
Pagi-pagi sekali, Ethan dengan Zoya keluar dari apartement Zoya untuk pulang. Sepanjang perjalanan, Zoya hanya menatap keluar jendela mobil dengan kaca yang ia turunkan, menikmati langsung angin pagi yang menyapa tubuhnya.
"Mau sarapan bubur nggak?" tiba-tiba Ethan bertanya. Membuat wanita itu menoleh, dagu Ethan mengarah pada sebuah gerobak bubur yang berada di pinggir jalan. Seketika Zoya menganggukan kepalanya tanpa ragu.
Ethan tersenyum, kemudian menepi. Zoya bergegas turun lebih dulu dan menghampiri gerobak bubur. "Selamat pagi, Pak. Buburnya dua mangkuk, yah." pesan Zoya dengan ceria setelah sebelumnya sempat menyapa pedagang bubur. Ethan yang melihat hal itu tersenyum. Mengikiti wanita itu dari belakang dan kemudian duduk pada sebuah kursi panjang yang tersedia di sana.
"Dua, yah, neng?" si Bapak bertanya sembari menoleh. Memperhatikan Zoya yang tampak tidak asing baginya. Ethan mengiyakan mewakili Zoya.
"Kamu sering makan kaya gini?" tanya Zoya, penasaran. Ia kira orang sekelas Ethan tidak akan mau makan di pinggir jalan.
"Ini kali pertama–"
"–Sama kamu."
Sontak Zoya mengembangkan senyum, kemudian terkekeh geli. "Kok tiba-tiba kepikiran buat sarapan di sini, sih?" tanya Zoya lagi. "Mm, inisiatif aja. Biar irit," lagi. Zoya tertawa. Tidak menyangka jika Ethan pandai memancing tawa.
Benar kata orang-orang, jangan melihat sesuatu dari luarnya saja. Seperti Zoya yang menilai Fahry dari luarnya saja, rupanya pria itu pembohong besar dan sangat berbahaya. Zoya mendesah mengingatnya, Ethan di hadapannya mengusap tangan wanita itu. Membuat Zoya mengalihkan tatapannya pada pria itu.
"Enggak dingin?" Ethan mencoba mengalihkan pikiran Zoya agar tidak melamun.
"Mm, lumayan." Zoya tersenyum. Bapak pedagang bubur menyajikan dua mangkuk bubur spesial untuk mereka di atas meja. "Pak, makannya pake sendok?" Ethan tiba-tiba bertanya pada si Bapak, membuat si Bapak dan Zoya menatapnya heran. Zoya tau ini kali pertama Ethan makan di pinggir jalan, tapi apa tidak berlebihan bertanya hal tersebut?
"Emang pake apa?" Zoya memutuskan berta?ya setelah sesuap bubur masuk ke mulutnya.
"Sumpit."
"Hah?"
"Pake sendok udah mainstream." sahutnya dengan santai.
Zoya tertawa, begitu pula si Bapak. Sedangkan Ethan hanya menatap wanita di hadapannya dengan perasaan bahagia.
"Bercanda Pak." sahut Ethan pada si Bapak yang masih memperhatikannya penuh ketidakmengertian.
"Dikira, teh, beneran." si Bapak menyahut diakhiri tawa kecil.
"Ini lagi bertransformasi Pak, dari kaku ke receh." sahut Zoya diselingi tawa, Ethan hanya menggeleng dan tersenyum sambil menikmati buburnya.
"Pasti pengangantin baru, yah Neng?" si Bapak berujung kepo dan akhirnya bertanya.
"Iya Pak."
"Ya pantesan atuh,"
Kali ini Zoya menoleh pada si Bapak penjual bubur. "Pantesan apa Pak?"
"Cocok Neng, masih kelihatan sekali bumbu pengantin barunya."
Zoya ber oh ria, lanjut menikmati buburnya saat beberapa orang datang untuk sarapan bubur. Kebetulan hari ini memang hari libur, banyak orang yang mulai terlihat berlalu lalang menikmati pagi sembari olahraga.
Zoya memperhatikan mereka. Ada yang berjalan santai sambil bergandengan tangan dengan pasangan, ada keluarga kecil yang menuntun anak mereka berjalan. Dan masih banyak lagi, rasanya Zoya sudah lama tidak melihat pemandangan seperti ini.
Ia perlu berterimakasih pada Ethan yang sudah mengajaknya sarapan bubur di pinggir jalan pagi ini.
__ADS_1
"Itu, Zoya 'kan?"
"Mana?"
"Itu yang lagi sarapan bubur,"
"Iya, sama suaminya."
"Ke sana, yu."
Keempat wanita yang sedang berolahraga dengan berjalan santai itu melangkah ke arah gerobak bubur di mana Zoya dan Ethan ada di sana sedang menikmati sarapan. Ingin melihat Zoya Hardiswara lebih dekat.
"Aku enggak keliatan, 'kan?" tanya Zoya, mulai risih saat banyak orang yang berdatangan. Ia menundukan kepala dan mencoba menutupi wajah dengan rambutnya.
Ethan memperhatikan dengan santai, membiarkan orang-orang mulai mengambil beberapa gambar mereka.
"Aku kalo nggak make up beda, loh." sahut Zoya dengan suara pelan.
"Apanya yang beda, make up atau enggak kamu tetep sama."
Zoya tersenyum bisa-bisanya di saat seperti ini Ethan membuat perasaannya berbunga-bunga.
"Aku cantik?" Zoya menyelipkan rambut ke belakang telinga dengan sangat percaya diri. Ethan menggelengkan kepala, membuat wanita itu membulatkan mata tidak percaya.
"Kamu serius?"
Lagi, Ethan mengangguk tanpa ragu. "Kamu ada kegiatan apa hari ini?" tanya Ethan kemudian.
"Syuting jam dua belas siang, tapi sebelumnya aku harus photoshoot karena kemaren ketunda."
"Kalian ingin foto bersama Zoya Hardsiwara?" tanya Ethan pada orang-orang yang berkerumun, membuat Zoya terheran dengan apa yang sedang Ethan coba untuk lakukan.
"Mau,"
"Mau,"
Mereka menyahut serempak dengan jawaban yang sama. Sekarang si Bapak pedagang bubur sadar jika pelanggan pertamanya hari ini adalah seorang aktris terkenal, pantas saja ia merasa familiar sejak tadi. Wajah aktris tersebut seringkali berseliweran di layar tv.
"Boleh foto bersama Zoya dengan syarat kalian harus membeli semangkuk bubur."
"Setuju." mereka menyahut serempat tanpa berpikir dua kali. Buru-buru mendekat pada Zoya untuk segera mengambil foto. Ethan dengan senang hati sesekali menjadi photografer. Sebagian orang yang menunggu menikmati bubur, membuat si Bapak kerepotan malayaninya.
**
"Aku gak nyangka sama ide kamu,"
"Briliant." sahut Zoya ketika mereka sudah berada di dalam mobil, si Bapak penjual bubur sangat berterimakasih pada Ethan dan Zoya yang sudah membuat buburnya habis meski waktu masih sangat pagi.
"Kamu seneng?" tanya Ethan. Zoya mengangguk, menatap keluar jendela mobil. Tak lama. ia menoleh pada Ethan. "Ethan,"
Pria yang sedang fokus pada gagang stir itu menoleh sebentar. "Ada apa?"
"Kenapa kamu baik sama aku?" tanya Zoya, matanya tak berpaling dari wajah pria itu. Menunggu apa yang akan Ethan jadikan sebagai jawaban atas pertanyaannya.
__ADS_1
"Perlu alasan buat ngelakuin hal baik?" justru Zoya mendapatkan pertanyaan. "Enggak, sih," Zoya menyahut, setelahnya menatap ke depan begitu mereka tiba di rumah. Bukannya turun, Zoya justru hanya diam.
Ethan yang sedang membuka seatbelt memperhatikan. "Hari ini biar saya yang antar kamu ke lokasi pemotretan." Zoya menoleh, kemudian mengangguk, tapi ia masih mempertimbangkan sikapnya. Ekspresi seperti apa yang harus Zoya perlihatkan di depan Selin saat mereka bertemu nanti?
Zoya menoleh saat tangan Ethan mendarat di atas tangannya, pria itu mengukir senyum. "Kenapa?"
Zoya menggelengkan kepala. Setelah itu keduanya turun dari mobil, tak lama, sebuah sedan putih memasuki pelataran rumah Ethan, dua orang itu menatap seseorang yang keluar dari sana.
Selin keluar dari pintu bagian kemudi dan segera menghampiri Zoya. Ia melihat postingan seseorang yang mengunggah poto Zoya dengan Ethan sedang sarapan bubur, membuat Selin berinisiatif datang ke rumah baru Ethan dan Zoya.
"Zoy, kamu nggak papa, 'kan?"
"Mbak khawatir banget sama kamu. Kemaren kenapa kamu tiba-tiba ngilang?" Selin mengusap rambut Zoya dan setelahnya memeluk wanita itu. Zoya hanya membeku, Ethan menganggukan kepala dan berlalu lebih dulu meninggalkan dua orang itu di pelataran rumah.
"Kamu enggak papa, 'kan?" Selin mengurai pelukan. "Kamu kalau ada apa-apa cerita sama Mbak, jangan ngilang-ngilang lagi, okey?" Selin menatap sendu, Zoya mengukir senyum, kemudian mengangguk.
Untuk persahabatan dan rasa persaudaraannya dengan Selin, Zoya mengalah. Menunggu sampai Selin sendiri yang akan bercerita padanya nanti.
"Sekarang kita siap-siap, kamu nggak lupa 'kan kalau photosoot kamu sama Edrin dilakuin sekarang?"
Zoya mengangguk, Selin menggandeng Zoya menuju ke rumah. "Tapi kamu beneran nggak papa 'kan?" sekali lagi Selin memastikan sambil berjalan.
"Aku nggak papa, Mbak nggak perlu khawatir."
Selama menunggu Zoya bersiap, Selin duduk di ruang tamu. Ethan yang sudah rapi karena akan mengantarkan sang istri ke tempat kerjanya melangkah menghampiri Selin. Wanita itu bangkit dan tersenyum sopan pada Ethan.
"Saya mau tanya sesuatu." Ethan tanpa basa-basi mode on. Selin mengangguk mempersilakan Ethan untuk bertanya apapun.
"Kamu memiliki hubungan spesial dengan Fahry?" tanya Ethan. Selin tampak terlejut, ia tersenyum hambar. "Kenapa Pak Ethan bertanya seperti itu?"
"Kamu hanya perlu menjawab iya atau tidak?"
"Tentunya Pak Ethan harus memiliki alasan kenapa menanyakan hal tersebut. Apapun itu, itu urusan pribadi saya."
Ethan menghela napas. "Saya pernah melihat kalian berbicara di perusahaan." sahut Ethan mengingat kejadian tempo hari.
"Jika hanya sekedar berbicara, saat ini pun saya sedang berbicara dengan Pak Ethan. Apa hubungan kita bisa dikatakan sebagai hubungan spesial?"
Ethan tersenyum. "Tentu saja tidak,"
"Saya dengan Fahry juga begitu, kami hanya berbicara biasa. Jika Pak Ethan berpikir saya berhubungan dengan Fahry dan mengkhianati Zoya, Bapak salah."
"Saya dengan Fahry tidak memiliki apapun. Dan lagi ...,"
"Fahry dengan Zoya sudah putus."
Ethan terlihat mengerutkan kening. Putus?
"Ayo," pandangan keduanya teralihkan pada Zoya yang sudah bersiap. "Zoy, kamu ikut mobil aku?" tanya Selin, hendak menghampiri Zoya tapi Ethan lebih dulu berada di hadapan Zoya. "Kamu ikut mobil saya!" Berlalu begitu saja, membuat Zoya menoleh ke belakang melihat punggung pria itu yang menjauh darinya dan berjalan ke arah pintu keluar.
"Mbak, aku ikut Ethan aja."
"Oh, iya." Selin setengah pasrah.
__ADS_1
Zoya mengekor di belakang suaminya. Masuk ke mobil Ethan begitu pria itu membukakannya pintu. Sedsngkan Selin masih berdiri di teras rumah menatap keduanya.
TBC