
Beberapa kali Rachel dan Randy sama sama melihat arloji di pergelangan tangan masing-masing. Para awak media sudah bersiap di ruang konferensi sedangkan Fahry belum kunjung datang, atau pria itu memang tidak akan datang.
Ethan menghela napas, ia hanya duduk tenang. Lebih tepatnya berusaha untuk tetap tenang. Bangkit dari duduknya, Ethan keluar dari ruangan Rachel dan berjalan menuju ruangannya sendiri sembari menentang ponsel, kemudian menempelkan benda tersebut ke daun telinganya. Panggilan terhubung bersamaan dengan langkah kaki Ethan yang sampai di ruangannya sendiri.
"Hallo."
"Hallo."
"Than."
Ethan hanya diam mendengar suara orang yang dua hari ini ia rindukan. Zoya belum mau pulang dan Ethan tidak bisa memaksanya, ia sendiri yang sudah mengatakan pada wanita itu untuk bersedia menunggunya siap.
"Ethan."
Kali ini Ethan menghela napas. "Kamu lagi ngapain?"
"Hmm? Aku masih di tempat tidur."
jawaban Zoya berhasil membuat Ethan mengangkat satu tangan di mana arloji berwarna goldnya melingkar pada pergelangan tangan. Pukul sembilan pagi, Ethan tersenyum.
"Kalau gitu bangunlah, kemudian sarapan."
"Aku bisa ngelakuin itu semua tanpa perintah."
"Tapi saya mau kamu mendengarkan."
Zoya diam di ujung sana. Tak lama wanita itu bersuara. "Oke, aku bangun, abis ini sarapan." Ethan mengangguk mendengarnya. Lagi, ia menghela napas. "Saya gugup."
"Gugup?"
"Kenapa?"
"Aku denger-denger, kamu mau gelar konferensi pers?"
"Hmm."
"Buat apa? Harusnya kamu gak perlu repot-repot, maaf, yah."
Kedua sudut bibir Ethan terangkat. "Buat apa kamu minta maaf?"
"Saya nggak repot, saya ngelakuin ini semua buat diri saya sendiri." Ethan harus tau, jika jawabannya membuat ekspresi wajah Zoya berubah sendu.
"Dan juga buat kamu." sambungnya.
"Saya ingin kita nyaman tanpa ada masalah apa pun." Ethan diam, Zoya juga tidak berbicara. Ethan hanya mampu mendengar deruan napas wanita itu melalui sambungan telpon.
"Zoya, sekarang saya mau tanya sama kamu." sahut Ethan.
"Kamu mendengar saya?" Ethan memastikan sebelum bertanya.
"Aku denger."
"Jawab pertanyaan saya dengan jujur."
Ethan terdiam sebentar, kemudian .... "Apa kamu sudah mencintai saya?" Ethan memejamkan mata, berharap-harap cemas dengan jawaban wanita itu di ujung sana. Mungkin sekarang bukan waktu yang tepat untuk bertanya, tapi setidaknya jika jawaban Zoya sesuai harapan, Ethan yakin akan melalui masalah ini dengan sangat mudah.
"Kalau jawaban kamu 'tidak' kamu bisa memutus sambungan telpon." Ethan tidak yakin, tapi begitu sambungan benar-benar terputus. Tangan pria itu perlahan turun dengan senyum hambar yang terbit di bibirnya. Ethan sudah menduga hal ini, memang tidak mudah baginya membuat perasaan Zoya sama dengannya.
Ketukan di pintu ruangannya membuat Ethan mendongakan pandangan, tak lama seorang staf wanita membuka pintu dan berdiri di sana.
"Pak Ethan, acaranya harus segera di mulai."
"Apa Fahry sudah datang?"
Dengan berat hati staf wanita tersebut menggelengkan kepala. Membuat perasaan Ethan kian kacau, tapi Ethan sudah berjanji pada Zoya untuk menyelesaikan masalah ini secepatnya. Kemudian Ethan akan dengan setia menunggu sampai Zoya mencintainya.
"Bagaimana Pak?"
Ethan mendesah, kemudian mengangguk dan mulai melangkah keluar dari ruangannya menuju ruang konferensi pers. Denting pesan masuk di ponsel dalam genggamannya membuat Ethan menentang ponselnya. Matanya menyipit, tak lama kedua sudut bibirnya tertarik ke atas dengan kepala yang menggeleng pelan.
...Wife...
__ADS_1
...Aku udah cinta sama kamu. Tapi malu mau bilang...
Lagi, Ethan tersenyum. Perasaannya jauh lebih baik sekarang, bahkan rasanya ia siap jika harus menghadapi dunia sendirian. Ah, tidak. Harus dengan Zoya.
Langkah kaki Ethan menuju tempat duduknya membuat media sigap mengambil gambar Ethan, kilatan blitz menerpa wajah tampannya.
"Bagaimana?" Rachel bagai bertanya dengan kode. Ethan tak bereaksi, sampai kemudian ia memulai pembicaraannya. "Saya membaca beberapa artikel tentang bagaimana hubungan pernikahan saya dengan Zoya Hardiswara. Kalian berharap seperti apa?"
Ethan diam sebentar, kemudian melanjutkan.
"Saya akan memulai semuanya dengan kejujuran di sini." terdengar sedikit keributan sesaat setelah Ethan mengatakannya. Kejujuran? Barangkali mereka mempertanyakan apa maksudnya.
"Saya dengan Zoya ..., kami memang tidak memiliki hubungan apa pun sebelumnya. Saat saya mengatakan jika kami sudah berpacaran selama dua tahun, itu semua bohong." lagi, terdengar keributan sampai kemudian mereka kembali senyap dengan sendirinya, beberapa awak media sibuk dengan laptopnya untuk menuliskan pernyataan yang Ethan sampaikan.
"Kami terjebak dalam kamar hotel milik saya. Kemudian foto saat kami akan memasuki kamar hotel tersebar luas begitu saja. Membuat reputasi Zoya Hardiswara dan juga agensi diserang media."
"Saya memiliki peranan besar di AE RCH, tentu saya tidak akan diam saja melihat kondisi yang tidak terkendali. Terlebih saya terlibat langsung dengan masalah tersebut."
"Itulah kenapa saya membuat rencana untuk menikah dengan Zoya."
Satu orang dari awak media tampak mengangkat tangan untuk bertanya, Ethan mempersilakan pria tersebut berbicara.
"Artinya pernikahan kalian hanya sandiwara, ada hitam di atas putih?"
Ethan tersenyum. "Pernikahan itu bukan sandiwara. Tidak ada kontrak perjanjian pernikahan, syarat atau kesepakatan apa pun. Pernikahan kami normal seperti pasangan pada umumnya dan ...,"
"Saya mencintai Zoya Hardiswara."
"Kami saling mencintai, tidak ada sandiwara apa pun di dalam pernikahan kami."
"Lalu bagaimana dengan berita yang tengah beredar, Pak. Zoya Hardiswara menjadi orang ketiga dalam rumah tangga aktris seniornya sendiri. Apa itu benar?"
Untuk kali ini Ethan terdiam, ia tidak tau harus mengatakan apa pada media. Sekali pun Ethan tau semuanya, ia belum membicarakannya dengan Fahry atau pun Anggun.
Ethan tidak bisa berbicara begitu saja tanpa persetujuan orang-orang yang bersangkutan. Sekarang ia merasa sangat kesal pada Fahry yang benar-benar rmtidak datang. Ethan bersumpah, setidaknya ia akan melayangkan satu pukulan ke wajah Fahry karena tidak mempertanggung jawabkan perbuatannya.
Sampai tak lama, seorang pria yang muncul di pintu masuk menarik perhatian setiap orang, begitu juga Ethan yang ikut mengalihkan perhatian. Fahry melangkah ke arahnya dengan langkah ringan.
Lama Fahry memikirkannya sampai ia benar benar siap untuk berbicara di hadapan media. Sebagai tanda permintaan maafnya pada Zoya, meski Fahry tidak yakin wanita itu mau memaafkannya.
"Mbak, jangan sampai Anye menonton tv hari ini. Bawa dia bermain kemana saja, saya hanya sebentar."
"Iya, Baik Pak." Anye sedang tidur setelah menghabiskan sarapanya dan mandi saat Fahry akan berangkat. Ia menitipkan Anye pada pengasuhnya.
Sebelum benar-benar pergi. Fahry melangkah menuju kamar putrinya. Ia duduk di tepi tempat tidur melihat mata putrinya yang terpejam dengan wajah damai. "Sayang, maafin Ayah. Ayah belum bisa kasih kamu keluarga yang sempurna, maafin Ayah. Semuanya salah Ayah."
Fahry mendesah. "Semoga kamu mengerti," Fahry mendaratkan kecupan di kening putri kesayangannya, mengusap pipi gembul itu dengan lembut. Kemudian berlalu dari sana.
**
"Selamat siang, saya Fahry." Fahry mulai berbicara. Bagiamanapun, ini pertama kali untuknya dan ia marasa gugup. Atensi semua orang mengarah pada Fahry, orang yang namanya sedang hangat dibicarakan karena berpacaran dengan Zoya Hardiswara.
"Saya dengan Zoya memang memiliki hubungan, kami berpacaran selama satu tahun."
Beberapa staf AE RCH tampak terkejut mendengar pernyataan tersebut.
"Artinya Zoya berpacaran dengan suami orang selama satua tahun."
"Apa Zoya tak tau kalau Pak Fahry sudah berkeluarga?"
"Sepertinya begitu."
"Saya merahasiakan status pernikahana saya dari Zoya." perhatian mereka kembali mengarah pada Fahry yang melanjutkan pernyataannya.
"Dalam artian, Zoya tidak tau jika saya sudah menikah dan berkeluarga. Dan ..., dia tidak bersalah. Zoya bukan orang ketiga karena kenyataannya dia tidak mengetahui apa pun."
"Apa motif anda menjalin hubungan dengan Zoya. Apa anda ada suatu maksud?"
Pertanyaan tersebut membuat Fahry tersenyum. Ia juga tidak tau pasti alasannya, awalnya ia hanya tidak berniat tertarik pada Zoya. Namun hatinya tidak demikian, sehingga ia serakah ingin bersama Zoya dan merahasiakan status pernikahannya.
"Saya tdak memiliki motif apa pun ketika mendekati Zoya. Saya hanya tulus menyukai Zoya dan ingin bersama dengan Zoya." pernyataan terang-terangan Fahry kembali memancing riuh ruang konferensi, bagaimana tidak, jelas saja mereka semua bertanya-tanya. Bagaimana mungkin seorang pria berkeluarga dengan mudah mengatakan hal tersebut di hadapan media. Fahry mendapat banyak cemoohan.
__ADS_1
Ethan diam-diam mengepalkan tangan. Ia merasa sedikit kesal.
"Saya sadar, jika apa yang saya lakukan memang salah dan juga merugikan beberapa pihak. Terutama Zoya dan keluarga kecil saya. Saya meminta maaf yang sebesar-besarnya." ungkap Fahry, penuh sesal. Fahry cukup yakin jika pernyataannya akan menuai beragam pro dan kontra di masyarakat, tapi Fahry sudah menyapaikan kebenaran yang ingin ia katakan.
"Lalu bagaimana tanggapan Ibu Anggun mengemai masalah ini? Mengapa beliau yang seharusnya hadir di sini justru tidak datang?" pertanyaan dari salah satu awak media membuat Fahry perlahan menoleh pada kursi di sampingnya yang kosong. Seharusnya kursi tersebur adalah milik Anggun.
"Saya di sini!"
Sama seperti saat kedatangan Fahry, kedatangan Anggun pun menarik banyak perhatian. Kilarltan blitz menerpa Anggun yang melangkah menuju kursi yang disediakan untuknya.
Anggun tampak menghela napas, tapi dengan tenang ia menatap kamera yang sejak rasi menyala.
Malam sepulang dari puncak, Anggun melihat seorang wanita berdiri di depan gerbang rumahanaya dengan mobil yang terparkir di sana.
Membuatnya turun dari mobil dan menghampiri Selin, manajer Zoya Hardiswara. Anggun mengenalinya.
"Bisa kita bicara sebentar?'
Setelah Anggun mengangguk setuju atas permintaan Selin, keduanya menuju gerai yang tak jauh dari apartement Anggun. Duduk berhadapan dengan Selin yang tampak menghela napas sebelum berbicara. Ia tau waktunya memang tidak tepat untuk membahas hal ini dengan Anggun, namun lebih cepat jauh lebih baik daripada ditunda-tunda.
"Di sini, saya yang bersalah karena ikut menyembunyikan status pernikahan Fahry pada Zoya. Maaf," Selin mengawali apa yang ingin dibicarakannya.
"Saya tau Ibu Anggun kecewa, marah dan terluka. Tapi setidaknya Ibu mengerti alasan kenapa Fahry melakukan hal tersebut."
Anggun tampak setia mendengarkan.
"Saya tau memang tidak ada pembenaran sedikit pun atas tindakan yang Fahry lakukan. Tapi jika dilihat dari sudut padang laki-laki. Jelas hal itu akan berbeda, Bu."
"Fahry sering bertukar cerita dengan saya. Saya cukup tau bagaimana kehidupan pernikahan kalian berjalan, tapi saya tidak berniat ikut campur sedukit pun. Saya hanya pendengar bagi Fahry."
"Saya juga tau apa yang dilakukannya sangatlah salah. Tapi, apa Ibu tidak memiliki niatan untuk memberinya kesempatan?"
"Setidaknya untuk Anye."
"Saya yakin hati kecil Ibu juga mengatakan, jika semuanya bukan hanya salah Fahry."
Anggun menatap para awak media yang menunggunya buka suara. Ia menghela napas. "Kalian bertanya bagaimana tanggapan saya?"
Beberapa para awak media mengangguk, menanti Anggun melanjutkan kalimatnya.
"Sebagai seorang istri jelas saya merasa terluka karena dikhianati. Kecewa? Tentu, saya sangat kecewa."
"Seperti yang sudah suami saya katakan. Zoya tidak mengetahui apa pun, dia hanya korban. Dan saya tidak pantas untuk membencinya, saya yakin jika sejak awal Zoya tau Fahry adalah pria berkeluarga, maka ia pasti akan menjauhi Fahry." ungkap Anggun, panjang lebar. Membuat mereka dengan cepat mengambil kesimpulan dan menyalahkan Fahry sepenuhnya.
"Saya tau tindakan Fahry sangat salah. Saya tidak menerima pengkhianatan. Itulah sebabnya kami sepakat untuk bercerai." Anggun mengatakannya dengan mantap, memancing reaksi beragan dari semua orang yang hadir di ruang konferensi, termasuk juga Ethan di sana. Ia menoleh pada Fahry yang tampak memejamkan mata.
"Tapi setelah saya pikir-pikir, Fahry layak mendapat kesempatan." sambungnya. Membuat Fahry menoleh tak percaya.
"Saya juga turut andil dalam kesalahan yang Fahry buat. Saya belum sempurna menjadi seorang istri dan ibu bagi anak saya."
**
"Terimakasih karena sudah mau datang." sahut Ethan sambil mengulurkan tangan pada Fahry begitu konferensi pers selesai.
"Sudah seharusnya saya melakukan ini." Fahry menerima uluran tangan pria itu.
Bagaimanapun, Ethan merasa perlu mengucapkan terimakasih pada Fahry.
"Oh, yah, apa yang saya katakan di kafe kemarin ..., itu semua bohong." sambung Fahry yang membuat Ethan terdiam sejenak, kemudian ia mengingat hal yang membuatnya kesal setengah mati kemarin.
"Tidak masalah, saya tau yang sebenarnya." menyahut santai dan acuh seperti biasanya.
"Sepertinya Zoya bersama dengan orang yang tepat."
"Tentu saja."
"Kalau gitu saya duluan." Ethan mengangguk, Fahry berlalu dari hadapannya. Membuat Ethan mendesah lega mengingat jika masalah ini sudah terselesaikan.
"Zoya, semua tentang kita, akan dimulai sekarang."
TBC
__ADS_1