di antara keduanya tidak menjadi hambatan untuk menjalani kedekatan pada jenjang lebih.


"Oh, yah. Aku ngundang kamu buat dateng ke pernikahan Cherry, dia titip undangan." sahut Brandon di sela-sela makannya. Ia menyerahkan sebuah undangan pada Gisna yang masih meletakan sendok di ujung mulutnya.


"Oh, yah, jadi mau diduluin adik kamu?" gadis itu justru malah meledeknya. Brandon hanya tersenyum. Kemudian menyahut. "Ya, gimana. Aku pengen, tapi belum ada calon."


Gisna tersenyum. "Makannya nyari, kalau cuma nunggu, gak bakal ada, lah."


"Kenapa?"


"Karena kudratnya, laki-laki itu mencari."


"Sedangkan perempuan menunggu?" tanya Brandon dengan cepat. Gisna mengangguk.


"Jadi sekarang kamu sedang menunggu?"


Gadis itu mengangguk. "Kalau gitu aku gak perlu nyari, 'kan udah ada."


"Hah?"


*


*


"Ini udah pas, 'kan?" tanya Cherry. Ia menilik lekukan tubuhnya di depan cermin. Gavin di sampingnya hanya memperhatikan tanpa ada niat untuk berkomentar. Ia sibuk dengan ponsel di tangannya.


Cherry berdecak, berjalan dengan susah payah karena gaun pengantin yang dikenakannya. "Mama, Gavin niat nggak, sih, nikahin aku!" ia mengadu pada calon mertuanya.


Calon mertua yang juga pemilik butik itu tersenyum pada calon menantunya. "Gaun ini Mama yang desain khusus, cocok di kamu, cantik."


"Nggak mungkin nggak, pas."


Gavin mengangguk membenarkan apa yang dikatakan mamanya, berdiri menghampiri Cherry yang menekuk wajah padanya. "Iya. cantik. Apa pun yang kamu pake cocok."


"Bukan itu, ini, 'kan beda."


"Iya, cantik, cocok!"


Mama Gavin tersenyum, menggandeng Cherry dan menatap putranya. "Kamu coba stelan buat kamu, nanti kita liat cocok apa nggak."


Gavin mengangguk, berjalan menuju fitting room sambil melambaikan tangannya pada Cherry. Tapi sebelumnya, ia sempat mematikan sebuah vidio game di ponselnya yang sejak tadi menyita perhatiannya.

__ADS_1


"Cherry jadi bingung, Gavin yang ngebet ngajak nikah, tapi sekarang fiting baju pengantin aja males, heran, deh." gerutunya setelah calon suaminya itu berlalu.


Mama Gavin hanya tersenyum, tampaknya seorang Danu Praja harus merasa beruntung memiliki istri penyabar dan murah senyum seperti itu.


"Semua laki-laki memang seperti itu Sayang, mereka nggak suka hal-hal yang ribet."


Cherry mengangguk dengan bibir yang mencebik kesal. Membenarkan apa yang dikatakan calon mertuanya.


Pada dasarnya pria memang tidak menyukai hal-hal rumit. Gavin contohnya, meski Cherrry harus bersyukur, dalam hal lain, pria itu terlihat serius dan antusias.


Seperti mengurus konter hpnya dan mempersipakan gedung pernikahan serta keperluan lain pernikahan mereka misalnya.


*


*


Seorang gadis berseragam SMA tampak memarkirkan mobilnya di depan sebuah bengkel modifikasi motor. Ia mendesah, melirik sebuah plang bertuliskan MorganFah Motorycles, kemudian berjalan masuk melewati beberapa orang yang sedang memodifikasi motor di bengkel tersebut.


Sementara pria dengan kaos hitam dan celana hitam selutut dan sedang menghidupkan mesin motor tampak tersenyum ke arahnya.


"Sayang." sapa Morgan. Kemudian ia memanggil pegawainya dan menyuruh untuk melanjutkan pekerjaannya.


"Tadi kamu ngechat aku nyuruh buru-buru. Aku samperin ke rumah nggak ada, tau-tau masih di sini." gerutunya. Morgan nyengir, memamerkan deretan gigi putihnya dan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.


Gadis berseragam SMA Ghalapagos itu menilik penampilan Morgan, ia berdecak dan menggelengkan kepalanya.


"Penampilan kaya gini kamu ngajak aku jalan, Kak? Yang bener aja!"


"Ini rapih."


"Tapi nggak banget!"


"Gladis,"


"Sayang!"


Morgan menahan tangan gadis itu. "Yaudah, kita ke rumahku dulu. Mandi, dandan rapih, baru jalan."


Gadis itu tersenyum dan mengangguk. "Gitu, dong. kita, 'kan sambil nyari kado sama baju buat ke acara nikahan temen kamu."


"Kamu pake seragam?"


"Nanti aku ganti baju di rumah kamu. Aku bawa."


Morgan mengangguk sambil bergumam, menggandeng sang pacar dan berjalan ke arah mobil Gladis yang terparkir di depan bengkel modifikasi miliknya.


Berawal dari hobby-nya mengendarai motor sport dan memodifikasinya sendiri. Morgan berinisiatif membuka bengkel modifikasi berbagai macam motor dan mendapat dukungan penuh dari Mona dan Bima.


Sementara Gladis adalah seorang gadis SMA yang tak sengaja bertemu dengan Morgan saat ayah Galdis penggila motor harley itu berkunjung ke bengkelnya.


Kemudian Morgan merasa tertarik pada gadis itu, begitu juga Gladis yang merasa terpesona dengan owner bengkel langganan sang ayah. Sehingga mereka memilih untuk jujur dengan perasaan masing-masing dan menjalani sebuah hubungan.


"Jadi jalan nggak?" tanya Gladis yang sudah melepas almamaternya. Morgan di sampingnya belum kunjung menghidupkan mesin mobil.


"Semangat banget mau ketemu calon mertua." ledeknya. "Tadi Tante Mona keluar, di rumah cuma ada asisten rumah tangga kamu doang."


"Itu pun dia mau pergi ke pasar." sambungnya sambil mengenakan seatbelt.

__ADS_1


"Enak dong, rumah sepi." pria tampan itu menaikan alisnya dengan maksud terselubung dalam kalimatnya.


"Ada Om Bima sama Dokter Tama!"


"Yah, gagal!"


"Dasar!"


Cinta dan kehidupan. Selalu ada yang lain setiap hari, setiap waktu, selalu ada cerita berbeda, entah itu cinta maupun kehidupan.


Bagi Freya dan Agyan. Cinta dalam kehidupannya bukan rumit, hanya saja berjalan berbeda dengan kawan-kawannya.


Jarang bertemu, jarang berkomunikasi sudah menjadi hal biasa yang tidak akan mengancam hubungan keduanya. Sekarang atau sepuluh tahun yang akan datang, keduanya akan tetap bertahan sampai restu berpihak pada mereka.


"Frey, udah siap belum?" tanya Warry, setengah berteriak pada Freya. Anna tampak sudah rapih di sampingnya, begitu juga Warry karena mereka akan menghadiri acar penting.


Tak lama, Freya muncul menuruni anak tangga. Ia tampak elegan dengan dress pesta berwarna hitam dengan bahu yang terbuka. Rambutnya dibiarkan tergerai begitu saja.


Anna tersenyum, menghampiri Freya dan menyampirkan blazer panjang berwarna putih di bahu putrinya. "Makasih, Mi." Anna mengangguk, menggandeng Freya, Warry pun demikian, lalu ketiganya berjalan menuju pintu keluar.


Freya patut berbahagia malam ini, di mana Gavin, saudara sepupunya akan melakukan resepsi pernikahan dengan gadis yang dicintainya setelah siang tadi selesai melangsungkan akad nikah. Kesempatan juga baginya untuk dapat bertemu dengan Agyan meski hanya saling bertatapan, setidaknya, rindu Freya dapat terbalaskan karena siang tadi ia tidak menghadiri akad nikah karena merasa tidak enak badan.


"Frey," Anna menyentuh lengan putrinya. Freya menoleh.


"Jangan ngelamun."


"Enggak, Mi."


Warry hanya menoleh melihat putrinya sekilas. Freya menoleh ke belakang, di mana sedan hitam mengikuti mobil yang ditumpanginya. "Orang-orang Papi harus banget ikut?" tanya Freya, Warry mengangguk, dan Freya hanya mendesah kesal.


Acara resepsi pernikahan berlangsung di sebuah ballroom hotel bintang lima. Para tamu undangan sudah memadati lokasi. Sebagai kawan baik Tama, tentu saja Gryrcia hadir di sana, dengan Agyan yang berteman baik dengan Gavin, dan juga Andres yang berkawan dengan Danu.


Grrycia berkumpul dengan kawan-kawannya, Andreas menghampiri Danu dan juga sebagian rekan kerjanya yang turut diundang pada acara saat ini. Begitu juga Agyan yang bergabung dengan Morgan and the geng.


"Makin ganteng aja, loe, Gyan." sahut Morgan dengan iseng, Gladis menyender lengan Morgan, pria itu meminta maaf. Sementara Agyan yang memegang gelas minuman hanya tersenyum kalem.


"Loe juga makin ganteng," Vina menyahut sambil terkekeh. Morgan memberi tatapan nyalang pada Vina yang jelas-jelas meledeknya.


"Untung Bang Rayn sabar punya bini kaya loe," sahutnya. Rayn hanya tersenyum. Tak lama, Vanesh datang entah dari mana. Ia berdiri di samping kakak iparnya.


"Pengen gendong Rival dong," sahutnya pada Rayn.


Rival Afgara Zeinn, bocah berpipi cabi itu adalah putra pertama Rayn dengan Vina yang saat ini berusia lima belas bulan.


"Mau nggak Rivalnya sama kamu?" tanya Rayn. Vanesh memasang senyum agar Rival tertarik padanya.


"Rival sama aunty, yah." gadis itu mulai membujuk.


"Nggak mau!" bocah itu menyahut sambil menggeleng dengan suara khas anak kecil. Vanesh mencebikan bibirnya, sementara kawan-kawannya hanya menertawakan saja.


"Padahal dia kalau nginep suka pengen di gendong, loh. Awas aja kalo nginep ke rumah aunty." ancamnya. Rival hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil memain-mainkan dasi kupu-kupu Rayn yang beberapa kali dicegah oleh Vina.


"Kalau sama Om, mau?" Agyan yang sejak tadi memperhatikan kini menyodorkan tangannya pada Rival. Bocah tampan dengan kemeja putih dan rompi hitam itu hanya menyentuh lengan Agyan, pertanda jika ia bersedia.


Agyan menyerahkan gelas minumannya pada Vina dan menggendong Rival.


"Rival curang!" Vanesh menggerutu, Braga hanya tersenyum melihatnya.

__ADS_1


"Anak kecil juga pilih-pilih kali!" Vina menyahut sambil menggandeng tangan Rayn. Rayn hanya tersenyum saja pada adik ipar yang tidak pernah akur dengan istrinya itu.


TBC


__ADS_2