
Dengan adegan terakhir mencium punggung tangan lawan mainnya, pria tampan itu lantas memejamkan mata sekilas karena pusing yang dirasa begitu sang sutradara berseru "Cut."
Setelahnya, ia bisa bernapas lega. Asistennya segera mengikuti langkahnya menuju basecamp dan memberikannya sebotol air mineral. Juga mengambil tisue banyak - banyak dan mengelap butiran peluh yang menghiasi sekitar kening mulus pria tampan itu.
"Good." manejernya mengangkat kedua jempol dan duduk pada kursi lain yang tersedia di sana. Tersenyum memberikan apresiasinya untuk sang aktor.
"Film bagus. Siapa tau kamu minat," lantas menyerahkan beberapa lembar kertas yang sudah disatukan membentuk sebuah buku tanpa jilid. Edrin menyipitkan mata, membaca judul filmya kemudian menatap sang manejer.
"Besar kemungkinan lawan mainnya Zoya." beritahunya bagai mengerti pertanyaan pria itu melalui sorot matanya. Edrin terlihat mempertimbangkan, menaruh botol air mineralnya dan membuka lembar naskah. Membacanya dengan teliti.
"Ngeliat kalian di film terakhir chemistry udah cocok banget. Meskipun kali ini beda genre, tapi kamu sama Zoya kelihatan klop kalau mainin film ini." terang sang manejer. Ia sudah melihat baik - baik bagainana isi naskahnya. Siapa produsernya dan siapa orang yang akan menyutradarainya. Ia merasa aktris yang juga adalah keponakannya ini akan mampu kembali menarik perhatian masyarakat jika terlibat dengan Zoya dalam project baru.
Terutama mengingat mereka di film sebelumnya dan menyita banyak perhatian lapisan masyarakat. Bahkan para fans mereka menginginkan keduanya menjalin hubungan di real life.
"Gak tertarik!" Edrin meletakan lembar naskah tersebut pada pangkuan sang tante. Membuat wanita dengan rambut sebahu itu terdiam heran, menatap Edrin dengan tatapan tak mengerti.
"Why?"
"Ini kesempatan bagus, Drin." sambungnya dengan alis bertaut dan nada bicara yang menuntut.
"Berhadapan sama Ethan?" alis pria itu juga bertaut.
"Big No!" finalnya tanpa bisa diganggu gugat.
"Tante lihat sendiri gimana waktu Ethan ngacau di scene aku sama Zoya yang seharusnya jadi milik aku!" kesal Edrin mengingat hal tersebut. Di mana ia sudah sangat mengigil karena hujan buatan dan beberapa kali harus re - take, namun Ethan justru mengambil alih perannya.
"Tapi ini kesempatan terbaik buat kamu menciptakan rumor."
"Cara kotor? Big no!" tolaknya lagi, telak.
Sang Tante mendesah. Mungkin sebaiknya ia memang tidak perlu menjadi manajer dari keponakannya yang keras kepala ini. Wajar jika manajer pria itu sebelumnya memilih mundur.
Edrin tipe orang yang keras, tapi kadangkala cepat berubah - ubah.
**
"Aku lagi siap - siap, Mbak juga mau jemput, 'kan?" tanya Zoya seraya mengenakan anting - antingnya. Hadiah dari Ethan saat bulan madu kemarin. Oh, yah, ia lupa memberikan hadiah pada suami tercintanya itu. Kira - kira, apa yang harus Zoya berikan untuk suminya?
Mungkinkah bayi kembar yang lucu? Wanita cantik itu menepuk kepalanya sendiri seraya tersenyum. Menepis pikiran random yang bersarang di kepalanya.
"Mbak jangan telat, yah. Aku belum ada persiapan." ia kemudian kembali mengingat jika sedang berbicara jalur telpon dengan sang manejer.
"Astaga, Zoy. Serius?"
"Aku bangun kesiangan. Belum lagi ngurusin Ethan dulu," Zoya melakukan pembelaan. Pada kenyataannya, ia hanya menyiapkan pakaian Ethan. Kemudian berleha - leha di atas tempat tidur selama suaminya bersiap - siap untuk pergi ke gedung agensi.
"Enggak ada Adhel, repot, nih." ungkap Zoya, berjalan ke arah walk in closet dan mengambil sebuah hermes berwarna putih kesayangannya.
"Aku kepikiran buat nyari asisten, deh. Gak enak kalau apa - apa selalu Mbak Selin terus," ocehnya. Selin tak menyahut, yang Zoya tau panggilan sudah terputus. Selang sekitar kurang lebih tiga menit, pintu kamarnya diketuk dan Selin masuk saat ia sudah mempersilakan.
__ADS_1
"Udah beres?" tanya Selin, melihat peralatan make up seperlunya Zoya yang akan wanita itu bawa. Memasukannya pada tas khusus milik Zoya.
"Beres, tapi belum sarapan." Zoya menyahut santai sembari menyempurnakan penampilannya dengan menyemprotkan parfum pada leher dan pergelangan tangan.
"Enggak sarapan bareng sama suami kamu?"
"Ethan sarapan di kantor, cuma bawa bekelnya dari rumah. Aku juga bawa bekel aja, yah. Nanti makan di jalan,"
"Di mobil." mata Selin mengerling iseng.
"Kamu mau makan di pinggir, atau tengah jalan?"
"Ih, maksudnya diperjalanan." bibir wanita itu mengerucut. Selin tertawa.
"Sans, Mbak bawa sandwich di mobil."
"Wih."
Selin tersenyum bangga saat Zoya mengangkat kedua jempol padanya. Begitu selesai dengan persiapan dan kesiapan Zoya, lantas Selin keluar dari kamar dengan Zoya. Ssbelumnya, ia menilik penampilan wanita itu karena Zoya menjadi bintang tamu dalam acara on air, Selin mengangguk puas melihat aktrisnya yang tampil cantik dan modis.
Barangkali mereka akan mempertanyakan mengenai liburan Zoya kemarin bersama dengan suaminya. Kemarin - kemarin Zoya menolak undangan tersebut, tapi setelah ia pikirkan. Lebih baik dirinya hadir dan memamerkan keharmonisan dan keromantisannya dengan Ethan pada seluruh wanita di luaran sana yang ingin pada suaminya. Setidaknya hadir di salah satu dari beberapa acara lumayan untuk membagi kisah cintanya.
"Naina, saya akan berangkat bekerja. Kemungkinan pulangnya sedikit malam, seperti biasa kamu tetap menyiapkan makan malam, yah." pesan panjang lebarnya saat melihat Naina yang tengah mengelap meja kaca di ruang utama. "Ethan jarang makan malam di luar." sambungnya pada gadis yang sejenak menghentikan pekerjaannya itu.
Naina nengangguk, menatap kepergian Zoya dan menerka. Apa sebenarnya pekerjaan wanita itu?
"Kayaknya aku udah nemuin asisten yang cocok." ucap Zoya saat Selin membukakan pintu mobil untuknya. Selin tak merespon, menutup pintu mobil dan sedikit mengitarinya hingga ia menempatkan diri di kursi kendali.
"Naina."
Selin mengerutkan kening. Sekilas merasa familiar, ia mengingat - ingat siapa nama yang baru saja Zoya sebutkan. Sampai kemudian ia mengangguk - anggukan kepala saat mengingat jika akhir - akhir ini Zoya sangat sering menyebut nama asisten rumah tangganya tersebut.
"Aku lagi belajar masak sama Naina, Mbak."
"Naina kasih tau aku cara tradisional biar cepet hamil."
"Aku dibuatin ramuan tradisional sama Naina."
Naina, Naina, dan Naina. Selin mengangguk penuh arti.
"Kamu yakin dia bisa diandelin?" wanita itu mulai menghidupkan mesin mobil dan meninggalkan pelataran rumah.
"Nanti tinggal Mbak Selin ajarin." Zoya menyahut tanpa dosa.
"Gampang kalau itu. Tapi kamu yakin percaya sama dia?"
"Percaya banget."
"Lagian dia cekatan juga, pokoknya bisa diandelin." Zoya meyakinkan. Membuat Selin lagi - lagi hanya mengangguk - anggukan kepala mempertimbangkan.
__ADS_1
"Yaudah kalau gitu."
Zoya juga mengangguk - angguk seraya mengangkat kedua jempolnya pada Selin yang sang manejer tanggapi dengan decakan pelan. Setelahnya, Zoya mengambil ponsel dan membuka jendela obrolannya dengan Ethan. Membaca story chatnya dengan sang suami sembari menikmati perjalanan .
Zoya dan Selin tiba di tempat acara tepat waktu. Seorang kru menghampiri Zoya dan memasangkan mikrofon pada wanita itu saat tak lama namanya sambut oleh pembawa acara. Sebelumnya Zoya juga sudah melihat headline tentangnya dan Ethan pada sebuah layar.
Ia yakin interviewnya akan didominasi oleh nama suaminya di sini.
**
Ethan tiba di rumah pukul tujuh malam tanpa ada yang menyambutnya. Ia berjalan seraya mengendurkan dasi, perlahan membuka jasnya bersamaan dengan Naina yang muncul dari arah dapur. Gadis itu sempat mematung sebelum akhirnya tersenyum ramah pada Ethan meski terlihat canggung.
"Saya dengar suara mobil Pak Ethan, maaf terlambat membuka pintu." sahutnya dengan tidak enak.
"Tidak masalah." Ethan menyahut flat seraya melepas jas yang ia kenakan. Naina berjalan mendekat pada pria itu dan hendak meraih jas yang sudah Ethan lepas, namun pria itu mengambil langkah mundur dengan mata mengarah pada gadis di hadapannya dan membuat Naina bingung.
Terdiam menatap sang majikan sampai kemudian ia memejamkan mata sekilas begitu sederet kalimat utama Zoya dari dua aturan yang wanita itu ajukan berputar di kepalanya.
"Jangan sentuh pakaian Ethan. Pakaian Ethan biar saya yang urus."
"Euu, maaf Pak. Saya lupa, sekali lagi maaf." sesalnya sambil menunduk - nundukan kepala. Ethan hanya mengangguk samar, memaklumi tindakan spontan Naina tadi.
"Pak Ethan tidak pulang bersama Ibu Zoya?" tanya Naina karena tidak melihat keberadaan Zoya bersama dengan Ethan, biasanya mereka akan pulang bersama. Melangkah ke dalam rumah dengan saling bercanda, atau mesra di mana tangan Ethan selalu melingkar di pinggang Zoya.
"Kemungkinan Zoya pulang terlambat."
"Mm."
"Lantas, Pak Ethan akan makan malam sekarang?"
Ethan diam sebentar. Mengembuskan napas pelan kemudian bertanya. "Kamu sudah makan?"
"Belum Pak."
Ethan justru diam. Jika biasanya mereka makan malam bertiga, malam ini Zoya tidak ada dan sangat tidak mungkin bagi Ethan untuk makan malam hanya berdua dengan Naina.
"Atau .., Pak Ethan mau makan malam di kamar saja?"
Tepat sekali, hal itulah yang ada di kepala Ethan saat ini. Ia menganggukan kepalanya.
"Siapkan makanan untuk saya, nanti biar saya yang ambil."
"Baik Pak."
Untuk pertama kalinya, Naina melihat pria itu tersenyum padanya. Senyum tipis yang tidak akan disadari siapa pun jika tidak memerhatikannya. Begitu pria itu berlalu, Naina bergegas menyiapkan makan malam untuk Ethan sesuai dengan yang pria itu inruksikan.
Beberapa kali gadis itu menggeleng takjub, mengagumi bagaimana kesetiaan seorang Ethan pada istrinya. Tentu ia tahu, akan sangat canggung dan tabu bagi mereka jika hanya makan malam berdua tanpa ada Zoya.
"Tampan, kaya dan setia." begitu gadis cantik tersebut berucap pelan dengan bibir mungilnya. Dengan harapan, ia pun akan seberuntung Zoya dalam memiliki pasangan.
__ADS_1
TBC
Aduh, telat up. Maaf, yah. Ini pun bikin naskah dalam kondisi ngantuk astagaš“