Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
DevinaRayn


__ADS_3

Menikah adalah impian semua orang, duduk di atas pelaminan dan bersanding dengan orang yang dicintai adalah keinginan setiap insan. Tapi menikah muda, barangkali kembali pada setiap orang bersedia atau tidak untuk siap menghadapi lika-liku kehidupan rumah tangga.


Vina sendiri, ia memilih untuk menikah di usianya yang masih muda karena dia memang sudah siap untuk menjadi seorang istri. Sementara Rayn, ia memanglah sudah cocok membina sebuah keluarga diusianya yang cukup dan sudah mapan pula.


Berkali-kali mendapat penolakan dari gadis yang dicintainya, nyatanya sekarang Vina takluk olehnya. Bahkan meminta Rayn untuk segera menikahinya. Gadis cerdas.


Vina bukan menolak menjadi pacar Rayn, tapi lebih kepada ingin langsung menjalalin hubungan serius dalam ikatan pernikahan. Ia tau bagaimana seorang Rayn yang kalem, dewasa dan mandiri. Vina menyukainya.


Terlebih, sifat dewasanya selalu mampu membuat Vina semakin jatuh cinta setiap hari. Rayn yang selalu mengalah padanya adalah sifat yang sangat Vina sayangi.


Pernikahan mereka menjadi awal bagi Vina untuk menunjukan sisi dari dirinya yang sesungguhnya hanyalah gadis manja, beruntung, Rayn menyayanginya dan selalu menuruti apapun keinginannya.


Tiga tahun sudah usia pernikahan mereka, Vina dengan Rayn tidak pernah sampai ribut besar. Rayn selalu memperlakukannya demgan baik, terlebih sekarang ia sedang mengandung anak Rayn. Usia kandungannya baru memasuki bulan kedua, dan akhir-akhir ini Vina seringkali tidak enak badan. Di tambah dengan duka cita atas meninggalnya Tomy.


Vina tau betapa terpukulnya Rayn kehilangan ayah keduanya. Dan malam ini, Rayn mengajaknya menginap di rumah Shanty, mertua serta kedua orangtua Agyan juga berada di sini.


Satu tahun setelah menikah. Rayn dan Vina memang memilih untuk tinggal di rumah yang dibelikan Jordan sebagai hadiah pernikahan. Meninggalkan Tomy dan Shanty.


"Kamu mandi lagi, Mas?" tanya Vina saat Rayn baru saja keluar dari kamar mandi. Rayn mengangguk, Vina berjalan ke arah lemari pakaian, mengambilkan kaos untuk suaminya karena pria itu sudah memakai celana.


"Kamu laper nggak?" tanya Rayn sambil mengenakan kaosnya. "Kan tadi udah makan."


Rayn duduk di samping sang istri, menggandengnya dan mengusap perut Vina. "Saya liat tadi makannya sedikit, kamu mual?"


Vina menahan tangan Rayn, menatap sang suami dengan raut wajah sedang mencari jawaban atas pertanyaan Rayn tadi.

__ADS_1


"Sedikit."


Rayn mengusap puncak kepala sang istri dengan gemas, kemudian menjatuhkan kepalanya pada bahu Vina. Begitulah Rayn, ia memang dewasa dalam bersikap, tapi kadang, ia selalu mudah memunjukan sisi manjanya pada Vina.


Vina hanya tersenyum, mengusap punggung sang suami dan belakang kepalanya. "Saya kangen Opa." ungkapnya meski tidak jelas, tapi Vina bisa mendengarnya.


Vina hanya mampu mengusap punggung Rayn agar pria itu merasa tenang.


"Opa udah tenang di alam sana, kamu jangan sedih kaya gini. Calon ayah masa cengeng."


Rayn terkekeh geli, melepas pelukannya dan menatap sang istri. Vina hanya menautkan alisnya, kemudian tersenyum saat tau situasi apa yang sebentar lagi akan terjadi begitu Rayn mendaratkan ciuman di keningnya, turun ke bibir sementara tangannya menurunkan resleting di belakang dress Vina.


Tanpa mereka sadar, jika Agyan berdiri di depan pintu kamar keduanya yang terbuka dengan tangan terlipat di dada. Agyan tidak mengintip, ia hanya lewat sekalian akan meminjam charger pada Rayn. Tanpa di sangka, jika akan mememukan pemandangan menakjubkan.


Kapan lagi nonton live streaming kaya gini?!


"Hay," Agyan menyapa tanpa merasa berdosa. Untuk apa merasa berdosa pada saudara sepupunya. Meski Rayn sudah melayangkan tatapan tajamnya, Agyan tidak perduli.


"Loe bisa ketuk pintu dulu, gak? Ganggu!"


"Masuk sembarangan!"


Agyan terlekeh melihat raut kesal Rayn padanya. "Pintunya nggak di tutup!"


Rayn mengernyit. Kemudian menoleh pada Vina di sampingnya. "Tadinya aku mau ngajak kamu turun ke lantai bawah, gabung sama yang lain."

__ADS_1


"Mana aku tau kalo kamu malah mau" sambung Vina dengan volume suara yang mengecil diakhir kalimatnya.


Rayn menggeleng kecil, kembali mengalihkan tatapannya pada Agyan. "Gak sopan tetep gak sopan!"


Agyan mengangkat kedua tangannya."Oke gue salah, sorry." sahutnya. mengalah.


"Gue minjem charger!" sambungnya, mengingat alasan kenapa ia berhenti di kamar Rayn.


Rayn beranjak, membuka laci di samping tempat tidur dan melemparnya pada Agyan yang langsung ditangkap dengan sigap oleh pria tampan itu.


"Nggak usah jutek-jutek sama gue, ntar anaknya kaya gue!" goda Agyan dengan senyum miring.


"Enak aja!"


Vina menyentuh lengan sang suami yang terlihat tidak terima atas perkataan Agyan. "Gyan, 'kan ganteng. Gak papa kali!"


Agyan tertawa puas melihat raut tidak terima Rayn setelah mendengar pernyataan Vina yang berada di pihaknya. Tidak ingin terjadi perang dunia ke-tiga, lantas Agyan cepat berlalu dari sana meninggalkan kamar Rayn seraya melambaikan tangan.


"Kamu malah belain dia!" sahut Rayn dengan sendu. Vina tertawa, merangkul lengan Rayn sambil menyandarkan wajahnya. Rayn menghela nafas, melepas rangkulan Vina dan balik mendekap tubuh gadis itu sambil menciumi keningnya.


"Untung saya, sayang!"


"Kalau nggak sayang nggak bakal ngehamilin, lah!"


Rayn hanya tertawa mendengar kalimat Vinam. Istrinya yang cerewet, manja, dan yang paling dicintainya.

__ADS_1


TBC


Ini bonus aja, ya:")


__ADS_2